Tambang (Akan) Habis, Sapu-sapu Dirintis

Inovasi Atsiri di Bumi Laskar Pelangi

PANGKALPINANG, JAYAKARTA NEWS – Bangka Belitung merupakan penghasil timah terbesar di Indonesia. Semua orang tahu. Tapi tahukah Anda, bahwa kandungan timah (dan mineral lain) pada saatnya akan habis. Beruntunglah kepulauan ini memiliki jenis tanaman sapu-sapu yang ternyata memiliki potensi jauh lebih besar dari timah.

Tumbuhan sapu-sapu (Baeckea frutescens L.) merupakan salah satu jenis keanekaragaman hayati yang tumbuh subur di Babel. Setelah diteliti, tumbuhan sapu-sapu memiliki senyawa metabolit sekunder aktif yang dapat dimanfaatkan sebagai obat, antibakteri, dan antioksidan. Jika disuling menjadi atsiri, harganya menggiurkan.

“Sudah saatnya, masyarakat Babel tidak hanya mengandalkan timah. Kami hadir untuk membangkitkan industri ekstrak sapu-sapu. Program alih profesi penambang ilegal menjadi petani atsiri sapu-sapu,” ujar Letjen TNI Purn Doni Monardo, di aula “Serumpun Sebalai” rumah dinas Gubernur Babel, di kawasan Air Itam, Bukitintan, Pangkalpinang, Kamis (26/1/2023) malam.

Doni hadir sebagai Komisaris Utama Mining Industry Indonesia (MIND ID). Sebuah BUMN Holding Industri Pertambangan Indonesia yang beranggotakan PT ANTAM Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Freeport Indonesia, PT Inalum (Persero), PT Timah Tbk., dan PT Vale Indonesia.

Komisaris MIND ID lainnya yang juga hadir: Martuani Sormin, Ilyas Asaad, Nicolaus Teguh Budi Harjanto, dan Ridwan Djamaluddin. Nama terakhir, kebetulan saat ini menjabat Pejabat (Pj) Gubernur Bangka Belitung. Dari jajaran direksi, hadir Danny Praditya (Direktur Operasi dan Portofolio) dan Dany Amrul Ichdan (Direktur Hubungan Kelembagaan).

Hadir pula Komisaris Utama PT Timah, M. Alfan Baharuddin, Direktur Utama PT Timah, Achmad Ardianto dan jajarannya. Hadir pula direktur PT Freeport Indonesia, Claus Oscar Ronald Wamafma. Sedangkan, dari PT Vale Indonesia, hadir Direktur Strategis Budiawan Syah, serta direksi perusahaan tambang lain, anggota MIND ID.

Komut MIND ID, Doni Monardo dan Pj Gubernur Bangka Belitung, Ridwan Djamaluddin (nomor 3 dan 4 dari kiri) bersama Ketua Dewan Atsiri Indonesia, Irdika Mansur (paling kiri) serta praktisi bisnis atsiri yang hadir dan siap berkolaborasi dengan program Atsiri Sapu-sapu Bangka Belitung. (foto: rizky yulian rochadi)

Judul acara malam itu adalah “Penyerahan Program Kolaborasi CSR Group MIND ID, Pengembangan Potensi Minyak Atsiri kepada Pemerintah Daerah di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung”. Perwakilan anggota MIND ID masing-masing menyerahkan secara simbolis bantuan program atsiri sapu-sapu kepada Pj Gubernur Babel Ridwan Djamaluddin.

Satu paket bantuan komplet terdiri atas mesin penyulingan (Distilasi) berkapasitas 1 ton, pembangunan instalasi, pembangunan tempat mesin penyulingan, gudang penyimpanan, motor gerobak, modal kerja hingga pelatihan bagi masyarakat. Pemprov Babel diharapkan menunjuk dinas terkait agar bisa mendistribusikan bantuan itu ke 7 daerah administrasi tingkat dua yang ada (6 kabupaten, 1 kotamadya).

