Viral: Kartu Paslon 01 Tercoblos di Malaysia, Pendukung 02 Ancam Duduki KBRI

Screenshot penampakan kertas suara Pilpres dan Pileg yang kabarnya sudah tercoblos yang ditemukan warga Indonesia di Selangor, Malaysia.

JAYAKARTA NEWS – Komisi Pemilihan Umum (KPU) lagi-lagi diterpa isu tak sedap. Muncul video viral yang menggambarkan adanya surat suara yang sudah dicoblos di Bandar Baru Negara Bagian Selangor, Malaysia. Pendukung Prabowo – Sandiaga Uno yang menemukan surat suara itu mengancam akan menduduki KBRI jika KPU tidak membereskan persoalan ini.

Sebelumnya, beredar luas video berdurasi singkat yang menampilkan masyarakat setempat menggerebek sebuah ruko kosong Bandar Baru Bangi, Selangor, Malaysia. Kartu tercoblos itu ditemukan di sebuah ruko. Ada sejumlah kantong plastik yang digunakan untuk menampung kartu yang sudah tercoblos. 

Dalam video yang beredar di Youtube.com tampak bahwa masyarakat Indonesia yang berada di Malaysia menemukan kertas suara yang sudah tercoblos. Untuk Pilpres, menurut video tersebut, kertas suara yang sudah tercoblos atas nama pasangan calon No 01 Joko Widodo – Ma’ruf Amin. Sedangkan untuk calon anggota DPR RI yang tercoblos atas nama Ahmad dari Partai Nasdem.

“Kami menemukan bukti kartu (surat suara pemilihan) presidennya sudah dicoblos, 01. Calegnya nomor dua Partai Nasdem namanya Ahmad,” jelas pria yang ada dalam video tersebut.

“Kami harap KPU Indonesia membatalkan semua urusan DPL Malaysia untuk hari ini sampai tanggal 14 untuk pemilihan di Malaysia. Kami harap dibatalkan, kalau tidak kami akan duduki KBRI, kami akan usir orang PPLN dan Panwaslu yang bertanggungjawab atas masalah ini,” kata pria itu menambahkan.

Menanggapi kabar itu,  KPU menyatakan siap melakukan koreksi pelaksanaan pemilu di Malaysia, apabila  terbukti ada surat suara tercoblos. KPU terlebih dahulu akan  meminta klarifikasi atas informasi tersebut kepada Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) di Kuala Lumpur.

Komisioner KPU Viryan

“Apabila hal yang disampaikan memang terjadi, bahwa  pelaksanaan pemungutan suara di tempat itu tidak sesuai aturan, tentunya kami akan lakukan koreksi,” kata Komisioner KPU RI Viryan di Jakarta, Kamis (11/4/2019).

KPU juga bergerak cepat untuk menggelar  rapat  mendadak di kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Dalam rapat itu,  KPU akan meminta klarifikasi dari PPLN di Kuala Lumpur.

“Klarifikasi ini penting. Prinsip kehati-hatian yang kami anut dan hasil klarifikasi itu akan menjadi bahan utama untuk menentukan kebijakan yang akan kami ambil,” kata Viryan.

KPU akan mengklarifikasi  apakah benar atau tidak informasi yang beredar di media social yang menyebutkan adanya  surat suara yang sudah dicoblos untuk pasangan calon 01.  Bukti yang ada, harus diklarifikasi.

Komisioner KPU lainnya, Ilham Saputra juga membenarkan bahwa pohaknya tengah meminta  konfirmasi dari Kelompok Kerja PPLN.

Dia menambahkan, KPU juga  belum menerima informasi lebih lanjut  dari Bawaslu terkait dengan kabar ini. “Kami belum menerima surat (Bawaslu). Kami masih menunggu, apakah yang terjadi itu seperti apa? Kami sedang konfirmasi di mana tempatnya, apa yang terjadi, itu lokasi apa sebenarnya, kami sedang cek dulu,” katanya. (ara/sm)

Budaya Jatim dan Papua Ramaikan Festival Mulktikultural di Canberra

Reog Ponorogo saat tampil di National Multicultural Festival Canberra. (Foto: KBRI di Canbera]

PUBLIK Australia di kota Canberra antusias menikmati suguhan budaya Indonesia yang ditampilkan  Tim Reog Ponorogo Singo Budoyo Mudho yang berkolaborasi  dengan Sanggar Tari Nusantara Sydney yang menampilkan tarian Papua.

Masyarakat Canberra memadati area Panggung Budaya di National Multicultural Festival (NMF) 2019  pada  16 Februari 2019. NMF sendiri digelar selama tiga hari, yakni mulai 15  hingga 17 Februari.

 

Kostum dan tarian yang ditampilkan Reog Ponorogo, mengundak decak kagum warga negeri banua tersebut. Michelle (16), misalnya,  mengaku sangat mengagumi tarian dan kostum Reog Ponorogo. “Menurut penilaian saya, penampilan Indonesia sangat unik, menarik, dan mistis”, ujar remaja yang belajar di Melrose Highschool Canberra ini.

