DELI SERDANG, JAYAKARTA NEWS – Di balik kostum robot Optimus Prime berwarna kuning dan biru hasil perpaduan Bumblebee, tersimpan kisah perjuangan seorang ayah sekaligus kakek bernama Eriadi.
Dengan kostum seberat sekitar 16 kilogram, pria paruh baya ini rela berdiri berjam-jam di tepi jalan demi mencari nafkah untuk keluarganya.
Minggu (1/11), sekitar Jam 09.00 WIB, sosok Eriadi terlihat di kawasan Jalan Pasar VII, Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Tepatnya di depan Stasiun Kereta Api Bandar Khalifah, sebelum perlintasan rel kereta api.
Di sampingnya berdiri kostum robot Optimus Prime, karakter pemimpin kelompok robot Transformers. Kostum itulah yang menjadi teman sekaligus alat perjuangannya mencari penghasilan setiap hari.
Bagi sebagian orang, kostum robot mungkin hanya perlengkapan hiburan. Namun, bagi Eriadi, benda tersebut merupakan bagian dari usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
“Saya dari 2023 ngamen dengan menggunakan kostum robot Optimus Prime. Sebelumnya saya supir,” kata Eriadi saat hendak memakai perlengkapan kostum robotnya.

Kostum Buatan Anak Sendiri
Kostum Optimus Prime yang dikenakan Eriadi bukan barang jadi yang dibeli di toko. Kostum tersebut dibuat secara khusus dengan bahan kaleng dan busa.
Menariknya, proses pembuatannya melibatkan anaknya sendiri. Dengan biaya sekitar Rp1,7 juta, kostum itu akhirnya selesai dan siap digunakan untuk mengamen.
Pilihan terhadap karakter Optimus Prime juga bukan tanpa alasan. Eriadi mengaku menyukai karakter robot tersebut.
“Saya pilih Optimus Prime ini karena suka saja. Kalau punya anak saya ada Bumblebee, kostum robot ada Optimus Prime dan Batman,” ujarnya.
Namun, mengenakan kostum tersebut bukan pekerjaan mudah. Di balik bentuknya yang menarik perhatian, ada beban fisik yang harus ditanggung Eriadi setiap kali bekerja.
Berat kostum itu mencapai sekitar 16 kilogram. Bebannya terbagi pada kedua sisi, masing-masing berkisar 7,5 hingga 8 kilogram.
Belum lagi suhu panas dan udara pengap di dalam kostum yang membuat tubuh cepat berkeringat.
“Saya tahan hanya dua jam, setelah itu wajib turun untuk istirahat dan paling lama bisa tahan dua setengah jam,” jelasnya.
Belajar Mengunakan Kostum
Perjalanan Eriadi menjadi pengamen berkostum robot tidak langsung berjalan mulus. Ada proses belajar yang harus dilalui sebelum akhirnya mampu tampil di pinggir jalan.
Ia mengaku membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk belajar menggunakan kostum tersebut. Pada tahap awal, latihan itu lebih banyak difokuskan agar bisa berdiri dengan stabil.
Bahkan, untuk berjalan saja, ia belum langsung menguasainya.
“Awalnya pertama main ya jatuh bangunlah, kadang ke depan, ke belakang, ke samping,” kenangnya.
Kesulitan semakin terasa ketika harus beraktivitas di sekitar jalan raya dan kawasan perlintasan kereta api. “Apalagi ada pengendara naik sepeda motornya kencang-kencang,” ungkapnya.
Meski demikian, Eriadi bersyukur karena selama menjalani aktivitas tersebut dirinya belum pernah mengalami cedera.
“Insyaallah sejauh ini tidak pernah ada cedera selama ngamen,” kata kakek berpostur kurus itu.
Mengamen 12 Jam Sehari
Setiap hari, Eriadi mulai mengamen sekitar Jam 10.00 WIB hingga Jam 22.00 WIB.
Salah satu lokasi tempatnya mencari penghasilan adalah kawasan depan Stasiun Bandar Khalifah di Jalan Pasar VII, Percut Sei Tuan.
Dengan kostum Optimus Prime yang dikenakannya, Eriadi berusaha menarik perhatian masyarakat dan para pengguna jalan.
Dari aktivitas tersebut, penghasilannya tidak selalu sama setiap hari. Ia menyebut bisa memperoleh sekitar Rp200 ribu bersih dalam sehari.
Namun, jumlah itu tidak bisa dipastikan karena bergantung pada keadaan dan banyaknya orang yang memberikan uang.
“Sehari-hari bisa dapat Rp200 ribu bersih. Tapi itu enggak tentu. Kadang ada, kadang enggak ada juga,” tuturnya.
Penghasilan yang lebih baik biasanya diperoleh ketika ada momen tertentu, seperti Lebaran dan Tahun Baru.
Selain mengamen di jalan, Eriadi juga kerap mendapat undangan untuk tampil dalam acara ulang tahun maupun kegiatan pasar malam.
Untuk undangan penampilan, ia tidak menetapkan tarif secara kaku. Besarannya menyesuaikan permintaan dan kesepakatan dengan pihak yang mengundang.
“Kalau dipanggil harganya enggak dipatok, bervariasi. Biasanya per jam ada yang Rp200 ribu, ada yang Rp150 ribu. Ibaratnya ini kan robot ngamen,” jelasnya.
Ia juga menyebut beberapa lokasi lain yang pernah menjadi tempatnya tampil, termasuk kawasan Aras Kabu dan stadion olahraga dekat Bandara Kualanamu.

Ayah Lima Anak dan Kakek Enam Cucu
Di balik penampilannya sebagai robot Optimus Prime, Eriadi adalah seorang kepala keluarga yang memiliki tanggung jawab besar.
Ia merupakan ayah dari lima anak sekaligus kakek dari enam cucu.
Usianya mungkin tidak lagi muda. Namun, semangatnya untuk tetap bekerja terlihat dari kesediaannya menjalani aktivitas yang membutuhkan tenaga dan ketahanan fisik.
Kostum yang berat, panas, dan pengap tidak membuatnya begitu saja menyerah. Selama masih mampu, ia terus berusaha mendapatkan penghasilan dari pekerjaan yang dijalaninya.
Tempat tinggal Eriadi berada di Jalan Sempurna, Gang Melur Nomor 23, Tembung, Kabupaten Deli Serdang.
Kisahnya memperlihatkan bahwa mencari nafkah tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang biasa. Ada yang bekerja dengan tenaga, ada yang mengandalkan keterampilan, dan ada pula yang memanfaatkan kreativitas untuk menciptakan peluang.
Bagi Eriadi, menjadi Optimus Prime bukan sekadar mengenakan kostum robot untuk menghibur orang lain. Di balik setiap gerakan dan lambaian tangannya kepada pengguna jalan, ada usaha untuk memperoleh penghasilan.
Saat masyarakat melihat sosok robot yang berdiri di tepi jalan, mungkin yang terlihat hanyalah hiburan sederhana. Namun, di balik kostum seberat 16 kilogram itu, ada seorang ayah dan kakek yang terus berjuang menjalani kehidupannya.
Sebuah perjuangan sederhana, tetapi menyimpan makna besar tentang tanggung jawab, ketekunan, dan kasih sayang kepada keluarga. (Monang Sitohang)







































