Wayang Orang Kembali Hadir di Museum Sonobudoyo, Sajian Seni dengan Tiket yang Ramah di Kantong

JAYAKARTA NEWS – Wayang Orang kembali digelar di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta selama Desember 2024.

Tentu saja, acara ini menjadi momen spesial bagi pecinta seni tradisional!

Pergelaran Wayang Orang siap memukau para penonton dengan cerita-cerita epik dan aksi panggung yang memikat.

Tak hanya menawarkan pertunjukan yang sarat nilai budaya, acara ini juga ramah kantong dengan harga tiket mulai dari Rp20 ribu.

Berikut informasi tiket pertunjukan Wayang Orang di Museum Sonobudoyo:

  • Tiket Reguler
    Wisatawan lokal: Rp20.000
    Wisatawan asing: Rp50.000
  • Tiket VIP
    Wisatawan lokal: Rp50.000
    Wisatawan asing: Rp100.000

Tiket dapat dibeli langsung di lokasi mulai pukul 19.00 hingga 20.45 WIB atau secara online melalui WhatsApp di nomor 0859-3040-4720 (Prima) atau 0856-4344-2017 (Iccha).

Sama seperti di bulan-bulan sebelumnya, Museum Sonobudoyo menghadirkan pertunjukan di Gedung Semar (Pendopo Timur) setiap Rabu dan Kamis, mulai pukul 20.00 – 21.15 WIB.

Jangan lewatkan kesempatan menikmati sajian seni yang otentik dan penuh makna di penghujung tahun ini, berikut jadwalnya:

– Rabu, 4 Desember 2024: Sumantri Winisudha by Retno Aji Mataram.

– Kamis, 5 Desember 2024: Sembadra Larung by Hima Pendidikan Seni Tari UNY.

– Rabu, 11 Desember 2024: Wisnu Krama by Yayasan Siswo Among Beksa.

– Kamis, 12 Desember 2024: Bimo Bothok by Tirto Mantomo.

– Rabu, 18 Desember 2024: Ampak-ampak Pringgodani by Bimomurti.

– Kamis, 19 Desember 2024: Gandamana Luweng by Wiraga Apuletan.

– Rabu, 25 Desember 2024: Sumantri Winisudha by Retno Aji Mataram.***/mel

“Memindah” Uluwatu ke Yogyakarta

JAYAKARTA NEWS – Di Uluwatu, Bali terdapat sebuah seni pertunjukan berupa tari kecak yang sangat fenomenal. Dalam satu hari, dilangsungkan dua kali pertunjukan. Setiap pertunjukan, dihadiri tak kurang dari 1.000 penonton. Per penonton, membayar tiket Rp 150.000.

Itu artinya, dalam satu hari pertunjukan, Tari Kecak Uluwatu bisa meraup pendapatan Rp 300 juta. “Pertanyaannya, bisakah kita menghadirkan seni pertunjukan sejenis yang ada di Uluwatu ke Yogyakarta? Bapak-ibu semua yang bisa menjawab,” ujar Aris Eko Nugroho, SP, M.Si., Paniradya Pati Kaistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Aris mengemukakan hal itu saat menyampaikan pidato pembukaan Seminar “Reposisi Seni Pertunjukan di Era Disrupsi” yang berlangsung di Auditorium 2, Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, Selasa (25/10). Seminar dalam rangka memperingati ulang tahun Teater Alam ke-50 itu didukung oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Dana Keistimewaan, Museum Sonobudoyo, dan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta.

Aris Eko Nugroho, SP, M.Si., Paniradya Pati Kaistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (kedua dari kiri), bersama para narasumber seminar: Puntung CM Pudjadi (paling kiri), Prof Hj Yudiaryani, MA (kedua dari kanan), dan Dr Seno Gumira Ajidarma (kanan). (foto: nana)

Serba Kebetulan

Sebelumnya, Aris mengemukakan beberapa hal yang disebutnya sebagagi “serba kebetulan”. Ulang tahun Teater Alam ke-50 dirayakan, bertepatan dengan momentum pengukuhan Ngarso Dalem (Sri Sultan Hamengku Buwono X) sebagai Gubernur Provinsi DI Yogyakarta. Pengukuhan pun dilakukan tanggal 10, bualn 10, jam 10 lebih 10 menit.

“Bertepatan momentum dasawarsa jumenengan Ngarso Dalem, ada 373 event kami gelar dari tanggal 10 Agustus sampai dengan 10 September, baik di tingkat provinsi, kabupaten/kota, hingga ke lapis masyarakat terbawah,” tambah Aris seraya menambahkan, “dan itu semua menggunakan Dana Keistimewaan.”

