Pertumbuhan Ekonomi RI Meleset dari Target

PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia pada tahun 2018 mencapai 5,17 persen atau meleset 0,03 persen dari target 5,2 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, untuk realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2018 sebesar 5,18 persen year on year (yoy).

BPS mengungkapkan, sekalipun target pertumbuhan pada 2018  di bawah dari target pemerintah yang sebesar 5,2 persen, namun realisasi tersebut melampaui capaian tahun sebelumnya yang berada di level 5,07 persen. Bukan itu saja, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2018 juga menjadi yang paling bagus semenjak tahun 2014.

Menurut catatan BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015 berada di level  terendah sejak 2009,  yakni  4,79 persen. Setelah kemudian naik perlahan-lahan, pada 2015 seberar 4,88 persen, tahum 2016 sebesar 5,03persen, 2017 di level  5,07 persen dan pada tahun lalu 5,17 persen.

“Hal ini  menunjukan tren yang bagus sekali, kalau kita lihat meningkat terus, yang terbaik sejak 2014. 5,17 persen. Ini merupakan capaian yang cukup menggembirakan,” kata Kepala BPS Suhariyanto kepada pers.

Suhariyanto  menjelaskan, target pertumbuhan yang tinggi di level 7% pada saat kampanye Presiden Jokowi pada 2014, merupakan  terget rencana pembangunan jangka menengah (RPJMN) yang dibuat untuk lima tahunan.

Dalam perjalanan pembangunan ekonomi, ternyata  banyak sekali hal yang tidak terduga. Misalnya, Bank Sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga, demikian pula terjadinya trade war antara Amerika dan China. ***

Bank Sentral AS Pertahankan Suku Bunga Acuan

 

BANK Sentral Federal (Federal Reserve) AS memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya.

Sekalipun demikian kebijakan itu tetap menggambarkan ekonomi AS yang kuat, dan menjaga bank sentral di jalur untuk menaikkan biaya pinjaman pada September.

Menurut the Fed pertumbuhan ekonomi telah meningkat kuat dan pasar kerja tren positifnya berlanjut.

Dipihak lain, inflasi tetap mendekati target bank sentral dua persen sejak pertemuan kebijakan terakhirnya pada Juni, ketika bank sentral menaikkan suku bunga.

“Peningkatan lapangan pekerjaan sangat kuat, secara rata-rata, dalam beberapa bulan terakhir, dan tingkat pengangguran tetap rendah. Pengeluaran rumah tangga dan investasi tetap perusahaan telah tumbuh kuat,” kata The Fed dalam sebuah pernyataan tertulis setelah pertemuan kebijakan dua harinya berakhir.

The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya dalam kisaran 1,75 persen hingga 2,00 persen.

The Fed saat ini memperkirakan dua kenaikan suku bunga lagi hingga akhir tahun ini. Investor mengesampingkan langkah pada pertemuan minggu ini, karena mereka fokus pada kenaikan suku bunga bulan depan dan pada Desember.

Para pedagang memperkirakan sekitar 91 persen peluang untuk kenaikan suku bunga pada September dan kemungkinan 71 persen kenaikan suku bunga tambahan pada Desember, menurut program FedWatch CME Group.

Pasar tidak begitu beraksi pasar terhadap keputusan The Fed karena sesuai harapan di mana bank sentral akan mendorong kebijakan suku bunganya, dengan dolar sedikit lebih kuat terhadap sekeranjang mata uang dan imbal hasil obligasi AS sedikit berubah.

Ketua Fed Jerome Powell baru-baru ini mengatakan ekonomi berada di “tempat yang benar-benar baik” dan berjanji untuk melanjutkan kenaikan bertahap dalam biaya pinjaman untuk mempertahankan ekspansi ekonomi AS terpanjang kedua dalam catatan.

“Ini konsisten dengan apa yang dikatakan Powell kepada Kongres: ekonomi berjalan dengan sangat baik sekarang,” kata Willie Delwiche, ahli strategi investasi di Baird.

Ekonomi tumbuh pada kecepatan 4,1 persen pada kuartal kedua, menunjukkan yang terbaik dalam hampir empat tahun, karena konsumen mendorong pengeluaran dan petani mempercepat pengiriman kedelai ke Tiongkok untuk menghindari tarif perdagangan balasan, data Departemen Perdagangan menunjukkan pada Jumat (27/7).

Inflasi juga meningkat setelah enam tahun jauh di bawah target The Fed. Ukuran inflasi yang disukai bank sentral – indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) tidak termasuk komponen makanan dan energi – meningkat pada kecepatan 2,0 persen di kuartal kedua.

Angka bulanan terbaru yang dirilis pada Selasa (31/7) menunjukkan PCE inti pada Juni adalah 1,9 persen lebih tinggi dari setahun lalu. Ukuran itu mencapai target inflasi bank sentral pada Maret untuk pertama kalinya sejak Desember 2011.

Depnaker AS menyatakan bahwa biiaya tenaga kerja AS, dipandang sebagai salah satu alat ukur yang lebih baik tentang seberapa banyak kekosongan yang tersisa di pasar, juga mencatat kenaikan tahunan terbesar mereka sejak 2008 pada kuartal kedua.