Andaliman Manuk Pinadar, Nikmat Rasa Batak

Jayakarta News – Sebanyak 33 kabupaten/kota yang ada di Sumatera Utara, semua memiliki kuliner khas. Contoh di kawasan Danau Toba, di sini terdapat menu kuliner khas Batak seperti Arsik, Naniura, dan Manuk Pinadar.

Kalau Arsik identik dengan ikan, umumnya ikan mas. Kuliner ini dikenal dengan bumbu kuning. Yang unik, saat hendak dimasak sisik ikan mas tidak dibuang.

Sedangkan menu Naniura juga menu ikan. Pilihannya ikan mas atau ikan jurung. Naniura dikenal mirip dengan sashimi-nya suku Batak. Ikan mentah tidak dimasak, dan hanya diberi bumbu. Dalam bahasa Batak Naniura adalah ikan yang diasami. Ikan yang hendak dijadikan menu naniura, sebelumnya direndam asam jungga untuk mengenyahkan bau amis.

Sedangkan, Manuk Pinadar lauknya dari jenis unggas yaitu ayam kampung. Bagi penyuka makanan khas Batak dengan cita rasa pedas, tidak salah lagi kalau mencoba makanan yang satu ini, manuk napinadar.

Manuk bahasa Batak artinya ayam, dan cara pengolahannya dipanggang. Jadi bila tanpa rasa pedas manuk napinadar maka seperti sayur tanpa garam hambar. Tetapi selain pedas ada sensasi rasa ketir di lidah yang menjadi khasnya dan rasa ketir itu dari rempah “Merica Batak” atau andaliman.

Bumbu manuk pinadar, digongseng sebelum diuleg. (foto: monang sitohang)
Ayam kampung dipanggang hingga masak, sebelum dimasukkan bumbu. (foto: monang sitohang)

Cara memasak

Pertama sediakan ayam kampung sebagai bahan utama pembuatan manuk napinadar, beratnya maksimal 1,2 kg. Ukuran berat ayam perlu selektif karena jika beratnya melebihi dari ukuran maksimal, maka daging ayam bisa alot dan mengurangi kenikmatannya. Setelah itu siapkan secukupnya bahan-bahan atau rempah untuk manuk pinadar, seperti cabai rawit, andaliman, jahe, kemiri, bawang merah, bawang putih dan jeruk nipis.

Setelah ayam dibersihkan lalu dipanggang sekitar 10 menit sebelum ayam dipotong-potong. Selesai dipanggang, ayam dipotong-potong. Setelah itu, kembali dipanggang hingga matang. Agar lebih enak saat dikonsumsi, pindahkan ke wadah.

Berikutnya, bahan-bahan atau rempah yang telah dibersihkan satu per satu digongseng: kemiri, jahe, cabai rawit, bawang merah, dan bawang putih. Sedangkan andaliman direndam dengan air panas 5-10 menit agar keluar uap aromanya.

Kalau dahulu pernah dikatakan oleh orang tua, bahan-bahan atau rempahnya dipanggang di bara satu per satu tanpa dikupas atau dikuliti. Setelah itu digiling (diuleg) atau diblender halus. Jika diblender menggunakan penambahan air, sedangkan digiling tanpa air. Dua metode ini memberi rasa berbeda.

Usai bumbu-bumbu atau rempah digiling (diuleg) atau diblender pindahkan ke wadah. Kemudian sediakan tempat air panas untuk menyeduh garam secukupnya lalu dituang ke tempat wadah bumbu yang telah siap saji dan diaduk hingga benar-benar menyatu. Setelah itu ambil 4-5 slice jeruk nipis peras ke dalam bumbu tersebut aduk agar menyatu rasa antara andaliman, garam dan jeruk nipis.

Langkah terakhir ambil ayam yang sudah siap dipanggang masukkan ke dalam wadah bumbu sudah siap saji, lalu aduk atau tekan-tekan sampai rata agar meresap sampai ke dalam daging ayam. Tak jarang juga penikmat ayam pinadar ini saat mengkonsumsi dicampur dengan darah ayam yang sudah dimasak yang telah dicampur jeruk nipis. Selamat mencoba dan selamat menikmati. (Monang Sitohang)

HUTABALIAN SUDAH MENDUNIA, APA DUKUNGAN PEMDA?

Panitia dari ASPPI berfoto bersama para tamu dan masyarakat setempat, juga anak-anak Rumah Belajar Sianjur Mula Mula. Foto: Monang Sitohang

MERIAH betul suasana Desa Sianjur Mula Mula, Kecamatan Sianjur Mula Mula, Kabupaten Samosir. Hari itu, Jumat (16/3), lebih seratus operator biro perjalanan dari dalam dan luar negeri hadir di sana. Mereka menghadari acara Jelajah Wisata Budaya (JWB) yang diselenggarakan Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI). Yang mereka tuju adalah Rumah Belajar Sianjur Mula Mula, di Dusun III, Hutabalian.

Kalerman Sagala, seorang panatua atau tokoh masyarakat Hutabalian menyambut para tamu yang hadir, atas nama kerabat yang lain: Banjar Sagala, Josmen Sagala, Marolop Sagagla, Henra Sagala, dan Alboin Simbolon. Ia mengucap terima kasih kepada ASPPI atas gelar acara JWB di daerahnya. Terlebih, kegiatan itu mampu menghadirkan Dinas Pariwisata Samosir, Kepala Desa, di samping Ketua ASPPI DPD Sumatera Utara.

Jayakartanews yang meliput acara itu, mecatat urut-urutan acara yang berlangsung tertib dan terkesan profesional. Semua tamu diarahkan melapor ke ulubalang yang menjaga pintu. Setelah itu, diarahkan ke satu tempat untuk menerima kain sarung agar digunakan selama acara berlangsung. Itulah tradisi masuk desa wisata Hutabalian.

Dalam Jelajah Wisata Budaya, peserta terlibat dalam kegiatan tradisi sehari-hari di Rumah Belajar Sianjur Mula Mula. Seperti misalnya, martunon atau membuat kain ulos Batak. Mereka juga ikut belajar mossak atau silat Batak. Lebih menarik karena para ulubalang mengenakan make-up jambang, serta memegang tongkat.

Pengunjung sedang melihat jenis kuliner khas Batak yang ditampilkan di acara JWB, Ada Naniarsik ikan mas dan Naniura . Foto Monang Sitohang

Makin lengkap ketika peserta mencicip kuliner Batak, seperti ikan naniura, tanpa dimasak dan hanya dicampur adonan bumbu tradisional. Kemudian ada menu asam dan andaliman, naniarsik ikan mas, makanan khas Batak yang dimasak menggunakan asam sakala, kunyit, andaliman, cabai, bawang dan bumbu lain. Menu begitu berlimpah. Masih ada itak putih, itak hinopingan, hinintang ni andalu yang berbahan beras tumbukan lesung, dan saat memasak para pemasak tidak boleh berbicara.

Selebihnya, kepada para tamu diperlihatkan benda-benda pusaka milik masyarakat adat, seperti piring, pinggan, tongkat, dan lain-lain. “Melalui event JWB, kami dari DPD ASPPI Sumut ingin melestarikan budaya Batak. Di Hutabalian ini, tata-krama atau sopan santun sangat terjaga, budaya aslinya juga masih kental dan dipegang teguh warganya,” ujar Ketua DPD ASPPI Sumut, Mercy Panggabean.

Lebih lanjut Mercy berharap, pemerintah menindaklanjuti dengan memberi dukungan. Sebab, pihaknya sudah mendatangkan tak kurang dari 100 operator pariwisata dalam negeri, dan 10 operator pariwisata luar negeri. Mereka sudah mengemas paket-paket wisata Hutabalian. Itu artinya, akan makin banyak wisatawan domestik dan asing berdatangan ke Hutabalian, di Pulau Samosir. “Tidak berlebihan kalau kami memohon pemerintah daerah memperbaiki infrastruktur. Menjaga kebersihan dengan menyediakan tong-tong sampah, serta pengadaan fasilitas toilet umum,” ujar Mercy seraya menambahkan, “di luar negeri, sarana MCK dikelola oleh pemerintah daerah. Mungkin di sini bisa dikelola oleh pemerintahan desa atau kecamatan.”

Yang tak kalah penting adalah pembuatan papan petunjuk arah dan keterangan spot-spot indah yang ada di daerah itu. Dengan demikian, wisatawan yang berkunjung tanpa jasa biro perjalanan pun bisa menikmati spot-spot indah di sana dengan mudah. “Kiranya, Dinas Pariwisata Samosir perlu mengalokasikan anggaran untuk mendukung Hutabalian sebagai destinasi wisata yang potensial,” harap Mercy.

Sementara itu salah seorang peserta JWB dari Yogyakarta, Novi memuji keindahan alam Hutabalian. Ia juga tertarik dengan kulinernya. Seperti itak yang sempat ia duga sebagai bedak, karena terlibat seperti tepung. Akan tetapi setelah dimakan, ternyata sangat enak. “Menu naniura juga enak banget. Di sini banyak sekali kekayaan lokal. Harus dijaga, sebab itulah daya tarik tempat ini,” kata Novi seraya menambahkan, ia sudah membuat paket ke Hutabalian kepara relasinya di Swiss.

Di kesempatan terpisah, Kepala Desa Sianjur Mula Mula, Pardingotan Sagala mengaku sangat bersyukur daerahnya dijadikan destinasi wisata oleh ASPPI. “Soal keuntungan ekonomi, itu nomor dua. Yang utama dan membuat kami bangga adalah, acara ini bisa mengangkat tradisi dan budaya Batak, tidak saja ke kancah nasional tetapi ke kancah internasional,” ujar Pardingotan, haru.

Nagoes Puratus Sinaga sebagai pendiri dan juga pengelola rumah belajar Sianjur Mula Mula juga mengatakan sangat berterimakasih kepada ASPPI dan semua yang turut mendukung acara JWB ini. Ia berharap, acara serupa bisa berkelanjutan serta memberi dampak positif bagi Hutabalian khususnya, Pulau Samosir pada umumnya.

Sebelum acara selesai ada sesi kesempatan untuk para tamu yang ingin memberikan sumbangan buku yang telah dibawa dari daerahnya masing-masing. Buku-buku itu nantinya akan memperkaya koleksi perpustakan Rumah Belajar Sianjur Mula Mula. Dalam kesempatan itu juga hadir pecinta Danau Toba, yakni Group Spritual and Culture of Toba Lake. Mereka datang memberikan dua buah alat musik Garantung. Di akhir acara, seluruh peserta menyanyikan lagu Tao Toba. ***

Foto bersama di depan rumah belajar Sianjur Mula Mula.