Oleh : Heri Mulyono
Sebuah pengakuan internasional yang membanggakan bagi Indonesia kembali terukir di panggung dunia. Dua kota dari Provinsi Jawa Timur, Kota Malang dan Kabupaten Ponorogo, secara resmi ditetapkan sebagai bagian dari Jaringan Kota Kreatif Dunia UNESCO (UNESCO Creative Cities Network/UCCN). Kabar bersejarah yang telah dinantikan ini diumumkan langsung oleh Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, dari markas besar UNESCO di Paris, Prancis. Pengumuman ini sengaja dipilih bertepatan dengan perayaan Hari Kota Sedunia (World Cities Day) pada tanggal 31 Oktober 2025, sebuah momen simbolis yang menggarisbawahi peran penting kota dalam mendorong pembangunan berkelanjutan melalui inovasi dan budaya.
Penetapan ini menempatkan Malang dan Ponorogo di antara 58 kota baru dari seluruh dunia yang bergabung dalam jaringan prestisius tersebut pada siklus tahun ini. Dengan tambahan dua kota ini, Indonesia kini memiliki total tujuh kota yang diakui dalam UCCN, sebuah pencapaian yang menegaskan posisi bangsa sebagai salah satu negara dengan portofolio bidang kreatif paling beragam dan dinamis di kawasan Asia. Kota-kota sebelumnya yang telah lebih dulu mengukir nama adalah Pekalongan (Kriya dan Kesenian Rakyat, 2014), Bandung (Desain, 2015), Ambon (Musik, 2019), Jakarta (Sastra, 2021), dan Surakarta (Kriya dan Kesenian Rakyat, 2023).
Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO, Satrya Wibawa, dalam sebuah pernyataan resmi menyambut gembira pencapaian ini. “Ini adalah bukti nyata bahwa ekosistem kreatif di Indonesia tidak hanya tumbuh subur di kota-kota metropolitan, tetapi juga berkembang pesat di kawasan yang memiliki akar budaya kuat dan inovasi digital yang dinamis,” ujarnya. “Masuknya Malang dan Ponorogo menunjukkan kepada dunia bahwa kreativitas adalah DNA bangsa kita, yang mampu beradaptasi dan relevan dengan tantangan zaman.”
Perjalanan Panjang dan Penuh Dedikasi Menuju Pengakuan Global
Perjalanan Malang dan Ponorogo untuk mendapatkan status bergengsi ini bukanlah proses yang instan. Keduanya harus melalui serangkaian seleksi ketat yang dimulai dari tingkat nasional, sebuah kompetisi yang menuntut visi, komitmen, dan penyajian data yang komprehensif. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memegang peran sentral sebagai fasilitator utama dan pengarah dalam proses ini, bekerja sama erat dengan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Proses seleksi nasional dimulai jauh-jauh hari, sekitar pertengahan tahun 2024. Kemenparekraf membentuk Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) yang terdiri dari para ahli, akademisi, dan praktisi dari berbagai subsektor ekonomi kreatif. Panselnas bertugas menyusun kriteria penilaian yang mengacu pada standar UNESCO, melakukan sosialisasi ke pemerintah daerah di seluruh Indonesia, hingga memberikan pendampingan teknis dalam penyusunan dokumen pengajuan (dossier).
Setiap negara anggota UNESCO hanya berhak mengusulkan maksimal dua nominasi dari bidang kreatif yang berbeda setiap dua tahun. Aturan ini menjadikan persaingan di tingkat nasional sangat kompetitif. Untuk siklus 2025, beberapa kota unggulan lainnya turut bersaing dengan proposal yang tak kalah kuat. Di antaranya adalah Kota Makassar yang menonjolkan potensi gastronominya yang kaya, dan Kabupaten Tangerang yang mengusung kekuatan desain industrinya.
Setelah melalui berbagai tahapan, termasuk penilaian administratif, paparan dossier di hadapan Panselnas, sesi wawancara mendalam dengan para kepala daerah, dan verifikasi lapangan untuk memastikan data dalam proposal sesuai dengan kondisi riil, Malang dan Ponorogo akhirnya terpilih untuk mewakili Indonesia di panggung global. Pengajuan proposal kedua kota ini secara resmi dikirimkan ke UNESCO pada awal tahun 2025, yang kemudian berbuah manis dengan pengumuman di akhir Oktober.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dalam konferensi pers khusus, menyatakan, “Proses ini adalah maraton, bukan sprint. Kami melihat dedikasi luar biasa dari pemerintah daerah, komunitas, akademisi, pelaku usaha, dan media di Malang dan Ponorogo. Mereka adalah pentahelix yang sesungguhnya. Keberhasilan ini adalah kemenangan kolaborasi.”
