Menembus Badai Larantuka

JAYAKARTA NEWS – Pagi ini, Senin (5/4/2021) hujan gerimis membasahi bandara Frans Seda, Maumere, NTT. Tapi bukan karena gerimis yang membuat pesawat ATR-72 BNPB gagal menembus bandara Larantuka, melainkan karena cuaca buruk. Petugas Airnav mengatakan, jarak pandang di Larantuka di bawah 4 km, tidak ideal untuk landing.

Syahdan, Kepala BNPB Letjen TNI Dr (HC) Doni Monardo pun memanggil Koorspri, Kolonel (Czi) Budi Irawan untuk menyiapkan “plan B”: Menembus Larantuka melalui jalan darat. Menurut rencana, dari Larantuka, perjalanan dilanjutkan menggunakan kapal menuju Pulau Adonara, yang saat ini tengah dilanda banjir bandang.

Itulah kabar terbaru yang disampaikan Tenaga Ahli BNPB, Egy Massadiah dari Maumere. Cerita tidak berhenti di situ. Egy pun menyitir kalimat yang sering dilontarkan Doni Monardo, bahwa “bencana tidak mengenal hari libur”.

Makna yang tersirat adalah, “petugas kebencanaan” harus senantiasa stand by. Termasuk jika harus melakukan perjalanan marathon atas nama penanggulangan bencana.

“Ini bukan kejadian pertama, di mana kami harus melakukan perjalanan bertubi-tubi dari satu daerah ke daerah lain. Setelah kembali ke Jakarta, tak lama berselang harus bertolak lagi ke destinasi bencana yang baru. Nah, itu yang terjadi pagi ini,” ujar Tenaga Ahli BNPB, Egy Massadiah di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (5/4/2021) jelang take off ke NTT.

Sebelumnya, Egy dam rombongan, mendampingi Doni Monardo untuk serangkaian kunjungan kebencanaan, tepatnya sejak hari Selasa (30/3/2021) hingga Sabtu (3/4/2021). “Daerah-daerah yang kami kunjungi mulai dari Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, berlanjut ke Mamuju, dan Palu. Esok harinya menuju Surabaya, lalu Bali sebagai destinasi terakhir. Sabtu kembali ke Jakarta, Minggu malam diperintah stand by di Halim untuk bertolak meninjau banjir bandang di Pulau Adonara, Flores Timur, NTT,” ujar Egy seraya menambahkan, “berhubung cuaca di lokasi tujuan tidak memungkinkan, perjalanan diundur menjadi pagi ini, pukul 05.00 WIB.”

Seperti diketahui, banjir bandang telah menerjang dua Flores Timur pada Minggu (4/4/2021) pukul 01.00 WITA, mengakibatkan lebih 30 orang tewas, sembilan orang luka-luka dan dua orang masih dalam pencarian. Angka itu, menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur masih terus dalam proses pemutakhiran.

Banjir bandang yang dipicu bibit siklon tropis disertai hujan tinggi itu, menerjang antara lain Desa Nelelamadike di Kecamatan Ile Boleng, Kelurahan Waiwerang dan Desa Waiburak di Kecamatan Adonara Timur, Desa Oyang Barang dan Pandai di Kecamatan Wotan Ulumado serta Desa Waiwadan dan Duwanur di Kecamatan Adonara Barat.

Menurut laporan BPBD Flores Timur, banjir bandang tersebut juga mengakibatkan rumah warga sekitar hanyut terbawa banjir, jembatan putus dan puluhan rumah di Desa Lamanele, tertimbun lumpur. BPBD mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi kendala di lapangan, yaitu sulitnya menjangkau Pulau Adonara karena akses satu-satunya adalah melalui penyeberangan laut. Padahal otoritas setempat melarang kegiatan pelayaran saat ini karena faktor cuaca, yaitu hujan, angin dan gelombang yang tinggi.

Atas kesulitan itu, Doni Monardo tidak menyerah. Kepada sejumlah reporter Maumere yang mencegatnya di VIP Room, Doni mengatakan, “Apa pun keadaannya kami akan menembus Adonara. Jika cuaca belum membaik, kami akan menuggu sampai memungkinkan. Logistik yang sangat dibutuhkan para korban, harus segera sampai ke lokasi,” ujar Doni.

Belum lagi berhasil menembus Adonara, Doni Monardo pun menaruh atensi terhadap musibah serupa yang terjadi di Lembata, NTT. “Kita siapkan juga kunjungan dan penyerahan bantuan ke korban banjir Lembata,” pungkas Doni. (roso daras)

Malam di Jakarta, Pagi di Lembata, Sore menuju Semeru

Doni Monardo Tinjau Korban Letusan Gunung Ili Lewotolok

JAYAKARTA NEWS – Pagi ini, Rabu 2 Desember 2020, Kepala BNPB, Letjen TNI Doni Monardo sudah tiba di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan kenaikan status Gunung Ili Lewotolok menjadi Level III atau ‘Siaga’ setelah terjadi erupsi dan adanya peningkatan aktivitas gunungapi pada Minggu (29/11), Doni tak putus memberi perhatian secara khusus.

“Pak Doni sejak Senin berkegiatan di Istana Merdeka dan sejumlah aktivitas terkait kebencanaan lain, termasuk penanganan Covid-19. Tadi tengah malam kami mendarat di Kupang dan hari ini, beliau tiba di Larantuka lanjut ke Lembata dengan helikopter. Ini komitmen hadirnya pemerintah pusat bersama pemerintah daerah di tengah masyarakat yang tertimpa musibah,” ujar Staf Khusus Kepala BNPB, Egy Massadiah yang turut serta bersama rombongan.

Didampingi Wakil Gubernur NTT Drs. Josef Nae Soi, Anggota DPR RI Dr M Ali Taher SH M Hum (asal Lamakera NTT), Doni Monardo menyampaikan salam dari Presiden Joko Widodo untuk masyarakat Lembata, NTT, khususnya para korban letusan Gunung Ilo Lewotolok. Pesan Presiden, tetap tabah dan sabar menghadapi musibah. Tidak melupakan protokol kesehatan, dan ikuti arahan petugas kebencanaan demi keselamatan bersama.

Kunjungan Doni ini sesuai arahan Presiden, kiranya BNPB terus mencermati perkembangan erupsi Gunung Ili Lewotolok. Berdasar laporan Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Senin (30/11) pukul 22.00 WIB, ada sebanyak 4.628 jiwa yang telah dievakuasi di 7 titik pengungsian.

“Serta merta beliau berangkat ke lokasi musibah,” ujar Egy Massadiah. Egy menambahkan bahwa seusai dari NTT, sore ini juga Doni akan menuju Lumajang Jawa Timur meninjau area terdampak lava Gunung Semeru.

Kepala BNPB Doni Monardo (tengah) menuju landasan helikopter, untuk melanjutkan perjalanan menuju lokasi pengungsi erupsi gunung Ili Lewotolok, Lembata, NTT. (foto: BNPB)

Seperti halnya ketika mengunjungi lokasi pengungsian di sejumlah titik di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah, akibat erupsi Gunung Merapi, maka di Lembata pun Doni Monardo menekankan pentingnya prosedur penyelamatan rakyat. “Prinsipnya, keselamatan rakyat nomor satu. Selamat dari bencana gunung berapi, dan selamat dari paparan Covid-19,” kata Doni kepada wartawan di Lembata NTT.

Di daerah-daerah yang tertimpa musibah bencana alam, sejatinya memiliki ancaman ganda, yakni bencana alam dan non alam (pandemi). Karenanya, dalam setiap usaha tanggap darurat atau tanggap bencana, protokol kesehatan harus masuk dalam protap kegiatan.

“Concern pak Doni, selain tersedianya fasilitas pengungsian yang memadai, juga dibarengi ketersediaan sarana mencuci tangan pakai sabun, ketersediaan masker, dan tempat pengungsian yang berjarak antara satu dan lainnya,” ujar Egy Massadiah.

Berdasar pantauan Pos Pengamatan Gunung Api Ili Lewotolok, erupsi masih terus terjadi, dan dimungkinkan akan terjadi erupsi susulan. Hari Senin (30/11) erupsi kolom abu setinggi 700 meter dari puncak (2.123 mdpl). Erupsi tersebut terekam oleh seismogram dengan amplitudo maksimum 24 milimeter dengan durasi kurang lebih 2 menit 25 detik. “Kita berharap intensitas erupsi susulan berangsur-angsur menurun, tanpa mengurangi kewaspadaan,” tandasnya.

Sejumlah lokasi pengungsian, pagi ini akan ditinjau oleh Kepala BNPB Doni Monardo bersama segenap Deputy serta staf BNPB. Seperti diberitakan sebelumnya, semua warga yang berada dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Ili Lewotolok, diungsikan.

“Kehadiran pemerintah pusat serta bantuan yang diberikan, semoga bisa memenuhi kebutuhan masyarakat pengungsi. BNPB juga menempatkan dua buah helikopter, salah satunya jenis Chinook untuk mendukung penyaluran bantuan ke lokasi pengungsi,” pungkas Egy Massadiah. (rr)

Video kunjungan Doni Monardo ke Lembata, naik helikopter BNPB.

https://youtu.be/L15ufCQb3p4