Makmur pada Akhirnya

Doni Monardo menegaskan, kekayaan aneka tambang yang dimiliki Indonesia, pada saatnya akan habis. Untuk mengantisipasi hal itu, maka atsiri sapu-sapu pun dirintis. “Ini gagasan Dewan Komisaris bersama Direksi MIND ID. Jangan sampai, setelah pertambangan ditutup, rakyat tidak mendapat apa-apa, dan hidupnya tetap sengsara,” tambah Danjen Kopassus 2014 – 2015 itu.

Ia mencontohkan ihwal kejayaan minyak yang pernah menyentuh produksi 1,6 juta barrel per hari. Hari ini, untuk mencapai 800 ribu barrel per hari saja susah. Tak hanya itu, Indonesia juga pernah menjadi pengekspor gas bumi terbesar di dunia era 90-an. Apa yang terjadi? Cadangan gas menurun, dan PT Arun pun tutup pada tahun 2015.

Fakta lain, proses penambangan hampir 100 persen menimbulkan luka pada kulit bumi. Hampir semua penambangan merusak ekosistem. “Kami dari MIND ID tidak ingin kekayaan bumi di satu daerah diekplorasi sampai habis, tetapi rakyatnya tidak mendapat nilai ekonomi, malah dapat petaka karena rusaknya ekosistem,” tambah Doni Monardo, Kepala BNPB 2019 – 2021 itu.

Program atsiri sapu-sapu di Bangka Belitung diharapkan menjadi role model, yang akan diterapkan di daerah tambang lain di seluruh wilayah Indonesia. Doni juga mengutip data ITC (International Trade Center) yang menyebutkan tiga komoditi dengan nilai transaksi terbesar di dunia.

“Urutan pertama karet dan turunannya. Yang kedua, kayu dan turunannya. Yang ketiga, essential oil. Kalau saja kita bisa mengoptimalkan sektor karet, kayu, dan essential oil, harusnya tidak ada orang miskin di Indonesia,” tambah penggagas “Emas Hijau” dan “Emas Biru”, itu.

Tumbuhan sapu-sapu yang berlimpah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, adalah potensi yang nyata untuk kemakmuran rakyat, selain dari timah. Berkat kolaborasi dengagn akademisi (peneliti), akhirnya diketahui manfaat sapu-sapu.

Dari kiri: Claus Oscar Ronald Wamafma (Direktur PT Freeport Indonesia), Martuani Sormin (Komisaris MIND ID), Ridwan Djamaluddin (Pj Gubernur Bangka Belitung), Ilyas Asaad (Komisaris MIND ID), Doni Monardo (Komisaris Utama MIND ID), Nicolaus Teguh Budi Harjanto (Komisaris MIND ID), dan Danny Praditya, Direktur Operasi dan Portofolio MIND ID. (foto: roso daras)

Esok harinya, Jumat (27/1/2023) Doni Monardo dan rombongan MIND ID menuju Tanjungpandan, Belitung. Dalam perjalanan menuju geosite Nam Salu, rombongan sempat berhenti di lokasi hamparan sapu-sapu.

Turun dari mobil, dengan antusias Doni menerobos tumbuhan sapu-sapu. Rombongan yang lain sempat terkejut melihat apa yang dilakukan Doni Monardo, kecuali sejumlah wartawan. Mereka melihat apa yang dilakukan Doni adalah objek foto yang menarik.

Seorang komisaris utama, mantan Kepala BNPB, mantan Komandan Kopassus, mantan Komandan Paspampres tanpa ragu mengayunkan langkah menerobos semak sapu-sapu. Pada jarak belasan meter dari jalan raya, Doni mengajak anggota rombongan mengikutinya.

Doni lalu memanggil warga lokal. “Siapa yang asli orang sini (Belitung)?” Seseorang mengangkat tangan dan mendekat. Terjadilah dialog singkat.

“Bapak tahu ini tanaman apa?”

“Sapu-sapu, pak.”

“Setahu bapak, apa manfaat tanaman ini.”

“Dibuat bonsai.”

“Lihat,” kata Doni kepada rombongan MIND ID dan Pj Gubernur Babel, “masyarakat Babel sendiri bahkan tidak tahu kalau tumbuhan ini bisa menghasilkan uang lebih banyak daripada menjadi penambang liar.”

