• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Dewan Jenderal di Era Sukarno: Antara Fakta dan Kontroversi

Dewan Jenderal di Era Sukarno: Antara Fakta dan Kontroversi

September 25, 2025
Promosi Situs Melalui TikTok! Polisi Bongkar Layanan Live Streaming Pornografi

Promosi Situs Melalui TikTok! Polisi Bongkar Layanan Live Streaming Pornografi

November 3, 2026
Polri Tertibkan Debt Collector, Dorong Legalitas Profesi dan Cegah Praktik Premanisme

Polri Tertibkan Debt Collector, Dorong Legalitas Profesi dan Cegah Praktik Premanisme

November 3, 2026
Austin Tumengkol Ambil Formulir Bakal Calon Ketua PWI Sumatera Utara

Austin Tumengkol Ambil Formulir Bakal Calon Ketua PWI Sumatera Utara

November 3, 2026
Kapolri Suyudi Ario Seto Minta Lakukan Tracing Aset untuk Miskinkan Jaringan Kejahatan Digital

Kapolri Suyudi Ario Seto Minta Lakukan Tracing Aset untuk Miskinkan Jaringan Kejahatan Digital

November 3, 2026
Dimas Supartono Merambah Bisnis Properti, Siapkan Single Terbaru untuk Industri Musik Indonesia

Dimas Supartono Merambah Bisnis Properti, Siapkan Single Terbaru untuk Industri Musik Indonesia

November 3, 2026
Lingkaran Setan Narkoba Kampung Bahari: Mengapa Hukum Saja tidak Cukup?

Lingkaran Setan Narkoba Kampung Bahari: Mengapa Hukum Saja tidak Cukup?

November 3, 2026
Sudirman Said: Kita harus Terus Berikhtiar untuk Keluar dari Krisis Tata Kelola

Sudirman Said: Kita harus Terus Berikhtiar untuk Keluar dari Krisis Tata Kelola

November 2, 2026
Santrawan Paparang Dorong Prabowo Hadirkan Keadilan dalam Persoalan Pertanahan

Santrawan Paparang Dorong Prabowo Hadirkan Keadilan dalam Persoalan Pertanahan

November 2, 2026
BULOG Perketat Pengawasan, Rumah Pangan Kita di Berbagai Daerah Diperiksa

BULOG Perketat Pengawasan, Rumah Pangan Kita di Berbagai Daerah Diperiksa

November 2, 2026
Kasus Penembakan dan Pembacokan di Cengkareng Terungkap, Satu Tersangka Menyerahkan Diri

Kasus Penembakan dan Pembacokan di Cengkareng Terungkap, Satu Tersangka Menyerahkan Diri

November 2, 2026
Menteri P2MI Salurkan Bantuan dan Pastikan PMI di Shelter Hong Kong Mendapat Pendampingan

Menteri P2MI Salurkan Bantuan dan Pastikan PMI di Shelter Hong Kong Mendapat Pendampingan

November 1, 2026
Penghayatan Sang Pengamen Jalanan Menggesekkan Senar Biola Memukau Pendengar

Penghayatan Sang Pengamen Jalanan Menggesekkan Senar Biola Memukau Pendengar

November 1, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Tuesday, November 3, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Science
    • World
    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    Dimas Supartono Merambah Bisnis Properti, Siapkan Single Terbaru untuk Industri Musik Indonesia

    Dimas Supartono Merambah Bisnis Properti, Siapkan Single Terbaru untuk Industri Musik Indonesia

    DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

    DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel
    Babe Koko dan 70 Motor Tua: Merawat Sejarah, Merawat Investasi

    Babe Koko dan 70 Motor Tua: Merawat Sejarah, Merawat Investasi

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kolom

Dewan Jenderal di Era Sukarno: Antara Fakta dan Kontroversi

by admin
September 25, 2025
in Kolom
0
Dewan Jenderal di Era Sukarno: Antara Fakta dan Kontroversi
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Heri Mulyono

Investigasi Jurnalistik tentang Salah Satu Episode Paling Kontroversial dalam Sejarah Indonesia


Pada malam 30 September 1965, Indonesia memasuki salah satu babak paling kelam dalam sejarahnya. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Gerakan 30 September (G30S) tidak hanya mengubah lanskap politik Indonesia secara drastis, tetapi juga memunculkan berbagai pertanyaan yang hingga kini masih menjadi bahan perdebatan para sejarawan. Salah satu aspek yang paling kontroversial adalah keberadaan dan peran yang dimainkan oleh apa yang disebut sebagai “Dewan Jenderal.”

