PWI Jatim dan STIKOSA AWS Permudah Penyelesaian S1 Bagi Wartawan dan Keluarga

JAYAKARTA NEWS– Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim bersama STIKOSA – AWS (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi – Almamater Wartawan Surabaya), bekerjasama dalam mendukung program pendidikan meraih sarjana S-1.

Program tersebut dikhusukan bagi para wartawan di Jatim dan keluarga wartawan, serta humas stakeholder Pemprov Jatim sebagai mitra wartawan, yang belum meraih gelar sarjana S1.

Hal ini disampaikan Luthfil Hakim, Ketua PWI Jawa Timur, usai penandatanganan nota kesepahaman antara PWI Jatim dengan STIKOSA – AWS, di resto Hotel Kampi Surabaya, Senin (18/7).

Luthfil menambahkan, lembaga pendidikan STIKOSA – AWS yang memfokuskan pada pengembangan program studi ilmu komunikasi, diharapkan memberikan kemudahan terhadap para jurnalis yang ingin menyelesaikan studi S-1, khususnya bidang Jurnalistik, untuk memenuhi kebutuhan tuntutan profesionalisme wartawan.

Sedangkan PWI sebagai lembaga praktisi Jurnalistik, perlu saling bersinergi dengan STIKOSA – AWS untuk saling menguatkan dalam memenuhi kebutuhan – kebutuhan Jurnalis ke depan, terutama dalam menghadapi era digital.

Dimana peran penting media Pers dalam fungsinya sebagai media kontrol sosial masyarakat dan kontrol penyelengaraan pemerintahan.

“Saya titip melalui lembaga pendidikan ini supaya nanti melahirkan kader – kader Jurnalis yang bagus, bukan sekedar memahami tentang equipment-nya (peralatan) saja, tetapi juga teknologi informasi dan komunikasi harus dipahami betul dan juga harus tau betul serta difungsikan sebagaimana mestinya, sehingga kader yang dihasilkan oleh lembaga STIKOSA – AWS betul – betul tepat.

Maka dari itu, STIKOSA – AWS harus menyiapkan energi yang lebih besar lagi, bagaimana nantinya melahirkan kader – kader bangsa ini melalui pendidikan Jurnalistik dan Kehumasan sebagai kader komunikasi yang andal,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua STIKOSA – AWS Dr. Meithiana Indrasari, ST., MM., menyambut baik dan berterima kasih untuk diberi kesempatan bekerjasama dengan PWI sebagai lembaga profesi wartawan, yang sejalan dengan salah satu program studi di STIKOSA – AWS di bidang Jurnalistik.

“Banyak orang tahu STIKOSA – AWS melahirkan wartawan profesional dan andal, lulusan STIKOSA – AWS banyak tersebar di media dimana – mana, dan banyak mempunyai posisi penting dalam keredaksian media, baik itu media berita online, televisi dan radio broadcasting.

Bahkan pihaknya sering menjumpai orang – orang di pemerintahan daerah, terutama di Jawa Timur, saat saya memberikan materi pelatihan kehumasan, pelatihan tentang media digital, menyapa saya, kalau dia lulusan STIKOSA – AWS.

“Mereka itu ada yang berprofesi sebagai humas pemerintahan. Sungguh luar biasa potensial,” ungkap Dr. Mei sapaan akrab Dr. Meithiana Indrasari.

“Saat ini saya sebagai Ketua STIKOSA – AWS benar – benar merasakan energi yang luar biasa, lebih bersahabat dengan teman – teman wartawan dan lebih luas lagi, lebih bersahabat lagi dengan pimpinan – pimpinan instansi pemerintahan, terutama humas – humasnya, yang semakin menambah kekuatan seakan saya mempunyai power yang luar biasa,” tambah Dr. Mei.

Melalui kerjasama yang dibangun antara STIKOSA – AWS dengan PWI Jawa Timur, pihaknya mengaku siap untuk melaksanakan program – program arahan PWI Jatim agar lebih maksimal dan lebih banyak lagi.

“Saya bahkan berharap banyak pada PWI Jatim sebagai salah satu pilar penguat Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur (YPWJT), kemudian yayasannya STIKOSA – AWS dalam pemenuhan kebutuhan kader – kader Jurnalis. (poedji)

Eros Djarot Bicara Soal Kebangsaan Era Digital di Kampus Stikosa – AWS

JAYAKARTA NEWS–Produksi konten anak muda dengan kecenderungan “Yang Penting Viral” di media sosial saat ini, menjadi perbincangan seru dalam acara Dialog Kebangsaan Bersama Eros Djarot di kampus STIKOSA – AWS, Selasa (12/7) malam.

Menanggapi kekuatiran mengenai beberapa konten viral yang mengandung muatan pornografi yang mengesampingkan etika seperti konten remaja dari Citayam beberapa waktu lalu, Eros Djarot memberikan argumentasinya.