Berkat itu pula, Provinsi DIY menempati ranking tertinggi indeks kebudayaan di Tanah Air tiga tahun berturut-turut. Ini sebuah kebanggan. “Kami berharap bisa dipertahankan melalui pelestarian dan pengembangan seni budaya, salah satunya melalui seminar yang kita selenggarakan pagi hari ini. Bagaimana menyinergikan akademisi dan praktisi,” katanya.

Pembinaan seni dan budaya dilakukan secara sistematis. Aris menyebutkan, tahun 2019 misalnya, dilakukan pembinaan yang massif untuk dunia pewayangan. Tahun 2020 pembinaan terkait keris. Kemudian tari, dan teater pun ada. “Tantangan kita ke depan adalah bagaimana menjaga kekompakan. Kami yakin, acara ini dihadiri tokoh seniman yang luar biasa, semoga bisa melahirkan resolusi dan rekomendasi dalam memajukan kebudayaan di Yogyakarta,” harap Aris.

Adaptasi

Aris Eko Nugroho juga menyinggung ihwal sajian seni pertunjukan berbasis digital. Tentu perlu pembelajaran baru. Pihaknya bekerja keras bagaimana menampilkan seni pertunjukan berbasis digital yang selaras dengan disiplin pemeriksaan keuangan negara.

Ditambahkan, kemajuan teknologi harus dikuti oleh para pelaku seni pertunjukan. Termasuk dalam penyajian karya seni yang beradaptasi dengan keadaan. “Dulu seni pertunjukan identuk dengan panggung. Saat ini harus bisa beradaptasi dengan teknologi. Bagaimana menampilkan seni pertunjukan berbasis teknologi,” tegasnya.

Di akhir sambutannya, Aris berharap seminar “Reposisi Seni Pertunjukan di Era Disrupsi” bisa merumuskan langkah ke depan. Langkah dan strategi pelestarian budaya, terutama dalam adaptasi teknologi dan tatanan baru. “Kemajuan teknologi dan dampak yang terjadi, juga bisa menjadi dasar rumusan seminar ini,” harap Aris. (rr)

Reposisi Seni Pertunjukan di Era Disrupsi, Diseminarkan

JAYAKARTA NEWS – Dunia seni pertunjukan termasuk dunia yang mengalami gonjang-ganjing dihantam bandai pandemi. Lebih dua tahun harus vakum tak berkegiatan. Sebagian survive karena kreativitasnya. Sebagian lagi mati suri. Tidak sedikit yang hilang tanpa jejak.

Sadar akan hal itu, Panitia Peringatan 50 Tahun Teater Alam menggelar seminar bertajuk “Reposisi Seni Pertunjukan di Era Disrupsi”. Seminar berlangsung Selasa, 25 Oktober 2022 di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta.

“Kegiatan ini didukung Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Dana Keistimewaan, Museum Sonobudoyo, dan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta,” ujar Silvia Purba, selaku panitia pelaksana seminar.

Seminar yang berlangsung mulai pukul 08.30 – 16.00 WIB itu dibuka oleh Paniradya Pati Kaistimewaan DIY, Aris Eko Nugroho, SP, M.Si. Sebagai keynote speaker, Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Hilmar Farid, Ph.D.

Ada lima pembicara tampil dalam seminar tersebut. Mereka adalah, Prof. Dr. KH. Buya Syakur Yasin, M. A (Budayawan), Dr. Seno Gumira Ajidarma, S.Sn, M. Hum (Institut Kesenian Jakarta, Senior Teater Alam),  Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, M.A. (Institut Seni Indonesia Yogyakarta), Puntung CM Pudjadi (Sutradara & Senior Teater Alam), serta Melati Suryodarmo (Artist & Pendiri Studio Plesungan).

Jalannya seminar dipandu oleh moderator Dr. Nur Iswantara, M.Hum dan Surya Farid Sathotho, S.Sn. M.A. “Karena keterbatasan tempat, kami menyediakan fasilitas live streaming melalui kanal youtube Dinas Kebudayaan Provinsi DIY. Dengan begitu, peserta yang tidak bisa hadir di museum Sonobudoyo bisa mengikuti lewat live streaming,” tutur Silvia.

Abstraksi

Berikut adalah abstraksi materi seminar dari para penyaji.