Masyarakat Bangka-Belitung umumnya belum tahu tumbuhan sapu-sapu bisa disuling menjadi minyak atsiri yang berharga mahal. “Harga pastinya masih terus dikaji, tapi kisarannya sekitar tiga-ratus-ribu rupiah per liter,” kata Doni. “Jika kerja keras, hasilnya melebihi penghasilan petambang liar,” tambahnya.

Dengan diksi yang menarik, Doni bahkan berujar, “Dengan sapu-sapu kita sapu kemiskinan di Indonesia.”

Dari kiri: Claus Oscar Ronald Wamafma (Direktur PT Freeport Indonesia), Martuani Sormin (Komisaris MIND ID), Ridwan Djamaluddin (Pj Gubernur Bangka Belitung), Ilyas Asaad (Komisaris MIND ID), dan Doni Monardo (Komisaris Utama MIND ID. (foto: een irawan putra)

Dukungan Direksi

Direktur Hubungan Kelembagaan MIND ID, Dany Amrul Ichdan menegaskan, gagasan atsiri sapu-sapu, paralel dengan tiga program strategis, yakni lingkungan hidup, peningkatan SDM, dan mitra binaan naik kelas. “Nah, program yang kita gulirkan di Babel ini mencakup tiga-tiganya,” tegasnya.

Ke depan ia berharap, atsiri sapu-sapu yang merupakan kearifan lokal bisa menjadi kearifan nasional, dan bermuara menjadi kearifan global. Aset tambang, hasil tambang, dan pasca tambang harus bisa dimonetasi untuk kesejahteraan masyarakat. Utamanya masyarakat di sekitar lokasi tambang.

Sementara itu, Pj Gubernur Bangka Belitung Ridwan Djamaluddin mengapresiasi langkah kongkrit Grup MIND ID dengan mengembangkan potensi tanaman sapu-sapu menjadi minyak atsiri. “Nanti kami akan membentuk unit pengelola. Bantuan MIND ID ini tidak murah, karenanya harus bisa dimanfaatkan dengan baik,” kata Ridwan yang juga Dirjen Minerba, Kementerian ESDM.

Ia senang jika lahan bekas tambang yang ada di Babel kemudian ditanami sapu-sapu. Dengan demikian, program ini sekaligus bisa mengubah lahan kritis menjadi lahan produktif. “Untuk program atsiri sapu-sapu, kami juga akan melibatkan generasi milenial agar ikut memanfaatkan peluang besar ini,” tegasnya.

Tidak Asal Hijau

Program ini juga berhasil meyakinkan Dewan Atsiri Indonesia dan para anggotanya yang turut hadir ke Pangkalpinang dan memberi dukungan.

Ketua Dewan Atsiri Indonesia, Dr.Ir Irdika Mansur, M.For.Sc. Di antara anggota Dewan Atsiri juga terdapat ekportir atsiri. “Jadi petani sapu-sapu nanti tidak perlu khawatir. Sebab, sudah ada pengusaha yang siap menampung atau membeli atsiri sapu-sapu masyarakat Babel,” kata Irdika yang juga Lektor Kepala IPB, itu.

Sekalipun menjadi Ketua Dewan Atsiri, Irdika adalah seorang yang ahli di bidang Reklamasi Lahan Pasca Tambang. Menurutnya, reklamasi bekas lahan tambang mengalami perubahan yang positif. Jika dulu, reklamasi diartikan “asal hijau” (kembali), maka sejak tahun 2000-an mulai diberi nilai tambah. Tidak saja hijau, tetapi juga yang produktif.

Jadilah, sejumlah lahan bekas tambang menjadi –misalnya—objek wisata, kebun buah, dan hutan tanaman keras. “Hari ini, ragamnya bertambah, menjadi lahan tumbuhan sapu-sapu yang produknya berupa minyak atsiri. Dengan kata lain, reklamasi tidak hanya hijau tapia da ‘cuan’-nya,” kata Irdika, disambut tawa sekaligus tepuk tangan hadirin.