Nama Dewan Jenderal muncul dalam narasi resmi yang dikembangkan pasca-1965 sebagai justifikasi atas tindakan yang dilakukan oleh kelompok yang menamakan diri Gerakan 30 September. Namun, keberadaan aktual dari dewan ini, struktur organisasinya, dan rencana-rencana yang dikaitkan dengannya tetap menjadi misteri yang dipenuhi dengan klaim-klaim yang saling bertentangan.

Investigasi ini berupaya mengurai benang kusut sejarah dengan menyajikan berbagai perspektif, bukti-bukti yang tersedia, dan analisis kritis terhadap sumber-sumber yang ada, tanpa mengambil sikap definitif terhadap kebenaran absolut dari klaim-klaim yang ada.

Latar Belakang Politik Indonesia Era 1960-an

Untuk memahami kontroversi Dewan Jenderal, kita harus terlebih dahulu memahami dinamika politik Indonesia pada pertengahan 1960-an. Era ini ditandai dengan ketegangan yang meningkat antara berbagai kekuatan politik utama: Sukarno sebagai presiden, TNI-AD sebagai kekuatan militer dominan, dan PKI sebagai partai komunis terbesar di dunia di luar blok Soviet-Tiongkok.

Sukarno, dengan konsep Demokrasi Terpimpinnya, berusaha menyeimbangkan berbagai kekuatan politik yang saling berseberangan. Di satu sisi, ia mengandalkan dukungan PKI untuk melawan tekanan dari unsur-unsur konservatif dalam masyarakat. Di sisi lain, ia membutuhkan dukungan TNI untuk menjaga stabilitas dan melaksanakan kebijakan-kebijakan kontroversialnya seperti Konfrontasi dengan Malaysia.

Menurut sejarawan J.D. Legge dalam bukunya “Sukarno: A Political Biography” (1972), periode ini ditandai dengan apa yang ia sebut sebagai “keseimbangan yang tidak stabil” (situasi di mana kekuatan politik saling mengimbangi tetapi sewaktu-waktu bisa berubah) antara ketiga kekuatan tersebut. Posisi Sukarno sebagai penengah mulai tergerus ketika ketegangan antara TNI-AD dan PKI semakin memuncak, terutama terkait dengan isu pembentukan “Angkatan Kelima” yang diusulkan PKI.

Kemunculan Konsep Dewan Jenderal

Istilah “Dewan Jenderal” pertama kali muncul secara publik melalui pernyataan yang dibacakan oleh Letkol Untung Syamsuri pada dini hari 1 Oktober 1965. Dalam pernyataannya, Untung menyatakan bahwa Gerakan 30 September bertindak untuk mencegah “kudeta” yang akan dilakukan oleh sebuah “Dewan Jenderal” yang bekerja sama dengan CIA.

Menurut versi yang disampaikan oleh G30S, Dewan Jenderal adalah sebuah organisasi rahasia yang terdiri dari para jenderal senior TNI-AD yang merencanakan untuk menggulingkan Presiden Sukarno pada tanggal 5 Oktober 1965, bertepatan peringatan Hari Angkatan Bersenjata. Dewan ini diklaim memiliki struktur organisasi yang jelas dengan Ahmad Yani sebagai ketua, dan beranggotakan para jenderal senior seperti D.I. Panjaitan, M.T. Haryono, Suprapto, S. Parman, dan Sutoyo Siswomiharjo.

Klaim ini didukung oleh dokumen-dokumen yang disebut sebagai “dokumen Gilchrist” (surat telegram diplomatik Inggris yang diduga membuktikan keterlibatan asing) dan “dokumen Cornell Paper” (laporan penelitian dari Universitas Cornell Amerika yang menganalisis G30S), yang diklaim sebagai bukti adanya konspirasi internasional untuk menggulingkan pemerintahan Sukarno. Dokumen Gilchrist merujuk pada telegram yang diklaim dikirim oleh Duta Besar Inggris Andrew Gilchrist yang menyinggung tentang “teman-teman lokal” yang siap bertindak.

