Gubernur Khofifah Raih Gelar Doktor HC Bidang Ekonomi dari FEB UNAIR

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS– Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendapat anugerah gelar Doktor Honoris Causa (HC UA) Bidang Ilmu Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair) di Airlangga Convention Center, Kampus C Unair Surabaya, Minggu (15/10/2023).

Prosesi penganugerahan gelar Doktor HC UA ini ditandai dengan penyampaian orasi ilmiah, pemahatan danda emas oleh Gubernur Khofifah. Dilanjutkan dengan penyerahan ijazah Doktor HC UA oleh Rektor Unair Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CA kepada Gubernur Khofifah didampingi Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair Prof. Dr. Dian Agustia, SE., M.Si., Ak., CMA., CA dan Ketua Senat Akademik Prof. Djoko Santoso, dr., Ph.D., Sp.PD., K-GH., FINASIM.

Di hadapan Rektor, jajaran pimpinan Unair, dan ribuan wisudawan program sarjana Unair, Gubernur Khofifah menyampaikan orasi ilmiahnya berjudul ‘Reformasi Sistem Perlindungan Sosial untuk Percepatan Pengentasan Kemiskinan’ dalam penganugerahan gelar Doktor HC UA ini.

Dalam orasi ilmiahnya, Gubernur Khofifah mengatakan bahwa untuk meningkatkan kualitas program perlindungan sosial serta menjawab tantangan yang ada, Pemerintah berkomitmen untuk melanjutkan reformasi sistem perlindungan sosial melalui perbaikan dan pengintegrasian data masyarakat miskin dan rentan, komplementaritas intervensi serta digiitalisasi.

“Kemudian melalui sinergi dan integrasi program perlindungan sosial, digitalisasi penyaluran bantuan sosial, serta pengembangan sistem perlindungan sosial yang adaptif,” ujarnya.

Khofifah melanjutkan, reformasi perlindungan sosial tersebut dilakukan melalui beberapa langkah strategis. Pertama, lewat transformasi Basis Data Terpadu (BDT) menuju sistem pendataan terintegrasi, Satu Data. Kebijakan BDT ini mencakup strategi perluasan cakupan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dari sebelumnya 40 persen penduduk Indonesia dengan penghasilan terendah.

“Dengan perluasan basis data ini diharapkan pelaksanaan program bansos dan subsidi dapat menjangkau masyarakat miskin dan rentan miskin,” katanya.

Kedua, sambung Khofifah, melalui penyempurnaan mekanisme penyaluran berbasis non tunai. Hal ini diharapkan mempercepat terwujudnya pelaksanaan program perlindungan sosial yang efektif berdasarkan prinsip 5T (Tepat sasaran, Tepat jumlah, Tepat waktu, Tepat kualitas, dan Tepat administrasi).

Mekanisme penyaluran non tunai yang saat ini berbasis kartu ini, lanjutnya, ke depannya perlu dikembangkan untuk menggunakan tekonologi keuangan (fintech). Seperti biometrik wajah atau sidik jari, yang memiliki keunggulan infrastruktur transaksi lebih murah, meningkatkan keamanan transaksi, serta memudahkan proses transaksi karena tidak perlu EDC dan tidak perlu lagi membawa kartu.

Ketiga, integrasi program-program perlindungan sosial secara bertahap, antara lain program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Indonesia Pintar (PIP), program Kartu Sembako atau sekarang Bantuan Pangan Non Tunai, yang berbasis pada target penerima (beneficiaries) dengan program subsidi energi (LPG) yang berbasis komoditas. Ini penting dilakukan, agar ada efisiensi anggaran karena semakin meningkatnya ketepatan sasaran penerima manfaat.

“Misalnya komponen pendidikan yang terdapat dalam besaran manfaat di PKH dan di PIP tentunya dapat diefisienkan. Kemudian integrasi Kartu sembako dengan subsidi LPG tentunya akan berdampak sangat besar. Laporan TNP2K menunjukan bahwa subsidi LPG ternyata sebagian besar malah dinikmati bukan oleh target sasaran, hanya 32 persen subsidi LPG yang dinikmati oleh masyarakat miskin,” tambah Khofifah.

Kemudian, langkah keempat, sinergi program perlindungan sosial dengan program pemberdayaan antara lain Kelompok Usaha Bersama (KUBE), Usaha Mikro (UMi), Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta program ketenagakerjaan.

