Bincang Buku Sosial Demokrasi di DPRD Malioboro

Buku Sosial Demokrasi karya Imam Yudotomo akan dibincangkan di Ruang Paripurna 2, lantai 2, Gedung DPRD DIY, Jl. Malioboro Kota Yogyakarta, Kamis, 4 Desember 2025, Pkl. 10.00. Peserta terbatas 80 orang dan sudah penuh.

Hadir dua pembicara, Halim HD, pemikir kebudayaan, tinggal di Solo dan Osmar Tanjung, aktivis, tinggal di Jakarta. Sebagai moderator, Sinta Herindrasti, pengajar Program Studi Hubungan Internasional, Fakulatas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Kristen Indonesia, Jakarta.

Diskusi diselenggaraakan kerjasama antara Sastra Bulan Purnama, Penerbit Tonggak Pustaka, DPRD DIY, Abidin Fikri Pandjialam Foundation dan Center For Sosial Democratik Studies (CSDS).

Buku Sosial Demokrasi ini merupakan kumpulan karangan karya Imam Yudotomo, yang menyajikan pikiran-pikiran sosialisme dan demokrasi di Indonesia. Dalam melihat persoalan sosial dan politik di Indonesia, Imam Yudotomo selalu menggunakan perspektif sosialis. Imam, sampai akhir hayatnya memilih sosialisme sebagai jalan hidupnya.

Imam Yudotomo, dilahirkan di Yogyakarta, 12 Mei 1941. Masa sekolah dasar sampai sekolah menengah atas di tempuh di Kota Bogor. Pernah kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) 1959-1962, di Fakultas Hukum Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya 1964-1966 dan Fakultasn Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta 1967-1968, semuanya tidak selesai (drop out).

Sejak remaja Imam sudah aktif dalam gerakan. Pada usia remaja, ia, Imam Yudotomo  sudah bergabung dengan Gerakan Pemuda Sosialis di Bogor dan Bandung. Ketika mahasiswa bergabung dengan Geramakan Mahasiswa Sosialis (GMS), yang kemudian berubah menjadi Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos), baik di Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta, sebagai sekretaris hubungan internasional (1960-1968).

Osmar Tanjung dan Halim HD.

Di panggung internasional Imam mengikuti Youth Exchange Program yang diselenggarakan oleh Interanational Union of Socialist Youth (IUSY) di Austria selama satu tahun (1968-1969). Setelah ditangkap dan dipenjara  karena peristiwa Malari 15 Januari 1974, Imam memimpin Yayasan Taman Karya Bhamti (YTKB), NGO yang bergerak dibidang pengembangan alat-alat pendidikan di Yogyakarta.

Pada tahun 1983 Imam diundang mengikuti Kongres Sosialis International (SI), yang diselenggarakan di Faro, Portugal. Ia juga ambil bagian dalam Socialist Educational International (SEI), sebuah organisasi pendidikan internasional  kaum sosial demokrat yang berpusat di Brussel-Belgia, sebagai sekretaris regional untuk kawasan Asia selama 2 periode (1986-1994).

Selain itu Imam Yudotomo menjadi Sekretaris Dewan Pengurus Sekretariat Bina Desa (1980-1988), koordinator kegiatan petani untuk Asian Cultural Forum on Development (ACFOD),  koalisi NGO tingkat regional yang berpusat di Bangkok (1986-1990) dan menjadi Direktur Center for Social Democtaric Studies (CSDS), lembaga pendidikan untuk mempromosikan sosial demokrasi di Indonesia (1996-2004).

Imam juga ikut membangun Solidaritas Buruh (1998-2004), dan ikut membangun Persaudaraan Warga Tani (2002-2010). Imam juga anggota Badan Pengurus Rukun Tani Indonesia (RTI) (2010-2015). Imam Yudotomo meninggal 27 November 2015 dalam usian 74 tahun. 

Ons Untoro, koorditaror diskusi menyebutkan, buku karya Imam Yudotomo ini, merupakan pikiran-pikiran yang dipresentasikan untuk kepentingan pendidikan diberbagai kelompok masyarakat, tidak hanya di Yogya, dan di beberapa kota di Indonesia. Buku ini penting untuk diterbitkan, setidaknya sebagai bentuk monumen pemikiran Imam Yudotomo.

“Imam Yudotomo sejak remaja sudah memilih sosialisme sebagai jalan pikiran dan hidupnya. Sampai akhir hayatnya, Imam tidak keluar dari pilihan yang sudah diambil,” ujar Ons Untoro. (*)