Jelang Lebaran Idul Fitri 1445 H, Tukang Permak Pakaian di Magetan Kebanjiran Order

MAGETAN, JAYAKARTA NEWS – Detik-detik mendekati Lebaran Idul Fitri 1445 H tahun ini, seorang tukang jahit pakaian di Magetan, Jawa Timur, mendadak kebanjiran pelanggan. Para pengguna jasa penjahit itu datang bukan untuk dibikinkan baju atau celana, melainkan memermak aneka macam pakaiannya.

Jika hari-hari biasa tukang rombak pakaian yang memberi label usahanya ‘Permak Levi’s’ itu cuma mendapat garapan maksimal 5 potong per hari, saat-saat ini dia menerima orderan mencapai 30 hingga 35 potong per hari.

Si tukang permak pakaian – yang pelanggannya biasa memanggil ‘Pak Levi’s’ itu – yakni Romli, 60 tahun, membuka usaha jasa penjahitan di Jalan Raya Jurusan Madiun – Magetan. Tepatnya berada di Desa Jomblang, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan.

Ditemui jurnalis di tempat usahanya, Jumat (5/4/2024), Romli mengaku berasal dari Provinsi Lampung. Dia hengkang dari kampung asalnya, untuk mengadu nasib di tempat usahanya saat ini, dan menerapkan keahliannya di bidang menjahit pakaian.

Mengajak istri dan dua anaknya yang masih kanak-kanak waktu itu, menuju bedak kontrakan pada tahun 2009. Sebuah mesin jahit butut, dengan penggerak pancal kaki, dibawa serta sebagai sarana membuka usaha jasa penjahitan.

“Saya mulai membuka usaha ini sejak tahun 2009. Berarti sudah 15 tahun lalu. Modal saya cuma sebuah mesin jahit jelek. Pengoperasiannya gak pakai listrik. Melainkan pancal kaki,” ujar Romli mengenang masa-masa lalunya.

Dikisahkannya, hal yang paling menyenangkan baginya ialah ketika mulai memasuki bulan Ramadan. Sebab, bisa diandalkan bila tibanya bulan suci itu akan mulai berjubelan pengguna jasa jahit mendatanginya.

Diakuinya, pelanggan yang datang terbanyak adalah ingin meminta tolong memermak baju maupun celananya. Bukan membikin baju atau celana baru.

Terlebih jika lebaran kurang 15 hari, menurutnya, pelanggan bisa mencapai 30 sampai 35 orang. Terkadang satu orang bisa membawa 2 atau 3 potong celana maupun baju.

“Yang banyak itu memermak. Membesarkan atau mengecilkan baju atau celana. Juga tidak sedikit yang memotong celana karena terlalu panjang. Kalau membuat baju atau celana baru, jarang,” aku Romli berair muka senang.

Untuk tarif, jelas Romli, dia mematok rupiah yang sama. Baik membesarkan, mengecilkan atau memotong pelanggan dikenakan tarif Rp. 20.000 per potong. Jika sehari dia mengerjakan perombakan busana sebanyak 30 sampai 35 potong, berarti Rp. 600 ribu sampai Rp. 700 ribu kepegang tangan Romli.

Para pelanggan yang datang, umumnya mereka yang usai belanja berbagai jenis pakaian di mall untuk busana lebaran Idul Fitri, namun merasa kurang sreg karena kebesaran atau terlalu panjang.

Kasus yang dikerjakan Romli untuk dirombak bervariasi. Bisa karena celana terlalu panjang, lengan hem kurang pendek, gaun wanita kurang kecil dan berbagai keinginan pelanggan.

“Saya sudah lama langganan di Pak Levi’s ini. Hasil permaknya enak dipakai. Nyaman gitu rasanya. Kita jadi percaya diri mengenakannya. Ongkos tidak mahal dibanding dengan kepuasan hati,” aku Tutik, pelanggan permak.

Karena hari-hari menjelang datangnya Idul Fitri makin dekat, terang Romli, dia terpaksa menambahi jam kerja ekstra panjang. Jika hari biasa dia mulai buka jam 07.00, sekarang dimajukan menjadi jam 06.00.

