Film ‘Marlina Si Pembunuh Dalam 4 Babak’ Berawal Dari Kisah Nyata

Salah satu adegan film “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak”.

FILM “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak” adalah cerita yang berdasarkan kisah nyata seorang janda di Sumba, Nusa Tenggara Timur yang memenggal kepala seorang perampok dan membawanya ke polisi. “Ide cerita ini berasal dari Garin Nugroho. Pada 2014, saat itu saya sedang menjadi juri di FFI dan Garin tiba-tiba menemui saya di dalam bioskop,” cerita Mouly Surya yang menyutradarai film “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak” di Jakarta.

Saat itu Garin mengutarakan ide tentang janda yang memenggal kepala perampok kemudian mengajak Mouly bekerja sama untuk membuat film tentang kisah perempuan itu. Mouly pun menceritakan ajakan Garin kepada Rama Adi, dan merekapun setuju dengan ajakan Garin. “Padahal waktu itu kita juga punya proyek, tetapi kita menerima tawaran kerja sama ini karena ceritanya sangat menarik,” jelas Mouly.

Ini bukan kali pertama buat Mouly menggarap sebuah film, sebelumnya Mouly telah melahirkan sebuah karya berjudul fiksi. Dia pun berhasil meraih tiga penghargaan Festival Film Indonesia 2008 untuk kategori film, sutradara dan penulis skenario terbaik untuk film tersebut. Pada 2013 dia pun membuat film tentang hubungan yang tak biasa antara perempuan buta dengan laki-laki tuli dalam film “What They Don’t Talk About When They Talk About Love”.

Meski sudah berkali-kali membuat film Mouly mengaku menggarap “Marlina” tidaklah mudah. “Kata orang kalau sudah membuat film pertama dan kedua, membuat film berikutnya akan lebih mudah, tetapi saya rasa kok ini semakin sulit ya,” ujarnya tertawa. Ada beberapa hal yang dirasa Mouly membuat film ini tak segampang film sebelumnya salah satunya lokasi syuting yang berada di Sumba.

“Selama ini saya tidak pernah syuting jauh-jauh dari Jakarta, seperti film pertama saya berlokasi di Bendungan Hilir begitu juga film kedua saya masih di Jakarta. Biasanya saya syuting di lingkungan yang sempit dan padat, pada film ketiga ini saya harus mengambil gambar lebih luas karena jarak rumah dari satu rumah bisa sampai 20km. Maka kalau kita lihat scene di film ini banyak pemandangan luas, gersang dan tidak ada apa-apa, karena memang seperti itu di Sumba,” kata dia.

Menurut Mouly, lokasi film ini memang tidak dapat digantikan di tempat lain, karena Garin sendiri telah menuliskan cerita tersebut lengkap dengan ikon budaya setempat, salah satunya adalah kuburan batu yang ada di Sumba. “Sejujurnya saya tidak tahu Sumba itu seperti apa, ketika kami ke sana dan melakukan riset saya melihat keindahan sekaligus ketragisan di sana, hal itu juga yang ingin ditampilkan dalam film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak ini,” kata dia.

Rama Adi sebagai produser mengatakan pengambilan gambar film yang akan tayang pada awal 2017 tersebut dilakukan di dua tempat di Sumba dan di Jakarta. “Untuk eksterior kami mengambil di Sumba, sedangkan untuk interior seperti rumah Marlina di lakukan di studio PFN, Jakarta,” kata Rama.

Proyek film yang digarap rumah produksi Cinesurya Pitcures dengan Kaninga Pitcures dan Yisha Production ini dibintangi oleh Marsha Timothy, Dea Panendra, Egi Fedry dan Yoga Pratama.

Dukungan Pemerintah Prancis Film “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak” menjadi film Indonesia pertama yang mendapatkan Aide aux cinemas du monde (pendanaan bagi film di luar Prancis) dari Kementerian Komunikasi dan Kebudayaan dan Kementerian Luar Negeri Prancis yang dikelola oleh Centre National du Cinema et de l’Image Anime (CNC) dan Institut Prancis di Indonesia (IFI).

Subsidi tersebut diberikan melalui mitra ko-produksi asal Prancis yaitu Isabelle Galnchant dariYisha Production, dan memiliki syarat 50 persennya harus dikeluarkan untuk jasa dari Prancis. Setelah Mouly dan kawan-kawan mempresentasikan proyek tersebut di Cinefondation L’Atelier di Cannes Mei lalu, akhirnya mereka pun memilih Isabelle untuk bekerja sama, kemudian film tersebut didaftarkan ke cinemas du monde pada Juli lalu.

Isabelle mengatakan film Marlina tersebut terpilih secara aklamasi oleh 10 orang anggota komite yang dikepalai oleh Charles Tesson, Direktur Artistik pada Semaine de la Critique Cannes Film Festival. “Hal ini jarang terjadi 10 juri menyetujui film yang sama, biasanya pasti ada pilihan berbeda diantara mereka,” kata Isabelle. CNC memasukkan film Mouly ini pada kategori “2d college” yang dikhususkan untuk sutradara yang membuat film ketiga dan seterusnya.

