Kolom
Bangsa Ini Tidak Boleh Dibiarkan Terlena Lagi
Oleh Brigjen Purn MJP Hutagaol
Indonesia sedang memasuki babak baru. Dan babak ini dimulai bukan karena masalah tiba-tiba muncul, tetapi karena yang selama ini ditutup akhirnya mulai dibuka.
Kasus bandara ilegal di Morowali hanya satu pintu kecil yang kebetulan terbuka.
Di balik pintu itu, tersimpan rangkaian persoalan besar yang selama bertahun-tahun dibiarkan mengakar: mafia tambang, mafia tanah, mafia sawit, mafia pupuk, mafia beras, hingga jaringan ekonomi gelap yang mengalir tanpa sentuhan negara.
Bukan rahasia:
jika aparat diam, itu bukan karena mereka tidak mampu.
Mereka diam karena ruang geraknya dipersempit.
Selama hampir dua dekade, bangsa ini hidup dalam suasana yang membuat penjaga negara kehilangan kompas.
Pemimpin politik, partai, legislatif, dan aktor hukum saling mengikat sehingga para penjaga tidak lagi berdiri tegak sebagai garda republik, melainkan terjebak dalam aturan yang memandulkan.
Kini haluan mulai berubah.
Pemimpin baru membuka kembali ruang untuk berbenah.
Dan para penjaga—yang selama ini seolah lumpuh—perlahan mulai menggeliat.
Penyergapan mafia, pembongkaran jalur gelap, penindakan kejahatan besar yang selama ini “tak tersentuh”, semua menunjukkan bahwa negara mulai mengambil kembali kewibawaannya.
Tetapi kita jangan naif.
Indonesia bukan sekadar tanah air—ia adalah hadiah geopolitik yang diperebutkan dunia.
Sumber daya alam kita terlalu besar, terlalu lengkap, terlalu strategis untuk tidak menjadi incaran.
Banyak kekuatan asing ingin memegang kendali, tidak selalu dengan kekuatan senjata, tetapi melalui:
ketergantungan ekonomi,
proyek-proyek raksasa,
jaringan modal,
dan pemanfaatan celah hukum yang longgar.
Pada titik inilah pentingnya kejelasan arah pemimpin.
Kalau pemimpin gamang, penjaga pun gamang.
Kalau pemimpin tegak, penjaga pun kembali tegap.
Hari ini, tanda-tanda itu mulai terlihat.
Mafia yang dulu kebal, kini mencicit.
Jalur gelap yang dulu aman, kini gentar.
Aparat yang dulu tampak pasif, kini mulai bekerja seperti prajurit yang menemukan kembali jiwanya.
Ini bukan kebetulan.
Ini momentum.
Momentumnya bangsa bangkit dari hipnotis panjang, mengingat kembali amanat yang diwariskan para pendiri negara.
Karena Indonesia tidak akan runtuh oleh kekuatan luar,
tapi bisa runtuh jika para penjaganya memilih nyaman daripada setia.
Maka tidak ada pilihan lain:
bersihkan sisa-sisa jaringan yang dulu merantai langkah bangsa ini, dan kembalikan negara kepada rakyat.
Momentum sudah terbuka.
Jangan biarkan tertutup lagi. (*)