Bangun Tidur, Tidur Lagi

Irdika, bersama anggota Dewan Atsiri Indonesia senantiasa memberi pemahaman kepada masyarakat, betapa manusia hidup tak lepas dari atsiri. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, semua bersentuhan dengan atsiri.

“Sikat gigi, odol memakai atsiri. Mandi, sabun pakai atsiri. Keramas, shampoo pakai atsiri. Deodorant, parfum, juga makai atsiri. Di mobil, di kantor, sampai akhirnya pulang dan gosok gigi lagi sebelum tidur. Semua memakai atsiri. Bahkan, temuan terbaru, ada juga atsiri yang berkhasiat untuk hubungan suami-istri,” kata Ardika sambil tertawa.

Melalui atsiri, nilai ekspor Indonesia bisa terus digenjot. Sebab, potensi atsiri Indonesia sangat berlimpah. Atsiri juga terbilang bisnis yang stabil. Sekalipun harganya fluktuatif, tetapi masih menyisakan margin keuntungan yang menjanjikan.

Agar pemahaman lebih komplet, Irdika mengajak empat orang anggota Dewan Atsiri Indonesia. Mereka adalah Wisnu Suncahyo (Direktur Utama PT Sinkona Indonesia Lestari-anak perusahaan Kimia Farma bidang atsiri), Martsiano (Direktur CV. Mazano Tech and Enginering/Dewan Atsiri Indonesia), Eliest Listiani (Direktur PT Syilendra Bumi Ivestama/Asosiasi Aromatherapi Indonesia), dan Wiliam S. Wijaya (Direktur PT WSW Grup Indonesia/SICHER).

Mereka semua telah mencanangkan tekad di bumi “Serumpun Sebalai” untuk merintis usaha kolektif masyarakat Babel di bidang atsiri sapu-sapu. Harapannya, atsiri sapu-sapu akan menjadi bisnis yang manis, sebelum cadangan timah habis. (egy massadiah/roso daras)

Grup MIND Serahkan CSR Pengembangan Minyak Atsiri Kepada Pemprov Kepulauan Bangka Belitung

BANGKA BELITUNG, JAYAKARTA NEWS – BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID, atau Mining Industry Indonesia, yang beranggotakan PT Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Freeport Indonesia, PT Inalum (Persero), PT Timah Tbk dan PT Vale Indonesia Tbk menyerahkan Program Kolaborasi CSR Grup MIND ID Pengembangan Potensi Minyak Atsiri kepada Pemerintah Daerah di Wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, di Gedung Mahligai Rumah Dinas Gubernur Bangka Belitung, Kamis (26/1/2023).

Penyerahan CSR ini turut dihadiri Komisaris Utama MIND ID Doni Monardo beserta jajaran komisaris MIND ID lainnya, jajaran Direksi MIND ID, Komisaris Utama PT Timah Tbk, Alfan Baharudin beserta jajaran direksi Anggota MIND ID dan Dewan Atsiri Indonesia.

Bantuan CSR ini diserahkan secara simbolis oleh perwakilan dari anggota MIND ID kepada Gubernur Bangka Belitung, Ridwan Djamaluddin yang disaksikan oleh Komisaris Utama.

Bantuan berupa enam paket program Kolaborasi CSR Grup MIND ID Pengembangan Potensi Minyak Atsiri kepada Pemerintah Daerah di Wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini berupa satu unit mesin mesin penyuling (distilasi) kapasitas satu ton, instalasi dan pelatihan, pembangunan tempat mesin penyulingan, gudang penyimpanan, motor gerobak dan modal kerja.

Program pengembangan minyak atsiri ini merupakan salah satu implementasi pendekatan ekonomi sirkular yang dijalankan Grup MIND ID. MIND ID mendorong potensi pohon sapu-sapu di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk dikembangkan menjadi minyak atsiri.

Ekonomi Baru

Komisaris Utama MIND ID, Doni Monardo mengatakan program pengembangan minyak atsiri ini merupakan langkah Grup MIND ID untuk mendorong ekonomi baru bagi masyarakat Bangka Belitung dengan memanfaatkan potensi alam yang dimiliki.

Menurutnya, potensi pohon sapu-sapu yang ada di Bangka Belitung tidak dimiliki daerah lain. Sehingga pihaknya mendorong Grup MIND ID, untuk melakukan kolaborasi dengan Pemerintah Daerah. Minyak atsiri juga diketahui menjadi salah satu komoditas perdagangan dunia yang memiliki pangsa pasar cukup luas.

Masyarakat di sekitar tambang diharapkan dapat memiliki nilai tambah dari pengembangan pohon sapu-sapu menjadi minyak atsiri ini. Sehingga nantinya pasca tambang masyarakat bisa tetap sejahtera.

“Kita merancang sebuah program yang berkelanjutan sebagai program pasca tambang salah satunya reklamasi dengan tanaman tertentu, yakni pohon sapu sapu. Karena setelah kita tinjau, banyak didapati di sini apalagi di Pulau Belitung. Nah, kita akan manfaatkan itu dengan memfasilitasi pelatihan dan pendampingan hingga alat-alat penyulingan untuk memproduksi minyak atsiri dari pohon sapu-sapu yang memiliki nilai ekonomisnya tinggi,” tambahnya.

Dalam melaksanakan proses bisnisnya, Grup MIND ID selalu menjaga keseimbangan eksosistem dan melakukan pemberdayaan masyarakat sehingga bisa memberikan dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat.

“Kami menginginkan program yang disampaikan ini bisa berkelanjutan dan masyarakat di sekitar tambang tidak hanya hidup dari sektor pertambangan tapi juga mendapatkan manfaat ekonomi dari sektor lainnya sehingga bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ucapnya. 

Ekonomi Sirkular

Sementara itu, Direktur Hubungan Kelembagaan MIND ID, Dany Amrul Ichdan mengatakan program pengembangan atsiri akan membentuk ekosistem baru dalam pendekatan ekonomi sirkular yang dijalankan oleh Grup MIND ID.

Ia menyebutkan, dalam konsep ekonomi sirkular Industri pertambangan semua aset tambang, hasil tambang dan pasca tambang harus bisa termonitasi, terkapitalisi dan terutilisasi dengan baik sehingga bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Program minyak atsiri di Babel menjadi role model yang mengintegrasikan tiga prioritas TJSL dan CSR sesuai dengan Permen BUMN No. 5 tahun 2021 yakni lingkungan hidup, peningkatan kualitas SDM dan mitra binaan naik kelas,” jelasnya.

Hal ini kata dia, sejalan dengan sustainability pathway MIND ID, dimana tidak hanya korporasi yang sustainable tapi juga masyarakatnya juga sustainable. Mendukung produktivitas masyarakat agar bisa memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

“Kita mendukung minyak atsiri dikembangkan menjadi produk downstream. Kita support untuk membuat dashboard bagi mitra binaan Grup MIND ID secara terkonsolidasi yang berisikan produk unggulan lokal untuk dilengkapi e-commerce masuk ke pasar digital, supaya dari kearifan lokal, menjadi kearifan nasional lalu menjadi kearifan global,” katanya.

Bentuk Unit Pengelola

Pj Gubernur Bangka Belitung Ridwan Djamaluddin mengapresiasi langkah konkrit Grup MIND ID yang telah mendukung transformasi ekonomi di Bangka Belitung dengan mengembangkan potensi pohon sapu-sapu untuk menjadi minyak atsiri.

“Saya sangat berterima kasih atas inisiasi MIND ID atas program kolaborasi ini. Nanti kami akan membentuk unit pengelola. Bantuan yang diserahkan MIND ID ini tidak murah dan akan dimanfaatkan dengan baik. Agar transformasi kegiatan ekonomi masyarakat di Babel akan terlaksana dengan didorong oleh industri pertambangan,” katanya.

Ia berharap, kolaborasi ini dapat menggerakkan ekonomi di Babel. Nantinya, kata dia bantuan ini akan didistribusikan ke kabupaten/kota yang ada di Babel.

“Ini juga menjadi cara untuk mengatasi lahan kritis di Babel menjadi lahan produktif sehingga bisa memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Kami juga akan mengajak generasi milenial untuk memanfaatkan peluang,” ucapnya.

