• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Friday, October 2, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

Bulan Suro Mau Apa?

Bulan Suro Mau Apa?

admin by admin
June 19, 2026
in Kolom
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Gde Mahesa

Membaca Laku Sepi di Bulan Suro:
Lelaku yang setiap orang pilih, tentunya bukan tanpa akar. Ada tiga pondasi yang patut diketahui:

  1. Konsep Suro dalam Kosmologi Jawa  
    Suro atau Muharam adalah bulan pertama dalam kalender Jawa Islam.

Dalam filosofi Jawa, ini adalah bulan permulaan, merupakan bulan kontemplasi, dan bulan gerbang. Kata “Suro” dekat dengan kata “sura” yang berarti berani. Tetapi berani di sini bukan berarti berani melawan musuh di luar.
Ini berani melawan diri sendiri. Berani sepi, berani hening, berani jujur dengan batin.

Jika  Kraton memiliki tradisi ritual mubeng beteng tanpa bicara atau mbisu, tentunya tujuannya sama : mengheningkan cipta, dan menyucikan niat.

Menilih sepi di tempat pilihan atau dicandi, hal itu tentunya satu frekuensi dengan mubeng beteng. Bedanya cuma wadah. Esensinya sama: pulang atau mulih, kembali ke awal.

  1. Laku Pribadi vs Laku Komunal :
    Mubeng beteng itu laku komunal. Tujuannya membangun kesadaran kolektif. Semua warga menyatu dalam diam, membersihkan energi kawula, pribadi serta kraton khususnya.

Sedangkan laku sepi di tempat keramat atau candi merupakan laku personal.  Inti dari tujuannya membangun kesadaran individu. Berdialog langsung dengan diri sendiri tanpa perantara massa.
Dua-duanya sah. Dalam literasi spiritual Jawa, ada konsep “manunggaling kawula Gusti”.

Kawula harus manunggal dulu dengan dirinya, baru bisa manunggal dengan Gusti. Laku sepi adalah proses “manunggal”. Setelah itu baru bisa ikut mubeng beteng dengan bobot, tidak sekadar ikut arus.

  1. Alasan Logis dan Filosofis Dalam Laku Sepi
    Lelaku ini tentunya sangat bernilai sebagai literasi budaya:
  2. Alasan Antropologis: Melawan Ritual yang Kosong  
    Banyak ritual Suro sekarang jadi tontonan. Ramai, foto-foto, selesai. Esensi hening, henengnya hilang. Laku sepi adalah kritik sunyi.

Tentunya hal ini mengingatkan bahwa inti Suro bukan di keramaian, tapi di keheningan. Ini menjaga agar budaya tidak jadi cangkang kosong.

  1. Alasan Psikologis: Depersonalisasi untuk Klarifikasi  
    Dalam psikologi, ada istilah “sensory deprivation” atau pengurangan rangsang. Tempat sepi seperti tempat keramat dan candi, mematikan kebisingan luar. Saat kebisingan luar mati, kebisingan dalam diri justru akan terdengar jelas.
    Dan sebenarnya kita tidak mencari jawaban di tempat tersebut. Tetapi sedang mendengar pertanyaan batin sendiri dengan jernih. Ini laku waras di zaman bising.
  2. Alasan Filosofis: Sangkan Paraning Dumadi  
    Merupakan ajaran inti Kejawen. “Dari mana asal dan ke mana tujuan hidup”. Suro adalah momen “sangkan”, kembali ke asal. Tempat paling cocok untuk merenung “sangkan” adalah tempat yang sudah tua, yang sudah selesai dengan urusannya sendiri.

Semisal “candi” adalah simbol “sangkan”. Ia diam beribu tahun. Ia tidak butuh pengakuan.

Duduk di situ adalah belajar menjadi “ada” tanpa harus “tampil”. Itu pelajaran langka.

  1. Alasan Ekologis Spiritual: Menyatu dengan Ruang Waktu  
    Dengan sepi di tempat tersebut saat Suro, kita tanpa sadar secara simbolik sedang menyelaraskan diri dengan kalender kosmis dan kalender spiritual sekaligus.
    Hal ini termasuk Kalacakra. Menyamakan waktu internal dengan waktu semesta.
  2. Laku Sepi sebagai Bentuk Perlawanan
    Jadi lelaku bisa dirumuskan seperti berikut :  
    Jika mubeng beteng adalah “puasa bicara kolektif”, maka nyepi di tempat – tempat tua adalah “puasa wujud personal”.

Ini bukan melarikan diri dari keramaian. Ini memilih medan tempur yang sesungguhnya: diri sendiri.

Di zaman semua orang sibuk terlihat, memilih untuk tidak terlihat adalah bentuk perlawanan paling elegan.

“Suro bukan tentang takut sial. Suro tentang berani sepi. Karena di dalam sepi, manusia bisa mendengar suara asal-usulnya sendiri”.

Bullllll…. bullllll…. klepussss….

Tags: filosofi bulan surokonsep surosatu suro
Previous Post

Festival Ksatria 3.0 Usung Tradipop

Next Post

KP2MI Bangun Peta Jalan Reintegrasi Nasional Berbasis Desa

admin

admin

Next Post
KP2MI Bangun Peta Jalan Reintegrasi Nasional Berbasis Desa

KP2MI Bangun Peta Jalan Reintegrasi Nasional Berbasis Desa

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version