“Biasanya saya tutup jam 9 malam. Hari menjelang lebaran gini saya kerja lembur. Tutup jam 11 malam. Atau kadang lebih dari jam itu kalau pesanan banyak sekali,” tutur Romli.

Berkat ketekunannya, usaha Romli mengembang. Mesin jahit pancal dulu telah ‘dibuang’. Diganti mesin baru yang menggunakan enerji listrik.

Jumlah mesin jahitnya pun bertambah. Sekarang dia memiliki mesin obras, yakni jahitan penutup pinggiran kain sebelum dijahit sesuai bentuk.

Romli merasa bangga, berkat menjahit dirinya mampu membesarkan, menyekolahkan hingga mendirikan usaha dagang untuk kedua anaknya.

“Saya dulu sekolah cuma sampai SD. Anak saya tamat SMA. Tapi keterampilan saya menjahit ini yang belum tentu tiap orang bisa. Dan keterampilan itulah yang membuat saya bisa makan dan hidup,” Romli mengakhiri penjelasannya. (fin)

Puting Beliung Menyapu Wilayah Magetan, Belasan Rumah Dirusaknya

MAGETAN, JAYAKARTA NEWS – Hujan intensitas sedang disertai angin kencang ‘menggilas’ sebagian wilayah Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Selasa (14/2/2023). Dampaknya, belasan atap rumah warga – termasuk kandang ternak dan gudang – hancur dibuatnya.

Kuatnya terpaan bencana hidrometeorologi yang terjadi di Desa Kiringan, Kecamatan Takeran, itu sempat mengangkat sekaligus menerbangkan atap berbahan baja ringan. Atap kandang ternak dan gudang milik warga setempat itu terlempar angin hingga sejauh 25 meter.

Hujan dengan kombinasi angin kencang itu, berawal saat langit di wilayah tersebut diliputi mendung menjelang sore. Tiba-tiba hujan dan disusul angin bertekanan kuat, yang berlangsung hanya beberapa menit.

“Dalam sekejap banyak atap rumah warga di sini yang porak poranda. Juga terlihat banyak pohon tumbang. Atap galvalum terbang lumayan jauh,” tutur Nanang, warga setempat.

Kepala Desa Kiringan, Drs. Triyono Bambang Danarto, yang dikonfirmasi jurnalis membenarkan wilayahnya terlanda bencana alam. Menurutnya, bencana alam itu tidak parah dan tidak terdapat korban jiwa maupun terluka.

“Iya (ada bencana alam). Skala kecil, cuma genting rumah warga saja banyak yang berjatuhan. Sekitar sebelas rumah dari dua RT dan tidak ada korban jiwa,” jelas Triyono Bambang Danarto kepada jurnalis pasca bencana alam.

Tidak tercatat adanya rumah warga yang roboh, namun lanjut Triyono, atap kandang ternak dan gudang berbahan baja ringan milik warga sempat terlempar angin.

Kondisi itu, tambah Triyono, pasca bencana sudah dilakukan asesmen pihak desa bersama Camat Takeran serta sejumlah personil BPBD.

Kerusakan atap genting, menurut Triyono, juga langsung diperbaiki warga setempat secara kerja bakti. Perbaikan kerusakan dibantu personel BPBD dan relawan lainnya.

Sumber Operator Pusdalops BPBD Kabupaten Magetan yang dikonfirmasi terpisah, menyatakan langsung melakukan kaji cepat di lokasi bencana alam.

Dalam bencana alam itu tidak ada laporan mengenai rusaknya fasilitas umum baik masjid, Puskesmas, jaringan listrik atau fasilitas umum lainnya. (fin)

Cuaca Ekstrem Terus Intai Wilayah Magetan, Dataran Tinggi Kembali Diguncang Longsor

MAGETAN, JAYAKARTA NEWS – Berselang sehari, di lokasi yang sama wilayah Kabupaten Magetan, Jawa Timur, kembali diguncang bencana alam tanah longsor, Minggu petang (12/2/2023). Bencana alam itu dipicu hujan seharian yang, bahkan, berlangsung hingga terjadinya longsor.

Seperti yang berlangsung sehari sebelumnya, Sabtu (11/2/2023), bencana hidrometeorologi susulan kali ini juga terjadi di Desa Gonggang, Kecamatan Poncol.

Kecuali di desa tersebut, tanah longsor di wilayah itu bergerak melebar ke desa tetangganya, yakni Desa Genilangit, Kecamatan Poncol. Di desa ini material longsor menimpa sebuah rumah warga, dan sempat merusak satu unit sepeda motor.

“Sebuah sepeda motor rusak ringan. Itu masih saudara saya. Disini hujan terus bahkan sampai malam ini. Kerja bakti dilakukan besok, Mas,” sebut Simun, Sekretaris Desa Genilangit, kepada jurnalis yang menghubunginya.

Sementara tanah longsor yang terjadi di Desa Gonggang berlangsung di empat titik. Material berupa bebatuan, batang pohon dan tanah lumpur itu runtuh dari bukit dengan ketinggian variatif antara 5 sampai 20 meter.

Kepala Desa Gonggang, Agus Susanto, kepada jurnalis yang meminta konfirmasi, membenarkan wilayahnya kembali terjadi longsor susulan.

Di antara empat titik longsor di Desa Gonggang itu, yang terparah berada di Dukuh Dagung. Di lokasi itu, talud jalan lingkar berdimensi panjang 25 meter dengan ketinggian 20 meter ambrol.

Material longsor yang menggunung itu menutup separuh badan jalan desa, hingga diperlukan pemasangan rambu peringatan darurat.

“Iya, di wilayah kami ada empat titik longsor. Menimpa rumah warga dan menutup jalan. Tidak ada korban jiwa. Kerja bakti dilakukan besok, sebab sudah gelap dan kondisi hujan,” sebut Agus Susanto.

Dilanjutkannya, kecuali talud, sebuah tebing setinggi 5 meter di belakang rumah Martono, 80 tahun, juga longsor. Akibatnya sisi belakang rumah Martono hancur, bahkan benerapa sisi tembok mengalami keretakan.

Bongkahan material juga runtuh dari tebing setinggi 7 meter dengan panjang 15 meter. Tebing itu berada di belakang rumah Sugiman, 55 tahun, dan menimpa rumah yang didiami Sumarno, 38 tahun.

Sementara sumber di Pusdalops BPBD Kabupaten Magetan menyebutkan, pihaknya telah mengirim personel tim reaksi cepat ke lokasi kejadian.

“Iya benar ada laporan masuk, terjadi longsor di desa itu. Personel sudah berangkat kesana untuk melakukan pengecekan,” kata Operator Pusdalops BPBD Kabupaten Magetan.

Dikatakannya, BPBD setempat melakukan pendataan di lapangan dan memberikan bantuan berupa terpal dan karung. Bantuan itu sebagai antisipasi longsor susulan, lantaran hingga kini cuaca terus hujan.

Kecuali BPBD, tim relawan kebencanaan yang sudah standby di lokasi longsor diantaranya Tagana, PMI, TNI, Polri, relawan dan masyarakat setempat. Direncanakan mereka akan bekerja bakti keesokan harinya. (fin)

Ambrolnya Talud Jembatan Membahayakan, Sejumlah Titik Dipasang Rambu Peringatan

MAGETAN – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Magetan, Jawa Timur, langsung melakukan langkah taktis, memasang berbagai rambu peringatan di sejumlah titik, Sabtu (11/2/2023).

Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi timbulnya kecelakaan lalu lintas, terkait ambrolnya talud jembatan di Desa Tulung, Kecamatan Kawedanan, akibat erosi banjir sungai menyusul hujan semalam.

Bahkan, hingga berita ini ditulis, Sabtu malam (11/2/2023), laporan sejumlah Medsos menyebut masih berlangsung hujan ringan (kemericik) di wilayah Kabupaten Magetan dan sekitarnya.

Pemandangan sejak pagi hingga petang, angkasa gelap seolah tanpa sinar matahari terlihat di wilayah Kabupaten Magetan, Ngawi, Madiun, Ponorogo dan Pacitan. Cuaca seharian di wilayah tersebut didominasi hujan intensitas ‘kemericik’, yang berlangsung secara sporadis.

Terkait ablasi talud sepanjang tak kurang dari 20 meter pada sisi Jembatan Desa Tulung, Kecamatan Kawedanan, telah dilakukan penanganan darurat pihak terkait pemerintah daerah setempat.

Beberapa titik jalur lalu lintas yang mengarah ke lokasi jembatan itu dipasang rambu-rambu peringatan. Sedangkan di lokasi jembatan sendiri, selain dipasang rambu, juga dilakukan penjagaan relawan.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Magetan, Drs. Welly Kristanto, kepada jurnalis yang menghubungi, Sabtu petang (11/2/2023), menjelaskan pihaknya telah melakukan langkah strategis guna mengantisipasi munculnya hal negatif bagi pengendara.

Disampaikannya, beberapa rambu peringatan bersifat pengumuman dipasang di beberapa titik ruas jalan. Pengumuman itu dipasang di titik, baik ke luar maupun masuk lintasan jembatan tersebut.

Sejumlah rambu itu dipasang di beberapa ruas jalan wilayah Kecamatan Lembeyan dan Kawedanan. Jembatan itu penghubung utama wilayah Kecamatan Kawedanan (dan kecamatan lainnya) menuju Kecamatan Lembeyan, termasuk ke wilayah Kabupaten Ponorogo.

“Untuk jalur alternatif tidak memungkinan kecuali ya harus lewat jembatan itu. Namun untuk kendaraan tonase besar dilarang melintas. Sedangkan roda dua, melintas bergantian,” jelasnya.

Disinggung kurangnya penerangan jalan di sekitar jembatan pada malam hari, Welly Kristanto mengaku sudah menambah sekitar 3 unit lampu penerangan jalan umum.

“Iya, tadi sudah ditambah 2 atau 3 titik penerangan jalan. Bahkan, terdapat yang diganti dengan menambah dayanya agar lebih terang,” terang Welly. (fin)

Dampak Cuaca Ekstrem, Dataran Tinggi Magetan Longsor

MAGETAN, JAYAKARTA NEWS – Deraan hujan yang berlangsung terus menerus semalam mengakibatkan dataran tinggi di wilayah Kabupaten Magetan, Jawa Timur, longsor, Sabtu (11/2/2023). Longsornya bukit setinggi antara 10 sampai 15 meter itu, terjadi di tiga titik di kecamatan Poncol.

Kecuali itu, cuaca ekstrem hingga munculnya bencana hidrometeorologi tersebut juga menimbulkan ablasi tanggul sungai. Terpantau, erosi aliran sungai itu merusak salah satu sisi di areal jembatan yang berada Desa Tulung, Kecamatan Kawedanan.

Dua pejabat di lingkup pemerintah daerah setempat, langsung turun menilik wilayah bencana ablasi di Desa Tulung. Kepala Dinas Perhubungan, Drs. Welly Kristanto dan Kepala Dinas PUPR, Muktar Wakid, S.ST, melakukan pemeriksaan di sekitar jembatan yang tererosi.

Kepada jurnalis yang meminta konfirmasi, Drs. Welly Kristanto mengatakan, pihaknya telah mengambil langkah strategi guna pengamanan darurat.

Disebutnya, pihaknya segera memasang rambu peringatan berupa lampu rotary. Itu dimaksudkan agar setiap pengendara yang melintas, segera mengetahui adanya kedaruratan di depannya.

“Kecuali lampu rotary, kami upayakan juga memasang lampu penerang, utamanya di titik perkara. Agar setiap pengendara segera tahu bahaya di depannya,” jelas Drs. Welly Kristanto.

Selain itu, lanjut Welly Kristanto, pihaknya juga secepatnya menjajagi kemungkinan adanya jalur alternatif. Jika ditemukan jalur alternatif, demi aman dan lancar, pemerintah setempat akan mengalihkan ke jalur lain.

“Namun jika tidak ditemukan jalur lain, maka terpaksa menggunakan jalur ini. Tapi, arus lalu lintas dibuka hanya satu jalur, yakni buka tutup,” imbuhnya.

Sementara Kepala Dinas PUPR setempat, Muktar Wakid, S.ST, mengaku segera melakukan koordinasi dengan bupati dan pihak terkait lainnya, guna secepatnya mengatasi kerusakan tanggung sungai itu.

“Areal yang ambrol itu sangat berbahaya bagi pengendara. Terlebih pengaman juga sudah rusak. Maka ini mendesak untuk diperbaiki,” kata Muktar Wakid.

Secara darurat, pihak keamanan setempat memasang barrier dan rambu-rambu lain di sekitar jembatan. Pengguna jalan dari dua arah di lokasi itu diberlakukan alur buka tutup.

Terkait bencana alam yang terjadi di Kecamatan Poncol, terdapat dua titik tanah longsor dan sebuah ruas jembatan yang berlobang. Longsor terjadi di Desa Gonggang sedangkan kerusakan jembatan terjadi di Desa Plangkrongan.

Sumber di Pusdalops BPBD Magetan menerangkan, pekarangan rumah milik Yatno di Desa Gonggang longsor, hingga menimpa rumah yang didiami Supri yang berada di bawahnya.

Di desa yang sama, bagian dapur rumah milik Pandi tiba-tiba ambrol dan langsung menghantam rumah milik Parmin. Rumah milik Supri dan milik Parmin yang keduanya tertimpa material longsor itu mengalami kerusakan lumayan parah.

“Saat ini semua pihak terkait yang menangani kebencanaan telah berada di lokasi kejadian. Mereka langsung kerja bakti memperbaiki rumah warga terdampak, dan apa pun yang perlu penanganan,” sebut sumber Pusdalops Magetan.

Tim penanganan kebencanaan yang terkonsentrasi kerja bakti antara lain BPBD, Tagana, PMI, TNI, Polri, relawan dan masyarakat setempat.

Tidak dilaporkan adanya korban jiwa maupun terluka dalam insiden tersebut. Juga tidak disebutkan adanya fasilitas umum berupa masjid, Puskesmas dan jaringan listrik yang terdampak bencana alam.

Otoritas setempat menghimbau, semua pihak diminta tetap berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaannya. Mengingat, sesuai rilis Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, bahwa Kabupaten Magetan menunjukkan salah satu wilayah yang saat ini masih terjangkau cuaca ekstrem. (fin)

Sumur Bor Submersible Error, Ratusan Jiwa Warga di Magetan Kebingunan Air Bersih

MAGETAN, JAYAKARTA NEWS – Ratusan Jiwa warga Desa Selorejo, Kecamatan Kawedanan, Magetan, Jawa Timur, saat ini dilanda kekurangan air bersih. Kondisi itu dipicu terjadinya kerusakan pada sumur bor submersible, sejak Jumat lalu (20/1/2023).

Secara faktual, keberadaan mesin bor berkedalaman antara 60 hingga 80 meter, penghasil air tanah itu, menjadi satu-satunya alat vital penyedia kebutuhan air bersih bagi warga setempat. Karenanya, menyangkut pemenuhan air bersih, warga desa setempat sangat tergantung dari eksistensi mesin bor submersible tersebut.

Kepala Desa Selorejo, Jumadi, yang dihubungi jurnalis, Minggu (22/1/203), membenarkan adanya kerusakan pada mesin submersible tersebut. “Iya, betul ada kerusakan pada sibel (submersible). Penanganan darurat terkait kebutuhan air bersih bagi warga, sudah dipenuhi pasokan air bersih dari BPBD Magetan,” terang Jumadi.

Dikatakannya, sejak tiga hari lalu mesin bor tersebut mengalami kerusakan, sehingga tidak bisa memproduksi air bersih untuk kebutuhan warga desa. Kerusakan tersebut, menurut Jumadi, disebabkan terdapat beberapa onderdil mesin bor yang terbakar.

Meski begitu, sambungnya, pihak pemerintah desa setempat saat ini tengah melakukan upaya perbaikan. Perbaikan dikerjakan secepatnya, menginat kebutuhan air bersih bagi warga menjadi hal pokok yang tidak boleh terlalu lama ditunda pemenuhannya.

“Informasinya ada bagian mesin bor yang terbakar. Upaya perbaikan sudah dilakukan. Ini masih menunggu datangnya mesin sibel. Senin besok (23/1/203) diupayakan mesin bor bisa aktif kembali,” jelas Jumadi.

Menyangkut kebutuhan darurat air bersih, menurut Jumadi, pihaknya sudah mendapat bantuan air bersih dari BPBD Magetan. Setiap hari petugas mensuplai antara 3 sampai 4 tangki air bersih, yang selain diberikan langsung kepada masyarakat juga disimpan pada 4 tandon air di desa itu.

Sementara Operator Pusdalops BPBD Magetan yang dihubungi terpisah menyebutkan, hari ini pihaknya mensuplai kebutuhan air bersih sebanyak 12.000 liter ke desa tersebut.

Air bersih yang dikucurkan itu, menurut Pusdalops BPBD Magetan, untuk mencukupi kebutuhan air bersih bagi 700 Kepala Keluarga atau sebanyak 900 jiwa.

“Iya betul. Mesin sibelnya mengalami kerusakan. Kami membantu memasok air bersih sampai mesin pompa di desa itu kembali normal,” pungkas Operator Pusdalops BPBD Magetan. (fin)

Pemanfaatan Kebun Benih Holtikultura Magetan Ditenderkan

JAYAKARTA NEWS—- Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur (DipertaKP Jatim) menggelar pemilihan Mitra Kerjasama Pemanfaatan barang milik daerah Kebun Benih Hortikultura Sarangsari UPT Pengemangan Benih Holtikultura di Magetan.

Tender pemilihan Mitra Kerjasama ini dibuka untuk calon mitra yang berbentuk badan hukum Perseroan Terbatas (PT) dan memiliki izin usaha dengan klasifikasi usaha di bidang Taman Rekreasi/Taman Wisata, Wisata Petualangan Alam, Taman Wisata Alam (salah satu terpenuhi).

Kepala DipertaKP Jatim, Hadi Sulistyo, dalam rilisnya melalui Diskominfo Jatim mengatakan, Kebun Sarangsari Desa Sarangan Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan memiliki luas 80.000 M2.

Pengumuman Prakualifikasi pada tender pemilihan Mitra Kerjasama ini mulai dilaksanakan sejak tanggal 23 Desember 2020 hingga 8 Januari 2021 nanti. Sedangkan Pendaftaran dan pengambilan dokumen kualifikasi dilaksanakan pada tanggal 8 hingga 15 Januari 2021. 

Bagi masyarakat yang memiliki kegiatan usaha berbadan hukum dan berminat, berikut pengumuman tertulis dari DipertaKP Jatim  http://bit.ly/PENGUMUMANDIPERTAKPJATIM.(poedji)

Magetan dan Nganjuk Raih Penghargaan Terminal Sehat Tipe B

JAYAKARTA NEWS —- Terminal Maospati Magetan dan Terminal Anjuk Ladang Nganjuk meraih penghargaan sebagai Terminal Sehat Tipe B Tahun 2020 dari Kementerian Kesehatan. 

Terminal Maospati Magetan meraih penghargaan sebagai juara pertama, sedangkan Terminal Anjuk Ladang Nganjuk meraih juara kedua. Kedua terminal tersebut berkomitmen dalam pelayanan penyelenggaraan kesehatan di tempat dan fasilitas umum khususnya bidang transportasi umum. 

“Terima kasih tim dari pengelola terminal dan Dinas Perhubungan Jawa Timur, karena merekalah yang berhak mendapatkan apresiasi ini,” kata Gunernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, di Gedung Negara Grahadi, Selasa (17/11/2020). 

Khofifah mengatakan, semoga apresiasi ini mendorong pengelola terminal dan Dishub Jatim untuk menciptakan lingkungan sehat dan bersih, serta layanan publik yang terus membaik.

Proses pemberian penghargaan ini dilakukan secara daring dan dihadiri para pejabat di lingkungan Kementerian Kesehatan. 

Penghargaan Bidang Kesehatan Lingkungan Tahun 2020 sebagai bentuk apresiasi terhadap dukungan dan komitmen untuk mewujudkan lingkungan sehat, maka Kementerian Kesehatan memberikan penghargaan di bidang kesehatan lingkungan kepada pengelola dan penanggungjawab pelabuhan laut dan bandar udara, Rumah Sakit/Fasyankes, Terminal dan Tempat Pengelola Pangan (TPP) yang telah memenuhi kriteria penilaian persyaratan kesehatan.  

Upaya kesehatan lingkungan pada tempat dan fasilitas umum dilakukan untuk mengendalikan resiko kesehatan dan pencemaran terhadap lingkungan.(poedji)