Eksplor Keajaiban Alam Geopark Silokek, Surga Tersembunyi di Ranah Minang

JAYAKARTA NEWS – Kalau kamu lagi cari tempat wisata alam yang belum terlalu ramai tapi punya pesona luar biasa, Geopark Silokek di Kabupaten Sijunjung bisa jadi pilihan sempurna.

Kawasan ini memadukan panorama alam yang menakjubkan dengan nilai geologis yang tinggi, menciptakan pengalaman wisata yang nggak cuma indah tapi juga edukatif.

Lokasinya pun mudah dijangkau, cocok untuk kamu yang ingin liburan singkat atau sekadar melepas penat di akhir pekan.

Pesona Alam yang Menawan

Geopark Silokek terkenal dengan lanskap alamnya yang beragam, mulai dari sungai yang membelah lembah, tebing karst menjulang tinggi, hingga gua-gua dan air terjun yang tersembunyi di antara perbukitan hijau.

Kawasan ini dilintasi oleh Sungai Batang Kuantan dan Batang Sangkiamo, yang menambah kesan alami dan menyegarkan. Pemandangan tebing batu kapur berusia ratusan tahun juga menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang suka eksplorasi dan fotografi alam.

Lokasi dan Akses yang Mudah

Akses menuju Geopark Silokek terbilang mudah karena berjarak sekitar 13 kilometer dari Kantor Bupati Sijunjung. Jalan menuju ke sana sudah beraspal mulus dan bisa dilalui mobil maupun motor.

Salah satu jalur yang bisa kamu tempuh adalah dari arah Gedung Pancasila di Nagari Muaro, di mana gerbang masuk ke kawasan geopark ini berada. Dengan jarak yang dekat dari pusat pemerintahan, tempat ini sangat ideal untuk dikunjungi kapan saja tanpa perlu perjalanan jauh.

Kekayaan Geologi dan Daya Tarik Edukatif

Salah satu keistimewaan Geopark Silokek adalah kekayaan geologinya yang terbentuk dari batuan purba hasil proses alam selama ribuan tahun.

Di beberapa titik, kamu bisa melihat informasi tentang jenis dan usia batuan dari papan penanda yang tersedia.

Tebing-tebing tinggi yang terbentuk alami ini menjadi bukti sejarah panjang bumi Ranah Minang, menjadikan Silokek bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga laboratorium alam yang menarik bagi pelajar dan peneliti.

Menuju Status Geopark Dunia

Geopark Silokek kini tengah dalam proses menuju pengakuan sebagai bagian dari Unesco Global Geopark (UGGp). Pada Mei 2025, kawasan ini telah dikunjungi oleh tim penilai dari Komite Nasional Geopark Indonesia, Bappenas, dan Badan Geologi.

Jika berhasil lolos, status ini akan meningkatkan citra Geopark Silokek di kancah internasional. Selain itu, hal ini juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal lewat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif masyarakat sekitar.

Daya Tarik Bagi Wisatawan

Banyak wisatawan yang datang mengaku terpesona dengan keindahan panorama Silokek. Udara segar, pemandangan yang masih alami, serta formasi batuan unik membuat tempat ini cocok untuk healing maupun konten foto di media sosial.

Tak heran jika Geopark Silokek kini menjadi salah satu destinasi unggulan di Sumatera Barat yang semakin populer di kalangan traveler muda.***/mel

Wamensos Sambut Usulan Pahlawan Nasional dari Ranah Minang

JAYAKARTA NEWS – Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menerima kunjungan delegasi Pemerintah Daerah (Pemda) dan tokoh adat Sumatera Barat (Sumbar). Pertemuan berlangsung di Kantor Kementerian Sosial RI, Salemba, Jakarta Pusat, Jumat (26/9/2025).

Hadir dalam pertemuan tersebut Kepala Perwakilan Pemda Sumbar dr. Ari, mantan Wali Kota Padang yang juga Ketua LKAAM Sumbar Fauzi Bahar, Kepala Dinas Sosial Sumbar Saifullah, serta perwakilan keluarga almarhum Mr. Sutan Moh. Rasyid.

Kunjungan ini bertujuan memperkuat pengajuan sejumlah tokoh pejuang Minangkabau sebagai Pahlawan Nasional. Delegasi menyerahkan usulan tujuh nama, antara lain Mr. H. Sutan Moh. Rasyid, Rahmah El Yunusiyyah (Bunda Rahmah), Chatib Sulaiman, Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (Inyiak Canduang), Samaun Bakri, Bagindo Dahlan Abdullah, dan Prof. Dr. Abu Hanifah.

Dalam kesempatan itu, Wamensos Agus Jabo menyambut baik inisiatif Pemda dan tokoh masyarakat Sumbar. Ia menekankan bahwa pemberian gelar pahlawan bukan sekadar penghormatan, tetapi juga sarana menghubungkan generasi muda dengan sejarah perjuangan leluhur.

“Semua yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini layak kita hormati. Gelar pahlawan nasional bukan semata-mata pengakuan negara, tetapi harus menjadi katalis budaya agar anak cucu kita tidak tercerabut dari akar sejarahnya,” ujar Wamensos.

Perwakilan keluarga turut menyampaikan kisah perjuangan, termasuk cerita pengorbanan Chatib Sulaiman yang gugur ditembak Belanda ketika menggantikan ayah salah seorang delegasi dalam sebuah pertemuan rahasia.

“Sesungguhnya ayah saya yang dijadwalkan hadir, namun karena sakit, tugas itu digantikan Chatib Sulaiman. Dalam perjalanan, beliau ditembak Belanda dan gugur. Kisah ini menjadi bukti nyata pengorbanan generasi pejuang dari Ranah Minang,” tutur salah satu ahli waris.

Terkait prosedur, Wamensos menjelaskan bahwa karena usulan tersebut tidak masuk dalam verifikasi 2025, maka proses akan diarahkan pada pengusulan tahun 2026. Kementerian Sosial melalui Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP/DB2GD) akan memproses dan meneruskan berkas ke Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (DGTK) di Istana.

“Tugas Kemensos adalah mengusulkan sesuai aturan. Keputusan akhir ada pada Dewan Gelar di Istana dan biasanya diumumkan pada 10 November. Karena waktunya masih panjang, saya minta Pemda dan keluarga segera melengkapi persyaratan, termasuk seminar dan FGD di tingkat daerah mulai Februari mendatang,” jelas Agus Jabo.

Menutup pertemuan, Wamensos menitipkan pesan khusus agar semangat pendidikan kerakyatan terus hidup di Ranah Minang.

“Semangat perjuangan harus dihidupkan kembali di Padang. Saya berpesan agar Sekolah Rakyat dibangun di Padang sebagai wujud nyata meneladani nilai perjuangan para pahlawan dan leluhur kita,” pungkasnya.***/mel