Keunggulan yang Membawa Malang dan Ponorogo ke Panggung Dunia
Setiap kota yang terpilih memiliki keunggulan unik yang menjadi dasar penilaian UNESCO. Malang dan Ponorogo berhasil menunjukkan komitmen kuat dalam menjadikan kreativitas sebagai motor penggerak utama pembangunan kota yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing.

Ponorogo: Panggung Dunia untuk Seni Reog dan Kriya Lokal (Crafts and Folk Art)
Ponorogo berhasil meyakinkan UNESCO untuk masuk dalam kategori Kriya dan Kesenian Rakyat (Crafts and Folk Art). Kekuatan utama yang diusung adalah tradisi Kesenian Reog yang telah mengakar kuat selama berabad-abad dalam identitas budaya masyarakatnya. Kesenian ini bukan hanya sebuah pertunjukan spektakuler, melainkan sebuah ekosistem sosio-ekonomi yang kompleks dan menghidupi ribuan orang, mulai dari seniman hingga perajin.
Keunggulan Kunci Ponorogo:
* Ekosistem Reog yang Hidup dan Terorganisir: Terdapat sekitar 365 paguyuban Reog di Ponorogo yang secara aktif melestarikan, meregenerasi, dan mengembangkan kesenian ini. Angka ini bukan kebetulan, melainkan simbol bahwa Reog hidup setiap hari sepanjang tahun. Ekosistem ini menjadi lokomotif ekonomi kreatif yang mampu menyerap ribuan tenaga kerja.
* Industri Kriya Pendukung yang Berkelanjutan: Kesenian Reog mendorong berkembangnya berbagai industri kriya turunan. Para perajin di Ponorogo memiliki keahlian tinggi dalam seni ukir topeng barongan dan bujang ganong, pembuatan kostum yang rumit, hingga produksi alat musik tradisional seperti kendang dan angklung Reog. Selain itu, motif-motif Reog juga telah diadaptasi ke dalam produk batik dan suvenir, menciptakan rantai nilai ekonomi yang panjang.
* Komitmen Pemerintah Daerah yang Terukur: Pemerintah Kabupaten Ponorogo menunjukkan komitmen kuat dalam melindungi, membina, dan memanfaatkan kesenian Reog. Ini dibuktikan melalui berbagai kebijakan, seperti penetapan Reog sebagai muatan lokal wajib di sekolah, penyelenggaraan Festival Nasional Reog Ponorogo setiap tahun, dan proyek ambisius pembangunan museum serta monumen Reog setinggi 126 meter yang diharapkan menjadi ikon baru pariwisata.
* Identitas Budaya yang Otentik dan Kuat: Nilai-nilai tradisi, spiritualitas, kepemimpinan, dan seni pertunjukan rakyat tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Ponorogo. Reog bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan hidup yang membentuk karakter dan identitas budaya yang otentik dan kental.
Dengan status ini, Ponorogo kini berada dalam satu jaringan dengan kota-kota dunia lainnya seperti Chiang Mai (Thailand) dan Baguio (Filipina), membuka jalan untuk bertukar pengetahuan tentang cara memajukan kriya dan seni rakyat sebagai pilar pembangunan berkelanjutan.

Malang: Panggung Global untuk Seni Media dan Inovasi Digital (Media Arts)
Kota Malang diakui dalam kategori Seni Media (Media Arts), sebuah bidang yang relatif baru dan sangat relevan dengan perkembangan zaman digital. Pengakuan ini didasarkan pada kapasitas kota yang luar biasa dalam ekosistem digital dan kreatif, yang menjadikannya salah satu simpul utama industri teknologi di Indonesia.
Keunggulan Kunci Kota Malang:
* Ekosistem Digital yang Dinamis dan Produktif: Malang dikenal sebagai “Kota Para Kreator Digital”. Kota ini menjadi rumah bagi lebih dari 150 startup digital yang berkiprah di tingkat lokal hingga internasional, dengan fokus pada industri gim, animasi, pengembangan aplikasi, dan digital storytelling. Banyak studio gim dan animasi asal Malang yang karyanya telah menembus pasar global.