Perspektif Berbeda tentang Keberadaan Dewan Jenderal

Pandangan yang Mendukung Keberadaan Dewan Jenderal

Beberapa sejarawan dan saksi peristiwa memberikan dukungan terhadap kemungkinan keberadaan Dewan Jenderal, meskipun dengan tingkat keyakinan yang bervariasi.

Dr. Saleh Sukmono, mantan anggota Komando Mandala, dalam wawancaranya dengan sejarawan Julie Southwood dan Patrick Flanagan (1983), menyatakan bahwa ia mendengar rumor-rumor tentang adanya pertemuan-pertemuan rahasia antara para jenderal senior pada bulan-bulan sebelum G30S. Menurutnya, para jenderal ini khawatir dengan semakin besarnya pengaruh PKI dan kemungkinan Sukarno menyerahkan lebih banyak kekuasaan kepada partai komunis.

Benedict Anderson dan Ruth McVey, dalam “Cornell Paper” (studi akademis tentang G30S) yang mereka tulis pada 1966, meskipun tidak sepenuhnya mendukung narasi (versi cerita) G30S, mengakui bahwa kemungkinan adanya kegelisahan di kalangan perwira senior TNI-AD terhadap kebijakan Sukarno bukanlah hal yang mustahil. Mereka menunjuk pada beberapa indikator ketegangan, seperti penolakan beberapa komandan daerah terhadap kebijakan pembentukan Angkatan Kelima.

Pandangan yang Meragukan Keberadaan Dewan Jenderal

Di sisi lain, banyak sejarawan dan analis yang meragukan keberadaan Dewan Jenderal sebagai organisasi formal dengan struktur dan rencana yang jelas.

Harold Crouch, dalam bukunya “The Army and Politics in Indonesia” (1978), berargumen bahwa tidak ada bukti konkret yang mendukung keberadaan Dewan Jenderal sebagai organisasi yang terstruktur. Menurutnya, yang ada adalah kegelisahan umum di kalangan perwira TNI-AD terhadap kebijakan Sukarno, tetapi hal ini tidak secara otomatis menunjukkan adanya konspirasi yang terorganisir.

John Roosa, dalam “Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup d’État in Indonesia” (2006), bahkan lebih tegas dalam meragukan keberadaan Dewan Jenderal. Ia berargumen bahwa konsep Dewan Jenderal adalah fabrication (pemalsuan/rekayasa) yang diciptakan untuk memberikan justifikasi retroaktif (alasan yang dibuat setelah peristiwa terjadi) atas tindakan G30S dan kemudian digunakan oleh Soeharto untuk melegitimasi (memberikan keabsahan hukum) pengambilalihan kekuasaannya.

Analisis Bukti-Bukti yang Ada

Dokumen Gilchrist

Dokumen Gilchrist, yang sering dikutip sebagai bukti adanya konspirasi internasional, telah menjadi subjek analisis yang intensif. Telegram yang dimaksud memang ada dan telah diverifikasi keasliannya oleh arsip pemerintah Inggris. Namun, interpretasi terhadap isi telegram ini sangat bervariasi.

Dalam telegram tertanggal 5 September 1965, Gilchrist menyebutkan tentang “our local army friends” (teman-teman tentara lokal kami) dan kemungkinan perubahan politik di Indonesia. Pendukung teori Dewan Jenderal melihat ini sebagai bukti keterlibatan Inggris dalam konspirasi. Namun, kritikus berargumen bahwa frasa tersebut bisa diinterpretasikan sebagai penilaian diplomatik biasa tentang situasi politik, bukan bukti keterlibatan aktif dalam konspirasi.

Kesaksian Para Pelaku

Kesaksian dari para pelaku G30S sendiri memberikan gambaran yang tidak konsisten tentang Dewan Jenderal. Dalam pengakuannya di pengadilan, beberapa tokoh seperti Letkol Untung dan Mayor Sujono memberikan keterangan yang berbeda-beda tentang sumber informasi mengenai Dewan Jenderal.

Untung mengklaim bahwa informasi tentang Dewan Jenderal diperolehnya dari Aidit dan Syam (Kamaruzaman), dua tokoh PKI. Namun, detail yang diberikannya tentang struktur dan rencana dewan ini cenderung samar dan tidak spesifik. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah informasi yang dimilikinya benar-benar akurat atau merupakan hasil dari dezinformasi (penyebaran informasi yang salah dengan sengaja).

