“Siskamling” Bencana Menyelamatkan Nyawa

Juru Selamat dari Alor

JAYAKARTA NEWS – Kokok ayam jago pagi itu lebih gaduh dari biasanya. Soleman Kamenglet (43) terbangun dari peraduan dan segera loncat dari tempat tidurnya. Ada firasat buruk yang menyergap perasaan Ketua RT ini. Hari itu hari besar umat Kristiani, Paskah, Minggu (4/4/2021).

Benar apa yang dirasakan Soleman. Air sudah menggenang di sebagian Desa Waisika, Kecamatan Alor Timur Laut, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Rasa tanggung jawabnya sebagai Ketua RT, mendorongnya berlari menggedor satu pintu rumah ke pintu rumah yang lain. Soleman berteriak keras membangunkan tetangganya.

Soleman mengajak warga segera bergegas lari ke arah pegunungan. Menghindari banjir yang naik dengan cepat, hingga dalam waktu singkat sudah setinggi paha orang dewasa. Kurang lebih hampir satu meter.

Masih di bawah guyuran hujan, puluhan warga menghambur ke arah bukit. Ya, lokasi desa ini memang dijepit oleh lereng pegunungan di belakang, dan hamparan Laut Banda di depan.

Syahdan, sebanyak 45 KK yang terdiri atas 85 warga, berhasil selamat dari gelombang banjir kedua yang melanda sekitar 2,5 jam setelahnya, atau sekitar pukul 07.00 WITA. “Saat arus banjir datang lagi jam tujuh pagi, kami semua sudah berada di lokasi aman, dan semua selamat,” ujar Soleman sang juru selamat bagi warganya.

Meski hujan tidak juga berhenti, Soleman tetap meminta warganya bertahan di lokasi aman. Ia melarang warganya yang hendak pulang ke rumah, meski sekadar menengok.

Siklus 2,5 jam ketiga kembali datang. Gelombang banjir bah yang datang dari arah atas turun dengan sangat deras, membawa material apa saja yang menghalanginya. Pepohonan, bebatuan, tersapu banjir bah besar yang datang sekitar pukul 09.00 – 10.00 WITA. “Jam persisnya kurang tahu, tapi kurang lebih antara jam sembilan dan jam sepuluh. Langit gelap tertutup awan dan hujan,” ujar Soleman.

Gelombang banjir ketiga itulah yang menghancurkan hampir semua rumah warga. Tak kurang 41 rumah mengalami rusak berat dan rusak sedang. Bahkan tidak sedikit yang tercerabut dari pondasinya. Rumah seisinya bersih tersapu banjir yang kemudian terhempas ke Laut Banda.

Kepala BNPB, Letjen TNI Doni Monardo saat meninjau lokasi bencana banjir bandang di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (7/4/2021). (foto: BNPB)

Kearifan Lokal

Soleman menceritakan kisah heroiknya menyelamatkan warga di lingkungan RT yang ia pimpin, disaksikan Kepala BNPB Letjen TNI Dr (HC) Doni Monardo tepat di lokasi kejadian banjir di RT nya. Doni sendiri bersama rombongan BNPB, sejak Senin (5/4/2021) sudah berada di Nusa Tenggara Timur untuk mengkoordinasikan penanggulangan bencana.

Setelah mengunjungi Lembata kemarin (6/4/2021), hari ini Doni sudah berada di Alor. Salah satu kabupaten di ujung timur Provinsi NTT. Data terakhir hari ini (7/4/2021), korban meninggal dunia di Alor tercatat 25 jiwa, korban hilang 20 jiwa, korban luka-luka 25 jiwa. Jumlah rumah rusak berat tercatat 179 unit, rumah rusak sedang 181 unit, dan 5 Fasum ikut terdampak pula.

Usai kunjungan, Doni Monardo kembali ke Larantuka, Flores Timur. Malam hari, Doni mengajak peserta rapat koordinasi penanganan bencana NTT via zoom yang berlangsung di rumah jabatan bupati Flores Timur untuk belajar dari kisah kearifan lokal Soleman. Seseorang yang dituakan, lalu dipilih menjadi Ketua RT, akan sangat didengar oleh warganya.

Tak bisa dibayangkan seandainya Soleman tidak menggedor-gedor rumah warga, bisa dipastikan jumlah korban jiwa akan lebih banyak.

Sejatinya, peran warga sangat besar dalam mengatasi bencana alam. Bahkan, 80 persen, Tindakan penyelamatan korban dilakukan oleh warga itu sendiri. “Jadi budaya gotong royong harus dimasukkan dalam program mitigasi bencana,” tandas Doni Monardo.

Apa yang dilakukan Soleman, sejalan dengan yang kerap diingatkan Kepala BNPB Doni Monardo. Yakni para pejabat pemerintah terutama bupati, wali kota, camat dan kepala desa kiranya aktif mengikuti informasi cuaca oleh BMKG. Kalau seandainya daerah terdampak, maka harus memberi info kepada warga.

Misal malam, curah hujan tinggi, rumah di lereng/kaki bukit sebaiknya mengungsi dulu. Agar bisa menghindari terjadi longsor, pohon tumbang. Bagi yang rumahnya dekat sungai, lembah, sebaiknya mengungsi, mengamankan barang berharga.

“Setiap jam, harus ada piket, siaga, bergantian masyarakat membagi tugas, semacam siskamling bencana. Sehingga ketika ada potensi terjadi banjir bandang, masyarakat bisa mengetahui lebih dini,” ajak Doni.

(Laporan Egy dan Roso dari Alor, NTT)

Link Video:

https://youtu.be/z4KpcUjPS_M

Menembus Badai Larantuka

JAYAKARTA NEWS – Pagi ini, Senin (5/4/2021) hujan gerimis membasahi bandara Frans Seda, Maumere, NTT. Tapi bukan karena gerimis yang membuat pesawat ATR-72 BNPB gagal menembus bandara Larantuka, melainkan karena cuaca buruk. Petugas Airnav mengatakan, jarak pandang di Larantuka di bawah 4 km, tidak ideal untuk landing.

Syahdan, Kepala BNPB Letjen TNI Dr (HC) Doni Monardo pun memanggil Koorspri, Kolonel (Czi) Budi Irawan untuk menyiapkan “plan B”: Menembus Larantuka melalui jalan darat. Menurut rencana, dari Larantuka, perjalanan dilanjutkan menggunakan kapal menuju Pulau Adonara, yang saat ini tengah dilanda banjir bandang.

Itulah kabar terbaru yang disampaikan Tenaga Ahli BNPB, Egy Massadiah dari Maumere. Cerita tidak berhenti di situ. Egy pun menyitir kalimat yang sering dilontarkan Doni Monardo, bahwa “bencana tidak mengenal hari libur”.

Makna yang tersirat adalah, “petugas kebencanaan” harus senantiasa stand by. Termasuk jika harus melakukan perjalanan marathon atas nama penanggulangan bencana.

“Ini bukan kejadian pertama, di mana kami harus melakukan perjalanan bertubi-tubi dari satu daerah ke daerah lain. Setelah kembali ke Jakarta, tak lama berselang harus bertolak lagi ke destinasi bencana yang baru. Nah, itu yang terjadi pagi ini,” ujar Tenaga Ahli BNPB, Egy Massadiah di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (5/4/2021) jelang take off ke NTT.

Sebelumnya, Egy dam rombongan, mendampingi Doni Monardo untuk serangkaian kunjungan kebencanaan, tepatnya sejak hari Selasa (30/3/2021) hingga Sabtu (3/4/2021). “Daerah-daerah yang kami kunjungi mulai dari Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, berlanjut ke Mamuju, dan Palu. Esok harinya menuju Surabaya, lalu Bali sebagai destinasi terakhir. Sabtu kembali ke Jakarta, Minggu malam diperintah stand by di Halim untuk bertolak meninjau banjir bandang di Pulau Adonara, Flores Timur, NTT,” ujar Egy seraya menambahkan, “berhubung cuaca di lokasi tujuan tidak memungkinkan, perjalanan diundur menjadi pagi ini, pukul 05.00 WIB.”

Seperti diketahui, banjir bandang telah menerjang dua Flores Timur pada Minggu (4/4/2021) pukul 01.00 WITA, mengakibatkan lebih 30 orang tewas, sembilan orang luka-luka dan dua orang masih dalam pencarian. Angka itu, menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur masih terus dalam proses pemutakhiran.

Banjir bandang yang dipicu bibit siklon tropis disertai hujan tinggi itu, menerjang antara lain Desa Nelelamadike di Kecamatan Ile Boleng, Kelurahan Waiwerang dan Desa Waiburak di Kecamatan Adonara Timur, Desa Oyang Barang dan Pandai di Kecamatan Wotan Ulumado serta Desa Waiwadan dan Duwanur di Kecamatan Adonara Barat.

Menurut laporan BPBD Flores Timur, banjir bandang tersebut juga mengakibatkan rumah warga sekitar hanyut terbawa banjir, jembatan putus dan puluhan rumah di Desa Lamanele, tertimbun lumpur. BPBD mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi kendala di lapangan, yaitu sulitnya menjangkau Pulau Adonara karena akses satu-satunya adalah melalui penyeberangan laut. Padahal otoritas setempat melarang kegiatan pelayaran saat ini karena faktor cuaca, yaitu hujan, angin dan gelombang yang tinggi.

Atas kesulitan itu, Doni Monardo tidak menyerah. Kepada sejumlah reporter Maumere yang mencegatnya di VIP Room, Doni mengatakan, “Apa pun keadaannya kami akan menembus Adonara. Jika cuaca belum membaik, kami akan menuggu sampai memungkinkan. Logistik yang sangat dibutuhkan para korban, harus segera sampai ke lokasi,” ujar Doni.

Belum lagi berhasil menembus Adonara, Doni Monardo pun menaruh atensi terhadap musibah serupa yang terjadi di Lembata, NTT. “Kita siapkan juga kunjungan dan penyerahan bantuan ke korban banjir Lembata,” pungkas Doni. (roso daras)