Ketua Dewan Atsiri Indonesia, Irdika Mansur mengatakan program reklamasi perusahaan tidak harus selalu hijau tapi juga harus memberikan dampak ekonomi secara langsung bagi masyarakat.

“Kami sangat berbahagia dan apresiasi kepada Grup MIND ID karena mengangkat atsiri menjadi topik Pemberdayaan Masyarakat di lahan bekas tambang. Ini sangat menarik dan tentunya bisa memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat,” katanya.

Minyak atsiri kata dia memiliki pangsa pasar yang luas karena digunakan untuk berbagai industri seperti farmasi, kecantikan, dan lainnya.

“Pangsa pasarnya sangat luas karena dibutuhkan dalam berbagai industri. Masyarakat juga terlibat langsung dalam sektor ini apalagi dengan dukungan Grup MIND ID,” tutupnya. (*)

Grup MIND Serahkan CSR Pengembangan Minyak Atsiri Kepada Pemprov Kepulauan Bangka Belitung

BANGKA BELITUNG, JAYAKARTA NEWS – BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID, atau Mining Industry Indonesia, yang beranggotakan PT Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Freeport Indonesia, PT Inalum (Persero), PT Timah Tbk dan PT Vale Indonesia Tbk menyerahkan Program Kolaborasi CSR Grup MIND ID Pengembangan Potensi Minyak Atsiri kepada Pemerintah Daerah di Wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, di Gedung Mahligai Rumah Dinas Gubernur Bangka Belitung, Kamis (26/1/2023).

Penyerahan CSR ini turut dihadiri Komisaris Utama MIND ID Doni Monardo beserta jajaran komisaris MIND ID lainnya, jajaran Direksi MIND ID, Komisaris Utama PT Timah Tbk, Alfan Baharudin beserta jajaran direksi Anggota MIND ID dan Dewan Atsiri Indonesia.

Bantuan CSR ini diserahkan secara simbolis oleh perwakilan dari anggota MIND ID kepada Gubernur Bangka Belitung, Ridwan Djamaluddin yang disaksikan oleh Komisaris Utama.

Bantuan berupa enam paket program Kolaborasi CSR Grup MIND ID Pengembangan Potensi Minyak Atsiri kepada Pemerintah Daerah di Wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini berupa satu unit mesin mesin penyuling (distilasi) kapasitas satu ton, instalasi dan pelatihan, pembangunan tempat mesin penyulingan, gudang penyimpanan, motor gerobak dan modal kerja.

Program pengembangan minyak atsiri ini merupakan salah satu implementasi pendekatan ekonomi sirkular yang dijalankan Grup MIND ID. MIND ID mendorong potensi pohon sapu-sapu di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk dikembangkan menjadi minyak atsiri.

Ekonomi Baru

Komisaris Utama MIND ID, Doni Monardo mengatakan program pengembangan minyak atsiri ini merupakan langkah Grup MIND ID untuk mendorong ekonomi baru bagi masyarakat Bangka Belitung dengan memanfaatkan potensi alam yang dimiliki.

Menurutnya, potensi pohon sapu-sapu yang ada di Bangka Belitung tidak dimiliki daerah lain. Sehingga pihaknya mendorong Grup MIND ID, untuk melakukan kolaborasi dengan Pemerintah Daerah. Minyak atsiri juga diketahui menjadi salah satu komoditas perdagangan dunia yang memiliki pangsa pasar cukup luas.

Masyarakat di sekitar tambang diharapkan dapat memiliki nilai tambah dari pengembangan pohon sapu-sapu menjadi minyak atsiri ini. Sehingga nantinya pasca tambang masyarakat bisa tetap sejahtera.

“Kita merancang sebuah program yang berkelanjutan sebagai program pasca tambang salah satunya reklamasi dengan tanaman tertentu, yakni pohon sapu sapu. Karena setelah kita tinjau, banyak didapati di sini apalagi di Pulau Belitung. Nah, kita akan manfaatkan itu dengan memfasilitasi pelatihan dan pendampingan hingga alat-alat penyulingan untuk memproduksi minyak atsiri dari pohon sapu-sapu yang memiliki nilai ekonomisnya tinggi,” tambahnya.

