Okonomiyaki, Histori “Soul Food”-nya Kota Hiroshima

Okonomiyaki | Foto: Terry Kimura

 

KOTA Hiroshima mungkin bukan nama pertama yang terlintas dalam pikiran  Anda,  berpikir tentang makan di Jepang, tetapi bisa juga ia yang kali pertama menggoda perasaan jiwa kulineri Anda. Kota pesisir ini merupakan  rumah bagi salah satu makanan dengan kenikmatan dan kenyamanan terbaik di dunia. Porsonya besar. Ya, ini adalah okonomiyaki.

Okonomiyaki Hiroshima original dilengkapi dengan  parutan kubis, irisan tipis perut babi (ini tentu tidak cocok untuk Muslim),  dan saus lengket manis yang sama dengan saudara kandungnya yang lebih utara, okonomiyaki bergaya Osaka atau Kansai.

Meskipun secara teknis Anda dapat  lolos dengan memasaknya dengan gaya Osaka,  tapi perlu Anda ketahui versi Hiroshima adalah proposisi yang lebih rumit. (Dan jangan bingung salah satu dari ini dengan “sepupu” Tokyo mereka, monjayaki yang jauh lebih berat.) Crepes, telur, kecambah, babi, kubis, mie (soba atau udon) dan variasi regional seperti gurita dan tiram secara hati-hati dilapisi untuk hidangan Hiroshima.

Karena konstruksi kompleks  dan cara bahan-bahan diperlakukan  di atas panggangan — kebanyakan koki okonomiyaki Hiroshima harus menjalani magang selama bertahun-tahun — Anda tentu tidak ingin untuk  memasaknya sendiri, tetapi kemungkinan besar Anda akan menyaksikan bagaimana si koki  menggolahnya.

Okonomiyaki mulai dikenal pada  awal tahun 1900-an sebagai issen yoshoku— “makanan Barat satu sen”: sebuah krep yang dilengkapi dengan kubis dan kecambah, yang dulu merupakan camilan murah untuk anak-anak sekolah.

Tetapi hidangan yang kita kenal sekarang, memiliki akar di Hiroshima setelah Perang Dunia II, ketika kota itu membangun kembali dirinya sendiri.

Pemanggang Teppan adalah hal termudah untuk dibuat, dan Sekutu membawa persediaan gandum yang berlebih. Hasil: pancake dengan tambalan yang bergizi dan murah. Restoran okonomiyaki pertama dibuka pada 1940-an kemudian, dan dengan cepat menjadi landasan budaya makanan kota.

Patut berterimakasih kepada Otafuku Sauce Co., yang tidak hanya membuat hampir semua saus okonomiyaki (seperti serius, pernah) tetapi memberikan pelatihan bisnis dan dukungan untuk sendi okonomiyaki baru untuk memulai.

Untuk para kutu buku resep makanan di antara kita, Otafuku memulai sebagai perusahaan cuka beras Hiroshima yang berkembang menjadi kecap Inggris setelah Perang Dunia II. Tukang masak Okonomiyaki mengeluh bahwa Worcestershire terlalu pedas dan tipis dan tidak melekat, sehingga perusahaan menebalkannya dengan buah. Dan lo, saus okonomiyaki lahir.

Di mana mencoba okonomiyaki gaya Hiroshima?
Hiroshima memiliki lebih dari 2000 restoran okonomiyaki, tetapi 25 di antaranya terletak di satu bangunan, kuil berlantai empat untuk “makanan jiwa” Okonomimura di Naka-chu, ruang yang ramai, ramah, dan benar-benar tidak pantas yang menyambut Anda dengan dorongan uap yang gurih, ketika Anda mendorong melalui tirai.

Ada sesuatu tentang okonomiyaki yang menenangkan suasana hati buruk yang paling buas sekalipun — Anda tidak bisa tetap tidak senang, ketika Anda memiliki  umami yang renyah dan diselimuti telur di depan Anda.

Yakiniku Nanaban Tei, Hmm… Selangit Rasanya

Restoran Jepang Nanaban Tei di Gd Jakarta Theatre Jl MH Thamrin, menjanjikan menu yakiniku dengan cita-rasa saos yang berbeda. Foto: Ebenhaizer

ADA yang sedikit berubah di restoran Nanaban Tei, di bilangan Gedung Jakarta Theatre, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat. Bukan semata pada hiasan pernak-pernik Natal dan Tahun Baru di ruang resto, tetapi pada pola saji makanan dan minuman. Yang pasti, varian menu lebih banyak, hanya tata-letaknya saja yang berubah.

Seperti biasa, pengunjung akan dipersilakan memilih meja dengan teppan atau alat panggang di atasnya, dan pelayan segera mempersilakan memilih menu buffet. “Tidak ditawari pesanan minuman?” kataku dalam hati. Sebab, pada kunjungan-kunjungan terdahulu, pertama kali mereka akan menanyakan minuman. Itu sebagai penanda, bahwa harga minuman, nantinya akan dipisahkan dengan harga “all you can eat” yang menjadi ciri utama resto ini.

Rupanya, tak jauh dari counter okonomiyaki, tempat kudapan seperti sushi roll, singkong ala Thai (dengan saos vla), onion ring, somay, buah segar, dan lain-lain, berjejer tiga drink jar berisi air putih, jus jeruk, dan teh hangat. “Hm, rupanya kali ini Nanaban Tei memberlakukan all you can eat and drink, dengan tiga jenis minuman yang sudah termasuk dalam satu kesatuan paket harga senilai hampir Rp 150 ribu per orang.

Counter shabu-shabu. Banyak pilihan sayuran dan aneka bakso serta udang segar. Foto: Ebenhaizer

Untuk pembuka, aku menuju counter salad bar di paling pinggir. Lagi-lagi, ada yang berbeda di counter itu. Biasanya, di sana akan tersedia berbagai pilihan salad dengan aneka saos, dan deretan mangkok lain berisi bahan-bahan untuk shabu-shabu. Tapi kali ini, seluruh counter berisi aneka hidangan salad, dari yang ala Barat, kimchi, sampai rujak dan asinan. Sempat berpikir, apakah menu shabu-shabu sudah tidak ada? Tetapi kulihat, counter shabu dengan dua pilihan kuah: kaldu dan tomyam masih bercokol di tempat semula.

Tanya-punya-jawab, ternyata Nanaban Tei menempatkan sebuah counter shabu secara khusus, tak jauh dari tempat memasaknya. Pilihan sayurnya lebih lengkap, juga so’un, udang dan aneka bakso, termasuk bakso ikan dan kepiting. Alhasil, menu pembuka salad dan shabu-shabu benar-benar terasa lebih mantap. Sayang, saos shabu tidak ada di sana, dan diganti chili sauce. Ada yang kurang tanpa campuruan saos shabu-shabu.

“Ronde” berikutnya adalah menu utama, santap yakiniku sendiri di atas teppan yang tersedia di tengah meja. Pelayan segera menghidupkan kompor gas dengan nyala sedang. Di atas teppan, tersedia dua potong lemak perut sapi sebagai pelumas. Di sisi kanan kursi, tersediai dua saos yakiniku, terdiri dari saos yakiniku plus wijen, dan saos yakiniku tanpa wijen. Daging sapi aneka jenis dan bumbu, ayam bumbu, cumi, lidah sapi, aneka sosis, udang, bisa diambi di counter, semampu perut.

Counter okonomiyaki, menyediakan aneka kudapan seperti onion ring, singkong ala Thai, aneka sushi roll, dan buah segar. Foto: Ebenhaizer

Ingat, di atas counter terpampang peringatan untuk mengambil secukupnya. Sebab daging yang telah diambil dan tersisa di meja, nantinya bakal dikenakan charge tersendiri. Maklumlah, ada saja pelanggan yang mentang-mentang all you can eat, acap mengambil secara berlebihan, dan akhirnya tersisa sia-sia. Padahal, kalau saja mengambil secukupnya, manajemen toh tidak melarang jika pengunjung kembali ke counter daging, jika dirasa masih kurang.

Restoran Jepang Nanaban Tei ini terbilang pemilik saos yakiniku paling khas. Karenanya, ia tetap menjadi favorit bagi kebanyakan penyuka masakan Jepang. Rahasianya terletak pada dua jenis saos yakiniku. Apa pun pilihan menu, sebelum dimasak di atas teppan, celupkan dulu di dalam saos wijen. Aroma dari asap panggang yang mengepul, spontan menyambar-nyambar indra pencium yang begitu kompak dengan selera perut yang minta segera diisi.

Untuk menyempurnakan cita rasa, setelah panggangan matang, celupkan dulu di mangkok saos satunya, yang tanpa wijen. Dari sana, barulah boleh diantar ke dalam mulut. Satu tips kecil: Pejamkan mata, dan biarkan lidah yang menikmatinya dengan sejuta cita rasa yang memuaskan selera. Seperti yang terdengar dari mulut seorang pengunjung berkacamata di depan sana. Tanpa sadar, sesekali keluar ucap “mmmh” dengan nada rendah, disusul “mmmhhh” dengan nada meninggi. Begitu terdengar berkali-kali. Amboi…. ***

Tata ruang restoran yang lega, counter daging, salad, dan lain-lain yang menjanjikan kelengkapan menu. Foto: Ebenhaizer