* Sinergi Pentahelix yang Kuat: Keberadaan komunitas makerspace yang aktif, seperti Malang Creative Fusion (MCF), serta dukungan kuat dari lebih dari 60 perguruan tinggi di kota ini, menciptakan lingkungan yang subur bagi lahirnya talenta-talenta muda di sektor kreatif digital. Kolaborasi antara akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media menjadi fondasi utama ekosistem ini.

* Infrastruktur Kreatif dan Kebijakan Pendukung: Pemerintah Kota Malang secara konsisten mendukung pengembangan ekonomi kreatif melalui berbagai kebijakan. Program seperti penyediaan WiFi gratis di ruang publik, pembangunan Malang Creative Center (MCC) sebagai hub bagi para kreator, serta program inkubasi kewirausahaan menjadi bukti nyata dukungan tersebut.
* Potensi Lintas Sektor: Meskipun awalnya sempat dipertimbangkan untuk kategori gastronomi karena kekayaan kulinernya yang legendaris seperti orem-orem, bakso Malang, dan cwie mie, kekuatan Malang di bidang seni media dinilai lebih menonjol dan memiliki dampak lebih luas. Namun, potensi gastronomi ini justru dapat dikembangkan lebih lanjut melalui pemanfaatan teknologi. Aplikasi pemesanan makanan, platform ulasan kuliner, dan konten digital tentang warisan kuliner adalah contoh bagaimana seni media dapat memperkuat sektor lain.
Status sebagai Kota Seni Media membuka peluang bagi Malang untuk berkolaborasi dan bertukar praktik terbaik dengan kota-kota seni media terkemuka lainnya di dunia, seperti Changsha (Tiongkok), Gwangju (Korea Selatan), atau Austin (Amerika Serikat).
Makna, Tanggung Jawab, dan Langkah ke Depan
Penetapan sebagai bagian dari UCCN bukanlah sebuah garis finis, melainkan sebuah garis start baru. Ini adalah sebuah mandat dan tanggung jawab besar untuk terus berinovasi, berkolaborasi di tingkat internasional, dan yang terpenting, memastikan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dampak dan Manfaat yang Diharapkan:
1. Peningkatan Investasi dan Pariwisata Berkualitas: Pengakuan global ini akan meningkatkan citra kota di mata dunia. Ini bukan hanya tentang menarik lebih banyak wisatawan, tetapi juga menarik pariwisata berkualitas (quality tourism) dan investasi yang sejalan dengan visi kota kreatif.
2. Akses ke Jaringan Kolaborasi Internasional: Malang dan Ponorogo kini memiliki akses langsung untuk berjejaring dengan lebih dari 350 kota kreatif di seluruh dunia. Ini membuka peluang tak terbatas untuk proyek bersama, residensi seniman, festival kolaboratif, dan pertukaran budaya yang akan memperkaya ekosistem lokal.
3. Penguatan Ekonomi Lokal dan Penciptaan Lapangan Kerja: Status ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif lokal secara signifikan. Dengan meningkatnya permintaan dan visibilitas, akan tercipta lebih banyak lapangan kerja di sektor kreatif, mulai dari desainer grafis, animator, pengembang gim, hingga perajin dan seniman pertunjukan.
4. Pembangunan Berkelanjutan yang Berpusat pada Manusia: Kreativitas akan semakin terintegrasi sebagai elemen inti dalam strategi pembangunan kota. Ini berarti perencanaan kota yang lebih humanis, ruang publik yang lebih hidup, dan kebijakan yang menempatkan kesejahteraan warga sebagai prioritas utama.
Sesuai dengan pedoman UCCN, Pemerintah Kota Malang dan Kabupaten Ponorogo kini memiliki tugas untuk melaksanakan rencana aksi empat tahunan yang telah mereka susun dalam dossier. Rencana aksi ini akan menjadi panduan untuk menindaklanjuti status baru ini melalui berbagai program konkret, seperti penyelenggaraan festival internasional, pendirian pusat riset kreatif, pengembangan kurikulum pendidikan, dan penguatan jejaring kreatif hingga ke tingkat akar rumput.
Keberhasilan ini adalah awal dari sebuah babak baru, di mana kreativitas dan budaya tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai fondasi utama untuk membangun masa depan kota yang lebih baik, lebih adil, dan lebih berkelanjutan bagi semua. Dunia kini menantikan karya-karya hebat selanjutnya dari Malang dan Ponorogo. (*)