“Saya nggak terlalu resah, karena mereka sekarang itu kan produknya kita sebagai orangtua. Ya begitulah kita saat ini, kualitas kebudayaan kita sebagai bangsa, salah satunya terlihat dari konten karya anak – anak sekarangi,” katanya.

Eros melanjutkan, kalau saya bersikap, berikan mereka ruang dan tawarkan budaya kebhinekaan negeri kita dengan sebaik – baiknya yakni dengan gaya dan imajinasi generasi sekarang.

“Sehingga mereka bisa memilih yang terbaik,” ungkap Eros yqng dikenal sebagai penulis, sutradara film, pencipta lagu, politikus dan sederet prestasi lainnya.

Lebih lanjut dikemukakan, apa yang dihasilkan generasi muda saat ini merupakan refleksi dari perilaku para orang tua atau generasi sebelumnya.

Apa yang diketahuinya, yang dipahami, apa yang diungkapkan berdasarkan pengalaman empiriknya.

Dialog Kebangsaan yang menghadirkan Eros Djarot sebagai narasumber tunggal, berlangsung di ruang Multi Media STIKOSA – AWS, merupakan kerja bareng STIKOSA – AWS, IKA (Ikatan Alumni) STIKOSA – AWS, ngopibareng.id, komunitas Roemah Bhineka dan Seduluran Semanggi Suroboyo.

Sementara itu Ketua STIKOSA – AWS Dr. Meithiana Indrasari, ST., MM., mengaku perihatin dari beberapa karya konten kreatif yang di produksi generasi muda saat ini yang fenomenal, yang menjauhkan dari akar budaya bangsa kita dalam bermedia sosial.

Semata-mata anak muda jaman sekarang hanya mengedepankan “Yang Penting Viral”, dan dapat “cuan” banyak.

“Saya seorang pendidik dan sekaligus seorang ibu. Mengamati apa yang sekarang ini disuguhkan oleh generasi muda di media sosial ini, maaf…. harus saya sampaikan sudah sampai taraf meresahkan,” tuturnya.

Memang ujung-ujungnya ingin produktif dan ingin cuan (keuntungan finansial-red). Yang penting viral, yang penting menarik perhatian publik, bisa terkenal bisa endorse dan sebagainya, tetapi ada banyak yang dilacurkan.

“Ma’af, mungkin kalimat saya itu agak keras gitu ya, tetapi melalui dialog kebangsaan ini, diharapkan kita dapat kembali dan merawat budaya yang baik dan bijak bangsa kita yang merupakan jati diri bangsa Indonesia.

Pancasila sebagai falsafah, dan Bhineka Tunggal Ika, ayo kita kembali. Jangan kita isi media sosial dengan konten – konten yang hanya mementingkan viral, yang penting dapat cuan. Tetapi sama sekali tidak memikirkan seperti apa nantinya NKRI kita di masa depan.

Di penghujung dialog kebangsaan tersebut, Eros Djarot menambahkan, fungsi dan peran negara untuk mengawal masyarakat Indonesia di era digital ini, bukan hanya aparat dan TNI. Tetapi justeru peran wartawan dan pers yang turut memberikan contoh nilai – nilai yang baik dan terus mengawalnya.

“Kalau dulu atau sebelum era digital, TNI mempunyai peran utama untuk mengawal kebhinekaan masyarakat Indonesia. Tapi di era digital ini, justeru kalian-kalian dan tempat inilah (menunjuk kampus STIKOSA-AWS sebagai perguruan tinggi yang menghasilkan para jurnalis handal), yang mempunyai peran utama dan penting untuk mengawalnya,” ungkapnya.

Salah satu cara yang dapat dilakukan generasi muda saat ini adalah terus berkarya konten kreatif. Kaum muda dapat merubah pola pemikiran dari istilah “Reaktif” menjadi “Kreatif” dan meyakini keberadaan Tuhan sebagai teman terbaik dalam berkarya konten di media sosial.

“Jadi apapun karya- karya kontennya, jika kita Kreatif tentu tidak akan terpengaruh dengan hal-hal yang tidak baik. Jadi belajar dari itu, yang negatif kemudian dirubah minsed membuat karya yang positif,” tandasnya.

Kuncinya dimana? Ada di Kreatifitas, percaya dan meyakini Tuhan sebagai teman terbaik kita dalam berkarya” pungkas Eros Djarot, sang sutradara film “Cut Nya’ Dien” (1988) dan menyabet banyak penghargaan di Festival Film Indonesia dan event penghargaan internasional. (poedji)

Koran Kuno Langka Melegenda Masih Tersimpan Baik di Perpus Stikosa- AWS

JAYAKARTA NEWS— Rombongan sebanyak 2 bus dari mahasiswa beserta sejumlah dosen pengampu Universitas Islam Negeri KH Achmad Sidiq (UIN KHAS) Jember, Kamis siang (12/5/2022) mengunjungi Perpustakaan kampus STIKOSA – AWS.

Rombongan penasaran dengan berbagai arsip koleksi Koran Kuno langka dan melegenda yang dirawat oleh Perpustakaan STIKOSA – AWS.

Kedatangan rombongan ini semata – mata ingin mencari referensi dan rujukan koran atau media massa cetak dari tahun 1950 an hingga abad ke- 19, sebagai tugas kuliah penelusuran arsip dan sumber sejarah, fakultas Usuludin Adab dan Humaniora.

Karena sudah tidak asing lagi, kumpulan arsip koleksi koran kuno melegenda di Perpustakaan STIKOSA – AWS mulai tahun 1952 tersebut, banyak dijadikan sebagai referensi dan rujukan data oleh para penelitian dosen dan mahasiswa perguruan tinggi se- Indonesia, terutama bagi program studi (prodi) Ilmu Sejarah, Ilmu Ekonomi dan Sosial Politik.

Kunjungan dan Studi mahasiswa UIN KHAS Jember, disambut hangat oleh Ketua STIKOSA – AWS Dr. Meithiana Indrasari, ST., MM., beserta jajaran pimpinan STIKOSA – AWS.

Rombongan mahasiswa dan dosen UIN KHAS Jember sebelum memulai pencarian referensi data yang diperlukannya, terlebih dulu menyempatkan mengunjungi Pameran Foto karya para mahasiswa STIKOSA – AWS yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Himpunan Mahasiswa Penggemar Fotografi, UKM HIMMARFI, tentang Potret SURABAYA ‘KU’ selama musim Pandemi COVID – 19, di Joglo kampus STIKOSA – AWS.

Prosesi seremoni pembukaan Kunjungan dan Studi Mahasiswa UIN KHAS Jember, berlangsung di ruang Multi Media kampus STIKOSA – AWS, juga dihadiri oleh Dr. Jokhanan Kristiyono, M.Med.Kom. selaku Wakil Ketua I membawahi program studi dan Suprihatin, M. Med. Kom. selaku Wakil Ketua Hubungan Kerjasama dan Kemahasiswaan serta bagian Keuangan STIKOSA – AWS.

Di Perpustakaan STIKOSA – AWS, rombongan mahasiswa UIN KHAS Jember mengaku takjub saat melihat langsung dan mencari koleksi arsip Koran Kuno yang dikelola STIKOSA – AWS.

Koleksi arsip Koran Kuno STIKOSA – AWS mulai tahun 1952 hingga tahun 2000 -an ini, diantaranya terdiri dari Harian Sore Surabaya Post, Koran Malang Post, Suara Pembaharuan, Memorandum, dan sejumlah nama koran lainnya, serta arsip koleksi Majalah Mingguan Berita TEMPO.

Guna melestarikan arsip koleksi koran – koran kuno yang melegenda atas amanah dari para pemilik dan pemimpin perusahaan media terkait, yang usianya semakin menua atas resiko kerapuhan kertas korannya, beberapa waktu lalu STIKOSA – AWS bekerjasama dengan bagian arsip benda bersejarah dan langka dari Perpustakaan Daerah (Perpusda) Provinsi Jawa Timur, untuk mentransformasikan arsip – arsip tersebut ke bentuk digital. Dan saat ini sedang dilakukan digitalisasi sebagian arsip koleksi Koran Kuno dan Melegenda yang langka di Perpustakaan STIKOSA – AWS.

Fiqru Mafar, Dosen pengampu mata kuliah Penelusuran Arsip dan Sumber Sejarah, Prodi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Usuludin Adab dan Humaniora UIN KHAS Jember, mengaku takjub atas koleksi arsip – arsip koran kuno di Perpustakaan STIKOSA – AWS.

“Saya secara pribadi sangat takjub dengan koleksi koran kuno di STIKOSA – AWS karena koran – koran ini sebagai khasanah tentang kejadian – kejadian di sekitar kita pada waktu masanya. Jadi ini sumber yang sangat penting bagi masyarakat dan tentunya bagi para mahasiswa kami yang sedang mencari referensi studi tentang peradaban Islam di perpustakaan ini,” ungkap kekaguman Fikru Mafar.

Indrisnaini, salah satu mahasiswa angkatan 2019 UIN KHAS Jember yang melakukan kunjungan dan studi ini mengatakan, “Saya sangat terbantu dengan arsip – arsip yang sangat lengkap yang saya butuhkan di Perpustakaan STIKOSA – AWS, untuk penyelesaian tugas mata kuliah yang sedang kami kerjakan saat ini”.

Hal yang sama dirasakan Ahmad Sahil Arwani mahasiswa angkatan tahun 2019 UIN KHAS Jember, yang sedang mencari data dan referensi tentang sejarah Sepak Bola wanita sekitar tahun 1966 hingga tahun 1972, yang mengaku puas ditemukannya di koleksi arsip kuno di Perpustakaan STIKOSA – AWS.

“Kita semua ini jauh – jauh dari Jember ke Perpustakaan sini tidak sia – sia, data yang kami cari untuk keperluan studi mata kuliah penelusuran sejarah yang saya butuhkan,” ungkap senang Ahmad Sahil. (poedji)