KBRI di Canberra bekerjasama sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mendatangkan  Tim Reog Ponorogo Singo Budoyo Mudho  dari tanah air. Begitu pun dengan penampilan  tari dan kostum Papua, yang dibawakan para pelajar Indonesia di Australia dan staf KBRI Canberra, juga tidak kalah menariknya.

Kesenian Reog Ponorogo dan tari asal Papua tersebut, memberi  gambaran kepada publik dunia, khususnya di Canberra, tentang  kebhinekaan Indonesia.

 

Foto: KBRI Canberra

Penampilan Reog Ponorogo seakan-akan menghipnotis pengunjung dibandingkan penampilan peserta lainnya, seperti dari China, India, atau Nepal. Peserta Parade berasal dari berbagai belahan dunia dari Eropa, m Amerika, Timur-Tengah, Afrika dan Asia Pasifik.

Selain panggung budaya, Indonesia juga ikut berpartisipsi dalam Parade yang dilakukan di sepanjang jalan London Circuit yang berada di pusat Kota Canberra. Duta Besar Kristiarto Legowo dan DCM Derry Aman, bahkan memimpin langsung kontingen Indonesia pada parade multi-budaya ini dengan berbaur dengan masyarakat umum. Penampilan Indonesia sangat dielu-elukan dan menjadi sasaran bidikan kamera para penonton.

Kata-kata ‘Wow’ berulang kali terlontar dari para penonton ketika menyaksikan parade Indonesia khususnya para peraga Reog Ponorogo yang dikelilingi para penari staf KBRI yang berpakaian Warok dan Jathil, berlenggak-lenggok memamerkan keindahan gerakan dan kostumnya.

 

Reog Ponorogo merupakan satu dari sejumlah atraksi budaya yang ditampilkan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Canberra, selain Tari Papua, ada juga tari Kuda Lumping, dan  workshop alat musik Rindik khas Bali pada NMF tahun 2019 ini.

Paviliun Indonesia yang dibuka oleh KBRI Canberra juga menjadi salah satu stand yang paling besar dibandingkan kedutaan besar asing lainnya yang ikut NMF.

Menteri urusan Multikultural Canberra, Chris Steel, dan Komisioner untuk International Engagement Kota Canberra, Brendan Smyth menyempatkan diri mengunjungi Paviliun Indonesia yang berada di ASEAN Village.

Acara pembukaan ASEAN Village di NMF tahun ini dihadiri oleh seluruh Duta Besar negara anggota ASEAN di Canberra serta wakil dari Pemerintah Australian Capital Territory. Acara pembukaan ASEAN Village ditandai dengan pemukulan Gong Bali yang memang sudah menjadi alat musik popular di Indonesia. Selain pertunjukan budaya negara anggota ASEAN, ditampilkan juga Joget Berhibur oleh Malaysia, alunan musik petik oleh Filipina, dan tarian tradisional Fhon Khom Khum dari Thailand.

Di Paviliun Indonesia disajikan berbagai barang promosi budaya Indonesia mulai dari daerah Jawa hingga Bali. Beberapa pengunjung terlihat memadati Paviliun Indonesia dan mengambil brosur pariwisata Indonesia yang memang sengaja disediakan. Sambil melihat tampilan video promosi pariwisata, pengunjung juga terlihat bertanya mengenai “10 Bali Baru” destinasi pariwisata Indonesia. Bahkan tidak sedikit pengunjung yang mengaku penasaran ingin berkunjung langsung ke Indonesia untuk mempraktekkan bahasa Indonesia yang pernah dipelajari di sekolah sebelumnya.

Tidak hanya itu, Paviliun Indonesia juga memamerkan dan membagikan sampel berbagai produk-produk Indonesia yang telah merambah pasar Australia, seperti kerajinan rotan, mie instan, bumbu dapur, minuman dalam kemasan, snack, dll. Barang- barang produk Indonesia ini merupakan kerja sama antara Kementerian Perdagangan dengan DWP KBRI Canberra.

Tidak ketinggalan Becak dan Ondel-Ondel Betawi sebagai photo booth menjadi atraksi tersendiri bagi Pengunjung yang hadir untuk selfie atau foto bersama keluarga.

Menurut Duta Besar RI untuk Australia, Kristiarto Legowo, partisipasi Indonesia di NMF bertujuan untuk mempromosikan budaya dan pariwisata Indonesia di kalangan publik Australia.

“Posisi Indonesia sebagai destinasi terfavorit bagi wisatawan, pelajar, mahasiswa serta sukarelawan Australia yang berwisata ke luar negeri setelah Selandia Baru, semakin memotivasi KBRI untuk selalu menggelar berbagai bentuk promosi yang inovatif”, ujar diplomat senior yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di Kemlu RI.

“Setiap kali mengikuti NMF, Tim Parade dan juga Paviliun Indonesia senantiasa menjadi primadona pengunjung”, imbuhnya.

Seorang pengunjung asal Gungahlin, Canberra, Eliza Kikkert (38) yang mengaku tak pernah ketinggalan menghadiri NMF dalam 6 tahun terakhir, menyebut keikutsertaan Indonesia di NMF dalam beberapa tahun terakhir ini semakin menarik dan terbukti telah memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan multibudaya di Canberra.

