Kepolisian Inggris Selidiki Kasus Ledakan di Konser Ariana Grande

KEPOLISIAN  Inggris tengah  mengerahkan kemampuannya untuk menyelidiki  secara serius  insiden ledakan yang diduga sebagai aksi pemboman yang terjadi di Kota Manchester, ketika  penyanyi pop asal Amerika Serikat  Ariana Grande tampil di panggung Manchester Arena.

Korban luka-luka di saat keluar dari arena konser. (Photo Courtesy Telegraph)

Pihak kepolisian Manchester mengungkapkan, bahwa  unit pelayanan darurat langsung menanggapi secara serius insiden yang terjadi di Manchester Arena. “Hindari area tersebut,” pesan kepolisian polisi  Manchester.

Dalam pada itu  Sky News melaporkan, beberapa orang saksi mata yang berada di lokasi mengakui bahwa mereka mendengar ledakan besar di arena. Sedangkan  Reuters menyebutkan,  mereka belum bisa memverifikasi kejadian tersebut berdasarkan laporan dari media sosial.

Inggris dalam beberapa bulan terakhir ini sedang memperketat keamanan,  seiring dengan meningkatnya potensi ancaman  serangan yang dilancarkan oleh kelompok militan.

Arina Grande saat tampil di konser di Manchester Arena.

 

Bom Diujung Konser Ariana Grande di Manchester Arena, 19 Tewas

KONSER Ariana Grande yang digelar di Manchester Arena, Inggris, berakhir duka, menyusul terjadinya sebuah ledakan yang terjadi di lokasi pentas musik itu. Sebanyak 19 orang  tewas dan sekitar 50 orang lainnya menderita luka-luka akibat kejadian itu.  

Belum diketahui dengan pasti penyebab ledakan yang terjadi pada  kira-kira  pukul 22.35 waktu setempat itu, Senin (22/5/2017). Yang pasti,   unit kepolisian anti-teror langsung melakukan penyelamatan dan penyelidikan atas kejajdian tersebut. Belum ada pernyataan resmi ledakan ini sebagai aksi teror, namun patut diduga merupakan aksi terorisme. Sejauh ini juga belum ada kelompok yang menyatakan bertanggungjawab atas aksi tersebut.

Seorang saksi mata bernama Catherine Macfarlane kepada Reuters mengatakan, saat kejadian dirinya  sedang berjalan keluar. “(Posisi saya) sedang tepat berada di pintu, ketika ada ledakan besar dan semua orang berteriak,” katanya.

Dia menggambarkan, ledakannya  sangat besar.  “Kau (jika di situ) bisa merasakannya di dadamu. Suasana kacau. Semua orang berlari dan berteriak dan berusaha keluar,” kata Catherine.

Polisi menutup jalan ke Manchester Arena pasca terjadinya ledakan. [Dave Thompson/Getty Images]
Seorang saksi mata asal Middlesbrough, Robert Tempkin mengatakan, semua  orang berteriak dan berlari.  “Saya melihat jaket dan telepon genggam berserakan di lantai. Orang-orang menjatuhkan barang mereka begitu saja dan lari,” katanya. Kepanikan benar-benar  melanda para pengunjung konser setelah terjadinya ledakan keras tersebut.

“Beberapa orang berteriak mereka melihat darah, tetapi orang lain mengatakan itu adalah balon atau pengeras suara yang meledak,” tambah Robert. Dia menambahkan, dia melihat banyak ambulans dan  seseorang mendapatkan perawatan. Dia mengaku  tidak tahu persis  apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya.

Saksi mata lainnya menyatakan,  sangat terkejut mendengar kabar adanya korban tewas sebagaimana dilaporkan BBC. “Ledakan terjadi hingga  semua orang terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya berteriak panik. Suasananya sangat mencekam,” kata  Josh Elliott, saksi mata lainnya.

Korban luka-luka di luar arena konser. [Courtesy: Joel Goodman/LNP]

Beberapa  saksi mata mengungkapkan,  mereka mendengar ledakan keras di tengah konser  Ariana Grande.  Selain  menewaskan beberapa orang, ledakan itu juga membuat  stasiun kereta api Manchester Victoria, yang lokasinya  tak jauh dari Manchester Arena,  ditutup untuk pelayanan transportasinya.

Manchester Arena, merupakan arena indoor terbesar di Eropa, yang dibuka pada 1995 dengan kapasitas 21.000 orang. Selain sebagai ajang olahraga, tempat tersebut  biasa dipakai untuk konser.

Pihak  label Ariana Grande mengatakan,  penyanyi tersebut dalam keadaan baik-baik saja. Sebuah video yang diunggah di Twitter menunjukkan penggemar menjerit-jerit dan berlarian ke luar arena konser.

Tingkat kewaspadaan di Inggris berada di level “tinggi”, artinya serangan dari militan dianggap sangat mungkin terjadi.