Hal ini sangat penting untuk dilakukan agar penerima bansos yang sudah ‘lulus’ atau sudah graduasi dapat dijaga bahkan ditingkatkan tingkat pendapatannya. Dengan demikian, tingkat kesejahteraan masyarakat dapat terus ditingkatkan agar tidak hanya keluar dari kemiskinan, namun juga terbebas dari kelompok yang rentan miskin.  

Lebih lanjut, Khofifah mengatakan, berbagai program bansos yang dulunya terdapat di berbagai kementerian, kemudian oleh Presiden Jokowi diinstruksikan agar diintegrasikan melalui satu kartu yakni Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).

“Jadi dulu bansos itu ada di berbagai kementerian. Sehingga kartunya banyak, jadi orang makin miskin, dompetnya makin tebal karena banyak kartu. Kemudian Pak Presiden meminta untuk mengintegrasikan bansos itu menjadi satu kartu,” katanya.

Dari situ kemudian dilakukan verifikasi dan validasi data sehingga menjadi referensi untuk mengintervensi supaya ada komplementaritas. Sehingga program perlindungan sosial tersebut bersifat complementari.

“Sebelumnya ada yang menerima bantuan sekolah, bantuan kesehatan tapi tidak terima beras. Padahal mereka adalah bagian dari keluarga kategoru yang paling miskin. Jadi mereka harus mendapatkan intervensi secara complementary,” kata Khofifah.

“Misal dulu masing-masing bansos ini tidak terkoneksi satu dengan yang lain, sekarang terintegrasi dalam satu kartu Keluarga Keluarga Sejahtera (KKS) yang dapat disinergikan antar kementerian untuk penyaluran berbagai bansos,” lanjutnya.

KKS ini sendiri bentuknya e-wallet atau dalam bentuk dompet elektronik yang kemudian dibangun interoperability. Dimana para pemegang kartu ini dapat mengakses di empat bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (HIMBARA).

“Misal dia terima kartu Bank Mandiri, dia tidak hanya bisa mengakses di ATM Bank Mandiri, tapi juga di ATM Bank Himbara lainnya yakni BRI, BNI, BTN. Tentunya di mesin ATM yang tertera logo Himbara dan telah terintegrasi dengan sistem ‘LINK’,” jelas Khofifah.

Di akhir, Gubernur Khofifah menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa ini. Baik kepada Rektor Unair, jajaran pimpinan Unair, serta para promotor gelar Doktor ini.

“Tak lupa kepada keluarga saya, anak-anak saya. Terima kasih atas semua dorongan dan perhatian yang tulus sehingga kami bisa mendapatkan kehormatan ini. Terimakasih untuk seluruh cinta dalam keluarga,” katanya.

“Kemudian juga kepada para relawan PKH di seluruh Indonesia, kepada para relawan sosial yang lainnya TKSK, dan lain lain. Terimakasih atas seluruh dedikasi, pengabdian dan pengorbanan melayani masyarakat. Semoga menjadi amal jariyah panjenengan semua,” pungkasnya.

Sementara itu, Rektor Unair Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CA mengatakan bahwa Gubernur Khofifah merupakan salah satu alumni terbaik UNAIR karena kontribusinya sangat besar bukan hanya bagi Jawa Timur tapi bagi Indonesia. Dimana, Gubernur Khofifah adalah lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR tepatnya di Departemen Ilmu Politik.

“Bu Gubernur adalah sosok yang adaptif, resilient , dan selalu menemukan cara untuk memecahkan persoalan. Beliau melanglang buana menanggapi berbagai macam persoalan dan memberikan berbagai macam solusi,” katanya.

“Sebagai salah satu alumni terbaik kita, beliau terus belajar di tengah kondisi apapun dan sangat sukses dalam mengemban berbagai macam tugas. Itu tidak lepas dari kiprah dan karakter beliau sebagai seorang pembelajar sejati lulusan Universitas Airlangga,” imbuhnya.

Di sisi lain, Promotor yang juga Dekan FEB Unair, Prof. Dr. Dian Agustia, SE., M.Si., Ak menyampaikan pertimbangan penganugerahan gelar Doktor HC UA pada Gubernur Khofifah. Antara lain, atas kontribusinya saat menjabat Menteri Sosial di kabinet Indonesia tahun 2014-2018 pada pemerintah Presiden Jokowi, ia bahkan merupakan menteri termuda pada saat itu.

Selain itu, di usia mudanya Gubernur Khofifah juga telah menjadi anggota DPR RI, dan saat ini menjabat sebagai gubernur perempuan pertama di Jawa Timur untuk Periode 2019-2024.

