8 Kawasan Pecinan di Indonesia yang Ikonik dan Sarat Sejarah

JAYAKARTA NEWS – Jejak komunitas Tionghoa sudah menjadi bagian penting dari sejarah kota-kota di Indonesia. Tak hanya meninggalkan warisan budaya, kawasan Pecinan juga berkembang menjadi pusat perdagangan, kuliner, hingga destinasi wisata heritage. 

Setiap perayaan Imlek, kawasan-kawasan ini juga semakin semarak dengan dekorasi khas, serta tradisi yang menghidupkan suasana. Dari barat sampai timur Nusantara, berikut deretan Pecinan ikonik yang punya cerita panjang dan karakter khas.

  1. Glodok – Jakarta

Pecinan Glodok, sumber: jakarta-tourism.go.id

Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, Glodok di Jakarta Barat berdiri sebagai kawasan Pecinan tertua di Indonesia. Sejarahnya tak lepas dari peristiwa Geger Pecinan tahun 1740, ketika warga Tionghoa diwajibkan tinggal di luar tembok Batavia. Meski kini dikelilingi gedung modern, Glodok tetap memancarkan suasana tradisional. Gang-gang sempit, klenteng tua, hingga toko-toko legendaris yang menjual pakaian, elektronik, dan kuliner khas menjadikan kawasan ini hidup oleh sejarah sekaligus aktivitas ekonomi yang tak pernah sepi.

  1. Kya Kya (Kembang Jepun) – Surabaya

Kya Kya Surabaya, sumber: surabaya.go.id

Kawasan Kya Kya di Surabaya, yang dulu dikenal sebagai Handelstraat (jalan perdagangan), sejak lama menjadi urat nadi aktivitas niaga. Nama Kembang Jepun muncul pada masa pendudukan Jepang dan terus melekat hingga kini.

Di sini, pengunjung bisa menemukan bangunan bersejarah seperti Rumah Abu Keluarga Han yang berstatus cagar budaya, serta Klenteng Hok An King, satu-satunya klenteng Dewa Makco di Surabaya. Area ini juga sering diramaikan pertunjukan budaya, dari tradisi Tionghoa hingga musik keroncong. Tak ketinggalan, ragam kuliner khas Pecinan dan Surabaya menjadikannya spot favorit pemburu rasa.

  1. Pecinan Kapasan Dalam – Surabaya

Masih di Surabaya, Kapasan Dalam menawarkan nuansa Chinatown yang kental. Kampung heritage yang diresmikan pada 2020 ini berada di belakang Klenteng Boen Bio. Lampion-lampion merah, mural bertema Dinasti Qing, hingga ornamen naga di gerbang kampung menghadirkan atmosfer khas Tiongkok. Selain wisata visual, kawasan ini juga dikenal dengan jajanan bercita rasa oriental. Menariknya, tradisi sedekah bumi di sini diikuti berbagai etnis, menunjukkan kuatnya harmoni budaya di lingkungan tersebut.

  1. Sudiroprajan (Kampung Balong) – Solo

Pecinan Solo berpusat di Kampung Balong, Sudiroprajan, yang sudah dihuni komunitas Tionghoa sejak abad ke-18. Asal-usul nama “Balong” memiliki beberapa versi, mulai dari kisah sejarah pertempuran, keberadaan kolam besar, hingga nama saudagar Tionghoa yang diyakini sebagai pendiri kampung. Sejak dulu kawasan ini berkembang sebagai pusat perdagangan. Rumah-rumah bergaya arsitektur Tionghoa dan deretan toko menjadikan Sudiroprajan sebagai bagian penting dari denyut ekonomi sekaligus warisan budaya Kota Solo.

  1. Pecinan Kauman – Semarang

Perayaan Cap Gomeh di Singkawang, sumber: eventdaerah.kemenpar.go.id

Tak jauh dari Kota Lama Semarang, kawasan Pecinan Kauman memadukan wisata religi, budaya, dan kuliner dalam satu wilayah. Sejarahnya berkaitan dengan perpindahan komunitas Tionghoa pasca peristiwa 1740. Pemukiman yang semula berada di sekitar Simongan kemudian dipindahkan dan berkembang menjadi kawasan multifungsi. Area seperti Gang Waru (Pecinan Lor), Sebandaran (Pecinan Kidul), dan Gang Pinggir (Pecinan Wetan) tumbuh sebagai pusat aktivitas perdagangan dan budaya, dengan tata ruang yang dipercaya selaras prinsip feng shui.

  1. Bukit Nagoya – Batam

Walau namanya terdengar Jepang, Bukit Nagoya di Batam justru dikenal sebagai kawasan Chinatown. Secara administratif berada di Sungai Jodoh, wilayah ini kini menjadi pusat hiburan dan pertokoan. Komunitas Tionghoa yang tinggal di sini masih aktif beribadah di sejumlah vihara dan klenteng seperti Wihara Duta Maitreya dan Wihara Budhi Bhakti. Kawasan ini juga menyimpan cerita lama tentang jalur penyeberangan tradisional Batam–Singapura.

  1. Singkawang – Kalimantan Barat

Singkawang dijuluki “Kota Seribu Klenteng” dan memiliki populasi Tionghoa yang sangat besar. Nuansa budaya Tionghoa terasa kuat dalam keseharian warganya, terlebih saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh. Festival Cap Go Meh di Singkawang dikenal meriah, lengkap dengan pawai tatung, pertunjukan seni, dan dekorasi kota yang semarak. Tradisi yang terjaga kuat ini menjadikan Singkawang destinasi Pecinan paling unik di Indonesia.

  1. Asia Mega Mas – Medan

Di Medan, kawasan Asia Mega Mas menjadi pusat aktivitas komunitas Tionghoa modern. Wilayah ini terkenal sebagai surga kuliner, terutama saat sore hingga malam hari ketika suasana semakin hidup. Beragam makanan khas Pecinan bisa ditemukan dengan mudah, membuat area ini populer di kalangan pencinta wisata rasa sekaligus spot nongkrong favorit warga kota.

Pecinan di Indonesia bukan sekadar kawasan etnis, tapi ruang hidup yang menyimpan jejak sejarah, akulturasi budaya, dan dinamika ekonomi dari masa ke masa. Menjelajahinya seperti membaca bab-bab penting perjalanan bangsa dalam versi yang lebih berwarna***/mel

6 Kawasan Pecinan di Indonesia yang Wajib Dikunjungi Saat Libur Imlek 2025

JAYAKARTA NEWS – Merayakan Tahun Baru Imlek adalah momen istimewa untuk berkumpul bersama keluarga dan menikmati tradisi budaya.

Di Indonesia, beberapa kawasan pecinan menjadi pusat kemeriahan perayaan Imlek.

Jika Anda mencari destinasi untuk menghabiskan libur Imlek 2025, berikut rekomendasi enam kawasan pecinan terbaik lengkap dengan detail atraksinya.

1. Semarang, Jawa Tengah

Kawasan pecinan di Semarang menjadi tujuan favorit saat Imlek, terutama Klenteng Sam Poo Kong yang ikonik.

Selain menjadi tempat ibadah, klenteng ini menawarkan pengalaman budaya melalui atraksi Barongsai dan bazar produk lokal.

Suasana semakin semarak dengan dekorasi khas Imlek yang memanjakan mata.

Bagi warga Semarang, ini adalah tempat yang wajib dikunjungi untuk merayakan Imlek dengan meriah.

2. Solo, Jawa Tengah

Di Solo, Imlek identik dengan Grebek Sudiro, sebuah tradisi unik yang mencerminkan perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa.

Tahun ini, festival berlangsung dari 27 Januari hingga 22 Februari 2025, dengan pusat kegiatan di Pasar Gede yang dihiasi ribuan lampion.

Jangan lewatkan parade budaya, musik tradisional, dan kuliner khas yang menjadi daya tarik utama.

3. Singkawang, Kalimantan Barat

Sebagai “Kota Seribu Kelenteng,” Singkawang adalah surga bagi Anda yang ingin menikmati perayaan Imlek penuh keajaiban.

Tradisi Cap Go Meh, yang berlangsung di akhir perayaan, menampilkan atraksi Tatung—upacara spiritual yang melibatkan pendekar berjalan di atas bara api.

Seluruh kota dihiasi lampion dan dekorasi merah, menciptakan suasana yang magis dan memukau.

4. Jakarta, DKI Jakarta

Warga ibu kota tidak perlu pergi jauh untuk menikmati kemeriahan Imlek.

Kawasan seperti Petak Sembilan di Glodok, Pacenongan, dan Old Shanghai Kelapa Gading menjadi pusat perayaan.

Anda bisa menemukan Barongsai, pasar malam, hingga kuliner khas Tionghoa.

Selain itu, klenteng-klenteng bersejarah seperti Jin De Yuan menjadi tempat favorit untuk ibadah dan merasakan atmosfer budaya yang kental.

5. Palembang, Sumatera Selatan

Pulau Kemaro, yang terletak di tengah Sungai Musi, menjadi pusat perayaan Imlek di Palembang.

Di sini, Anda akan menemukan Pagoda Hok Ceng Bio dan Klenteng Hok Tjing Rio, yang dihias cantik saat Imlek.

Perayaan dilengkapi dengan pertunjukan seni, Barongsai, dan bazar khas Tionghoa yang menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah.

6. Selatpanjang, Riau

Imlek di Selatpanjang memiliki keunikan tersendiri dengan tradisi Cian Cui, yaitu perang air menggunakan pistol air.

Warga berkeliling menggunakan becak motor sambil bermain air, menciptakan suasana perayaan yang penuh tawa dan kegembiraan.

Tradisi ini hanya ada saat Imlek, menjadikannya pengalaman yang tak boleh dilewatkan.

Keenam kawasan pecinan ini menawarkan pengalaman yang beragam, mulai dari tradisi unik hingga kuliner khas

Pastikan Anda merencanakan perjalanan lebih awal untuk menikmati suasana Imlek yang meriah dan penuh makna.

Gong Xi Fa Cai! Selamat merayakan Tahun Baru Imlek 2025.***/mel