Cempaka Membawa Petaka

 Cempaka Membawa Petaka

MUSIM penghujan 2017 ini, sebagian masyarakat Indonesia mengalami musibah yang diakibatkan hujan. Banjir dan longsor yang terjadi beberapa hari belakangan ini telah merenggut korban nyawa dan tak sedikit kerugian materi.

Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebut bahwa cuaca ekstrem telah menyebabkan banjir, longsor dan puting beliung di 28 kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali. Sebanyak 19 orang meninggal dunia, empat orang merupakan korban banjir dan 15 lainnya korban longsor. Korban terbanyak berasal dari banjir yang terjadi di Pacitan, Jawa Tengah.

Cuaca ekstrem tersebut bersumber dari siklon badai Cempaka. Menurut BMKG siklon Cempaka akan masih terasa hingga pekan depan. Jika di sekitar rumah Anda merasakan hujan disertai angin maka itu salah satu yang dihasilkan siklon Cempaka. Dahsyatnya dampak siklon Cempaka bisa terlihat dari badai yang memorakporandakan wilayah Pacitan dengan banjir dan longsor. Banjir juga menerjang DIY Yogyakarta dan Jawa Timur.

Nama Cempaka sebagai bunga khas tropis yang indah itu saat ini sedang berubah peran. Yang biasanya menjadi bunga yang menawan sejak 27 November 2017 lalu menjadi satu nama yang terkait peringatan bahaya bencana. Sebenarnya siapa yang memberi nama badai Cempaka?

Pemberian nama Cempaka merupakan kewenangan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Dalam pemberian nama BMKG mengikuti kesepakatan dengan badan meteorologi dunia. Kapan tepatnya BMKG dapat memberikan nama suatu siklon peringatan bahaya bencana? Yang pertama adalah jika bencana itu lahir di wilayah Indonesia maka BMKG akan memberikan nama yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Awalnya nama diambil dari nama wayang namun belakangan BMKG lebih memilih nama-nama bunga seperti Anggrek atau Bakung.

Sebelum siklon Cempaka muncul, BMKG telah memantau perkembangan cuaca ekstrem yang berdampak bencana. BMKG pada Senin  27 November 2017 pagi hari mengumumkan adanya pergerakan bibit siklon 95S ke arah selatan Jawa Tengah.

Bibit siklon itu diketahui berada di perairan selatan Jawa Tengah, sekitar 100 kilometer sebelah selatan tenggara Cilacap, pada titik 8,6 Lintang Selatan dan 110,8 Bujur Timur. Perkembangan selanjutnya pada Senin petang BMKG mengonfirmasi bibit siklon telah menjadi siklon tropis dan kemudian nama Cempaka pun dipilih untuk menamakan kelahiran siklon tropis. Jakarta Tropical Cycole Warning Center adalah bagian dari BMKG yang berwenang dalam memberikan nama siklon tropis tersebut.

Menurut Humas BMKG Hary Tirto Djatmiko nama Cempaka dipilih karena merupakan siklon tropis ketiga yang terjadi di Indonesia. Ia menjelaskan ada dua kelompok nama yang sudah terlebih dahulu disediakan oleh BMKG. Sebelumnya memakai nama wayang tetapi  diubah dengan nama bunga agar netral.

Kenapa suatu badai perlu nama? Ternyata alasannya sederhana untuk memudahkan awak media menulis peringatan bencana. Pasalnya, wartawan harus menulis berita bencana agar pembacanya mudah memahami. Nama seperti Cempaka lebih mudah diingat daripada menulis peringatan bencana menggunakan kordinat. Dus. Ini adalah tentang cempaka yang bukan bunga. Ini adalah cempaka pembawa petaka. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *