Kunjungi Pabrik Sido Muncul, Puan Cerita Hobi Minum Jamu Sejak sebelum Akhil Balig

JAYAKARTA NEWS— Ketua DPR RI Puan Maharani mengunjungi pabrik jamu Sido Muncul yang berada di Semarang, Jawa Tengah. Dalam kesempatan tersebut, Puan meninjau perkembangan produk Sido Muncul yang merupakaan produsen jamu dan obat herbal modern terbesar di Indonesia.

Kedatangan Puan di Pabrik Sido Muncul, Jumat (5/7/2024), disambut hangat oleh jajaran direksi perusahaan, termasuk pemilik sekaligus Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat. Turut hadir pula Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, David Hidayat.

Puan di Pabrik Sido Muncul, Jumat (5/7/2024)/Foto: Tim Media Puan

Puan yang hadir bersama sejumlah anggota DPR kemudian diajak ke pendopo Agrowisata Sido Muncul yang terletak di sudut pabrik. Adapun anggota DPR yang mendampingi Puan adalah Ketua Komisi III DPR Bambang Wuryanto, Wakil Ketua Komisi I DPR Utut Adianto, Wakil Ketua Komisi VIII DPR Diah Pitaloka, Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris, dan Anggota Komisi V DPR Irene Yusiana Roba Putri.

“Selamat datang di kawasan Agrowisata Sido Muncul. Kalau pepatah China bilang, seribu kali mendengar tidak sama dengan melihat meski hanya sekali. Terima kasih Ibu Puan singgah kembali,” kata Irwan Hidayat saat menyambut Puan dan rombongan DPR.

Kunjungan ini merupakan kali kedua Puan bertandang ke Pabrik Sido Muncul. Puan juga sempat meninjau pabrik jamu Sido Muncul saat masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) tahun 2019.

Puan pun mengaku senang bisa kembali datang ke Pabrik Sido Muncul untuk melihat perkembangan terbaru produk-produk dari produsen jamu unggulan tersebut. Ia juga mengenang kedatangannya di tahun 2019 di mana saat itu Puan berkesempatan menanam tanaman Mahkota Dewa yang merupakan salah satu bahan pembuatan produk jamu Sido Muncul.

“Saya senang sekali bisa kembali lagi ke Sido Muncul. Saya juga senang mendapat kabar bahwa Sido Muncul selama ini terus berinovasi dan berkembang. Semua itu menunjukkan bahwa Sido Muncul terus menjadi kebanggaan Indonesia,” ujar Puan.

Untuk diketahui, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk saat ini memiliki jumlah pekerja sebanyak 3.500 orang. Selain itu Sido Muncul melakukan ekspor produk jamu dan obat herbalnya ke banyak negara seperti Tiongkok, Jerman, Korea, Amerika, dan banyak lagi.

Puan memastikan, DPR akan terus mendukung kemajuan produk-produk dalam negeri.

“DPR RI akan terus mendukung perusahaan-perusahaan Indonesia yang membawa produk-produk Indonesia berkibar di dalam dan luar negeri,” tuturnya.

Lebih lanjut, Puan mengaku bangga dengan prestasi Sido Muncul yang berhasil membawa produk budaya Indonesia mendunia. Ia mengatakan, keunggulan Sido Muncul justru dari bagaimana perusahaan bisa ‘membumikan’ produk tradisional menjadi produk yang modern dan berdaya saing.
 
“Sido Muncul terus menunjukkan bahwa jamu yang merupakan salah satu ciri khas Indonesia, jika dikelola dengan baik dapat menjadi salah satu kekuatan ekonomi bangsa,” jelas Puan.
 
“Itu yang menjadi cita-cita kita bersama, bahwa ekonomi Indonesia kuat dengan bertopang pada produk dan jasa yang mengakar kepada keunikan dan ciri khas bangsa Indonesia,” lanjut perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu.

Puan lantas memuji kemajuan Sido Muncul yang terus mengembangkan produk-produknya. Ia menyatakan, inovasi-inovasi seperti yang dilakukan Sido Muncul akan membuat perusahaan semakin maju dan dampaknya pun akan dirasakan oleh negara dari sisi ekonomi.

“Saya sudah dua kali datang ke sini dan saya melihat kemajuan dan inovasi dari Sido Muncul ini luar biasa. Sekarang Tolak Angin sudah ada yang kapsul jadi kita ke mana-mana simple, kantongnya juga simple,” terang Puan.

Setelah memberi sambutan, Puan kemudian diajak makan bersama dengan Irwan Hidayat dan jajaran direksi Sido Muncul. Puan bersama Irwan dan David Hidayat kembali berbincang mengenai perkembangan jamu.

“Usia saya sudah 77 tahun tapi masih kuat, itu berkat jamu,” ucap Irwan Hidayat.

Puan pun setuju dengan pernyataan Irwan Hidayat. Menurutnya, khasiat jamu dan obat herbal tidak kalah dengan obat-obatan kimia.

“Saya juga termasuk orang yang percaya minum jamu, dari gadis saya minum jamu makannya bisa kaya gini kan?” timpal Puan sambil sedikit berkelakar.

Kepada Irwan, Puan mengaku biasa mengkonsumsi jamu karena sudah diajarkan sejak masih muda oleh sang ibunda yang juga Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri.

“Ibu saya itu dulu itu maksa saya dari gadis pak, dari sebelum Akhil Balig itu saya minum jamu sampai hari ini punya anak 2 masih terus minum jamu. Saya termasuk orang yang percaya minum jamu. Nggak tau juga kapan berkhasiatnya,” kisah Puan.

“Kalau obat kan hari ini minum besok sembuh, kalau jamu kan enggak. Jamu hari ini minum, enggak tau kapan khasiatnya tapi ya kalau liat saya, mungkin itu hasilnya jamu pak,” sambungnya.

Puan kemudian mengaku menjadi salah satu pelanggan setia dari produk Sido Muncul, terutama Tolak Angin. Ia menyatakan suka sekali mengkonsumsi Tolak Angin biru yang merupakan obat herbal untuk flu.

“Kalau ditanya mau yang kuning apa biru? (Jawabannya) biru. Mau flu atau enggak flu, ya biru pokoknya, enggak tau kayaknya lebih ayem kalau minum yang biru,” ungkap Puan.

Puan menyatakan, setiap meminum Tolak Angin tubuhnya akan terasa lebih enak. Apalagi saat ia merasa agak masuk angin, Tolak Angin pun menjadi andalannya.

“Nggak tau ini psikologis atau gimana, tapi kok kalau minum Tolak Angin kayaknya anginnya keluar jadi enggak jadi masuk angin. Bener ‘bablas angine’, jadi enggak perlu kerokan ya kayaknya sembuh aja,” sebutnya.

Untuk itu, Puan mendukung agar jamu sebagai salah satu produk budaya Indonesia terus dilestarikan.

“Bicara Indonesia ya kalau pada kerajinan ada batik, ada tenun, ada songket dan lain-lain. Saya meyakini bahwa salah satunya adalah jamu yang memang harus dilestarikan,” tegas Puan.

Puan kemudiam diminta menuliskan pesan untuk Sido Muncul. Irwan Hidayat juga mengajak Puan melihat tanaman yang ditanamnya tahun 2019 lalu.

“Pohon Mahkota Dewa yang ditanam juga masih terawat dan tumbuh buah,” katanya kepada Puan.

Usai meninjau pabrik dan tanaman, Puan lalu mendapat sejumlah pertanyaan dari wartawan. Ia mengaku datang sebagai bentuk silaturahmi sekaligus ingin meninjau perkembangan dari Sido Muncul.

“Sido Muncul ini satu produk buatan anak Indonesia atau produk Indonesia yang sampai hari ini cukup terpercaya, bahkan sampai ke luar negeri banyak sekali yang menggunakan produk ini dan cinta Indonesia,” ujar Puan.

“Jadi DPR ikut terus mendukung untuk pelestarian jamu-jamu, ya salah satunya produk Sido Muncul,” tambahnya.

Mengenai dukungan DPR untuk obat herbal atau obat tradisional seperti jamu, Puan mengatakan ada banyak hal yang dapat dilakukan. Misalnya melalui dukungan regulasi produk.

“Bagaimana kemudian obat tradisional ini kemudian bisa dipercaya dan terpercaya tentu saja melalui BPOM sudah ada izin untuk bisa digunakan dan juga produk lainnya menggunakan herbal bahan bakunya dari Indonesia,” tutup Puan.***/din

Sido Rempah, Meracik Ulang Kejayaan Rempah Nusantara

JAYAKARTA NEWS— Perawakan kecil. Pembawaan bersahaja. Rambutnya nyaris tanpa bersisir. Pendidikan formalnya SMA saja. Namanya Irwan Hidayat (75 tahun). Dialah lelaki yang kini berjuang “menulis ulang” kisah kejayaan rempah Nusantara.

Momentum bersejarah dicanangkan di tanggal istimewa, 22 Desember 2022. Hari itu, Ibu Pertiwi menjadi saksi peresmian Pusat Laboratorium Penelitian Rempah Indonesia yang berlokasi di kawasan Pabrik Sido Muncul, Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

“Persiapannya hanya seminggu. Ya, kami kerja kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Mirip legenda Bandung Bondowoso,” kata Irwan mengisahkan lahirnya laboratorium yang dilengkapi nursery serta empat green house.

Meski begitu, proyek laboratorium rempah bukanlah ide dadakan. Presiden Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk itu mengaku sudah lama ingin merambah ke usaha selain jamu. “Kami ingin memproduksi produk turunan rempah, istilahnya bumbu dapur,” ujar lelaki kelahiran Yogyakarta, 23 April 1947 itu.

Tekadnya semakin mantap ketika sekitar empat tahun lalu (2018), bertemu Pangdam III/Siliwangi, Mayjen TNI Doni Monardo terkait program Citarum Harum.

“Dalam satu kesempatan, pak Doni bercerita tentang ‘emas hijau’, berbicara tentang potensi rempah hingga ke sejarah kejayaan rempah Nusantara. Seketika saya mantap memutuskan proyek yang hari ini kita sama-sama saksikan,” ujar Irwan.

Harus Istimewa

Untuk masuk ke bisnis rempah, maka harus diawali dengan penelitian rempah. Hanya dengan begitu, akan lahir produk rempah yang tidak biasa-biasa saja, melainkan kualitas istimewa. Jahe, jahe yang istimewa. Minyak atsiri, nilam, juga yang istimewa.

“Jika kita mau masuk pasar global, tidak cukup dengan kualitas biasa. Harus yang istimewa,” tegas cucu pendiri Sido Muncul yang bernama Rahkmat Sulistio (Go Djing Nio) itu.

Irwan sadar, penghasil rempah bukan hanya Indonesia, tetapi ia juga tahu bahwa potensi rempah terbesar ada di negara kita.

Irwan Hidayat, Presdir Sido Muncul

Berangkat dari Pusat Penelitian Rempah itulah ia bertekad menekuni bisnis berbasis rempah. Tidak melulu jamu. “Baru-baru ini saya punya pengalaman membuat resep ayam rempah. Ketika saya coba, rasanya kurang enak. Lalu kita tambahkan salah satu bahan rempah dari India, hasilnya menjadi enak sekali. Ini pun melalui penelitian,” tambah ayah tiga anak itu.

Laboratorium Rempah Sido Muncul sekaligus akan mengakomodir para peneliti dari berbagai perguruan tinggi. “Karena itu, hari ini pun kami mengundang para peneliti dari berbagai perguruan tinggi. Kita bersama-sama mengembangkan rempah Indonesia kembali menjadi rempah kelas dunia,” tekad Irwan.

Sekalipun begitu, Irwan juga mengingatkan bahwa faktor laboratorium sejatinya hanya 10 persen, sebab 90 persen kunci keberhasilan lainnya ada di SDM. Dan dari 90 persen itu, 85 persennya adalah gagasan. “Kalau kita punya banyak gagasan, pasti akan melahirkan sesuatu yang baik,” ujarnya.

Laboratorium Sido Muncul, tambahnya, membutuhkan tiga hal. Pertama, kerjasama atau partnership dari para pihak, utamanya para peneliti. Kedua, saran dan gagasan baru. Ketiga, dorongan semangat. “Tiga hal itu yang akan membuat kami yakin, bahwa langkah ini sudah benar,” kata Irwan.

Dari laboratorium itu pula kelak akan lahir produk-produk dengan brand Sido Rempah atau bisa juga Sido Bumbu, Sido Masak. “Apa pun, yang penting memakai kata Sido di depan. Sebab, kode saham kami di pasar modal memang Sido,” ujarnya.

Kejayaan Rempah

Hari yang penting, di acara yang penting, juga dihadiri orang penting di mata Irwan Hidayat. Ia adalah Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo. Tokoh militer yang sering dijuluki “jenderal pohon” ini pun diminta menyampaikan testimoni.

“Saya mendukung penuh apa yang dilakukan Sido Muncul untuk mengembalikan kejayaan rempah Indonesia. Pak Irwan, jangan takut dengan jalur sutra. Jalur sutra tidak ada apa-apanya dibandingkan jalur rempah,” kata Doni yang Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD) itu.

Untuk diketahui, tambah Doni, asset VOC karena perdagangan rempah di wilayah Nusantara, khususnya di Jawa dan Indonesia bagian Timur (Maluku dan Maluku Utara), mencapai 7,9 triliun Dollar AS. “Itu data yang kami dapat dari literatur global”.

Bukti lain, sebuah “papan pengakuan” yang ada di salah satu objek wisata di Belanda. Bulan Mei Tahun 2019, dalam kapasitas sebagai Kepala BNPB, Doni ke Belanda untuk menelisik dokumen kebencanaan yang dicatat Belanda saat berkuasa atas wilayah kita, 3,5 abad lamanya.

Pada sebuah bangunan kayu, ditempel papan dengan tulisan berbahasa Belanda, yang kurang lebih artinya, “Gudang rempah harta kekayaan melimpah dari bumi Indonesia”.

“Jadi kalau pak Irwan dan keluarga besar Sido Muncul memutuskan hari ini mengangkat kembali kejayaan rempah Indonesia, ini adalah gagasan yang sangat-sangat-sangat brilian,” kata Doni disambut tepuk tangan hadirin.

Inisiator “Citarum Harum” serta pencetus program “emas biru” dan “emas hijau” itu mengingatkan ihwal besarnya jumlah petani kita yang masih hidup dalam kondisi kurang sejahtera. Program mengembalikan kejayaan rempah, sedikit-banyak akan mengangkat kaum petani, terlebih dengan dukungan akademisi (para peneliti).

“Pak Irwan, para purnawirawan Angkatan Darat yang sudah merintis program-program yang berhubungan dengan pertanian, akan bersama pak Irwan dan keluarga besar Sido Muncul,” tegas Doni Monardo.

Purnawirawan PPAD siap bersinergi dengan berbagai latar belakang yang dimiliki. Doni mengingatkan, pada dasarnya purnawirawan tidak boleh berhenti berjuang. “Kalau dulu berjuang mengangkat senjata, sekarang berjuang di bidang ekonomi. Perang sekarang adalah perang ekonomi. Tujuannya rakyat sejahtera,” tambahnya.

