Kolom
Antara Mistis dan Artistik Jathilan
Gde Mahesa
Kesenian kuda lumping, atau jaran kepang, adalah bagian yang tak terpisahkan dari adat Jawa, dan juga populer disebut Jathilan. Sebagai kesenian tradisional yang bukan hanya sekadar tarian, tetapi juga merupakan pertambahan budaya Jawa yang sarat akan mitos dan kepercayaan mistis.
Nama tarian ini di setiap daerah berbeda. Contohnya, Kuda Lumping di Jawa Barat, Jathilan Hamengkubuwono di Jawa Tengah dan Yogyakarta, Jaran Kepang di Surabaya, Jaranan Sang Hyang di Bali, Jaranan Buto di Banyuwangi, sampai Jaranan Turonggo Yakso di Trenggalek.
Pertunjukan ini punya satu keunikan yang paling menonjol, yakni aksi kesurupan yang ditonton secara bebas dengan pengendalian seorang pawang. Ada pula atraksi kanuragan atau kekuatan magis, badan kebal, makan beling, dan lain sebagainya.
Jathilan, atau kuda lumping identik dengan gerak tarian yang energik dan dramatis, dengan menggunakan properti kuda tiruan dari anyaman bambu. Dalam permainan ini, ada momen yang ditunggu penonton. Yakni, saat pemain ndadi alias kesurupan, dalam iringan bunyi gamelan yang dinamis, dan suara cetar lecutan cemeti.
Jathilan atau kuda lumping memang boleh dikata bentuk kesenian berbahaya yang melibatkan kejadian magis dan di luar nalar. Konon dalam permainan ini yang seringkali merasuki pemain ada 4 sosok siluman antara lain, seperti siluman sejenis kuda, celeng serenggi sejenis babi dan lain sebagainya.
Tak ketinggalan dalam pertunjukan ini sering disandingkan dengan sesajen untuk tolak bala, memanggil arwah, yang kadang dianggap syirik dalam pandangan agama tertentu. Mitos pertunjukan ini berpusat pada unsur magis, di mana penari diyakini kesurupan siluman atau roh leluhur juga makhluk halus lainnya, sehingga menyebabkan para penari kebal terhadap pecutan, memakan kaca/beling, dan terus menari tak kenal lelah.
Kesurupan dalam pertunjukan kuda lumping secara budaya diyakini sebagai fenomena kerasukan roh leluhur atau makhluk gaib, di mana penari kehilangan kesadaran dan melakukan aksi ekstrem. Namun, sebagian pandangan lain menganggapnya sebagai bagian dari pertunjukan.

Mitos populer pada budaya Jathilan yang masih dipercaya :
1.Mitos Kesurupan sebagai Bukti Kekuatan Gaib :
Kesurupan yang dialami oleh penari Jathilan seringkali dianggap sebagai bukti bahwa mereka telah “dimasuki” roh leluhur atau makhluk halus.
2.Kuda Lumping sebagai Lambang Keberanian dan Perlindungan:
Kuda lumping, yang terbuat dari anyaman ini, diyakini memiliki makna simbolis sebagai lambang keberanian dan memberikan perlindungan kepada penari dari gangguan roh. Untuk itulah kuda lumping seringkali diberi sesaji khusus.
3.Ritual Sesaji untuk Penjaga Gaib:
Sebelum pertunjukan dimulai, sesaji atau persembahan berupa makanan, bunga, dan dupa seringkali dipersiapkan untuk makhluk gaib yang dianggap menjaga lokasi pementasan.
4.Mitos tentang Penggunaan Susuk atau Azimat Khusus :
Diyakini bahwa penari Jathilan, terutama mereka yang terlibat dalam peran tertentu seperti warok atau pemimpin kelompok, sering kali menggunakan susuk atau azimat khusus untuk meningkatkan kekuatan mereka selama pertunjukan.
Azimat berfungsi untuk kekebalan terhadap benda tajam, seperti pecut, beling, atau paku, yang sering dipakai dalam atraksi-atraksi berbahaya.
5.Mitos Pemanggilan Roh Leluhur untuk Kelancaran Pementasan :
Pawang atau pemimpin biasanya melakukan doa dan ritual tertentu untuk memohon izin dari leluhur agar pementasan berjalan lancar dan penonton terhibur tanpa gangguan.
6.Tujuan Magis:
Selain hiburan, tarian ini sering diadakan untuk ritual tolak bala (menghindari musibah) di desa-desa.
Walaupun tidak semua orang percaya, masyarakat Jawa masih menghormati aspek-aspek budaya dan keyakinan yang melekat pada Jathilan.
Melalui mitos dan kepercayaan, Jathilan tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa, menjadikannya tradisi yang kaya akan nilai-nilai spiritual dan artistik.
Meskipun zaman telah berubah, Jathilan tetap memikat penonton dan masyarakat yang ingin menikmati keindahan seni dan mistisnya, sambil menjaga warisan budaya leluhur yang penuh misteri.
Asal-usul dari tarian ini pun beragam, selain sebagai bagian dari ritual tolak bala, mengatasi berbagai musibah, konon juga dikatakan bahwa tarian tradisional ini lahir dari dukungan rakyat Jelata terhadap Pangeran Diponegoro yang berperang melawan kekuatan kolonial Belanda. Namun juga ada versi yang mengatakan bahwa tarian ini muncul di era Kerajaan Mataram ketika pasukan penunggang kuda yang dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwono I berperang melawan penjajah Belanda.
Hal inilah menjadikan tari kuda lumping sebagai simbol perjuangan dan harapan masyarakat.
Maka pantas jika tari kuda lumping bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga representasi budaya yang kaya dan penuh makna simbolik.
Bullll….. bullll…. klepussss……