Pertimbangan lainnya, adalah atas pemikiran Gubernur Khofifah di bidang ilmu ekonomi untuk program reformasi sistem perlindungan sosial sebagai upaya percepatan pengentasan kemiskinan.

“Perumusan kebijakan dan implementasi program reformasi sistem perlindungan sosial untuk percepatan pengentasan kemiskinan ini memiliki dampak positif dan dinikmati langsung oleh masyarakat yang menjadi sasaran program,” terangnya.

Ia menjelaskan, sebelumnya telah dilaksanakan uji pendalaman akademik oleh 9 penguji terkait penganugerahan gelar HC UA kepada Gubernur Khofifah. Dimana, prosesnya telah dimulai sejak pertengahan tahun 2020. Dalam prosesnya telah dilakukan berbagai pengamatan, dan penilaian atas program yang telah dilaksanakan. (poedji)

Ini Dia Mahasiswa Universitas Airlangga Termuda Usianya 15 Tahun

JAYAKARTA NEWS— Ini dia mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) termuda. Namanya, Siti Ma’rifatul Khoir, siswa asal MA Zainul Hasan 1 Genggong, Kabupaten Probolinggo. Saat ini Siti berusia 15 tahun berhasil lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) pada program studi S1 Fisika UNAIR 2023.

Dikutip dari unair.ac.id, Siti mengaku bahwa Unair merupakan kampus impiannya sejak ia menduduki bangku SMA. Unair merupakan salah satu kampus terbaik di Indonesia. Hal tersebut berbuah manis saat namanya terpampang dalam pengumuman SNBP di Unair pada Selasa (28/3/2023) lalu.

“Motivasi terbesar saya juga adalah track record Unair dalam menghasilkan berbagai jurnal bereputasi yang memiliki kontribusi besar terhadap masyarakat. Apalagi telah banyak alumni Unair yang terjun dalam berbagai bidang pekerjaan mulai dari pendidikan, industri, bahkan kesehatan,” ucapnya.

Bukan hal yang mudah bagi Siti untuk bisa lolos di kampus impiannya. Ia telah menerapkan strategi belajar yang konsisten selama tiga tahun berturut-turut untuk bisa meraih juara 10 besar secara paralel di kelas.

“Saya menerapkan strategi belajar dengan cara mempelajari materi yang akan dijelaskan, dan mempelajari kembali materi yang sudah dijelaskan, serta mengikuti kelas kelas olimpiade,” tutur mahasiswa baru Unair itu.

Proses belajarnya tidak hanya berhasil pada lingkup kelas. Ia berhasil mencetak prestasi membanggakan dengan membawa nama sekolahnya dalam ajang olimpiade tingkat provinsi. Tercatat ia berhasil mendapatkan juara 1 pada Lomba GIM di Procommit V 12 tingkat provinsi yang diselenggarakan secara offline di ITS.

Ia juga berhasil menerima predikat sebagai wisudawan Program Terapan Bidang Teknologi Informatika Komputer (PRODISTIK) yang bekerja sama dengan program D1 Institusi Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan IPK tertinggi 3,84.

“Your choice is your life. Pilihanmu adalah hidupmu, apa yang kamu pilih, itulah yang harus kamu jalani,” tutupnya. ***unair.ac.id

Dosen Unair: Kebijakan ERP tak boleh Diterapkan dengan Gegabah

JAYAKARTA NEWS— Rencana pemberlakuan electronic road pricing (ERP) atau sistem jalan berbayar di ibu kota tengah mencuat baru-baru ini. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyatakan, pemberlakuan kebijakan tersebut bertujuan untuk mengendalikan kemacetan lalu lintas yang terus meningkat. 

Merespons hal tersebut, dosen kajian politik tata ruang dan transportasi Universitas Airlangga (UNAIR) Dr Siti Aminah Dra MA menegaskan bahwa kebijakan ERP tidak boleh diterapkan dengan gegabah.

Dikutip dari unair.ac.id,  Dr Siti Aminah mengatakan, pemberlakuan ERP memerlukan kajian dari berbagai aspek, tidak sekadar berfokus untuk memecahkan masalah kemacetan dan hitungan ekonomi bisnis. Namun, terdapat aspek-aspek lain yang perlu dipertimbangkan dan diperhatikan. 

“Aspek energi, keberlanjutan pembangunan, aspek perilaku pengguna mobil, aspek mobilitas, dan lain-lain. ERP itu berada dalam skema kebijakan yang besar yaitu SDGs (Sustainable Development Goals, Red),” ungkapnya.

Aminah menerangkan bahwa sejak tahun 1992, pemerintah DKI Jakarta telah berupaya mencari solusi untuk memecahkan kemacetan lalu lintas tanpa merugikan pengguna jalan dan pemilik kendaraan bermotor, baik mobil ataupun sepeda motor.

Kebijakan tersebut kemudian dikenal dengan istilah ‘3 in 1’. Kendati demikian, masyarakat mampu menyiasati kebijakan tersebut dengan berbagi kendaraan bersama orang lain agar tidak kena tilang. Selain itu, muncul banyak joki penumpang sementara agar dapat melalui ruas jalan-jalan protokol.

“Semua penduduk punya hak untuk menggunakan jalan dan dilayani kebutuhan untuk melakukan mobilitas dari satu tempat ke tempat lain. Jalan itu barang publik, jika jalan sudah dijual kepada masyarakat atas nama mengatasi kemacetan, mengurangi polusi, bagaimana dengan kehadiran taksi-taksi online? Berapa harga yang harus dibayar oleh pengguna taksi?” Jelasnya.

“Apakah keadilan dalam mobilitas tidak dipikirkan? ERP ini bisa dimaknai sebagai eksklusi sosial masyarakat dari jalan raya dan transportasi pribadi. Belajar dari pengalaman kota-kota besar di negara lain sangat penting,” sambungnya.

Lebih lanjut, dosen Ilmu Politik itu menegaskan bahwa ERP bukan hanya skema yang muncul secara politis maupun administratif. Berbagai solusi dibutuhkan untuk mengatasi krisis lingkungan yang menantang perkembangan Jakarta. Sementara di sisi lain, perdebatan dan kontroversi sensitif terkait privasi individu dalam melakukan mobilitas menjadi agenda tersendiri yang perlu juga memperoleh perhatian dari para pemangku kebijakan. 

“Dengan demikian, untuk menerapkan ERP di Jakarta, masyarakat harus terus disadarkan akan pentingnya program ERP yang dapat berjalan secara efisien dan berdampak positif terhadap keselamatan, kesejahteraan, kesehatan, jaminan pendapatan, kesempatan kerja, dan lain sebagainya,” ucapnya.

“Lebih dari itu, ERP juga berlaku sebagai tarif atau pajak kemacetan sebagai kebijakan publik yang diperlukan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi jangka panjang, kualitas hidup, dan kesejahteraan penduduk,” tutup Aminah.***unair

Pakar Forensik Entomologi Sebut Serangga Bisa Jadi Alat Investigasi Kasus Kriminal

JAYAKARTA NEWS— Secara historis, serangga telah ada di bumi selama 350 juta tahun. Hal itu disampaikan oleh Pakar Forensik Entomologi, University of Florida, Dr. Jason H. Byrd, Ph.D, D-ABFE dalam acara webinar Airlangga Veterinary Forensics Summer Course (AVFSC) yang berjudul  Wildlife Veterinary Forensics For Balancing The World.

Ia mengatakan bahwa dalam investigasi forensik, studi tentang serangga dan kerabat arthopoda dapat memberikan informasi mengenai pengungkapan masalah hukum baik perdata maupun pidana. 

“Ada berbagai jenis ahli forensik entomologi di luar sana yang mencoba menemukan serangga untuk membantu dalam penyelidikan kasus kriminal atau pembunuhan di perkotaan mereka,” jelasnya sebagaimana dikutip dari laman unair.ac.id

Dr. Jason juga menjelaskan pada kasus tertentu, aparat kepolisian, agen detektif, maupun ahli entomologi forensik mencoba menemukan serangga yang berada di sekitar tubuh korban untuk mengungkapkan dan menentukan perkiraan waktu kematian korban.

Aktivitas Serangga Acuan Penentuan Waktu Kematian 

Adanya investigasi serangga pada korban dapat menentukan waktu kematian yang sedikit relatif lama. Karena pada dasarnya waktu kematian korban dengan waktu kolonisasi atau periode aktivitas serangga membutuhkan jeda waktu tertentu.

“Dapatkah Anda menentukan waktu kematian korban yang membutuhkan sedikit lebih banyak penjelasan rinci? dan Anda mungkin pernah mendengar waktu kematian korban versus waktu kolonisasi atau periode aktivitas serangga yang merupakan kata lain mulai digunakan oleh komunitas entomologi forensik untuk menentukan waktu kematian korban,” ujar Dr. Jason.