1. Pergeseran Jejak Dramaturgi yang Diperluas”Oleh Prof. Dr. Yudiaryani, M.A

ABSTRAK

Artikel Dramaturgi Media Baru (Dramaturgi Yang  Diperluas Dan Peran Teknologi Digital) berusaha meneliti perluasan pemahaman tentang dialog dramaturgi dengan masa lalunya yang kaya dan bervariasi. Dramaturgi Media Baru (DMB) mengeksplorasi bagaimana sebuah pertunjukan mengkomunikasikan maknanya, dan bagaimana mempertimbangkan konteks sosial yang lebih luas. DMB adalah istilah yang diperkenalkan oleh Marianne Van Kerkhoven (2009) untuk menggambarkan hibriditas bentuk pertunjukan kontemporer setelah 1980-an dan untuk menjelaskan bagaimana DMB mengeksplorasi  titik-titik persoalan estetika dan politik melalui metode yang berbeda dengan teater modern. Istilah ‘baru’ dalam DMB menunjukkan adanya dramaturgi yang diperluas dalam kaitannya dengan konteks definisi dan praktik dramaturgi kontemporer. DMB memiliki nilai-nilai pendekatan dramaturgi  yang  memperhitungkan kondisi unik multimedia dan komunikasi interaktif. DMB berlangsung pada pertengahan tahun sembilan puluhan, dengan adanya prosedur penciptaan dengan prasyarat teknologi untuk penggunaan online dan offline interaktif. DMB  merujuk  pada berbagai bidang aplikasi seluas-luasnya, yaitu dari seni ke bisnis dan dari sains hingga hiburan. Berbagai pendekatan dramaturgi mencerminkan  diferensiasi  dan keragaman ini.  Hasil penelitian adalah kumpulan bahan yang mencerminkan kekayaan kreatif produksi interaktif.

Redefinisi dan perluasan dramaturgi  mengerucut ke dalam rumusan persoalan, yaitu bagaimana bentuk DMB adalah sebuah bentuk dramaturgi yang diperluas, dan bagaimana DMB menghasilkan konten multimedia dan komunikasi seacara nonlinear.

Tujuan penelitian adalah pertama, mengkaji dampak DMB secara internasional dan mengembangkan citarasa penonton; kedua, mengkaji dramaturgi yang ‘diperluas’ untuk mengamati keterkaitan antara kerja produksi teater dan disiplin ilmu lainnya, seperti sejarah seni, praktik multimedia.

Metode penelitian menggunakan metode penelitian deskripsi kualitatif. Metode kualitatif adalah mencari makna di balik data dengan teknik analisis interpretatif dan menyeluruh. Teknik pengumpulan data dengan obsevasi partisipan, wawancara mendalam, pengamatan dan catatan lapangan, serta penggunaan dokumen. Sifat data kualitatif adalah multidimensi dan kaya, sehingga berbagai disiplin ilmu secara paralel meneliti bagian-bagian penelitian, dan kemudian bagian-bagian dieksplanasi secara dekonstruktif agar interpretasi tidak kontradiktif. Hasil yang diperoleh adalah pengembangan fondasi teoritis untuk menjembatani aspek negatif komunikasi antarkultural dan jender dalam seni pertunjukan. Signifikansi teoritis terhadap nilai praktik penciptaan adalah pengembangan teori Dramaturgi Media Baru yang diterapkan dalam praktik penciptaan teater kontemporer.

Kata kunci : dramaturgi media baru, dramaturgi yang diperluas, dramaturgi interaktif,  , teater kontemporer

2. Dari dulu hingga kini, berteater itu berjuang. oleh Puntung CM Pudjadi

3. Reposisi Industri Pendidikan dan Penguatan Karakter Bangsa oleh Prof. Dr. KH Buya Syakur

 4. Teater dalam Dua Reposisi Oleh Dr. Seno Gumira Ajidarma, S.Sn., M.Hum

 Teater modern mengalami dua kali reposisi dalam sejarahnya; pertama, akibat munculnya film; kedua, akibat pandemi – kemiripan bahasa media dibedakan oleh realitas sosialnya.

5. Matinya Makna Menghidupkan Monster yang Mustahil Oleh Melati Suryodarmo

Pada abad ke 21 ini, disrupsi teknologi akan terus bersaing dengan kecepatan pengetahuan manusia tentang teknologi. Tingginya kecepatan produksi dan persaingan industri teknologi internet dalam era Industri 4.0 tidak terhentikan dan tidak bisa diperkirakan dampaknya dalam waktu pendek ini. Pandemi telah memberi ruang pada pemanfaatan yang ekstrem atas disrupsi teknologi. Pandemi telah nyata berdampak atas keberlangsungan produksi di bidang kesenian pada umumnya, dan khususnya bagi para pelaku seni yang wahananya adalah panggung. Para pelaku seni tertantang untuk mencari peluang untuk menanggapi kondisi tersebut dengan mencoba bersinggungan dengan pemanfaatan teknologi digital untuk menghadirkan karyanya, baik melalui proses alih wahana maupun interdisipliner. Berbagai pencanggihan pemanfaatan teknologi dilakukan para pencipta seni untuk mencapai metode dalam menyajikan karya bagi khalayak.

