TPI, bukan Pelelangan tapi Penjemuran Ikan

Jika Anda pernah mengonsumsi ikan kering dari Mandailing Natal, pasti tahu bagaimana rasanya. Sangat krispi dan gurih. Dia bisa dimakan langsung seperti halnya krupuk. Benar, sebab, ikan kering Mandailing Natal, Sumatera Utara ini memang dalam kadar keasinan yang sangat tipis.

Reporter JNC, Monang Sitohang singgah di TPI Mandailing Natal. TPI bukan Tempat Pelelangan Ikan, melainkan Tempat Penjemuran Ikan.

Dari Sibolga ke Natal, Singgah di Danau Siais

Inilah salah satu perjalanan panjang dari Sibolga menuju Natal, Kabupaten Mandailing Natal. Meski sama-sama terletak di provinsi Sumatera Utara, tetapi jarak antar kedua kota itu lebih dari 500 kilometer, dengan waktu tempuh kurang lebih 14 jam.

Adapun Danau Siais, adalah salah satu objek wisata yang bisa dinikmati dalam perjalanan Sibolga – Natal. Jadilah perjalanan semi petualangan ini menjadi lebih menarik. Ikuti videonya.

Lika-liku Bisnis Kepiting di Mandailing Natal

JAYAKARTA NEWS – Kepiting adalah salah satu makanan sajian seafood yang istimewa dan banyak digemari. Menu seafood memiliki nilai protein tinggi.

Ada beberapa jenis kepiting yang dapat dikonsumsi, salah satunya Kepiting Bakau. Jenis kepiting ini mudah ditemukan di perairan Indonesia. Kepiting bakau memiliki warna hitam kehijauan, relatif hampir sama dengan warna lumpur, capitnya berwarna sedikit kekuningan.

Keunikan Kepiting Bakau adalah selalu menggali lubang sebagai tempat berlindung, dan jarang terlihat jauh dari lubangnya. Dari segi siklus hidupnya, Kepiting Bakau menjalani kehidupannya dari perairan pantai ke laut, lalu induk kepiting berusaha kembali ke perairan pantai, muara sungai, atau hutan bakau untuk berlindung, mencari makanan, atau membesarkan diri.

Kepiting bakau memiliki ukuran mencapai sejengkal tangan manusia bahkan bisa lebih. Menurut salah seorang pengepul kepiting, Zamruddin di Desa Kunkun, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara, “Berat kepiting bakau bisa mencapai 2,5 kg per ekor,” katanya kepada Jayakarta News.

Zamruddin, pengepul kepiting di Desa Kunkun, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. (foto: monang sitohang)

Zamruddin memulai usaha sebagai pengepul kepiting di Desa Kunkun sejak 2009. Jadi bisa dikatakan sudah piawai dalam hal melihat bagaimana habitat keseharian kepiting bakau. Dalam sehari ia bisa mendapatkan kepiting bakau dari para nelayan antara 35-40 kg. Sebulan bisa mencapai berkisar 1,5 ton.

“Jadi pendapatan nelayan kepiting di Desa Kunkun ini terbilang lumayan, karena sehari bisa berpenghasilan minimal dua ratus ribu saat air kering. Apabila air pasang maksimal bisa mencapai sekitar satu juta per-hari,” ujar moncu Zamruddin, sebutan yang diberikan kepada saudara dari orang tua laki-laki di Natal.

Saat air pasang, di situlah kesempatan para nelayan kepiting untuk dapat menabung. Sedangkan saat air kering nelayan hanya bisa menangkap kepiting untuk hasil yang hanya cukup bagi kebutuhan sehari-hari.

Keranjang-keranjang berisi kepiting Bakau siap dikirim keluar daerah Mandailing Natal. (foto: monang sitohang)

Kepiting-kepiting bakau tadi kemudian dikirim memenuhi pesanan pengusaha kuliner seafood yang ada di Medan, Padang, Pangkalan Susu, dan daerah-daerah lain yang terjangkau. Dalam satu hari, rata-rata bisa mengirim kurang lebih 40 kilogram kepiting bakau ke berbagai tujuan.