Dalam melaksanakan proses bisnisnya, Grup MIND ID selalu menjaga keseimbangan eksosistem dan melakukan pemberdayaan masyarakat sehingga bisa memberikan dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat.

“Kami menginginkan program yang disampaikan ini bisa berkelanjutan dan masyarakat di sekitar tambang tidak hanya hidup dari sektor pertambangan tapi juga mendapatkan manfaat ekonomi dari sektor lainnya sehingga bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ucapnya. 

Ekonomi Sirkular

Sementara itu, Direktur Hubungan Kelembagaan MIND ID, Dany Amrul Ichdan mengatakan program pengembangan atsiri akan membentuk ekosistem baru dalam pendekatan ekonomi sirkular yang dijalankan oleh Grup MIND ID.

Ia menyebutkan, dalam konsep ekonomi sirkular Industri pertambangan semua aset tambang, hasil tambang dan pasca tambang harus bisa termonitasi, terkapitalisi dan terutilisasi dengan baik sehingga bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Program minyak atsiri di Babel menjadi role model yang mengintegrasikan tiga prioritas TJSL dan CSR sesuai dengan Permen BUMN No. 5 tahun 2021 yakni lingkungan hidup, peningkatan kualitas SDM dan mitra binaan naik kelas,” jelasnya.

Hal ini kata dia, sejalan dengan sustainability pathway MIND ID, dimana tidak hanya korporasi yang sustainable tapi juga masyarakatnya juga sustainable. Mendukung produktivitas masyarakat agar bisa memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

“Kita mendukung minyak atsiri dikembangkan menjadi produk downstream. Kita support untuk membuat dashboard bagi mitra binaan Grup MIND ID secara terkonsolidasi yang berisikan produk unggulan lokal untuk dilengkapi e-commerce masuk ke pasar digital, supaya dari kearifan lokal, menjadi kearifan nasional lalu menjadi kearifan global,” katanya.

Bentuk Unit Pengelola

Pj Gubernur Bangka Belitung Ridwan Djamaluddin mengapresiasi langkah konkrit Grup MIND ID yang telah mendukung transformasi ekonomi di Bangka Belitung dengan mengembangkan potensi pohon sapu-sapu untuk menjadi minyak atsiri.

“Saya sangat berterima kasih atas inisiasi MIND ID atas program kolaborasi ini. Nanti kami akan membentuk unit pengelola. Bantuan yang diserahkan MIND ID ini tidak murah dan akan dimanfaatkan dengan baik. Agar transformasi kegiatan ekonomi masyarakat di Babel akan terlaksana dengan didorong oleh industri pertambangan,” katanya.

Ia berharap, kolaborasi ini dapat menggerakkan ekonomi di Babel. Nantinya, kata dia bantuan ini akan didistribusikan ke kabupaten/kota yang ada di Babel.

“Ini juga menjadi cara untuk mengatasi lahan kritis di Babel menjadi lahan produktif sehingga bisa memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Kami juga akan mengajak generasi milenial untuk memanfaatkan peluang,” ucapnya.

Ketua Dewan Atsiri Indonesia, Irdika Mansur mengatakan program reklamasi perusahaan tidak harus selalu hijau tapi juga harus memberikan dampak ekonomi secara langsung bagi masyarakat.

“Kami sangat berbahagia dan apresiasi kepada Grup MIND ID karena mengangkat atsiri menjadi topik Pemberdayaan Masyarakat di lahan bekas tambang. Ini sangat menarik dan tentunya bisa memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat,” katanya.

Minyak atsiri kata dia memiliki pangsa pasar yang luas karena digunakan untuk berbagai industri seperti farmasi, kecantikan, dan lainnya.

“Pangsa pasarnya sangat luas karena dibutuhkan dalam berbagai industri. Masyarakat juga terlibat langsung dalam sektor ini apalagi dengan dukungan Grup MIND ID,” tutupnya. (*)