Sebagai seniman yang menggunakan tubuh sebagai medium utama dalam berkarya, para penari, aktor dan seniman performans menghadapi pertanyaan tajam dan eksistensial tentang fungsi kehadiran tubuhnya dalam karya di masa depan.  Saya akan berbagi cara pandang untuk melihat hubungan kehadiran tubuh, realitas, perspektif kebudayaan dan pengaruh disrupsi teknologi dalam praktik seni pertunjukan.

6. Bondres Clekontong Mas: Seni Pertunjukan yang Adaptif dan Fleksibel

Oleh: I Wayan Dana

Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Abstrak

Bondres adalah sebagai sebutan tokoh-tokoh rakyat jelata, yang karakternya mempresentsikan masyarakat pada umumnya. Pada mulanya tokoh ini hadir sebagai simbol kehidupan masyarakat dalam seni pertunjukan dramatari topeng di Bali. Pemainnya dilalukan oleh pemeran yang mampu mengekspresikan berbagai karakter melalui ungkapan tata rias-busana, gerak, tembang, humor, vokal-dialog sesama Bondres maupun berkomunikasi langsung dengan penonton serta para awak pemusik yang mengiringnya.

Dalam perjalanan waktu dramatari topeng di Bali, kini Bondres mampu menjadi genre seni pertunjukan yang mandiri, adaptif, fleksibel, seperti Bondres Clekontong Mas. Seni pertunjukan Bondres ini sebagai media pendidikan etis dan estetis dapat dikaji melalui pengungkapan sistem lambang seperti melalui kata-kata, nada bicara, mimik (ekspresi muka), gestur (aksi tubuh), gerak, make-up (rias muka), kostum, gaya rambut, properti, setting (latar pembangun suasana), lighting (tata cahaya), musik, dan efek suara, sehingga menarik serta kocak di atas panggung, yang juga memanfaatkan kehadiran teknologi. Kehadiran Bondres ini, mencipta homor dengan rias muka atau topeng berkarakter lucu, muka atau wajah manusia yang tidak lengkap, melalui ungkapan gerak ‘kejutan’ tak terduga, aneh dan tidak biasa serta menghadirkan sesuatu yang kontradiktif dengan kenyataan menjadi daya pikat dan energi sebuah sajian seni pertunjukan

Bondres Clekontong Mas terdiri dari I Komang Dedi Diana berperan sebagai Tompel, I Ketut Gede Rudita berperan sebagai Sokir, dan I Nyoman Ardika berperan sebagai Sengap. Trio Bondres ini memiliki ciri khasnya masing-masing, baik dari segi karakter maupun penampilannya. Tompel terinspirasi dari karakter topeng Bali yang diciptakan oleh leluhur terdahulu, Sokir terinspirasi maupun teredukasi dari tokoh-tokoh yang ada di dunia pewayangan, dan Sengap terinspirasi dari senior Bondres Bali seperti Lolak dan Dolar dalam pertunjukan Drama Gong Bali. Ketiganya berkolaborasi, berinovasi, kreatif dan proaktif mengahadapi perubahan dunia seni pertunjukan serta cepat menyesuaikan diri saling melengkapi dan mampu memancing gagasan-gagasan ke-kini-an.

Kata kunci: Bondres Clekontong Mas, Seni pertunjukan, Adaptif, dan fleksibel

7. SOLUSI TEPAT DALAM MEMPERSIAPKAN PERTUNJUKAN ANSAMBEL MUSIK GESEK

Oleh: Dr. R.M. Surtihadi, M.Sn.

ABSTRAK

Tujuan penulisan artikel ini memberikan solusi bagi pemain violin yang akan memainkan viola untuk melengkapi ketiadaan pemain viola dalam sebuah acara pertunjukan musik gesek. Jumlah pemain violin di Indonesia secara umum lebih banyak dibandingkan pemain viola. Instrumen gesek yang terdiri dari violin, viola, cello dan kontrabass merupakan sebuah kelompok string section dalam keluarga instrumen gesek. Bilamana dalam sebuah formasi ansambel gesek tidak lengkap, sudah barangtentu akan terjadi kejanggalan formasi yang akan disajikan. Salah satu cara untuk memecahkan masalah tersebut diambil inisatif beberapa pemain violin disarankan untuk ganti instrumen memainkan viola agar dapat mengisi kekosongan pemain viola. Namun hal ini tidak mudah, karena membutuhkan waktu dan kemampuan pemain violin berdaptasi memainkan viola, baik secara teknis memegang instrumennya maupun teknis membaca notasi viola. Metode yang digunakan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada pemain violin. Hasil penelitian ini dapat dilihat keberhasilan pemain viola yang diambilkan dari pemain violin telah mempelajari teknik membaca notasi viola dengan baik sehingga pertunjukan ansambel gesek dapat dilaksanakan dengan lancar. 

Kata kunci: Solusi, Pertunjukan, Ansambel Musik Gesek