Cara pengiriman kepiting menggunakan keranjang yang oleh masyarakat Natal disebut keranjang salak. “Bagian dasar keranjang dialasi karton basah terlebih dahulu, minimal dua lapis lalu kepiting-kepiting dimasukkan sampai setengah keranjang. Setelah itu dialasi kembali dengan karton basah dua lapis, lalu masukkan kembali kepiting sampai penuh. Bagian paling atas dialasi kembali karton basah dan ditambah es batu dalam kantong plastic dan diletakkan di atas. Setelah itu ditutup goni dan dijahit rapi,” jelas moncu Zamruddin.

Maka tahapan packing kepiting sebelum dikirim ada tiga tingkat dan dua lapis karton dalam satu keranjang. Satu keranjang yang telah di-packing seberat 35 kg.

Kepiting bakau yang sudah dimasak, dan siap disantap. (foto: monang sitohang)

Kepiting Kosong

Kepiting yang dikumpulkan dari nelayan tidak semua berdaging, terkadang ada yang masih kosong belum berdaging. Ketika menemukan kepiting-kepiting seperti ini maka cara mengatasinya dengan memasukkan ke tambak-tambak yang sudah dipersiapkan. Ia dipelihara di tambak tadi sampai berdaging dan layak jual.

Biasanya, sebulan setelah dibesarkan di tambak, kepiting-kepiting tak berdaging tadi sudah berdaging dan siap dijual. Dalam sebulan di tambak itu, kepiting-kepiting kosong diberi pakan. Cara memberi makan juga tidak sembarangan.

Caranya, menjelang air pasang, ditebar potongan-potongan ikan sebagai pakan kepiting. Untuk diketahui, kepiting-kepiting tadi dilepas tetap dengan posisi capit terikat. “Biar capit diikat, mereka tetap bisa makan menggunakan kaki-kaki yang lain,” ujarnya.

Kebiasaan makan kepiting mirip manusia, yang memiliki jam makan. Tidak seperti hewan lain seperti kambing atau sapi yang bisa makan kapan saja. Bedanya, manusia makan dengan tenggat jam: pagi, siang, malam. Maka, masa makan kepiting menunggu air pasang. Jika air bergerak pasang, saat itulah jam makan kepiting. Ketika air berhenti bergerak, kepiting tidak lagi makan.

Masa pasang air tidak menentu, bisa pagi pukul 06.00 WIB, atau bisa siang sekitar pukul 14.00 WIB. “Jadi jam makan kepiting itu hanya sekali dalam sehari,” katan Zamruddin.

Kepiting termasuk jenis kanibal. Ia akan makan teman sendiri saat kelaparan. “Jadi kalau ada pemilik tambak kepiting mengaku kehilangan kepiting, itu tidak benar. Yang benar, mereka dimakan kepiting yang lain sehingga jumlahnya berkurang,” tambahnya.

Usai penggemukan selama sebulan, kepiting yang dibeli seharga Rp 40 ribu per kilogram, bisa dijual dengan harga Rp 100 ribu per kilogram.

Zamruddin lantas menyebut jenis kepiting lain yang banyak dikirim ke Medan, yakni kepiting soka atau kepiting lembek. Disebut lembek, karena setelah cangkang dilepas, kepiting soka bisa langsung dicampur tepung dan digoreng. Termasuk ketika hendak diekspor, kepiting soka tidak disertakan cangkangnya.

Di daerah Natal, kepiting soka populasinya tidak sebanyak kepiting bakau. Dalam sehari, nelayan hanya bisa mendapatkan sekitar 5 kg kepiting soka. Karena jenisnya yang lembek, maka usai ditangkap, kepiting ini harus disimpan di dalam freezer, karena Zamruddin tidak banyak menampung kepiting soka.

Kendala Pengiriman

Sejauh ini, pengiriman kepiting ke daerah-daerah lain di luar Natal, menggunakan jalur darat. Zamruddin merasa kendala pengiriman menjadi salah satu faktor yang ada kalanya mengganggu roda bisnis kepiting di daerah Natal. “Kalau hari itu tidak ada kendaraan menuju Medan, ya terpaksa kami tunggu besoknya,” ujarnya.

Alternatif pengiriman lain adalah dengan cara menitip kepada travel atau angkutan bus antarkota. Meski begitu, sistem pembayarannya tidak langsung ke kantor jasa travel atau kantor perusahaan otobus, melainkan transaksi langsung dengan sopir.