Bukti Dokumenter

Salah satu kelemahan utama dalam kasus Dewan Jenderal adalah kurangnya bukti dokumenter (dokumen tertulis sebagai bukti) yang substantif (berarti dan kuat). Tidak ada dokumen internal TNI-AD yang berhasil ditemukan yang menunjukkan keberadaan organisasi formal dengan nama Dewan Jenderal. Tidak ada notulen rapat (catatan hasil rapat), struktur organisasi, atau perencanaan operasional yang dapat diverifikasi (dibuktikan kebenarannya).

Hal ini kontras dengan organisasi-organisasi rahasia lainnya dalam sejarah Indonesia, seperti Gerakan 30 September itu sendiri, di mana terdapat bukti dokumenter yang lebih substantif tentang struktur dan perencanaan mereka.

Konteks Politik dan Motivasi

Tekanan terhadap TNI-AD

Untuk memahami kemungkinan keberadaan Dewan Jenderal, kita harus memahami tekanan-tekanan yang dihadapi oleh TNI-AD pada periode tersebut. PKI, dengan dukungan Sukarno, semakin vokal dalam mengkritik TNI-AD dan mengusulkan pembentukan Angkatan Kelima yang akan bersenjatakan petani dan buruh.

Usulan ini jelas mengancam monopoli TNI-AD atas kekuatan bersenjata di Indonesia. Beberapa dokumen internal TNI-AD yang kemudian dibuka menunjukkan kegelisahan yang nyata di kalangan perwira senior terhadap usulan ini. Namun, kegelisahan ini tidak secara otomatis membuktikan keberadaan konspirasi yang terorganisir.

Dinamika Hubungan Sukarno-TNI-PKI

Hubungan antara Sukarno, TNI, dan PKI pada periode ini sangat kompleks dan tidak dapat disederhanakan menjadi aliansi yang jelas. Sukarno membutuhkan dukungan kedua kekuatan tersebut untuk mempertahankan kekuasaannya, tetapi sekaligus harus menyeimbangkan kepentingan mereka yang sering bertentangan.

Dokumen-dokumen yang dirilis kemudian menunjukkan bahwa Sukarno sendiri menyadari ketegangan ini dan berusaha mencari solusi yang dapat memuaskan semua pihak. Namun, polarisasi politik yang semakin tajam membuat upaya ini semakin sulit.

Dampak dan Konsekuensi

Penggunaan Narasi Dewan Jenderal Pasca-G30S

Terlepas dari kebenaran faktual tentang keberadaannya, narasi Dewan Jenderal memiliki dampak yang sangat signifikan dalam politik Indonesia pasca-1965. Soeharto dan Orde Baru menggunakan narasi ini untuk melegitimasi tindakan mereka dan membenarkan pembersihan besar-besaran terhadap PKI dan simpatisannya.

Narasi Dewan Jenderal juga digunakan untuk membenarkan dominasi TNI-AD dalam struktur kekuasaan Orde Baru. Dengan menggambarkan diri mereka sebagai penyelamat bangsa dari konspirasi komunis dan internasional, TNI-AD berhasil memposisikan diri sebagai guardian of the nation (penjaga bangsa) yang tidak dapat diganggu gugat.

Implikasi terhadap Historiografi Indonesia

Kontroversi Dewan Jenderal juga memiliki implikasi yang mendalam terhadap penulisan sejarah Indonesia. Selama era Orde Baru, versi resmi tentang G30S dan Dewan Jenderal menjadi kebenaran tunggal yang tidak boleh dipertanyakan. Hal ini mengakibatkan stagnansi dalam penelitian sejarah dan mempersempit ruang untuk interpretasi alternatif.

Baru setelah Reformasi 1998, para sejarawan mulai dapat mengeksplorasi perspektif-perspektif alternatif dan melakukan penelitian yang lebih bebas tentang peristiwa ini. Namun, polarisasi politik yang masih ada membuat diskusi tentang topik ini tetap sensitif.

Perspektif Kontemporer dan Upaya Rekonsiliasi

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi

Upaya untuk mengungkap kebenaran tentang peristiwa 1965, termasuk kontroversi Dewan Jenderal, sempat dilakukan melalui pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, komisi ini mengalami berbagai kendala politik dan hukum yang mengakibatkan pembubaran sebelum menyelesaikan tugasnya.

Penelitian Akademis Terkini

Dalam dekade terakhir, beberapa sejarawan telah melakukan penelitian yang lebih komprehensif (menyeluruh) tentang peristiwa 1965. Mereka menggunakan metodologi (cara/metode penelitian) yang lebih rigorous (ketat dan teliti) dan akses terhadap arsip-arsip yang sebelumnya tidak tersedia. Namun, hasil penelitian mereka tentang Dewan Jenderal tetap menunjukkan ketidaksepakatan yang fundamental.

Dr. Asvi Warman Adam, dalam penelitiannya yang dipublikasikan pada 2018, menyimpulkan bahwa sementara kegelisahan di kalangan perwira TNI-AD terhadap kebijakan Sukarno adalah nyata, bukti untuk keberadaan Dewan Jenderal sebagai organisasi formal masih sangat lemah. Ia mengusulkan perlunya penelitian yang lebih mendalam dengan akses terhadap arsip militer yang masih diklasifikasikan.

Catatan Akhir

Kontroversi tentang keberadaan Dewan Jenderal di era Sukarno mencerminkan kompleksitas sejarah Indonesia pada periode yang sangat turbulent. Setelah melakukan analisis terhadap berbagai sumber dan perspektif yang ada, beberapa kesimpulan sementara dapat ditarik:

Pertama, sementara kegelisahan di kalangan perwira senior TNI-AD terhadap kebijakan Sukarno, khususnya terkait dengan pengaruh PKI, adalah fakta yang tidak dapat dibantah, bukti untuk keberadaan Dewan Jenderal sebagai organisasi formal dengan struktur dan rencana yang jelas masih sangat terbatas.

Kedua, narasi tentang Dewan Jenderal, terlepas dari kebenaran faktualnya, telah memainkan peran yang sangat penting dalam legitimasi politik pasca-1965. Hal ini menunjukkan bagaimana narasi sejarah dapat menjadi alat politik yang powerful.

Ketiga, kurangnya bukti dokumenter yang substantif dan inkonsistensi dalam kesaksian para pelaku menimbulkan pertanyaan serius tentang keberadaan aktual dari organisasi ini.

Keempat, polarisasi politik yang terus berlanjut hingga hari ini membuat pencarian kebenaran objektif tentang peristiwa ini menjadi sangat challenging.

Yang jelas adalah bahwa kontroversi Dewan Jenderal tidak dapat dipisahkan dari konteks politik yang lebih luas pada periode tersebut. Pemahaman yang komprehensif (menyeluruh) tentang peristiwa ini memerlukan analisis yang holistik (menyeluruh dan terpadu) terhadap dinamika politik, sosial, dan ekonomi Indonesia pada pertengahan 1960-an.

Untuk masa depan, diperlukan upaya yang lebih sistematis (teratur dan terencana) untuk membuka arsip-arsip yang masih diklasifikasikan (dokumen rahasia yang belum dibuka untuk umum) dan melakukan penelitian yang lebih komprehensif dengan metodologi yang rigorous (ketat dan teliti). Hanya dengan demikian, kebenaran tentang salah satu episode paling kontroversial dalam sejarah Indonesia ini dapat benar-benar terungkap.

Pada akhirnya, pencarian kebenaran tentang Dewan Jenderal bukan hanya penting untuk kepentingan akademis (ilmu pengetahuan), tetapi juga untuk proses rekonsiliasi nasional (perdamaian dan pemulihan hubungan antarkelompok dalam bangsa) dan pembelajaran sejarah yang dapat mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan. Indonesia sebagai bangsa memiliki kewajiban moral untuk menghadapi masa lalunya secara jujur dan komprehensif, tidak peduli seberapa menyakitkan kebenaran yang mungkin terungkap. (*)

Tags: dn aiditisu dewan jenderalpartai komunis indonesiapresiden sukarno
Share197Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Promosi Situs Melalui TikTok! Polisi Bongkar Layanan Live Streaming Pornografi

Promosi Situs Melalui TikTok! Polisi Bongkar Layanan Live Streaming Pornografi

November 3, 2026
Polri Tertibkan Debt Collector, Dorong Legalitas Profesi dan Cegah Praktik Premanisme

Polri Tertibkan Debt Collector, Dorong Legalitas Profesi dan Cegah Praktik Premanisme

November 3, 2026
Austin Tumengkol Ambil Formulir Bakal Calon Ketua PWI Sumatera Utara

Austin Tumengkol Ambil Formulir Bakal Calon Ketua PWI Sumatera Utara

November 3, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version