Aktivitas serangga dapat menjadi acuan penentuan waktu kematian korban melalui adanya koloni dan tahap perkembangan serangga yang terdapat pada tubuh korban. Beberapa jenis serangga yang dapat membantu investigasi forensik entomologi, meliputi lalat hijau, cheese skippers, fleshflies dan lain sebagainya. Dalam fase hidupnya, serangga seperti lalat hijau akan menetaskan telur mereka ke tubuh korban, sehingga ketika telur itu menetas menjadi maggot, mereka akan melekat pada bagian tubuh korban untuk mendapatkan nutrisi dan tumbuh berkembang.

Pemanfaatan Lalat 

Dari sekian banyaknya serangga yang ada, lalat termasuk serangga sering dimanfaatkan dalam pengungkapan kasus kriminal. Banyaknya familia pada lalat mengharuskan ahli forensik entomologi harus mengidentifikasi sebelum melanjutkan proses investigasi berikutnya.

“Lalat merupakan salah satu jenis serangga yang bisa dijadikan acuan dalam pengungkapan kasus investigasi, namun karena banyaknya familia lalat harus diidentifikasi terlebih dahulu sebelum melakukan proses investigasi selanjutnya,” tutur Dr. Jason.***unairnews

Citayam Fashion Week, Eksistensi Diri dalam Gaya Busana

JAYAKARTA NEWS— Citayam Fashion Week (CFW) menjadi julukan bagi kumpulan remaja yang berpakaian modis dengan gaya street-style di seputaran jalan Jenderal Sudirman, Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Fenomena ini banyak memperoleh respons dari masyarakat. Salah satunya dari pakar Komunikasi Universitas Airlangga (UNAIR) Prof Dra Rachmah Ida MCom PhD.

Prof Ida menilai, sebagaimana dikutip dari laman unair.ac.id , fenomena ini merupakan sebuah contoh ketika anak muda tidak mendapat ruang oleh budaya mainstream yang sering dikuasai oleh mereka yang punya debut. “Mereka melihat area tersebut merupakan ruang publik baru yang selama ini tidak mereka dapatkan di media massa atau ruang publik yang terlalu elit,” sebutnya.

Dekonstruksi Tren Fashion

Tren busana yang selama ini disetir oleh kalangan menengah ke atas berusaha diubah oleh fenomena ini. “Mereka mencoba melakukan dekonstruksi terhadap barang-barang fashion yang tidak dapat dijangkau oleh orang-orang di jalan dengan menyajikan fashion jalanan yang tidak kalah menariknya dengan fashion yang biasa dinikmati oleh kalangan middle-upper class,” jelas guru besar pertama bidang media di Indonesia itu.

Menurut Prof Ida, busana yang dipakai kumpulan remaja di Citayam itu mengartikulasikan kreativitas dalam berpakaian keren tanpa adanya merek-merek ternama dan elit. “Mereka ingin mengkomunikasikan bahwa ini adalah urban street fashion yang selama ini termarjinalkan, tidak diperhatikan, dan mungkin bahkan tidak mampu diakomodasi oleh media populer karena dianggap tidak laku,” ungkapnya.

Bila dilihat dari tampilan, gaya yang ditunjukan di CFW cenderung unik dan berbeda. Menurut Prof Ida, hal itu merupakan bentuk dari liberated young people. Yakni, keinginan anak muda untuk membebaskan diri dari kungkungan kapitalisme melalui busana.

Medium TikTok sebagai Pemicu

Diakui Prof Ida, keberadaan media sosial TikTok dapat mendorong munculnya subkultur baru. “TikTok menjadi media sosial gratis yang diminati, termasuk pada middle-lower class. Sehingga subkultur yang selama ini termarjinalkan, tidak ada tempat, bisa menjadi bermunculan,” sebutnya.

Keberanian kelompok remaja di CFW menunjukan eksistensi lewat busana, dipuji Prof Ida sebagai sebuah keberanian mengutarakan kebebasan berpakaian. “Selama ini, secara tidak sadar busana telah dikotak-kotakan. Ini busana identitas desa, identitas kota, dan sebagainya,” ucap dosen Ilmu Komunikasi UNAIR tersebut.

Kemunculan fenomena CFW dimaknai Prof Ida sebagai kemunculan subkultur yang harus bisa diterima. “Jangan hanya budaya yang dimiliki oleh kaum elit saja yang diterima, namun budaya yang lain juga punya kesempatan untuk menunjukan eksistensi identitas mereka,” jelasnya.***/unairnews

Pelayaran RST Ksatria Airlangga untuk Pelayanan Masyarakat Kepulauan Madura

JAYAKARTA NEWS-Rumah Sakit Terapung(RST) Ksatria Airlangga merupakan rumah sakit terapung yang dimiliki oleh Universitas Airlangga (Unair) dengan misi pelayanan kesehatan dan pengabdian masyarakat di daerah-daerah terpencil kepulauan Indonesia.

Sejak berlayar pertama kali pada tahun 2017, RST Ksatria Airlangga telah berlayar ke sejumlah pulau-pulau kecil di Indonesia.

Kapal ini dilengkapi dengan peralatan medis canggih yang setara dengan peralatan rumah sakit pada umumnya.

Misi yang berlangsung dari tanggal 14 Mei-10 Juli 2022 ini merupakan misi ke-63 dari RST Ksatria Airlangga. Dalam misi kali ini, Ksatria Airlangga akan mengunjungi pulau-pulau di Sumenep, Madura, yakni Pulau Gili Raja, Gili Genting, Gili Iyang, Sapudi, Raas, Sapeken, Sepanjang, Sakala, Pagerungan Besar, dan Pagerungan Kecil.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melepas pelayaran pengabdian masyarakat melalui Airlangga Community Development Hub (ACDH) Rumah Sakit Terapung (RST) Ksatria Airlangga di Muara Kalimas, di depan kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak Surabaya, Sabtu (14/5).

Usai melepas perjalanan RST Ksatria Airlangga, Gubernur Khofifah mengatakan bahwa salah satu tugas besar untuk melakukan pemerataan kesejahteraan adalah melalui peningkatan layanan, baik kesehatan , pendidikan maupun program ekonomi di daerah-daerah kepulauan.

“Untuk itu, apa yang dilakukan oleh RST Ksatria Airlangga ini menjadi misi kemanusiaan yang tentunya dapat memberikan layanan kesehatan , pendidikan serta ekonomi ke berbagai wilayah kepulauan di Madura . Tentunya kami berharap ini dapat memberikan perluasan pemerataan kesejahteraan bagi masyarakat di kepulauan,” katanya.

Khofifah mengatakan, dalam membangun pemerataan kesejahteraan di wilayah kepulauan salah satunya bisa dilakukan dengan membangun konektivitas yang baik antara pulau yang satu dengan lainnya. Dengan konektivitas yang baik tersebut, maka akan memudahkan pelayanan publik bagi masyarakat disana.

“Kami menyadari ini tidak mudah untuk bisa membangun konektivitas dengan cepat seperti yang ada di daratan. Kami mencobanya dengan membangun public transportation yang lebih memuliakan saudara kita di kepulauan Madura. Seperti dengan membangun pelabuhan Jangkar dari Situbondo ke berbagai pulau di Sumenep dengan fasilitas pelabuhan yang baik, kemudian juga ada jembatan movable bridge serta kapal ferry baru full AC ,” kata Ketua Umum IKA Unair ini.

Rumah Sakit Terapung(RST) Ksatria Airlangga/fotoL istimewa

Gubernur Khofifah optimistis bahwa akses konektivitas melalui jalur transportasi laut dan akses pelabuhan antar pulau yang berjalan baik, akan memudahkan percepatan pembangunan layanan kesehatan, pendidikan dan pelayanan publik yang baik bagi masyarakat terutama di wilayah kepualauan.

“Kita berharap bahwa apa yang kita lakukan ini bisa memberikan nilai tambah baik bagi yang melakukan, maupun bagi masyarakat yang akan mendapatkan layanan. Jadi program-program sinergi yang mungkin bisa kita bangun ke depannya, mohon dikomunikasikan dengan OPD Pemprov terkait agar sinerginya lebih kuat ,” katanya.

Untuk itu, ia mengajak tim community development Unair dapat menjalin kerja sama dengan OPD terkait. Misalnya, Fakultas Perikanan dan Kelautan bisa membangun kemitraan dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim terkait budidaya perikanan dan kelautan yang ada di wilayah kepulauan serta bagi pemberdayaan para nelayan.

“Kami harap di antara seluruh program penyetaraan berbasis sektor-sektor potensi lokal, ditambah dengan tim dari layanan kesehatan ini bisa membangun sinergitas bersama. Saya rasa ini akan memberikan penguatan dari program besar yang kita bisa bangun bersama,” terangnya.

