Fitrajaya dan Andreas, Dua Sosok “Gila Idealisme” di Jagad Seni Rupa

 Fitrajaya dan Andreas, Dua Sosok “Gila Idealisme” di Jagad Seni Rupa

Andreas Gunawan, owner Gallery Soekarno Hatta Blitar, dan perupa Fitrajaya Nusananta. (jack)

JAYAKARTA NEWS – Dua “manusia gila” bakal mengguncang jagad seni rupa Indonesia. Yang satu bernama Fitrajaya Nusananta, seorang pelukis. Satunya lagi bernama Andreas Gunawan, pemilik Gallery Soekarno Hatta, Blitar. Tentu bukan “gila” dalam arti literal atau harfiah.

Mereka adalah dua sosok manusia yang jiwanya terganggu oleh idealisme yang meluap-luap. Fitra memendam banyak energi kreatif yang menyesaki rongga dada dan otak. Andreas lebih “aneh”. Meski kelihatannya duduk di kursi menghadap kopi, tapi ada kalanya tampak seperti raga tanpa sukma. Seperti ada moment sukmanya melanglang jauh melintasi jarak dan waktu.

Mereka dari Blitar, Jawa Timur ke Ibukota Jakarta, untuk dan atas nama kanalisasi kegelisahan jiwa. Andreas dengan Gellery Soekarno Hatta-nya, mengikat kerjasama dengan Gallery Kunstkring, Menteng Jakarta Pusat, untuk menggelar karya-karya Fitrajaya.

Pameran tunggal yang sarat energi dan rasa ini diberi tajuk “Memoir Of The Old Master”. Soft opening berlangsung hari Minggu (19/12/2021) pukul 19.00 di Gallery Kunstkring, Menteng, Jakarta Pusat. Sementara, grand opening dijadwalkan tanggal 8 Januari 2022.

Fitrajaya Nusananta, pelukis lama “wajah baru”. Dibilang lama, karena sudah menggeluti dunia seni rupa sejak usia belasan tahun. Dibilang baru, karena relatif baru muncul di Tanah Air, setelah 18 tahun merajut pendidikan dan karier kepelukisannya di Negeri Kincir Angin, Belanda.

Keduanya –dalam pameran kali ini—laksana mur dan baut, bold and nut. “Ini bukan tentang pamer karya di ibukota. Kami di Blitar juga ada gallery. Di Magelang, Jogja, Bandung, dan Bali juga ada mitra yang siap menggelar karya-karya Fitra. Kami pilih ibukota karena beberapa alasan,” ujar Andreas.

Lukisan-lukisan Fitra yang bergenre pop art dan contemporary art, menurut Andreas harus dikenal publik secara luas. Ibukota Jakarta menjanjikan netralitas aliran, tak berkiblat. Ini menjadi “fair” bagi seorang pelukis yang belasan tahun berkarya di negeri orang.

“Lebih gembira, manakala Gallery Kunstkring menyambut baik pameran Fitra. Sebelumnya, kami mengetahui, Kunstkring cukup selektif dalam menggelar pameran seni rupa,” tambah Koko, panggilan akrab Andreas.

Dua karya Fitrajaya Nusananta

Sementara itu, Fitrajaya Nusananta menganggap karya lukis bisa didefinisikan sebagai ‘suara’ lantang dari gagasan, atau pemikiran. “Karya saya lahir dari pergulatan pikiran dan rasa,” ujar pelukis kelahiran Sungai Penuh, Jambi itu.

Darah seni mengalir kental di tubuh Fitra. Sang ayah, Sabri Jamal, adalah pelukis lulusan ASRI/ISI Yogyakarta tahun 1965. Sejak remaja, Fitra sudah menunjukkan keseriusannya di dunia seni rupa. Lulus Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Padang 1986, ia melanjutkan ke jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa Sastra dan Seni (FBSS) IKIP Padang (Sekarang Universitas Negeri Padang), lulus tahun 1993.

Sentuhan unsur visual dan non visualnya makin terasah dalam proses berkarya di Negeri Kincir Angin. Tak kurang dari 18 tahun ia mukim di sana. Bahkan, ada sepenggal waktu yang ia gunakan untuk menimba ilmu di Royal Academy of Art, The Hague – Den Haag, Belanda tahun 2003. Ia pun menyandang gelar Master Artistic Research.

Dalam berekspresi, Fitra punya jargon, “Seni harus menjadi sesuatu yang membebaskan jiwa, memprovokasi imajinasi, membangkitkan motovasi dan mendorong orang-orang untuk melangkah lebih jauh.” Melihat dan mencermati karya-karya Fitra, mampu membangkitkan gerak rasa, rasa cinta, penuh harap, getaran jiwa, dan membuat hidup lebih hidup. 

Bukan hanya itu, meski beraliran kontemporer dan pop, karya-karya Fitra ternyata mampu menggugah spiritualitas penikmatnya, menuju kedekatan asal-jati dan fitrah-jati. Tarian warna yang terkadang tidak terstruktur, namun mengalir tenang menuju titik terang dalam perjalanan panjang kehidupan manusia.

Tagline pameran “Memoir Of The Old Master” adalah penghargaan atas tokoh-tokoh seni rupa dunia yang menjadi inspirasinya berkarya. Sebagai perupa, Fitra juga seorang periset. Hasil riset panjang itulah yang menundukkan kepalanya makin dalam, penuh takzim terhadap para seniman lukis dunia.

“Inspirasi pertama datang dari ayah saya. Lalu dalam perjalanan muncul para inspirator lain, seperti Pablo Picasso, Gustav Klimt, Egon Schiele, Paul Gauguin, Mark Chagal, Sandri Botticelli, Leonardo da Vinci, Michelangelo, Rembrandt, dan beberapa nama lain,” ujar Fitra, seraya berharap, “semoga pameran ini mampu menambah khasanah seni rupa Tanah Air.” (roso daras)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *