Film ‘Perfect Fit’: Konflik Tradisi Lawan Modernitas di Bali

 Film ‘Perfect Fit’: Konflik Tradisi Lawan Modernitas di Bali

JAYAKARTA NEWS – Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Memilih pendamping hidup tidak gampang. Sudah pacaran, bahkan sudah bertunangan berdasarkan cocok wetonnya pun, bisa putus. Sepasang insan divisualkan sudah dijodohkan, mendadak ada suatu peristiwa tak terduga, semua berubah.

Terinspirasi dari cerita dongeng klasik Cinderella, puteri seorang dari kasta menengah di Pulau Dewata, mendadak berubah alur perjodohannya. Dalam film drama bergenre komedi romantis bertajuk ‘Perfect Fit’, sutradara Hadrah Daeng Ratu menggarap secara apik dan cerita yang memikat yang terjadi di Bali.

Berbasis plot lurus dan skenario yang ditulis oleh Garin Nugroho, film ini menggiring penonton di OTT Netflix guna berpikir bahwa cinta itu abadi dan langgeng. Tak peduli kastanya. Tak peduli keyakinannya. Di sini, tetap ada konflik gegara orang ketiga, pertentangan yang meluas sebagai tradisi melawan modernitas.

Saski (Nadya Arina) sudah dijodohkan dengan Deni (Georgino Abraham), pengusaha kaya raya. Namun, karena diramal seorang wanita cenayang bahwa Saski akan menemukan jalan baru. Dan jalan baru yang cukup berliku tersebut terjadi tatkala Saskia hendak membeli sepatu baru di toko sepatu milik pengusaha Rio (Refal Hady). 

Dan ajaib, ramalan cenayang ternyata benar. Meski sempat terjadi keributan kecil karena warna sepatu yang dipesannya tertukar, toh Saski dan Rio berhasil menjalin cinta. Hampir tiap hari mereka keliling desa dengan sepeda motor milik Rio, berteduh di bawah daun pohon pisang saat hujan lebat (adegan ini indah sekali !) dan dibawah pohon pisang itulah, Rio mencuri kesempatan dengan mencium bibir Saski. Namun, datang petaka.

Deni tak terima dan mengajak Rio bergulat lumpur yang disebut mepantingan. Satu lawan satu. Dan Hyang Widhi Wasa masih memberkahi Rio : menang melawan Deni. Hubungan Saski dan Rio jelas berjodoh, meski sulit bersatu (awalnya). Petaka lain datang lagi, pacar Rio bernama Andra (Laura Theux) menuntut Rio adil: pilih dirinya atau Saski. 

Ketahuan, Rio sudah dijodohkan dengan Andra. Akan tetapi Rio tetap memilih Saski. Dan kedua orang tua Saski mendukung pilihan hidup anaknya. Ending film memenangkan cinta Saski dan Rio. Film perdana produksi Netflix dan Starvision yang seluruh syutingnya di Bali ini menyuguhkan panorama indah Bali yang dijuluki ‘first destination’ secara elok dan hangat.

Berbagai tradisi adat yang masih dijaga kemurniannya berkat ‘Tri Hita Kirana’ sungguh memukau dirasakan dan diresapi. Pembacaan lontar di desa tertua di Bali, Tenganan (dikenal sebagai Bali Arga), gulat lumpur mepantingan serta pencocokan weton berdasar ramalan khas Bali terhampar beruntun di film ini.

Flora pesawahan Bali yang disusun dengan sistem ‘subak’ jujur harus dipelajari oleh etnis lain. Sungguh, menonton ‘Perfect Fit’, mencuatkan rasa hangat dan nyaman. Dan satu lagi : sempurna, cocok (ramalan dan cinta) dan….happy ending. (pik)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *