Disuntik Energy, Ulat Sutera di Tasikmalaya Kembali Menggeliat

 Disuntik Energy, Ulat Sutera di Tasikmalaya Kembali Menggeliat

Kholip bersama rekan dalam Proses pembuatan benang sutera (foto:istimewa)

JAYAKARTA NEWS – Bagi Kholip,  pengusaha tenun sutera alam, kehadiran pemerintah saat usahanya terpuruk sangat terasa. Bukan hanya baginya pribadi, kelompok usaha yang dipimpinnya pun selamat dari kebangkrutan. Kucuran bantuan, baik dalam bentuk pembinaan serta suntikan dana membuat usaha mereka kembali menggeliat.

Badai Covid-19 yang melanda dunia, tidak terkecuali Indonesia, membuat usaha Kholip dan rekan-rekannya di Kampung Karanganyar, Desa Cipondok, Sukaresik, Tasikmalaya, nyaris terkapar. Penurunan omset sekitar 80 persen, membuat pemilik usaha Tenun Sutera Alam Pumar Sutera  ini kalang kabut. Bahkan, Pumar Sutera sempat terhenti tidak berproduksi beberapa saat.

Kholip dengan usaha dijalankan di rumahnya, Tenun Sutera Alam Pumar Sutera (foto:istimewa)

Demikian  juga Kelompok Usaha Tenun Sutera Alam Mardian Putera yang diketuai Kholip mengalami  sempat tidak berproduksi. Sebagian anggotanya menghentikan aktifitas, merantau ke kota mencari pekerjaan.

Maka, ketika Pertamina datang memberikan bantuan bagi pria berusia 49 tahun ini, ibarat bahan bakar bagi usahanya.  Energi bagi usaha pribadinya, Tenun Sutera Alam Pumar Sutera. Energi bagi  kelompok yang dipimpinnya, Kelompok Usaha Tenun Sutera Alam Mardian Putera.  “Saya sangat bersyukur dapat bantuan dari Pertamina. Apalagi pada masa pandemi seperti ini. Ada bantuan untuk usaha saya sendiri, ada juga bantuan untuk usaha kelompok,” tutur  Kholip bersemangat kepada Jayakarta News, Kamis (11/11/2021).

Ulat Sutera (foto:istimewa)

Kholip mendapatkan bantuan dari Pertamina pada Agustus 2020. Untuk usaha pribadinya, Pumar Sutera, dia mendapat bantuan dari PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat. Bergabung menjadi mitra binaan Pertamina, Kholip mengakui sangat terbantu. “Apalagi bantuan di masa pandemi seperti ini, sangat membnatu sekali,” ujar Kholip lagi.

Bantuan yang diberikan Pertamina, katanya, digunakan untuk  membeli bahan baku seperti benang sutera yang akan diolahnya menjadi tenun sutera alam. “Sekarang ini, saya sudah kembali berproduksi dan mengirim ke konsumen di Jakarta,” katanya lagi.

Diakui Kholip pendapatannya memang sangat berkurang jauh dibanding sebelum masa pandemi Covid-19. Tetapi dia masih merasa beruntung, jika sampai saat ini, masih bisa terus berproduksi.  Bukan hanya berproduksi, Kholip masih bisa mengerjakan orang-orang sekitar untuk membantu usahanya.  “Ini juga membantu mereka mendapatkan penghasilan, walaupun tidak banyak,” kisah Kholip mengenai proses produksi tenun suteranya yang melibatkan banyak orang.

Kepompong (Kokon) ulat sutera (foto:istimewa)

Sedangkan untuk Kelompok Usaha Tenun Sutera Alam Mardian Putera yang dipimpinnya, mendapat bantuan dari Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha. Kelompok usaha ini menjadi mitra binaan PGE Area Karaha untuk melakukan budidaya ulat sutera.

Maka lengkap lah bantuan dari Pertamina untuk Desa Cipondok ini. Mulai dari budidaya ulat sutera, hingga produksi bahan tenun sutera yang siap dipasarkan. Desa ini memang dikenal dengan produksinya Tenun Sutera Alam karya tangan.

Dari Telur Jadi Tenunan Sutera     

Kholip memulai usahanya membuat Tenun Sutera Alam pada tahun 2006. Sebelumnya, usaha yang dirintis ayahnya itu pada 1999, hanya berkecimpung dalam budidaya ulat sutera. Usaha yang telah berjalan dua generasi ini, kemudian oleh Kholip dilanjutkan dengan pembuatan tenun sutera alam karya tangan. “Tidak pakai mesin. Alat-alat yang kami pakai, adalah alat-alat dari kayu.”

Benang Sutera yang siap ditenun (foto:istimewa)

Kholip mempunyai 9 unit alat penenun sutera dari kayu. Semua dijalankan di rumahnya. Ia dibantu 9 karyawan dan belasan pengrajin. Proses produksi bahan-bahan sutera, biasanya berlangsung satu bulan. Menurut Kholip, dibutuhkan waktu sekitar 27 hari untuk dapat  memproduksi bahan tenun sutera alam dari mulai pemeliharaan telur.  

Sulam Sutera Organdi (foto:istimewa)

Ia memesan telur ulat sutera dari Balai Persuteraan Alam Sopeng, Sulawesi. Biasanya Kholip memesan satu sampai dua box telur ulat sutera. Tiap box harganya sekitar Rp100.000. Isinya 25 ribu telur ulat sutera. Dari 25 ribu telur tersebut, tidak semua bisa menjadi ulat. “Biasanya sekitar 80 persen telur  yang menjadi ulat,” kata Kholip.

Pemeliharaan ulat berlangsung sekitar 24 hari. Kemudian ulat bermetamorfosis menjadi kokon atau kepompong. Selama pemeliharaan ulat dibutuhkan 800 kg daun murbai sebagai makanan ulat. Maka, ketika akan memesan telur ke Sulawesi,  Kholip dan rekan-rekannya harus melihat persiapan daun murbey terlebih dahulu. Karena memang, untuk kebun murbey dikerjakan oleh kelompok.  “Jadi pemesanan telur, harus sesuai dengan persediaan daun murbai. Kalau daun murbai tidak cukup banyak, maka pesanan telur pun tidak bisa banyak.  Cukup satu box saja,” ujar Kholip.  

Setelah tiga hari, Kepompong atau Kokon kemudian didinginkan. Biasanya dari 25 ribu ulat akan mejadi 40 kg Kokon untuk dijadikan benang sutera. Pada waktu yang diperlukan untuk membuat bahan sutera, barulah kepompong tersebut diolah untuk diambil seratnya dan dijadikan benang sutera. “Jadi tidak langsung kami olah. Tunggu dulu sesuai kebutuhan produksi,” kata Kholip lagi.

Jual Meteran dan Potongan

Ada berbagai jenis kain sutera yang diproduksi Kholip.  Jenis kain sutera putihan yang harganya paling murah. Jenis ini dijual meteran dengan harga sekitar 170 ribu rupiah per meter. Memproduksinya pun kata Kholip, dalam satu hari bisa dijadikan sekitar 7 meter kain sutera jenis putihan.  “Jenis kain sutera putihan ini biasanya dipesan oleh para pembuat baju-baju batik.”

Jenis lainnya, ada Kain Tenun Sutera, Tenun Sutera Bulu, Tenun Sutera Bulu Batang, Tenun Sutera Sulam Organdi. Harganya mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Tenun Sutera Organdi, misalnya. Dijual per potong bisa mencapai hampir 2 juta rupiah.  Ukuran per potong, panjang  2,5 meter dengan lebar 1,5 meter. Harga yang cukup mahal ini dikarenakan pembuatannya pun memakan waktu cukup lama. Untuk menjadi satu potong Kain Tenun Sutera Sulam Organdi diperlukan 3 hari kerja. “Organdi itu, bahannya halus, menerawang. Banyak ibu-ibu dari Jakarta yang senang jenis ini. Pembuatannya semua dengan tangan. Tidak ada yang pakai mesin.”

Kain Tenun Sulam Sutera (foto:istimewa)

Diakui Kholip, masa pandemi Covid-19 ini memang tidak mudah untuk berusaha baginya dan rekan-rekan pengrajin sutera di desanya. Untuk itu, sebagai mitra binaan Pertamina,  Kholip dapat melakukan berbagai inovasi. Ia mempromosikan produk-produknya lewat online.  Bagi Usaha Mikro dan Kecil (UMK)  seperti dilakukan Kholip ini,  menjual lewat online di market place dan media sosial meamng menjadi pengalaman baru. “Tetapi hal ini sangat  membantu. Saya terbantu sekali  dengan cara penjualan ini. Kain sutera saya bisa dipasarkan ke seluruh Indonesia,” katanya lagi.

Seperti dikatakan Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat, Eko Kristiawan, “Untuk dapat bertahan di masa pendemi, Pertamina mengedukasi para mitra binaan untuk bergeser dari penjualan secara konvensional beralih ke penjualan secara online. Hal tersebut untuk mengantisipasi penumpukan produksi tanpa pasar. Pertamina juga terus mendorong para mitra binaan untuk tetap produktif dan inovatif di masa pandemi.”

“Melalui program Pendanaan Usaha Mikro dan Kecil, Pertamina hadir sebagai energi bagi UMK, dan bersama-sama kita menggerakkan roda ekonomi masyarakat,” ujar Eko, sebagaimana Jayakarta News kutip dari Laman Pertamina (3/11).

Kholip selain belajar memasarkan produknya melalui online, ia juga belajar tentang tren perkembangan tenun. Suntikan bantuan dari Pertamina, tak mau disia-siakannya. Menjadi energy  untuk mengembangkan Tenun Sutera Alam melalui kampungnya di Cipondok, Tasikmalaya. *** (Melva Tobing)  

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *