Ketika IPeKB tidak Sosialisasikan KB tapi Covid-19

JAYAKARTA NEWS— Petugas penyuluh lapangan yang biasa “blusukan” ke rumah-rumah penduduk ataupun tampil dalam suatu acara, kini tidak saja mengajak masyarakat untuk ikut Keluarga Berencana (KB) saja.

Tapi para petugas yang tergabung dalam Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (IPeKB) itu juga mensosialisasikan bagaimana menyikapi virus Corona atau disebut Covid-19 yang sedang melanda Negeri ini.

Kehadiran para petugas penyuluh KB itu ternyata bagian dari program kantor Perwakilan BKKBN Jatim dalam menghadapi sekaligus penyebaran Covid-19.

Menurut Kepala Perwakilan BKKBN Jatim Sukaryo Teguh Santoso Kamis(23/4), pengerahan petugas IPeKB itu jumlahnya 2000an lebih dan tersebar di 38 kabupaten/ kota di Jatim.

Peran petugas yang menjadi ujung tombak BKKBN dalam menarik masyarakat untuk KB ini luar biasa dalam menjalankan tugas “barunya” karena dengan uang sendiri mereka juga membeli masker saat melakulan sosialisasi ke masyarakat.

Menurut Teguh, sebelum melakukan sosialisasi tentang Covid-19 terlebih dahulu dibekali tentang Covid-19 yang telah banyak membawa korban.

Pihaknya juga mengatakan, selain penyuluh KB yang melaksanakan tugasnya, BKKBN juga mengajak mitra kerja untuk mensosialisasikan bagaimana memutus mata rantai penularan Covid-19.

Secara terbuka Teguh mengemukakan, pihaknya melakukan refocusing anggaran yang diwujudkan dalam bentuk pembelian APD untuk para petugas kesehatan yang membutuhkan. “Ini adalah bentuk suport bagi provider pelayanan KB agar nyaman dan memberikan pelayanan di masa pandemi,” katanya.

Selain itu pihaknya juga melaksanakan program Rabu Berbagi yakni kegiatan dengan membagi-bagikan masker dan juga makanan kepada masyarakat sebagai bentuk solidaritas. “Dananya dari hasil urunan para karyawan BKKBN Jqtim dan juga dari IPKB yang ada di daerah,” demikian Teguh. (poedji)

Titik Sugiarti, Pejuang KB Asal Kampung Sidotopo Jaya

Titik Sugiarti bersama keluarga tercinta. (foto: poedji)

Jayakarta News – Perempuan bernama Titik Sugiarti (46 thn). Warga RW XII Sidotopo Jaya Surabaya ini mengaku sudah bisa merasakan manfaat dalam mengikuti program KB jauh sebelum wilayahnya dicanangkan oleh pemerintah setempat sebagai Kampung KB pada 4 Agustus 2016 lalu. 

Dikemukan, selain untuk mengatur jarak kelahiran, ikut program KB bisa menjaga kesehatan ibu pasca melahirkan, bisa maksimal dalam merawat, kasih sayang terpenuhi dengan baik, bisa memberikan ASI (Air Susu Ibu) genap selama dua tahun serta menjadikan kehidupan keluarga yang bahagia.

Keuntungan lain yang paling penting dan bisa didapat terkait keikutsertaan sebuah keluarga dalam program KB adalah terpenuhinya kebutuhan pendidikan anak hingga ke jenjang yang paling tinggi. Ia lalu mencontohkan sebuah keluarga yang memiliki banyak anak. Bisa sekolah tapi putus di tengah jalan.

“Kalau putus sekolahnya itu positif bisa ke arah yang produktif seperti berwirausaha. Tapi, kalau arahnya ke hal-hal yang negatif bisa lari ke tindakan kriminal. Faktor ekonomi yang pas-pasan, perhatian kepada anak kurang  sehingga anak cenderung liar karena saking banyak anaknya,” ungkap wanita ini saat diwawancarai dengan mengaitkan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2019 salah satu gawe akbar BKKBN yang akan diperingati sebentar lagi.

Sejak pernikahannya pada tahun 1995 lalu, Titik merasakan ketertarikannya dengan program pemerintah yaitu program Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) “2 anak cukup”. Atas persetujuan suaminya, Moch Mansur, ia lalu mengikuti program KB (Keluarga Berencana) sejak kelahiran anak pertamanya tahun 1996. Kontrasepsi suntik dipilihnya untuk menjalani program KB tersebut.

Setelah jalan tiga tahun memakai kontrasepsi suntik, anak keduanya pun lahir dengan lancar dan sehat pada tahun 1999. Pasca kelahiran anak kedua itu, Titik lalu mengganti kontrasepsi suntiknya dengan pil KB tepatnya pada tahun 2000.  Ia mengaku, awalnya mengikuti program KB ini atas dasar inisiatif sendiri  bersama suaminya.  Padahal saat itu kampung KB belum masuk di kampungnya tapi Titik sudah punya planning seperti itu.

“Saya dengan suami sejak awal menikah memang sepakat untuk tidak langsung punya anak langsung setelah kelahiran anak pertama. Dengan suntik KB itu Saya dan suami bisa mengatur jarak kelahiran anak kedua Kami,” jelasnya.

Hal ini berlaku juga pada keluarga Titik Sugiarti. Kedua anak lelakinya sudah beranjak dewasa. Anak pertamanya yang bernama Maulana Satria Aji sudah memasuki Semester VI Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga Surabaya.  Sedangkan yang bungsu bernama Ramadhani Jaka Samudra masih duduk di Kelas XII salah satu SMA Surabaya.

Kader KB di Kampungnya

Atas konsistensinya terhadap program KB, oleh Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) Kecamatan Semampir, Titik Sugiarti didaulat menjadi seorang kader KB. Tepatnya pada tahun 2003 di kampungnya yakni Kader KB RT 3 RW XII Sidotopo Jaya, Kelurahan Sidotopo, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya.

Sebagai seorang kader Posyandu di kampungnya, Titik bisa bergerak bebas memberikan penyuluhan kepada warga khususnya ibu-ibu terkait program KB.  Berbekal pengalamannya sendiri sebagai seorang akseptor KB, ia pun dapat dengan mudah melakukan penyuluhan-penyuluhan di sela-sela kegiatan Posyandu.

Meski dengan mudahnya memberikan informasi-informasi tentang KB, bukan berarti Titik mulus-mulus saja dalam menjalankan misinya. Ada saja kendala-kendala yang ia hadapi saat di lapangan. Mulai dari penolakan-penolakan hingga salah pengertian.

“Mayoritas warga di sini awalnya menganggap kalau ikut KB itu berarti tidak bisa punya anak. Secara bertahap, Saya yakinkan warga tentang manfaat ikut KB. Sedangkan mereka yang menolak rata-rata sedang hamil atau lagi program anak IAS (Ingin Anak Segera),” terangnya.

Titik sadar, kampungnya merupakan wilayah yang terpinggirkan, terkumuh, terbuang terbelakang dan memiliki SDM yang rendah. Maka, ia pun memiliki strategi tersendiri untuk merubah pola pikir masyarakat yang sudah salah kaprah terkait pemahamannya terhadap KB.

Selain melalui agenda-agenda Posyandu yang ia lakukan, Titik juga aktif memberikan penyuluhan melalui Bumantik (Ibu Pemantau Jentik) yang aktif memeriksa jentik-jentik nyamuk di rumah-rumah warga. 

“Saat melakukan pemeriksaan jentik, Bumantik juga melakukan penyuluhan-penyuluhan program KB kepada warga-warga yang disinggahinya. Juga pada saat pengajian-pengajian rutin yang digelar di kampung. Itu pun kita tidak memaksakan waktunya, tergantung kesediaan ibu-ibu tersebut,” tambahnya.

Pada tahun 2006, Titik diangkat menjadi Bunda PAUD. Pada saat menjadi Bunda PAUD ini, Titik juga tetap aktif memberikan penyuluhan-penyuluhan tentang KB. Ia mensosialisasikan dua metode kontrasepsi yakni, metode kontrasepsi jangka pendek dengan memakai kondom, suntik, dan pil.

“Serta Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) dengan memakai IUD dan susuk,”  tandas Titik. (poedji)