Lebih lanjut, misi pelayanan yang dibawa oleh RST Ksatria Airlangga tidak hanya di bidang kesehatan. Tetapi juga di bidang community development seperti pemberdayaan masyarakat di berbagai bidang. Misal terkait daya dukung alam dan lingkungan, sektor kelautan dan perikanan, serta intervensi dari ilmu multidisiplin.

“Jadi ini soal bagaimana program community development bisa menjadi satu kesatuan. Bagaimana dari pelayaran RST Ksatria Airlangga ini akan mempercepat pemerataan tetesan pembangunan yang mungkin tidak sama dengan yang bisa dilakukan di daratan,” terangnya.

Di akhir, orang nomor satu di Jatim ini menyampaikan apresiasi dan terima kasihnya kepada seluruh pihak baik tenaga kesehatan maupun para relawan dan mahasiswa yang ikut dalam misi pelayaran RST Ksatria Airlangga ini.

“Terima kasih seluruh inisiasi, seluruh dedikasi dan seluruh niat mulia dari tim community development Universitas Airlangga. Dengan niat memberikan manfaat yang besar bagi seluruh masyarakat di Jawa Timur ini mendapatkan ridho dan kemuliaan dari Allah SWT,” katanya.

Sementara itu, Direktur RST Ksatria Airlangga Dr. Agus Harianto mengatakan bahwa misi kapal RST Ksatria Airlangga selama ini merupakan panggilan hati alumni Kampus Unair.

“Selama ini telah 62 misi RST Ksatria Airlangga, dan kira-kira dalam setahun ini ada 20 pulau terpencil yang kita jangkau.
Hymne Airlangga itu memberikan kekuatan untuk kami semua sampai sekarang untuk terus berlayar dengan segala keadaan yang ada,” katanya.

Menurutnya, dalam setiap pelayaran ke pulau terpencil itu ada kegiatan community development yang dilakukan. Tidak hanya misi di bidang kesehatan, RST Ksatria Airlangga juga melakukan pengabdian masyarakat dengan mengupayakan pembangunan yang berkelanjutan sesuai pendekatan SDGs di daerah kepulauan. Termasuk mengembangkan dan meningkatkan kegiatan penelitian di daerah kepulauan.

Di samping itu, kegiatan riset dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan ini melibatkan berbagai fakultas yang ada di Unair.

“Tugas kita adalah membawa air kehidupan untuk ke sudut-sudut terpencil Indonesia. Dan dalam misi ini kita melihat filosofi logo Airlangga, kita berkomitmen untuk membawakan air kehidupan sampai ke daerah pulau-pulau terpencil,” katanya.

“Seperti di Pulau Gili Iyang yang kaya oksigen, kita melihat potensi menjadi pulau yang menjadi medical recovery tourism. Kemudian nanti kita juga akan membawa program kebun tanaman obat, konservasi tanaman obat yang bisa dikembangkan di sana bisa menjadi laboratorium bisa menjadi pusat industri,” pungkasnya. (poedji)

Pakar Imunologi Unair Tanggapi Munculnya Varian MU yang Kebal dari Antibodi

JAYAKARTA NEWS— Mutasi SARS-CoV-2 memunculkan varian baru bernama Varian Mu yang kabarnya mampu hindari antibodi. Varian yang pertama kali muncul di Kolombia pada Januari 2021 itu kini telah menyebar luas di Amerika Selatan dan total 46 negara di dunia.

Menanggapi hal itu, Dosen Fakultas Kedokteran (FK) sekaligus Pakar Imunologi Universitas AirlanggaDr. Agung Dwi Wahyu Widodo dr., M.Si, M.Ked.Klin, SpMK angkat bicara. Dari beberapa penelitian yang dihimpun oleh WHO, jelasnya, Varian MU dilaporkan memiliki kekebalan terhadap antibodi dari plasma konvalesen atau dari serum penderita.

“Ini menunjukkan bahwa dia (Varian MU, Red) mampu melakukan escape dari antibody,” paparnya dalam dalam rilis Kominfo Jatim.

Karakteristik Varian MU disebut mirip dengan pendahulunya, yakni Varian Beta. Namun jika dilihat dari pemetaan geografisnya, jelas Agung, Varian MU muncul pada area Varian Gama dan Lambda.

Sehingga kemungkinan ketiganya memiliki kemiripan sifat. Mengenai mutasi SARS-CoV-2, Agung menuturkan, virus yang menyebar secara natural bisa mengalami mutasi.