NMF merupakan ajang perhelatan multi seni-budaya dan makanan serta tarian terbesar di Ibu Kota Australia yang diadakan setiap tahun dan diikuti oleh komunitas dari berbagai negara di dunia. Rata-rata pengunjung yang datang mencapai hampir 300 ribu orang. Partisipasi Indonesia pada ajang multi-seni budaya di Canberra ini sudah menjadi acara tahunan yang selalu ditunggu oleh Publik Australia.***

[pr/sm]

Dubes Yuddy Membersihkan Mobil Imam Mesjid di Kharkiv

Dubes Indonesia untuk Ukraina Prof Dr Yuddy Chrisnandi (tengah) usah sholat di masjid Fatimah, Kharkiv, Ukraina. Foto: Ist.

Oleh Egy Massadiah

USAI melaksanakan shalat Dhuhur digabung ashar di Mesjid Fatimah di kota Kharkiv, Dubes Indonesia untuk Ukraina Prof Dr Yuddy Chrisnandi melihat dari kejauhan seorang tua sedang mencungkil bongkahan salju. Siang itu kota Kharkiv yang berjarak sekitar 570 km dari ibukota Ukraina sedang dilanda salju yang hebat. Yuddy pun serta merta mendekat.

“Ternyata imam mesjid yang tadi memimpin shalat. Mobilnya tertutup salju. Nyaris tak terlihat lagi mobil itu,” kisah Yuddy Chrisnandi kepada Egy Massadiah member executive “Indonesian House Ukraina”.

Spontan Yuddy mengajak tim KBRI yang mendampinginya menyingkirkan bongkahan salju yang menutupi mobil merek Lada keluaran tahun 1980 an itu. Yusra Hadromi (minister conselor KBRI), Gatot Amrih (HOC/Minister KBRI) dan Prabowo Himawan (Staf KBRI bidang sosbud) bergotong royong menolong.

Udara dingin minus 23 derajat celcius tak menghalangi mereka berbagi kebaikan. Alhamdulillah, berkat kerja cepat mobil milik Mufti Mesjid asal suku Tar Tar tersebut pun siap menderu membelah jalanan kota Kharkiv yang tertutup salju tebal.

Sebelumnya, saat masih di dalam mesjid, Dubes Yuddy sempat berbincang singkat dengan Mufti mesjid tersebut. “Saya senang sekali dikunjungi sahabat dari Indonesia. Komunitas muslim di Kharkiv memang tidak banyak. Oleh karena ukhuwah islamiyah di Kharkiv sangat berarti bagi kami,” ujar Mufti sebagaimana yang dikisahkan Gatot Amrih dari KBRI Ukraina.

Dubes Indonesia untuk Ukraina Prof Dr Yuddy Chrisnandi menunaikan sholat. Foto: Ist

Masjid Katedral Kharkiv yang kemudian berubah nama menjadi Mesjid Fatimah ini dibangun tahun 1905 ditepian sungai Lopan. Alamat persisnya di Jalan Yaroslavskaya 31, Kharkív, Kharkívs’ka oblast’. Di masa kekuasaan Uni Soviet di Ukraina, tahun 1936 pemerintahan komunis merobohkan masjid tersebut dengan alasan bahwa bangunan masjid Katedral Kharkiv menghalangi aliran sungai Lopan.

Paska kemerdekaan Ukraina setelah runtuhnya Uni Soviet, masjid ini dibangun kembali di lokasi yang sama oleh komunitas muslim setempat di tahun 1999. Sejak itu, Umat Islam Kharkiv dapat kembali menjalankan ibadah dengan bebas tanpa tekanan dan intimidasi. Mayoritas jemaah masjid ini terdiri dari jemaah muslim Tar tar, Tar tar Krimea dan keturunan Turki. Mesjid ini memiliki daya tampung sekitar 800 jemaah.

Begitulah gerak lincah Dubes Yuddy saat berada di kota Kharkiv. Kehadiran Yuddy Chrisnandi di Kharkiv, merupakan kunjungan pertama Dubes RI sejak 25th hubungan Diplomatik Indonesia Ukraina. Yuddy melakukan dialog dengan Walikota Kharkiv Ihor Terekhov.

“Macam macam kami bahas, khususnya pentingnya kerjasama perdagangan, pendidikan, pariwisata & Sister City. KBRI menilai kota Bandung atau Surabaya cocok menjadi sister city dengan Kharkiv, pintu gerbang Eropa Timur,” papar mantan menteri Pendayagunaan Aparatur dan Reformasi Birokrasi ini.

Yuddy Chrisnandi sedang menyulam kearifan lokal dan nilai nilai luhur ke Indonesiaan dengan paduan orisinalitas khas negara Ukraina. Vibrasinya anak muda berdarah Pasundan ini makin terasa dan juga terasah. Salam hangat dari kota Kharkiv yang sedang berselimut salju. ***

Dubes Indonesia untuk Ukraina Prof Dr Yuddy Chrisnandi (tengah) di dalam masjid Fatimah, Ukraina. Foto: Ist