“Kalau saat pertama saya menjadi penampung kepiting di Kunkun, pengiriman dilakukan secara estafet, dari Natal menuju Penyambungan, kemudian dari Penyambungan baru ke Medan. Sampai Medan naik becak lagi antar ke alamat pemesan,” ujar moncu Zamruddin mengenang masa awal usaha pengepul kepiting. (Monang Sitohang)

VIDEO TERKAIT:

Di Balik “Hutan Cinta” Madina

Bupati Mandailing Natal, Sumatera Utara, Drs. H. Dahlan Hasan Nasution dan staf saat diterima Kepala BNPB, Letjen TNI Doni Monardo. (foto: ist)
Catatan Egy Massadiah

Jayakarta News – Betapa Tuhan memiliki begitu banyak rahasia. Pohon, hutan, dan segala hal-ihwal tentang lingkungan hidup, berkelindan dalam rutinitas aktivitas sehari-hari.

Tadi malam, menjelang tidur. Sebuah kecamuk pikir berputar-putar, melingkari malam. Semua berporos pada topik “hutan cinta” yang digagas Bupati Mandailing Natal, Sumatera Utara Drs. H. Dahlan Hasan Nasution.

Rasanya baru kemarin saya bersinggungan dengan Pak Bupati ini. Tepatnya tanggal 31 Juli 2019, saat Bupati Dahlan Hasan Nasution beraudiensi dengan Kapala BNPB, Letjen TNI Doni Monardo, di Gedung BNPB, Jl Pramuka, Jakarta Pusat. Saat itu, Sang Bupati menjinjing buah tangan gula aren, minyak atsiri, dan kopi mandailing.

Itu terjadi, kurang lebih seminggu setelah ia menandatangani Peraturan Bupati Nomor 30 Tahun 2019, tentang “Hutan Cinta dan Hutan Kasih Sayang di Kabupaten Mandailing Natal”. Perbup yang diteken 25 Juli 2019 itu,  membuat saya menerawang ke kerja panjang pementasan teater Alumni Prodi Teater FSP-IKJ  & ITF-Indonesia Teater. Saya sebagai penasehat produksi pementasan naskah teater karya William Shakespeare yang berjudul ‘A Midsummer Night’s Dream’ di Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 16-18 Februari 2019.

Kisah komedi romantis yang dibalut cerita di hutan yang dipenuhi para peri cinta. Kronik percintaan di hutan belantara yang sontak mengubah persepsi hutan sebagai wilayah angker, menjadi hutan berwajah cinta.

Peta Kabupten Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Saya menangkap, “hutan cinta” yang diprakarsai Bupati Mandailing Natal nanti, adalah hutan-hutan cinta dan hutan-hutan kasih sayang. Lihat pasal 4 Perbup itu. Di sana tertulis, “Sebelum melaksanakan pernikahan, setiap calon pengantin (catin) wajib menanam 2 (dua) Pohon.”

Pohon yang ditanam adalah jenis pohon buah yang memiliki spesifikasi sebagai berikut: berbatang keras, menghasilkan buah, memiliki nilai ekonomis, dan berfungsi sebagai peneduh. Bukan hanya itu. Ayat berikutnya mengatur, ibu yang melahirkan anak kesatu dan kedua wajib menanam 1 (satu) pohon buah setiap kelahiran. Kemudian, ibu yang melahirkan anak ketiga dan seterusnya wajib menaman 2 (dua) pohon buah setiap kelahiran.

Ketika saya tanya maksud pak Bupati membuat Perbup itu, serius ia menjawab, “Peraturan Bupati ini dimaksudkan untuk mengurangi dampak pemanasan global (global warming) yang ditimbulkan dari emisi gas karbon dioksida dan efek rumah kaca, serta memberdayakan masyarakat kelurahan/desa guna menggerakkan usaha ekonomi masyarakat.”

Ditanya lebih lanjut mengenai gagasan “hutan cinta”, Bupati Dahlan Hasan Nasution sempat tertawa dan berkelakar, “sesungguhnya itu ide itu hasil mencuri… ha… ha… ha…..” Yang dia maksud mencuri, ternyata bahwa gagasan mencintai pohon justru dicetuskan oleh Kepala BNPB Doni Monardo.

“Tanpa pikir panjang, langsung ide itu saya wujudkan dengan membuat Perbup,” tambahnya.

Kepala BNPB Doni Monardo saat menerima audiensi Bupati Mandailing Natal, Drs. H. Dahlan Hasan Nasution. (ist)

Bupati rupanya termasuk salah satu pejabat daerah yang mengikuti sepak terjang Doni Monardo dalam kapasitas sebagai Kepala BNPB.

Dalam banyak kesempatan, Doni merisaukan ihwal penebangan hutan, pembakaran hutan, penghancuran lahan gambut, dan lain sebagainya. Concern Doni, dirasa sangat mengena dengan kondisi di Mandailing Natal, kabupaten yang dipimpinnya. “Setelah Perbup, saya berencana untuk meningkatkannya menjadi Perda,” ujarnya.

Terlebih, atas Perbup itu, masyarakat menyambut positif. Sejauh ini, belum ada satu pun yang berkeberatan dengan Perbup “Hutan Cinta dan Hutan Kasih Sayang”. Bisa jadi, karena masyarakat juga merasakan, betapa akibat pembabatan hutan berdampak pada berbagai bencana yang menyengsarakan.

Tak pelak, tidak hanya masyarakat Mandailing yang mengapresiasi Perbup itu. Saya, dan bahkan Kepala BNPB Letjen Doni Monardo pun mengapresiasi gagasan “hutan cinta” Dahlan Hasan Nasution. Bahkan spontan Doni membantu memasarkan produk hasil bumi Mandailing Natal dengan ekspor. Bantuan itu diharapkan bisa mendongkrak perekonomian Kabupaten Madina.

Langkah pertama, dengan mencoba melakukan pemasaran gula aren, minyak atsiri, kopi Mandailing dan berbagai hasil bumi Madina. “Pak Jenderal akan membantu kami memasarkan produk-produk hasil bumi. Pesan pak Jenderal, kita harus jaga lingkungan Madina, jaga alam, dan tidak merusak alam,” ujar Bupati Dahlan Hasan Nasution.

Tak putus-putus Bupati Dahlan Hasan Nasution berterima kasih sekaligus mengapresiasi sikap dan keikhlasan Letjen Doni Monardo. “Beliau senang bisa membantu masyarakat Mandailing Natal,” katanya.

Terkait “emas hijau”, tak hanya berbicara, Letjen Doni bahkan langsung menghubungi para pihak yang terkait. Ia menyebut contoh, atas buah tangan gula aren yang ia bawa, spontan Doni menelepon Dr Juli, salah seorang eksportir gula aren.

Insya Allah dalam waktu dekat, produk gula aren Mandailing Natal yang memang terbaik di Indonesia itu, bisa masuk ke berbagai negara,” ujarnya bangga.

Tidak berhenti di gula aren. Soal minyak atsiri, segera Jenderal Doni menelepon sahabatnya di Padang, dan diminta membantu. “Jadi dalam waktu dekat kami akan berangkat ke Padang untuk belajar mengenai atsiri. Sungguh sebuah bantuan nyata, langsung, dan ikhlas…. Terlebih jika mengingat, apalah saya, hanya seorang bupati, sementara beliau seorang jenderal setingkat menteri…. Tetapi saya merasakan betul keikhlasan beliau membantu masyarakat Mandailing Natal,” tutur Dahlan.

Bisa dipastikan, sikap dan tindakan kongkret Letjen Doni adalah bentuk apresiasi terhadap Bupati Madina yang berkomitmen menjaga alam dengan menanam lebih banyak pohon, serta menertibkan tambang-tambang yang merusak alam.

Kedua pejabat itu memang saling mengapresiasi. Ini adalah sebuah tindak lanjut dari persinggungan sebelumnya, ketika Mandailing Natal (Madina) terkena bencana.

Bupati Mandailing Natal, Drs.H. Dahlan Hasan Nasution merasa terharu atas perhatian Kepala BNPB Letnan Jendral Doni Monardo terhadap perbaikan kehidupan masyarakat Madina pascabencana melanda beberapa daerah di kawasan itu pada Oktober 2018.

Pasca bencana, terbit cinta. Selamat pak Bupati! Semoga langkahmu menginspirasi kepala daerah yang lain. Hijaulah negeriku, sejahteralah rakyatku. (*)

Jakarta 4 Agustus 2019

*) Egy Massadiah, Tenaga Ahli BNPB