Respon Sigap Ipda Purnomo Bantu Evakuasi Pemudik Mogok di Lamongan dan Berikan Bantuan Biaya Perbaikan

LAMONGAN, JAYAKARTA NEWS – Sebuah aksi nyata pelayanan kepolisian ditunjukkan oleh Ipda Purnomo saat mendapati seorang pemudik yang mengalami kendala kendaraan di wilayah hukum Polres Lamongan. Kejadian ini berlangsung di kawasan Desa Telanak, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan.

Sepeda motor milik pemudik tersebut mengalami kerusakan mesin (mogok) di tengah perjalanan. Melihat situasi tersebut, Ipda Purnomo langsung mengambil tindakan cepat dengan memberikan bantuan evakuasi.

Mengingat kondisi motor yang tidak bisa berjalan, Ipda Purnomo membantu mengantar pemudik tersebut menggunakan kendaraan operasional hingga sampai ke rumah asalnya di wilayah Baureno, Bojonegoro.

Tak hanya memberikan tumpangan, Ipda Purnomo juga memberikan santunan berupa uang tunai secara pribadi yang ditujukan untuk membantu biaya servis motor yang rusak tersebut.

​Langkah ini diambil semata-mata untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan warga yang sedang menjalankan tradisi mudik agar bisa berkumpul kembali dengan keluarga di kampung halaman.

​Kami melihat ada warga yang kesulitan di jalan, tentu menjadi kewajiban kami untuk membantu. Yang terpenting adalah mereka sampai di tujuan dengan selamat, dan sedikit bantuan tadi semoga bisa meringankan beban untuk perbaikan motornya, ungkap Ipda Purnomo. dikutip dari Laman Humas Polri, Kamis (26/3/2026).

​Aksi sigap ini menjadi potret kehadiran Polri di tengah masyarakat, tidak hanya dalam menjaga ketertiban lalu lintas, tetapi juga sebagai pelindung dan penolong bagi warga yang membutuhkan bantuan darurat di jalan raya.***/mel

Bercita-cita Jadi Ilmuwan, Siswi Sekolah Rakyat Ingin Ubah Sampah Jadi Berkah

JAYAKARTA NEWS – Sampah menjadi berkah bagi Jumaroh (16), salah satu siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi. Sehari-harinya ia membantu pekerjaan ibunya yang bekerja memulung sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang. 

“Aku bantu milih sampah di rumah seperti botol-botol, beling-belingan, kardus, sandal, jadi dipisah-pisah karung,” kata Jumaroh, Rabu (29/10/2025).

Ia menceritakan biasanya ibunya mulai memulung sejak subuh. Ibunya pulang untuk beristirahat pukul 12 siang. Lalu berangkat kembali memulung pada sore hari.

“Biasanya sehari setengah karung doang. Kita jual kotor aja, dipisahin, kita langsung jual ke tukang jual dengan timbangan,” katanya.

Seharian memulung sampah, ia mengatakan biasanya membawa 4 karung sampah tiap pekan ke pengepul. Pendapatan ibunya Rp200 ribu per minggu. Adapun pemasukan ayahnya sebagai penjaga warung kelontong juga tak menentu.

“Bapakku kadang sehari Rp70 ribu,” katanya.

Kesibukan orang tuanya mencari nafkah untuk keluarga tercinta, mengharuskan  mereka makan hanya 2 kali dalam sehari. Pagi hari, ibu Jumaroh hanya sempat memasak nasi. Jumaroh yang biasanya membantu memasak lauk untuk ayah dan kakaknya.

“Mamaku kadang pagi masak nasi doang, terus kalua malam baru masak. Makan dua kali, tapi pagi nggak ada lauknya,” katanya. 

Hidup Jumaroh berubah drastis saat menjadi siswa Sekolah Rakyat. Di Sekolah Rakyat, ia tak harus memilah sampah lagi, tapi fokus belajar dan mendalami hobinya pencak silat. Bahkan ia juga makan teratur 3 kali sehari dengan 2 kali snack. 

“Dari tata makan teratur banget dan bergizi,” katanya. 

Lalu, ia juga merasa hidupnya lebih disiplin karena memiliki jadwal rutin. Sementara, di rumahnya, ia beraktivitas sesuka hatinya saja. 

“Kalau di rumah kadang kan suka males-malesan gitu, tapi kalau di sini aku enggak bisa males-malesan,” katanya.

Tak hanya itu, sebelumnya Jumaroh tak memiliki meja belajar di rumah. Jumaroh kini memiliki meja belajar sendiri di asrama. Pindah ke asrama, ia mengakui langsung mampu beradaptasi dan betah. 

“Aku orangnya cepat beradaptasi,” katanya. 

Bersekolah di Sekolah Rakyat, ia sangat menyukai pelajaran Biologi dan PJOK. Ia suka PJOK karena suka olahraga dan bela diri. Ia pernah mengikuti kejuaraan Pencak Silat.

“Aku juara 1 Indonesia Student Sport Championship Tahun 2023 dan juara dua Bekasi Challenge Tahun 2023,” katanya. 

Harapan membumbung lewat Sekolah Rakyat, sebab Jumaroh bercita-cita menjadi ilmuwan biologi. Sebab, ia ingin meneliti sampah di Bantargebang menjadi suatu yang bermanfaat.

“Supaya sampah di Bantargebang bukan menjadi suatu hal yang menjijikkan tapi hal yang membanggakan,” katanya. 

Ia bersemangat pindah dari rumah ke asrama Sekolah Rakyat agar tak menjadi beban bagi orang tuanya. “Aku mau ngebanggain orang tuaku pakai jalur prestasi di sini,” katanya.***/mel

Tertib Suratmo, dari Bengkel Teater hingga Teater Dinasti

Saya, Azwar A.N., dan Teater Alam

Catatan Redaksi
Tulisan ini adalah testimoni almarhum Tertib Suratmo yang ada dalam buku “50 Tahun Teater Alam: Warna-warni Testimoni”.

Begitu saya lulus dari SSRI pada tahun 1967, saya kemudian bergabung dengan Bengkel Teater. Di awal, saya sempat didiamkan selama tiga bulan oleh Rendra, sebagai ujiannya, dan saya hampir menyerah meskipun tetap saja datang. Anggota Bengkel Teater yang dari SSRI waktu itu belum banyak, hanya saya, Banansah, dan Fajar Suharno.

Setelah melewati tiga bulan yang sangat tidak mengenakkan, saya akhirnya dipanggil untuk membuat ornamen dan artistik mempersiapkan sebuah pementasan. Saya sering bekerja sampai tengah malam. Mas Willy menganggap pekerjaan saya bagus dan rapi. Lantas ditambahkanlah nama “Tertib” di depan nama asli saya. Begitu pula dengan yang lain-lainnya, termasuk “Fajar” di depan nama Suharno, “Areng” di depan Widodo, dan lain-lain.

Mengenai sosok Azwar AN, pada awal perkenalan, tentu saja saya belum begitu memahami karakternya. Sebagaimana persahabatan pada umumnya, lama-kelamaan pun tahu dan paham. Azwar AN adalah sosok yang punya kemauan keras, barangkali karena karakternya. Bagaimanapun ia adalah teman, dan tetap saya cintai. Azwar AN yang saya kenal, adalah sosok yang cerdas dan memiliki kemauan besar.

Tertib Suratmo (duduk paling kiri) saat hadir pada acara “Kangen-kangenan karo bang Azwar AN”, 2018. (foto: jayakartanews)

Bergabung ke Teater Alam

Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika dalam waktu satu tahun belajar teater bersama W.S. Rendra di Bengkel Teater, Bang Azwar AN merasa sudah bisa dan merasa sudah waktunya untuk berpisah dengan Bengkel. Intinya, Bang Azwar sudah menunjukkan kemampuannya. Maka, setelah Bengkel Teater hijrah ke Jakarta, saya memilih tetap tinggal di Yogyakarta dan bergabung dengan Teater Alam. Alhamdulillah, Bang Azwar AN menyambut baik.

Ada kesadaran dalam diri saya bahwa Teater Alam merupakan pelabuhan yang tepat bagi untuk menambatkan kegelisahan berproses kreatif dalam dunia teater di Yogyakarta. Bang Azwar AN juga kakak senior saya di Bengkel Teater. Artinya, Teater Alam tidak jauh berbeda dengan Bengkel Teater. Saya tidak punya masalah apa pun dengannya, dan justru disambut baik oleh teman-teman yang lain. Saya ikut meramaikan, menambah, atau melengkapi beberapa materi yang disampaikan oleh Bang Azwar AN.

Jika bukan ke Teater Alam, ke mana lagi kira-kira saya harus melanjutkan? Begitu saya bergabung dengan Teater Alam, banyak teman-teman menghendaki saya untuk melatih, termasuk melatih Teater Ramada milik Mas Adjib Hamzah, Teater Sari—teater anak-anak–milik Pak Amin Mansyur, dan Teater Syuhada. Yang lainnya ialah diajak beberapa teman ke Jakarta untuk membuat patung atau relief.

Kenang-kenangan bersama Tertib Suratmo (kedua dari kiri). (Foto: dok. Jamilan)

Gerak Indah dan Gerak Nurani

Setelah dari Bengkel Teater, kami melakukan pengembangan latihan gerak indah di Teater Alam. Gerak indah itu kemudian berkembang menjadi gerak nurani, seperti lupa diri, tetapi tetap ada kepercayaan dalam diri masing-masing. Itu sebenarnya tidak mungkin, tetapi dengan penyerahan diri, sampai-sampai ada teman-teman yang naik bonggol pohon pisang, menerobos kaki-kaki kursi, dan sebagainya. Itulah gerak nurani. Timbulnya dari gerak indah, dan gerak indah sebetulnya awal dari gerakan akting dan dimaksudkan agar gerakan akting menjadi luwes.

Jadi, masing-masing dari kami mencari motif-motif gerak. Kami melalukan proses pencarian keharmonisan. Dengan adanya gerak indah dalam teater, ditemukan pose-pose gerakan yang sempurna atau selesai saat berakting. Latihan gerak itu dilakukan berkali-kali sampai merasuk ke dalam jiwa. Akan terasa seandainya salah satu dari gerakan tersebut tidak tidak tepat lantaran rutin terlatih. Itulah keuntungannya dari latihan rutin gerak nurani. Maka, ketika dikasting sebuah peran, para pemain tinggal menerjemahkan, menerapkan, dan menyesuaikan karakter masing-masing.

Secara jujur, saya sangat senang dengan latihan gerak nurani, begitu pula dengan kedisiplinan yang dibangun seperti semi militer. Hal tersebut, setelah saya rasakan, sangat menguntungkan untuk orang-orang yang benar-benar mencari ilmu. Imajinasi menjadi kuat  dan dalam pencarian sangat cepat. Pendekatan yang menggiring kita kepada Allah.

Pola latihan dengan anak-anak sekarang sangat jauh berbeda, termasuk dengan anak-anak teater kampus terdahulu. Kami menang jauh. Apalagi ketika latihan di luar, imajinasi kami benar-benar diasah sampai matang dan detail benar. Sangat kaya, kalau ditulis mungkin akan jadi berjilid-jilid buku. Buku mas Willy yang Tentang Bermain Drama pun kurang mendetail daripada yang kami alami. Saya sampai mengalami maag karena latihan yang sebegitu berat. Tetapi namanya orang telah cinta, ya tetap saja datang kembali. Tidak ada kata kapok.

Foto kenangan Tertib Suratmo dan Azwar AN tahun 2019. Kini keduanya bahagia di surga. (foto: jayakartanews)

Proses Pentas di Teater Alam

Saya aktif di Teater Alam dalam waktu yang cukup lama. Sampai sekarang pun, saya masih seorang anggota Teater Alam, artinya andaikan Bang Azwar AN membutuhkan saya. Yang terakhir saya tangani adalah pementasan Petang di Taman karya Iwan Simatupang pada tahun 2010, menandai 38 tahun Teater Alam. Ceritanya realis, jadi cukup gampang, meskipun barangkali karena sudah berumur dan terlampau lama tidak menangani penyutradaraan, maka imajinasi saya berkurang.

Bayangkan, setalah tahun 1981, ketika saya diterima menjadi PNS, boleh dibilang saya tidak terlibat secara langsung lagi dengan dunia teater. Tidak ada yang menghubungi saya untuk berkegiatan teater, ditambah pekerjaan sebagai pegawai menyita waktu dan banyaknya penataran.

Ilmu teater yang bisa diterapkan dalam pekerjaan saya hanya disiplin dan ketekunan, meskipun seseorang yang ditempatkan di pekerjaan itu sering kali dianggap buangan, yakni pustakawan. Saya menjadi pustakawan di SMP Negeri 16 Yogyakarta, atau sesekali menangani drama untuk siswa dan keterampilan tangan saat ekstrakurikuler. Karena saya sudah tidak muda lagi saat diangkat menjadi PNS, akhirnya masa kerja hanya sebentar: 17 tahun, 9 bulan.

Dari Teater Dipo ke Teater Dinasti

Praktis, dulu ketika Teater Alam sering ditinggal Bang Azwar AN  ke Jakarta, sayalah yang melatih Teater Alam. Akan tetapi, di samping itu saya juga memiliki kegelisahan tersendiri. Saya tinggal di kampung Dipowinatan. Waktu itu kondisinya semrawut. Lantas, saya merasa perlu melakukan sesuatu untuk menyelamatkan. Dulu, banyak para pemuda tanggung yang tidak memiliki kegiatan, banyak mengganggu, baik itu minum, bermain kartu, maupun hal-hal negatif lainnya.

Setelah berada di sini, saya membaca, kemudian memberanikan diri untuk melakukan sesuatu setelah memiliki banyak kenalan. Alhamdulillah, saya mendapatkan respons yang bagus. Yang punya bakat bertahan sampai benar-benar ingin bisa, dan contoh yang beruntung adalah Joko Kamto dan Novi Budianto yang sampai saat ini masih aktif di KiaiKanjeng bersama Cak Nun.

Tidak ada hal yang istimewa sesungguhnya pada awal saya mendirikan Teater Dipo. Intinya, motivasi utamanya adalah menyelamatkan, dan kebetulan di kampung Dipowinatan ada gamelan waktu itu. Gamelan sebagai alat untuk ilustrasi, sehingga saat Bang Azwar AN menggagas Arisan Teater, justru Teater Dipo yang pertama dan dilawankan dengan Teater Bunga milik Niesby Sabangkingkin.

Saya masih ingat yang aktif di Arisan Teater kala itu antara lain Teater Bunga, Teater Kancil, Teater Dipo, Gadjah Mada, dan kelompok-kelompok teater yang hampir tiap kampung ada. Saat itu, Teater Dinasti belum muncul. Setelah menang lomba teater, barulah Gajah Abhiyasa membantu dan mengubah nama Teater Dipo menjadi Teater Dinasti.

Perubahan nama Teater Dipo menjadi Teater Dinasti atas kesepakatan bersama. Langsunglah nama Teater Dinasti terangkat. Teater Dinasti kemudian banyak melakukan pentas saat dikelola Gajah Abhiyasa, Fajar Suharno, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), saya, juga beberapa anggota lainnya. Gajah Abhiyasa melihat momentum yang tepat terkait dengan isu politik waktu itu, maka Teater Dinasti banyak menghadirkan pementasan dengan cerita-cerita terselubung, kendati mengambil cerita-cerita zaman dulu, sehingga tepat sasaran. Dari Teater Dinasti kemudian lahir pula Teater Gandrik dengan sampakannya, yang kemudian sampai sekarang dikelola oleh Butet Kartaredjasa, Jujuk Prabowo, dan nama lainnya.

Posisi saya di dalam Teater Dinasti membuat saya tidak terlalu aktif di Teater Alam. Kami berpisah, tetapi baik-baik saja dan tidak ada masalah sedikit pun dengan Bang Azwar AN. Jika saya dipanggil untuk membantu pentas Teater Alam, saya pun tetap datang dan bersedia membantunya. Ketika ada proyek, kita tetap diminta untuk menggarap, seperti ornamen, dan sebagainya.      

Teater Alam Seharusnya…

Materi yang sudah ada di Teater Alam dipertahankan. Para anggota diajak musyawarah, apa yang terlupakan diingat-ingat kembali, syukur ada yang menuliskannya dan membuat program untuk dibukukan. Buku tersebut berisi gambar-gambar gerakan latihan dan keterangannya, mirip buku latihan silat. Misal, bagi pemula yang latihan dasar, seperti gerak, vokal, dan sebagainya. Ketika sudah tuntas, kemudian dikembangkan.

Para pemain teater, entah sutradara, aktor, penata artistik, penulis naskah, dan lain sebagainya hendaknya menguasai latihan dasar teater. Perkara kemudian memiliki spesifikasi tertentu, itu urusan lain. Namun, di awal tidak boleh pilih-pilih. Pernah, seorang rekan di Teater Alam yang sudah pulang ke Jawa Barat mesti kembali lagi, karena ada yang terlupakan. Itu artinya, selama latihan cenderung memilih-milih, padahal seharusnya jangan dipisah-pisah. Ditelan semua terlebih dahulu, masalah bakat akan mengkristal dengan sendiri: pemain, pemusik, sutradara, penulis, lighting,dan lain-lain. Latihan dasar harus bersama. Masalah kita akan menjadi apa, itu belakangan. Intinya, jalan bersama. Jadi, saya sepakat bahwa keunggulan Teater Alam salah satunya adalah pada pola latihan.

Kini, yang memiliki materi latihan dasar itu hanya Teater Alam di Yogyakarta. Siapa yang mengembangkan? Teater sekarang harus kita ajak berkumpul dan berembug lagi membahas masalah materi latihan dasar. Persoalan latihan dasar ini harus diwariskan, juga generasi muda kita mesti diberi pemahaman betapa penting latihan dasar bagi seorang teaterawan. Hanya Teater Alam yang bisa.

Keberadaan Teater Alam yang melegenda hingga kini, keterlibatan Bang Azwar AB dan para anggota Teater Alam di dunia seni teater, film, daln lain-lain menunjukkan bahwa Teater Alam dibangun oleh seseorang yang memiliki kemauan keras. Hasilnya tampak, terbukti! Kemauan keras adalah hal yang saya petik dari Bang Azwar AN. Kendati sudah tua, tetapi tetap memiliki kemauan yang keras. Kendati fisik sudah rapuh, tetapi kemauan masih seperti saat muda dahulu.

Lumayan pengalaman saya di teater, hasilnya kepuasan. Mengikuti teater, hasilnya bisa berpetualang dan tetap bahagia, meskipun kere.           

Yogyakarta, 13 Oktober 2018

Prof. Hermawan Sulistyo Rayakan Ulang Tahun ke-68 dengan Launching Buku Terbaru

SUKABUMI, JAYAKARTA NEWS – Sosok intelektual, aktivis, peneliti, sekaligus jurnalis kawakan Prof. Hermawan Sulistyo MA, PhD, APU, merayakan ulang tahunnya yang ke-68 dengan cara yang berbeda dan penuh makna. Acara akan digelar Sabtu (12/7) di Renzo Dynamic Edupark, Cibadak, Sukabumi, sekaligus menjadi momentum peluncuran buku terbarunya yang tentu saja akan menambah deretan panjang karya ilmiah yang telah beliau hasilkan selama lebih dari tiga dekade.

Lahir di Desa Geneng, Ngawi, Jawa Timur pada 4 Juli 1957, Prof. Hermawan—yang akrab disapa Kikiek—telah menorehkan jejak panjang dalam dunia akademik dan kebudayaan Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Fisika, FIPIA, Universitas Indonesia. Meski berlatar belakang ilmu eksakta, jalan hidupnya justru membawanya mendalami ilmu-ilmu sosial dan politik.

Sensei Hermawan sedang beraksi sebagai seorang pemegang sabuk hitam karate (dok.pribadi)

Pendidikan S2 ia tempuh di Ohio University, Amerika Serikat, sebelum akhirnya meraih gelar doktor dari Arizona State University. Masa mudanya dikenal aktif sebagai aktivis, demonstran, peneliti sosial, dan jurnalis handal. Profesor Riset ini juga seorang atlit karate pemegang sabuk hitam DAN 5 serta pernah mengenyam latihan beladiri ini di negara asalnya beladiri karate, Negeri Sakura Jepang. Dia juga merupakan dosen ilmu politik yang telah mengajar di berbagai perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri.

Kiprahnya tidak berhenti di dunia akademik. Prof. Kikiek juga pernah menjadi penasihat Kapolri—baik saat Jenderal Polisi Tito Karnavian menjabat, maupun pada masa Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo saat ini. Pemikirannya banyak memberi kontribusi dalam reformasi kelembagaan kepolisian dan isu-isu strategis kebangsaan.

Tiga tahun lalu, pada ulang tahunnya yang ke-65, Kikiek memperingati hari lahirnya dengan sebuah orasi budaya di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Unbhara Jaya), Bekasi. Tema orasi tersebut, “Pluto Telah Wafat: Collective Violence dalam Trajektori Peradaban”, menjadi salah satu refleksi intelektualnya atas perubahan sosial dan kekerasan kolektif dalam sejarah umat manusia.

Prof Kikiek in action (dok.pribadi)

Untuk perayaan kali ini, Prof. Kikiek akan meluncurkan buku terbarunya yang berjudul Scholars and Sientist Indonesia tentang 2045 dan Respon POLRI, sebuah karya yang menambah daftar panjang publikasi beliau—yang telah mencapai puluhan judul di bidang politik, keamanan, dan sosial-budaya.

Acara ulang tahun ke-68 ini akan dihadiri oleh kolega, sahabat, tokoh akademik, dan para pengagum pemikiran beliau. Dirancang dalam suasana santai namun penuh nilai intelektual, acara ini sekaligus menjadi ruang temu lintas generasi dan diskusi gagasan.

Prof. Hermawan Sulistyo bukan hanya sosok ilmuwan, tetapi juga penjaga akal sehat publik yang konsisten bersuara kritis di tengah zaman yang terus berubah. Ulang tahun ini menjadi pengingat bahwa usia adalah angka, namun dedikasi dan pikiran yang tajam akan selalu melintasi waktu. Selamat Ulang Tahun Sensei Kikiek. (Nat)

Jemèk Kawanku

SENO GUMIRA AJIDARMA

_________________________________________

© 1976 PANG WARMAN

Catatan menyambut 1000 hari
meninggalnya Jemèk Supardi (1953-2022)

__________________________________________

© 1975 PANG WARMAN

Memang seperti bayang-bayang baur dari album tua: duduk di bawah, saya (kedua dari kiri), bersama Gatinyo (di kanan saya, entah di mana dia sekarang), Deded Er Murad (di kiri saya, almarhum) dan di ujung kiri saya Meritz Hindra. Berdiri berbaju putih adalah Azwar AN, almarhum, pemimpin Teater Alam, dan di sebelahnya, merokok, adalah almarhum Jemèk Supardi—saat itu pun di katalog pementasan manapun, namanya sudah Jemèk Supardi.

Namun pada 1975, ketika Pang Warman memotret kami semua, Jemèk bukanlah legenda sebagaimana sering disebut dan dituliskan—dan sebagai bukan legenda itulah saya lebih suka mengenal dan mengenangnya.

Foto itu mengembalikan suasana, ketika sejumlah orang dipertemukan kesamaan semangat dan keyakinan, bahwa berkesenian adalah cara hidup terbaik, paling baik, bagaikan tiada lagi yang lebih baik—dan karenanya dalam situasi seperti apapun, gagal maupun tak gagal, tidak ada yang perlu sampai kepada penyesalan.

Sesadar itukah Jemèk? Sejauh saya mengenalnya, Jemèk adalah jenis manusia yang hidup sepenuhnya dengan naluri. Dengan nalurinya itulah dia hidup, mengembangkan diri tanpa konsep apapun, tanpa terlalu peduli indah tak-indah, baik-buruk, hitam-putih, benar-salah. Bagaikan berada “di luar kebudayaan”—meski yang “di luar” inilah yang menghela kebudayaan ke depan.

Satu-satunya konsep yang selalu diucapkannya dengan bahasa terbatas adalah, “Saya ini belajar, belajar, saya tidak tahu kesenian, jadi saya belajar.” Saat itu, di Kampung Sawojajar, tempat Teater Alam berada, saya, 17 tahun, dan Jemèk, 22 tahun, sama-sama belajar.

Siapakah Jemèk? Saya katakan, saya mengenalnya bukan sebagai legenda, tetapi sejak belia ia sudah melegenda sebagai Pardi Kamprèt yang bertelanjang dada dan berkalung katapel.

Legenda kecepatan menyambar buah dalam kegelapan, yang diterapkan di kuburan Belanda dan terminal bis ini, dan pernah membuatnya digelandang massa sepanjang jalan, sesekali disampaikannya dalam pergaulan kami.

Cara menceritakannya sambil lalu di antara berbagai kegiatan kami, seingat saya selalu dalam senyuman dan nada geli. Jadi legenda Jemèk Supardi tidak berlaku bagi saya, tapi kalau legenda Pardi Kamprèt iya—dan sungguh suatu legendalah itu, seperti pernah saya tuliskan sebagian, dalam katalog pertunjukan menyambut ulang tahun Jemèk ke-50.

Jemèk dalam fotografi Pang Warman,
untuk membuat ilustrasi pada katalog pementasan.

(© 1976 PANG WARMAN)

Namun menyambut 1000 hari meninggalnya Jemèk, saya ingin mengingat yang lain. Itulah kenangan ketika pada suatu hari telepon-genggam saya berbunyi, dan seseorang menelepon dari Yogya.

“Mas, kami mau bikin antologi puisi, dan kami meminta Jemèk Supardi ikut menulis puisi di buku itu.”

“Baguslah,” kata saya.

“Tapi kami diminta menyampaikan pesan.”

“Pesan apa?”

“Kami diminta menyampaikan pertanyaan Jemèk, apakah dia boleh menulis puisi.”

“Hah? Apa?”

“Ya, apakah dia boleh menulis puisi?”

Tentu saya katakan boleh. Namun karena saya bukan “godfather” puisi, terpikir mengapa Jemèk harus bertanya kepada saya, apakah dirinya layak menulis puisi.

Saya berhasil menghindari kesimpulan, bahwa Jemèk mengira saya sangat mengerti puisi, alih-alih, Jemèk menganggap saya sangat mengerti dirinya.

Saya kira terlalu lama saya mendapat kesimpulan itu. Kami sudah terpisah terlalu lama, dan bagaimana Jemèk memandang saya sangatlah menyentuh. Mungkin keterlaluan bahwa kesadaran saya datang terlambat.

Beberapa kali dalam berbagai acara di Yogya, Jemèk memang selalu muncul. Seingat saya makin lama makin eksentrik dan merdeka, dan saya menyukainya.

Saya selalu teringat satu peristiwa dalam suatu diskusi lèsèhan di Yogya. Seorang penanya dengan retorika-teatrikal berusaha memojokkan saya, yang di mana pun biasa kadang-kadang terjadi. Jadi bagi saya itu biasa—tapi tidak bagi Jemèk.

Jemèk, yang dalam diskusi apapun selalu berada “di luar diskusi”, entah ngobrol sendiri atau merokok di luar, mendengar nada tinggi yang “non-intelektual” itu, langsung berdiri. Ia segera masuk ruangan, untuk melihat siapa yang berbicara keras—roman mukanya jelas terganggu, dan tampak siap untuk “melakukan sesuatu”.

Saya teringat kembali adegan itu, setelah menerima telepon yang menyampaikan pesan perkara layak tidaknya Jemek menulis puisi. Seperti menggarisbawahi kedekatan yang tidak selalu tersadari.

***

Maka perjumpaan terakhir saya dengan Jemèk di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, mungkin setahun atau dua tahun sebelum pandemi 2020, menjadi perjumpaan yang sama sekali bukan kebetulan.

Jemèk ke TIM mencari saya. Ya, sengaja mencari saya, tapi tidak pergi ke belakang, ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ), tempat saya terikat oleh suatu tugas.

Ia datang begitu saja ke TIM, langsung ke kios buku Jose Rizal Manua di pojok bawah pohon, dan tetap berada di sana, karena katanya Jose berkata, “Nanti pasti lewat.”

Memang benar saya lewat, dari belakang ke tempat parkir mobil, karena harus pergi ke tempat lain.

Saya baru mau masuk mobil ketika Jemèk datang berkelebat—dan saya begitu terpesona dengan penampilannya yang penuh percaya diri. Rambut panjang, sangat panjang, terpilin rapi dengan pengikat warna-warni, berpadu T-shirt dan celana jean—tetapi matanya! Mata itu berkaca-kaca …

“Saya hanya mau menemuimu,” katanya, tentu dalam bahasa Jawa.

Kami mengobrol sebentar, saya bahkan memotretnya (sayang belum saya dapatkan kembali). Saya berusaha tidak terpengaruh oleh matanya yang berkaca-kaca, dalam arti saya mengingkari perasaan saya sendiri.

Lantas kami berpisah.

Baru kemudian, setelah saya sadari betapa saya tidak akan pernah bertemu Jemèk lagi, saya merasa bahwa saat itu sebetulnya Jemèk berpamitan—dan untuk selamanya saya merasa kehilangan …

“Pulang ke Uttara”, Yogya,

Selasa, 20 Mei 2025. 19:25.

Kami berdua dalam katalog “Sandiwara”,
produksi Bukan Teater Alam,
Sonobudoyo, Yogyakarta, 11 Agustus 1976.

(© 1976 PANG WARMAN)
Nama Jemèk dalam publikasi “Sandiwara”, 1976,
sebelum kelak menjadi legenda.
Versi utuh katalog “Sandiwara”
(© 1976 PANG WARMAN)
Jemèk Supardi.
(© 2018 Bambang Wartoyo)

Sosok Bripka Kuwat, Polisi Dari Kebumen, Senang Layani Cukur Rambut ODGJ

JAYAKARTA NEWS – Di balik tugas sebagai anggota Polri, Bripka Warokhmat Kuwat, Sejak tahun 2020, sosok Bhabinkamtibmas dari Polsek Kebumen Polres Kebumen ini secara sukarela memangkas rambut, tak hanya untuk warga biasa, tetapi terutama untuk para penyandang gangguan kejiwaan (ODGJ) di wilayah binaannya.

Inisiatif itu berawal dari masa pandemi Covid-19. Saat itu, banyak aktivitas masyarakat dibatasi, termasuk layanan potong rambut yang nyaris lumpuh akibat ketakutan tertular virus. Warga, termasuk anak-anak sekolah dan ODGJ, kesulitan mendapatkan layanan potong rambut. Situasi ini mengetuk hati Bripka Warokhmat untuk bertindak.

“Saya mulai memotong rambut sejak masa pandemi. Awalnya karena banyak tukang pangkas rambut tutup, sementara rambut warga, termasuk anak sekolah dan ODGJ, sudah panjang. Saya ingin membantu, meski hanya lewat jasa potong rambut gratis,” tutur Bripka Warokhmat. Minggu (27/4/2025).

Namun, Bripka Warokhmat menjadikan ODGJ sebagai prioritas. Sebab, tak semua tukang cukur bersedia menangani mereka, mengingat dibutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan keikhlasan ekstra untuk berinteraksi dengan berbagai karakteristik ODGJ.

Dalam aksinya, Bripka Warokhmat tidak sendirian. Ia rutin melakukan sambang desa, berkoordinasi dengan puskesmas, dan menggandeng tokoh masyarakat untuk menemukan ODGJ yang membutuhkan bantuan. Setiap kali patroli, ia selalu membawa perlengkapan cukur di dalam tas dinasnya.

Baru-baru ini, ia membantu MI (53), seorang ODGJ asal Desa Jatipurus, Kecamatan Poncowarno. Dengan sabar, Bripka Warokhmat memotong rambut dan merapikan kumis MI tanpa raut enggan.

Tak hanya itu, ia juga berhasil memotong rambut seorang nenek yang sudah 10 tahun tidak mau disentuh gunting. Berkat pendekatan humanis, sang nenek akhirnya bersedia, atas permintaan keluarganya. Selain itu, Bripka Warokhmat juga membantu memangkas rambut 3 ODGJ laki-laki, 10 siswa SD, 3 siswa SMP, dan 3 orang tokoh masyarakat, dan semuanya itu tanpa di pungut biaya.

” Saya senang, rasanya luar biasa bisa membantu ODGJ yang kadang keluarganya sendiri kesulitan mengurus mereka. Saya ingin terus berkontribusi, terutama untuk mereka yang sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat,” ungkapnya.

Ke depan, Bripka Warokhmat berharap bisa meningkatkan pelayanannya dengan membeli alat potong rambut bertenaga baterai, karena alat yang dimilikinya saat ini masih menggunakan kabel dan kurang efektif untuk digunakan di lapangan.

Aksi Bripka Warokhmat mendapatkan apresiasi dari Kapolres Kebumen AKBP Eka Baasith Syamsuri yang menyatakan rasa bangga atas dedikasi anggotanya.

“Kami butuh dekat dengan masyarakat. Saya selalu berpesan kepada seluruh personel Polres Kebumen untuk menebarkan kebaikan. Apa yang dilakukan Bripka Warokhmat adalah salah satu contoh pengabdian seorang Bhayangkara sejati,” ungkap Kapolres.***/mel

Nelayan Asal Sergai, Salam, Nabung 15 Tahun untuk Naik Haji

SERDANG BEDAGAI, JAYAKARTA NEWS – Kesabaran Salam Alifiah (95) untuk menunaikan ibadah haji terbayarkan. Ikhtiar menabung 15 tahun mengantarkan nelayan asal Kabupaten Sergai ini ke tanah suci.

Calhaj tertua Kabupaten Sergai ini berangkat menunaikan ibadah haji didampingi putranya Sari Gunawan (55). Warga Dusun I Desa Pekan Tanjung Beringin Kec. Tanjung Beringin ini berhaji dengan menabung hasil tangkapan melaut.

Niat yang dibarengi kerja keras akhirnya bisa mewujudkan keinginannya untuk menunaikan Rukun Islam yang kelima.

“Saya sangat bersyukur akhirnya keinginan menunaikan ibadah haji terwujud meski sudah masuk di usia senja 95 tahun,” sebut Kakek Salam kepada Humas saat Manasik Haji di Masjid Agung Sergai, Rabu (23/4/2025).

“Bahkan, saya telah menyandang sebutan Canggah atau Datuk karena telah memiliki cucu dan cicit,” sambungnya

Suami dari Asiah (70) ini tercatat sebagai calon haji (Calhaj) tertua dari Tanah Bertuah Negeri Beradat, julukan Kabupaten Sergai. Karena faktor usia, keberangkatan haji ayah 6 anak ini didampingi sang putra ketiganya Sari Gunawan (55). Keduanya tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 14 Embarkasi Medan (KNO 14). Mereka berangkat pada gelombang II bersama 284 calon haji, termasuk petugas kelompok terbang (Kloter) lainnya asal Sergai. Di antara mereka, ada 123 jemaah laki-laki dan 163 jamaah perempuan. Mereka bergabung dengan Calhaj asal kota Medan sebanyak 74 Calhaj.

Kakek Salam berbagi cerita bahwa niat berhaji sudah tertanam sejak puluhan tahun, sejak masih aktif sebagai nelayan tradisional. Sejak itu, kakek empat belas cucu ini terus menabung.

“Kadang satu hari bisa menabung Rp10 ribu sampai Rp20 ribu, jika hasil tangkapan lumayan banyak bisa menabung Rp50 ribu. Hal ini rutin dilakukan bapak selama 15 tahun dan sudah terkumpul sekitar Rp25 juta, hingga akhirnya bapak tidak kami perkenankan lagi melaut karena faktor usia,” sebut Sari Gunawan, anaknya yang ikut mendampingi saat manasik.

Sari Gunawan menyebutkan, dengan bekal hasil tabungan orang tuanya yang sempat tersimpan belasan tahun setelah total tidak melaut lagi untuk setoran awal, akhirnya keluarga berembuk, menyelesaikan pelunasan biaya haji dan kebutuhan lainnya yang mencapai sekitar Rp20 juta lebih, setelah tujuh tahun mendaftar, seraya sebelumnya memutuskan dirinya yang mendampingi orang tua berangkat haji.

”Alhamdullilah. meski keinginan ayah kami sempat tertahan puluhan tahun untuk berhaji, Insya Allah tahun ini akan terwujud, bahkan bukan itu saja, saya juga bersyukur bisa ikut berhaji mendampingi ayah ke tanah suci yang telah dijadwalkan akan berangkat pertengahan Mei mendatang, ” ungkap Sari Gunawan.

Kepala Kantor Kemenag Sergai Azrul Aswan Sirait mengatakan, Bapak Salam Alifiah merupakan jemaah tertua asal Kabupaten Serdang Bedagai. Untuk jemaah termuda atas nama Zahra Amalia usia 19 tahun dari Kecamatan Perbaungan​​​​​​​

Jamaah haji asal Sergai akan masuk Asrama Haji, pada 17 Mei 2025 pukul 09:50 WIB dan berangkat ke Tanah Suci pada 18 Mei 2025 pukul 09:50 WIB. Jemaah diperkirakan tiba di Jeddah pukul 14:35 WAS dengan penerbangan GIA-3114.

“Semoga seluruh Calhaj asal Kabupaten Tanah Bertuah Negeri Beradat, selamat dan sehat selama menjalankan ibadah haji di tanah suci Makkah dan Madinah, sehingga menyandang haji dan hajjah yang mabrur dan mabrurah sekembalinya ke tanah air,” harapnya.***/mel

dr Arfin Putuskan Gabung Polri Usai Lihat Pengabdian Polisi di Papua Pegunungan

SEMARANG, JAYAKARTA NEWS – Dokter muda campuran Bugis – Papua, Arfinsasi Putra (29) pernah punya pengalaman memberikan pelayanan kesehatan di wilayah Papua Pegunungan. Akses, fasilitas dan layanan yang masih terbatas menjadi tantangan tersendiri.

Selain itu, dr. Arfin juga sempat menjalani program internship di Rumah Sakit Bhayangkara, Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada bulan Februari 2022 hingga Februari 2023.

Berangkat dari pengalaman-pengalaman itu, dia ingin mengabdi sebagai dokter sekaligus anggota Polri di tanah Papua, tempat kelahirannya.

“Saya juga memang punya cita-cita jadi polisi, ketika internship di RS Bhayangkara Mataram saya jadi memahami peran dokter di lingkungan kepolisian,” kata Arfin yang lahir 14 September 1995 itu, ditemui di Komplek Akademi Kepolisian (Akpol), Kota Semarang, Jumat (7/3/2025).

Dia bercerita, setelah lulus S-1 Kedokteran Umum dari Universitas Cendrawasih, Jayapura, Provinsi Papua, dan internship di RS Bhayangkara Mataram, Provinsi NTB, Arfin bertugas sebagai dokter di Papua di RS Daerah Oksibil, Papua Pegunungan. Di sanalah semangatnya makin menjadi untuk mengabdi jadi insan bhayangkara.

Dia selanjutnya lolos seleksi Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS), yang merupakan jalur khusus bagi lulusan D4, S1 ataupun S2 untuk menjadi Perwira Pertama (Pama) Polri.

“Saya memang mengikuti seleksi yang diperuntukkan bagi tenaga kesehatan,” kata Arfin.

Meskipun bukan Orang Asli Papua (OAP), namun Arfin lahir dan besar di sana. Dia berharap, setelah mengikuti pendidikan dan pengasuhan SIPSS selama 4,5bulan ini dan resmi jadi perwira Polri, bisa nantinya bertugas sebagai dokter polisi di Papua.

“Saya merasa sudah menjadi bagian dari Papua, saya ingin kembali ke sana (bertugas) untuk membantu di sektor kesehatan lewat jalur kepolisian,” tuturnya penuh semangat.***/mel

Lika Liku Pengabdian Penghulu di Pulau Pulau Batu

JAYAKARTA NEWS – Indonesia adalah negara kepulauan. Bentangan wilayah disusun oleh beribu pulau yang terhubung oleh lautan. Hal ini menjadi tentangan sendiri bagi para penghulu, utamanya mereka yang bertugas di kawasan kepualaun.

Salah satunya yang dialami Ian Maisa Sembiring (41). Dia saat ini mengabdi sebagai Penghulu sekaligus Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pulau Pulau Batu, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara ini mulai bertugas sebagai CPNS pada 1 Januari 2008. Saat itu, dia diterima sebagai Pengadministrasian Umum di Teluk Dalam Nias Selatan.

Sejak 2015, Ian ditugaskan oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Nias Selatan untuk menjadi Kepala KUA di Pulau Pulau Batu. Selama ini, Kepala KUA Pulau Batu Batu dirangkap oleh Kepala KUA Telukdalam karena kekurangan pegawai.

Dikutip dari Rilis Kemenag, Jumat (14/2/2025), Ian berbagi kisah tentang tugasnya sebagai Kepala KUA Pulau Batu Batu. Wilayah kerja KUA Pulau Pulau Batu meliputi tujuh Kecamatan yang tersebar di banyak pulau, sehingga ada julukan 101 pulau.

KUA Pulau Pulau Batu memiliki Tipologi D2, yakni KUA Kecamatan yang berada di daerah terluar, terdalam, dan di daerah perbatasan kepulauan. Oleh karena itu akses tranportasi yang digunakan antara lain kapal, serta boat atau perahu. Wilayah terjauh itu ada di Kecamatan Hibala dan Kecamatan Simuk yang waktu tempuhnya dapat mencapai 5 hingga 6 jam perjalanan dengan menggunakan kapal.

Ian mengaku menjadi tantangan baginya menjadi Penghulu di Kecamatan Pulau Pulau Batu. “Alasan saya masih bertahan sebagai penghulu adalah selama ini banyak pernikahan di Pulau Pulau Batu yang belum tercatat. Sehingga, di awal bertugas, saya mendapat laporan banyak desa yang warganya tidak punya dokumen nikah,” katanya.

Akhirnya kita jalin kerjasama dengan Pengadilan Agama (PA) Gunungsitoli untuk menyelesaikannya dengan Sidang Itsbat Nikah. Saat ini, sudah empat kali PA Gunungsitoli bersidang dengan jumlah pasangan yang telah mendapatkan Buku Nikah melalui Itsbat berjumlah kurang lebih 200 pasang.

Dia mengungkapkan, pengalaman dalam melaksanakan tugas yang mungkin berbeda dengan penghulu di KUA Kecamatan dengan tipologi selain D2 adalah ketika melakukan pencatatan Nikah di pulau lain. Sebagai penghulu, dia harus siap berada di pulau itu setidaknya tiga hari, keberangkatan sebelum hari pelaksanaan, hari pelaksanaan, dan hari kembali setelah pelaksanaan. Itupun dengan catatan cuaca bagus. Bila cuaca kurang bagus, misal ada badai, maka berada di pulau itu dapat lebih dari tiga hari.

“Pernah ketika melaksanakan pencatatan nikah dalam perjalanan terjebak kondisi cuaca badai sehingga membuat jantung berdebar kencang dan bayangan akhirat semakin dekat,” ungkapnya sambil tertawa.

Pengalaman tak terlupakan saat momen pernikahan calon pengantin di Pulau Bais Kecamatan Pulau Pulau Batu Timur. Untuk sampai lokasi, dia harus menyusuri perjalanan laut menggunakan kapal kayu selama 3 jam. Setelah itu, dia menaiki perahu kecil dikarenakan kondisi laut yang surut di siang hari. Sehingga, tidak memungkinkan menggunakan kapal kayu besar untuk mencapai bibir pantai.

“Kami harus menghasibikan satu malam di pulau ini untuk dapat kembali pulang ke Pulau Telo esok harinya, karena alasan transportasi yang terbatas. Iupun kalau cuaca bagus. Jika cuaca tidak memungkinkan, bisa jadi 2 atau 5 hari baru bisa kembali Pulau Telo,” ungkapnya.

Pria yang hobi sepak bola dan futsal ini menyampaikan, walaupun bertugas di daerah terpencil, namun Ian ikhlas. Semangatnya tak pernah surut demi mengabdi kepada negara dan memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Ian mengharapkan Kementerian Agama menempatkan atau menambah pegawai penghulu yang mumpuni di KUA Pulau Pulau Batu. Perlu ditambahkan juga Penyuluh Agama yang berkompeten karena wilayah kerja yang cukup luas dan masyarakat yang masih sangat membutuhkan bimbingan keagamaan di Pulau Pulau Batu ini.

“Perlu juga diadakan nomenklatur KUA Kecamatan baru bagi kecamatan lain, sehingga warga atau petugas KUA tidak harus menempuh jarak yang cukup jauh,” pungkasnya penuh harapan.***/mel

Membantu Tanpa Pamrih: Dedikasi Bripka Untung Lakukan Dakwah dan Pengobatan Gratis

WONOSOBO, JAYAKARTA NEWS – Setelah 12 tahun mengabdi di Korps Brigade Mobil (Brimob) Kota Palu, Bripka Untung akhirnya kembali ke tanah kelahirannya di Kabupaten Wonosobo pada tahun 2012. Kini, ia menjalankan tugas sebagai Bhabinkamtibmas di Desa Kadipaten, Polsek Selomerto.

Tak sekadar menjalankan tugas kepolisian, Bripka Untung juga dikenal sebagai sosok yang aktif dalam dakwah serta terapi bekam, menjadikannya figur yang dihormati dan dekat dengan masyarakat.

Sebagai Bhabinkamtibmas, Bripka Untung kerap memberikan tausiah di berbagai desa binaannya. Dari 24 desa di Kecamatan Selomerto, ia telah mengunjungi 15 desa dan sering dipercaya menjadi khatib salat Jumat.

Kedekatannya dengan warga membuatnya lebih dari sekadar aparat keamanan. ia adalah sosok panutan yang membimbing masyarakat melalui nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan.

Selain berdakwah, Bripka Untung juga dikenal sebagai praktisi Bekam yang melayani masyarakat tanpa memungut biaya. Pengalamannya dengan terapi bekam bermula saat bertugas di Palu, ketika ia mengalami tekanan darah tinggi. Atas saran Ustaz Hamzah, seorang imam masjid setempat, ia mencoba terapi bekam dan merasakan manfaatnya. Setelah rutin menjalani terapi, tekanan darahnya kembali stabil.

“Awalnya saya takut karena di keluarga saya ada riwayat hipertensi. Tapi setelah bekam, kondisi saya membaik. Saya pun belajar langsung dari Ustaz Hamzah hingga akhirnya bisa mempraktikkan bekam sendiri,” ujar Bripka Untung.

Berbekal ilmu tersebut, ia mulai mengobati keluarganya, termasuk sang istri dan kedua orang tuanya yang menderita hipertensi. Sejak tahun 2012, kondisi mereka stabil berkat terapi bekam yang ia lakukan secara rutin.

Tak hanya untuk keluarga, Bripka Untung juga membantu rekan-rekannya di Polres Wonosobo. Beberapa anggota Kepolisian di Polres Wonosobo pernah menjalani terapi bekam olehnya karena keluhan tekanan darah tinggi dan sakit kepala.

Selaku atasan, Kapolsek Selomerto, Iptu Saptono Wibowo, memberikan apresiasi atas dedikasi Bripka Untung.

“Kegiatan bekam yang dilakukan Bripka Untung tidak mengganggu tugasnya sebagai Bhabinkamtibmas. Bahkan beberapa anggota Polsek Selomerto juga rutin menjalani terapi bekam dengannya,” ungkapnya.

Dalam menjalankan tugasnya di desa binaan, Bripka Untung selalu membawa peralatan bekam dalam tas besarnya. Ia siap membantu warga yang membutuhkan terapi, termasuk mereka yang mengalami stroke atau gangguan kesehatan lainnya.

Selain aktif di bidang dakwah dan pengobatan, Bripka Untung juga memiliki usaha budidaya lebah madu. Setelah melakukan terapi bekam, ia sering memberikan madu asli dari lebah yang ia pelihara kepada pasiennya. Saat ini, ia memiliki sekitar 30 sarang lebah, dengan setiap sarang mampu menghasilkan satu hingga dua botol madu per panen.

ia memiliki harapan besar untuk membangun usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berfokus pada produksi madu serta tanaman herbal lainnya. Ia ingin memberikan peluang usaha bagi masyarakat yang tertarik membudidayakan lebah dan menciptakan ekosistem ekonomi berbasis kesehatan alami.

Tak hanya itu, Bripka Untung juga bercita-cita mendirikan rumah sehat yang menyediakan terapi bekam, rukyah, dan gurah secara gratis bagi masyarakat.

“Saya ingin melayani masyarakat melalui terapi bekam, rukyah, dan gurah secara gratis. Semoga impian ini bisa segera terwujud,” ungkapnya penuh semangat.***/mel