Proses mutasi dapat terjadi secara acak maupun pada daerah-daerah tertentu. Misalnya jika terjadi mutasi pada daerah spike, titik tangkap antibodi, maka dapat dilakukan pemeriksaan. Apakah antibodi mampu menempel pada daerah tersebut atau tidak.

Jika mutasi menghasilkan protein baru atau peptida yang berbeda, antibodi akan sulit untuk menempel pada daerah tersebut. “Inilah kenapa beberapa varian yang mengalami varian pada spike, tidak mampu ditempeli oleh antibodi. Sehingga ini yang dinyatakan mampu menghindar terhadap antibodi yang didapatkan dari pasien,” jelas Agung.

Menurutnya, jika dibandingkan dengan Varian Delta, Varian MU memang lebih lemah. Berdasarkan penggolongan dari WHO, Varian MU termasuk dalam kategori VOI atau Variant of Interest

Sedangkan Varian Delta termasuk VOC atau Variant of Concern. “Dari tingkatannya saja menunjukkan Varian Delta lebih kuat dan hebat dari Varian MU,” timpalnya.

Meski demikian, upaya pencegahan harus selalu dilakukan dengan ketat. Sedikitnya ada tiga skema pencegahan yang disarankan Agung. Pertama, pencegahan untuk individu dengan 5M.

Yakni Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak, Mengurangi Mobilitas, dan Menghindari Kerumunan.

Kedua, jika terjadi lonjakan kasus pada pada skala lokal seperti kota, maka perlu dilakukan isolasi atau PPKM. “Dibatasi keluar masuknya orang, supaya tidak menyebar seperti pada lonjakan kasus kedua,” tambah Agung.

Sedangkan pada skala yang lebih besar, diperlukan rangkaian pencegahan yang lebih besar. Yakni dengan screening dan karantina bagi warga asing yang hendak masuk ke Indonesia seperti pekerja imigran. “Karantina dan identifikasi atau tracing itu harus super ketat. Supaya kita tahu mereka tidak membawa varian-varian baru dan bisa menyebar ke Indonesia,” tandasnya. (poedji)

Mahasiswa Unair Ciptakan Hand Sanitizer dari Kulit Udang

JAYAKARTA NEWS—-Tak henti-hentinya Universitas Airlangga mencetak mahasiswa yang berprestasi di kancah nasional. Kali ini tiga mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Unair menorehkan prestasi juara II Tingkat Nasional Kategori Lomba Inovasi Produk Festival Inovasi dan Kreativitas Mahasiswa 2020 Universitas Khairun Ternate.

Mereka adalah Arief Rubiana, mahasiswa Teknologi Hasil Perikanan (THP), bersama Reza Istiqomatul Hidayah dan Anastasya Dewi Larasati mahasiswa Akuakultur.

Lomba tingkat nasional tersebut bertema From Trash to Cash (dari sampah menjadi uang). Tiga mahasiswa tersebut membawakan sebuah inovasi produk yang berasal dari limbah kulit udang yang dijadikan sebagai hand sanitizer.

Produk tersebut bernama Likuid Sanitize. Ketua Tim Arief mengungkapkan bahwa tercetusnya inovasi itu bermula ketika dirinya melaksanakan Praktik Kerja Lapang di Thailand.

Ketika itu, ia mengambil topik penelitian Kitosan dari limbah kulit udang.
Kitosan merupakan senyawa biopolimer turunan yang bersifat organik.

Senyawa turunan yang berasal dari tiga tahap, yaitu deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi kitin yang banyak terkandung di dalam hewan laut seperti udang dan kepiting.

“Kitosan merupakan biopolimer yang bersifat organik dan diduga mengandung aktivitas antibakteri yang bisa digunakan untuk inovasi ini,” ungkap mahasiswa THP angkatan 2017 seperti dilansir Diskominfo Jatim.

Menurut dia karena kitosan bersifat organik, senyawa tersebut tidak mengandung protein yang bisa menyebabkan alergi. “Jadi, aman untuk digunakan,” imbuhnya, Selasa (5/1/2021).

Karena pengerjaan konsep inovasi tersebut dilakukan secara daring, Arief mangakui inovasi itu masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut untuk menelusuri keefektifitas serta pengemasan yang tentu harus eco-friendly.

“Dengan banyaknya inovasi yang dimiliki, semoga masalah sampah di dunia bisa teratasi. Karena, ini merupakan tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya. (poedji)