Reuni SMA 2 Pandeglang

 

SETELAH 24 tahun menyelesaikan  belajar di pendidikan menengah,  para alumni SMA 2 Pandeglang kembali berkumpul dalam perhelatan reunian.

Acara yang di digelar pada Minggu (30/4/2017)  di Villa Roca Layung Kecamatan Carita itu, dimaksudkan untuk terus memupuk kebersamaan para lulusan SMA 2 Pandeglang. Reuni  yang diikuti  100 alumni diisi dengan  beberapa kegiatan, seperti  lomba permainan hingga  “tepang sono”,  yang dimaksudkan untuk kembali memperkenalkan diri masing-masing setelah sekian lama tidak bersua.

Suasana yang mengharukan  bagi alumni SAMAKTA93 itu, tatkala  perwakilan pihak  SMA 2 Pandeglang, yang diwakili  salah seoraqng guru, Nelli menyampaikan  sambutan. Dia berharap,  para alumni agar dapat mengembangkan tali silaturahmi tersebut kearah positif, seperti  membentuk komunitas peduli sosial.

“Kami atas nama guru SMA 2 Pandeglang merasa bangga dengan suksesnya acara reuni ini. Namun alangkah lebih berartinya, jika dari reuni ini dapat menghasilkan pemikiran seta ide positif, seperti membentuk komunitas samakta peduli sosial”, kata Nelli. Menurutnya, sekolah  juga menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada seluruh alumni, yang telah dapat membawa nama baik sekolah,  sehingga citra sekolah dapat terangkat dengan baik pula.

Wakil Ketua panitia, Endan Nasai merasa puas atas terselenggaranya reuni tahun ini.   “Untuk komunitas SAMAKTA 93 PEDULI, rencananya nanti pada saat pembubaran panitia hal tersebut akan kami dibahas”, kata Endan. (Andang Suherman)

Lagi, tentang Katmin Sang Legenda

ALKISAH, ini adalah sambutan tulisan terdahulu “Katmin, Sang Legenda Jayakarta”…. Pendek kalimat, Katmin menjadi orang nomor satu yang dicari, dalam setiap gelar gawe yang dirancang aktivis WAG Jayakarta. Seperti misalnya, saat Agus Sundayana melempar wacana reuni, gayung-bersambut, bersahut-sahutan anggota grup menanggapi. Komen paling heboh tetap dari Yon Moeis, “Kalau Katmin tidak datang, saya nyatakan reuni ini TIDAK SAH.”

Bahkan, ketika ada yang nyeletuk, “Pak Kapolri akan hadir di reuni Jayakarta….” Buru-buru ditimpali, “Tetap lebih penting kehadiran Katmin.” Ada juga yang coba membanyol, “Kita gelar karpet merah khusus untuk Katmin.” Bayangkan, untuk kesekian kali, topik Katmin mencuat dan menghebohkan grup, sementara Katmin sendiri tidak ada dalam anggota grup, karena HP-nya jadul pake banget.

Kembali Agus Sundayana komen, setelah diam beberapa lama. “Saya sudah menghubungi Katmin, dan dia menyatakan siap hadir.” Anda bisa bayangkan, betapa bahagianya seluruh anggota grup. Satu per satu isi daftar absen kehadiran (untuk menghitung kebutuhan konsumsi dan cetak kaos). Lebih 70 persen dari 73 anggota grup menyatakan hadir. Yang tidak hadir terpaksalah meminta-minta maaf dengan alasan masing-masing.

Jadilah reuni di kediaman Pemred Suryohadi di kawasan Depok, berlangsung campur-rasa. Rasa bahagia, rasa haru, rasa kepalang-senang, rasa brotherhood tanpa polesan. Komitmen tak tertulis, bahwa “tidak ada hirarki” menjadikan suasana lebih cair. Mungkin juga karena lepas 16 tahun berpisah, masing-masing sudah mengalami pengembaraan profesional dengan lika-liku aneka corak.

Tidak sedikit anggota WAG Jayakarta yang telah sampai pada jenjang pemimpin redaksi. Sebut saja Eddy Koko, Kris Kaban, Ketty Saukoly. Di luar grup, masih ada Primus Dorimulu, Timbo Siahaan, Albert Kuhon, dan lain-lain. Tidak sedikit yang sukses di jalur bisnis. Di reuni ini? Semua status sosial menjadi tidak penting. Semua orang merasa ingin duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan Katmin.

Katmin di mana? Itu tuh, yang berdiri nyamping hadap kanan berbatik coklat.

Astaga… tak terasa sudah menginjak alinea keenam, batas toleransi tulisan yang dipatok pak Admin. Ya sudahlah…. apa boleh buat, tulisan ini harus saya penggal dengan kata penutup BERSAMBUNG. ***