Sabang-Merauke

Seperti halnya Irwan, maka Doni pun menaruh harapan kepada para peneliti dan akademisi. Peran mereka sangat besar dalam meningkatkan kualitas. Termasuk kualitas hasil rempah. “Saya ceritakan pengalaman saya keliling Sabang sampai Merauke. Betapa banyak komoditi yang jika kita olah bisa mengangkat harkat dan kesejahteraan bangsa,” ujarnya.

Ia lalu menyebut nilam. “Tadi pak Irwan menyebut pohon nilam. Itu ada sejarahnya. Nilam adalah singkatan dari Nederlands Indische Land ook Acheh Maatzchappij, sebuah perusahaan Belanda yang mengatur perdagangan dan sistem penjualan tanaman Patchouli. Tanaman herbal yang daunnya disuling menjadi atsiri. Orang lalu mengenalnya sebagai minyak nilam,” papar Doni, fasih.

Ada lagi jenis tanaman lain untuk kepentingan atsiri, antara lain kulit pohon masoya (bahan baku parfum Hermes) dan cendana. Harga per satu kilogram mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

“Potensi itu sangat besar di negara kita. Jadi, kerjasama antara dunia usaha dengan peneliti dan didukung pemerintah, niscaya akan memberikan manfaat luar biasa bagi bangsa kita,” ujar Doni optimis.

Kepala BNPB 2019 – 2021 itu lalu menyebutkan tentang cengkeh. Baru-baru ini ia menemukan pohon cengkeh di tengah hutan di Pulau Seram, Maluku. Buah cengkeh itu tiga kali lebih besar dari buah cengkeh yang kita kenal. “Jumlahnya tidak banyak. Jika berkenan, saya siap mengantarkan bapak-ibu peneliti untuk melihat pohon cengkeh hutan di Pulau Seram,” kata Doni menjabat Pangdam XVI/Pattimura 2015 – 2017 itu.

Selain cengkeh, ada juga pohon lemon “raksasa”. Jika pohon lemon kebanyakan tingginya hanya dua sampai tiga meter, Doni menemukan pohon lemon setinggi hampir 10 meter. “Sekali lagi, potensi emas hijau kita luar biasa. Selamat berjuang pak Irwan dan Sido Muncul,” tambahnya.

Pionir Rempah

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memuji langkah Sido Muncul sebagai pionir penelitian rempah di Indonesia. “Jamunya sudah jalan, sekarang bergeser ke rempah. Setelah ini, apa lagi….,” kata Ganjar.

Ganjar lalu menyampaikan kisah menarik saat berkunjung ke Suriname. “Saya sempat tersinggung,” kata Ganjar dengan ekspresi lucu.

Ia lalu berkisah. Lazimnya sebuah kunjungan, maka Ganjar menyerahkan cendera mata berupa miniatur Candi Borobudur. Pejabat Suriname tadi lalu membalas dengan memberinya cenderamata yang membuat Gajar “tersinggung”. “Apa coba! Saya mendapat souvenir Tolak Angin Sido Muncul…” kata Ganjar disusul tawa dan tepuk tangan hadirin.

Seperti halnya Doni, maka Ganjar pun punya pengalaman di negeri Belanda. Dalam satu kesempatan ia berbincang dengan para veteran. Mereka menceritakan, bahwa zaman dulu tidak ada makanan yang tasty atau enak. Yang ada rasa tawar cenderung hambar, seperti roti, susu, dan keju.

“Mereka mengakui, ada makanan enak di Belanda setelah terjadi penjelajahan dan penjajahan. Termasuk menemukan rempah-rempah dari Indonesia,” kisah Ganjar.

Ganjar lalu membayangkan, seandainya laboratorium rempah ini sudah menghasilkan produk-produk berkelas global, maka semua kedutaan bekerjasama dengan pemerintah lokal di berbagai negara untuk membuka toko rempah Indonesia. “Rempah, bukan saja memakmurkan bangsa, tetapi juga bisa menjadi alat diplomasi,” ujarnya.

Dukungan BPOM

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Dr. Ir. Penny K. Lukito, MCP yang hadir pagi itu, mengilas pengalamannya di sejumlah negara. Betapa kebutuhan rempah sangat tinggi.

Hari ini, bertepatan hari Ibu, kata Penny, adalah momentum yang sangat penting bagi berdirinya tonggak kejayaan kembali rempah Indonesia. “Karena itu, saya prioritaskan untuk hadir di acara ini,” ujar Penny pula.

Ke depan, rempah Indonesia yang berangkat dari Laboratorium Rempah Sido Muncul diharapkan memainkan peran penting adalam event dua tahunan, Spices of the World. “BPOM selalu mendampingi peserta dari Indonesia. Eventnya dimulai dengan pameran di Dubai. Sekarang menjadi event rutin dua tahunan. Di situ merupakan ajang terbaik untuk memasarkan produk rempah kita ke seluruh dunia,” katanya.

Penny juga mengapresiasi Sido Muncul sebagai salah satu industri jamu, yang mendapatkan CPOB (Cara Produksi Obat yang Baik). Itu karena Sido Muncul telah mengikuti aturan BPOM. “Kami siap mendampingi untuk proses selanjutnya,” tegas Penny. (Egy Massadiah)

Sokoharjo Menuju Destinasi Wisata Jamu, BPOM Beri Bimbingan Teknis

JAYAKARTA NEWS – Jamu sebagai salah satu kekayaan Nusantara, kini dikembangkan menjadi paket wisata. Kini pemerintah tengah menyiapkan Kabupaten Sukoharjo menjadi destinasi wisata jamu di Indonesia.

Direktorat Pengawasan Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM) memberikan  Bimbingan Teknis dan Pendampingan Kepada Pelaku Usaha Jamu Gendong terkait aspek higienitas, sanitasi dan dokumentasi.

Menurut Deputi II Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, Maya Gustina Andarini, bimbingan teknis  dirancang untuk membina para pelaku usaha jamu, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Tujuannya adalah agar mereka dapat memproduksi jamu yang aman dan berkualitas. Dengan demikian, hak tersebut dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap budaya minum jamu khususnya kepada generasi milenial.

“Hal ini pun ditujukan untuk melindungi konsumen dari produk-produk jamu ilegal, mengandung bahan berbahaya, atau yang tidak layak konsumsi, serta memperluas cakupan pemasaran dengan memanfaatkan platform e-commerce,” kata Maya.

Dengan mengikuti bimbingan teknis tersebut, peserta mendapatkan bekal tentang budaya jamu dan kesehatan. Dengan pemahaman hak tersebut, produk mereka akan meningkat  daya saingnya. Peserta juga memahami tentang pentingnya aspek pengawasan, dan tidak terkecuali soal bagaimana memasarkan produk jamu  melalui media sosial yang menjadi tuntutan di era digital ini.

Bimbingan teknis yang telah berlangsung  selama dua hari itu,  diikuti 30 pelaku usaha jamu gendong yang ada di Kabupaten Sukoharjo. Hadir dalam kegiatan ini kalangan industri  Obat Tradisional (IOT) di Jawa Tengah, yaitu PT Sido Muncul, PT Konimex, dan PT Borobudur yang menjadi bapak angkat bagi UMKM.

Menurut Maya, setiap IOT mendampingi 10 pelaku usaha jamu gendong, sehingga UMKM tersebut dapat mandiri dalam mengembangkan usahanya.

“Ke depannya, IOT yang menjadi bapak angkat ini akan terus membimbing dan mendukung hingga mempercepat kemajuan UMKM jamu yang ada di Indonesia,” kata Maya.***

Sumber: Pers Rilis