Pada kategori tersebut persaingan mendapatkan dana cinemas du monde semakin sulit karena harus bersaing dengan sutradara-sutradara yang telah berpengalaman. Isabelle Glanchant pun yakin film “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak” dapat diterima di pasar internasional. “Film ini memiliki cerita yang bagus dengan banyak nilai lokal di dalamnya. Selain itu,film ini digarap oleh sutradara yang berpengalaman, artistiknya bagus dan karakter tokoh di dalam film ini sangat kuat,” kata Isabelle yang juga menjadi ko-produser untuk film “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak”.

Produser dari Yisah Production itu yang juga merupakan agen penjual film “Siti” karya Edie Cahyono dan “Istirahatlah Kata Kata” karya Yosep Anggi Noen mengatakan bisa saja orang Indonesia menonton film Indonesia tidak menyadari keunikan dari film tersebut karena menjadi hal yang biasa. “Kalau orang Indonesia mungkin menonton Marlina seperti biasa saja, tetapi untuk penonton internasional bisa jadi itu hal yang luar biasa, yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya,” kata dia.

Menurut dia, produser di Eropa tidak akan mengubah nilai lokal dari cerita film asing, justru mereka ingin nilai-nilai tersebut semakin kuat. ***

Inilah Pemenang FFI 2017

AJANG penghargaan film nasional Festival Film Indonesia (FFI) 2017 digelar malam ini di Manado Sulawesi Utara. Festival Film Indonesia (FFI) merupakan ajang penghargaan tertinggi bagi dunia perfilman di Indonesia. FFI pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955 dan berlanjut pada tahun 1960 dan 1967 (dengan nama Pekan Apresiasi Film Nasional), sebelum akhirnya mulai diselenggarakan secara teratur pada tahun 1973.

Mulai penyelenggaraan tahun 1979, sistem Unggulan (Nominasi) mulai dipergunakan. FFI sempat terhenti pada tahun 1992, dan baru diselenggarakan kembali tahun 2004. Penghargaan FFI merupakan simbol atas usaha keras, kompetisi dan keseriusan setiap peraih penghargaan sehingga siapapun pemenang terpilih akan menjadi kebanggaan perfilman Indonesia.

Berikut daftar pemenang FFI 2017 seperti dikutip dari twitter resmi @ffi_2017

  1. Pemenang kategori Penata Busana Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Gemailla Gea Gerintiana dalam Night Bus!
  2. Pemenang kategori Penata Rias Terbaik Festival Film Indonesia 2017 diraih oleh Cherry Wirawan dalam film “Night Bus”.
  3. Pemenang kategori Penata Suara Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Khikmawan Santosa & Anhar Moha dalam Pengabdi Setan.
  4. Pemenang kategori Penata Musik Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Aghi Narottama, Tony Merle & Bemby Gusti dalam Pengabdi Setan.
  5. Pemenang kategori Sinematografi Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Ical Tanjung dalam Pengabdi Setan.
  6. Pemenang kategori Pengarah Artistik Festival Film Indonesia 2017 adalah Allan Sebastian dalam film Pengabdi Setan.
  7. Pemenang kategori Pencipta Lagu Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah The Spouse dengan Lagu Kelam Malam untuk film Pengabdi Setan.
  8. Pemenang kategori Pemeran Anak Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Muhammad Adhiyat dari Pengabdi Setan.
  9. Pemenang Penyunting Gambar Terbaik Festival Film Indonesia 2017 diberikan kepada Kelvin Nugroho dan Sentot Sahid dalam film Night Bus.
  10. Pemenang kategori Penata Efek Visual Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Finalize Studios dalam Pengabdi Setan.

11.Pemenang kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik dimenangkan oleh Tonny Trimarsanto, sutradara Bulu Mata.

  1. Pemenang kategori Film Dokumenter Pendek Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Wahyu Utami Wati, sutradara The Unseen Works.
  2. Pemenang kategori Film Pendek Terbaik Festival Film Pendek Indonesia 2017 adalah Ruah, arahan Makbul Mubarak.
  3. Pemenang kategori Animasi Pendek Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Lukisan Nafas arahan Fajar Ramayel.
  4. Pemenang kategori Penulis Skenario Asli Terbaik adalah Ernest Prakasa dalam film Cek Toko Sebelah.
  5. Pemenang kategori Penulis Skenario Adaptasi Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Rahabi Mandra dan Teuku Rifnu Wikana dalam film Night Bus.
  6. Pemenang Pemeran Pembantu Pria Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Yayu Unru dalam film Posesif.
  7. Selanjutnya adalah Pemenang Pemeran Pendukung Wanita Terbaik adalah Christine Hakim dalam film Kartini.
  8. Pemenang kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik adalah Putri Marino dalam film Posesif.

20.Pemenang kategori Pemeran Pria Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Teuku RIfnu Wikana dalam film Night Bus.

  1. Pemenang Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Edwin, sutradara Posesif.
  2. Pemenang kategori Film Terbaik Festival Film Indonesia adalah Night Bus! Selamat!!

Dalam Festival Film Indonesia 2017 menganugerahkan Lifetime Achievement Awards kepada salah satu produser wanita: Budiyati Abiyoga. ***

Teuku Rifnu Wikana Gondol Aktor Terbaik FFI 2017

Teuku Rifnu, Aktor Terbaik FFI 2017.

Pria yang akrab disapa Rifnu itu berhasil memenangkan Piala Citra berkat aksinya dalam film Night Bus. Rifnu mengalahkan Adipati Dolken (Posesif), Deddy Sutomo (Kartini) dan Ernest Prakasa (Cek Toko Sebelah).

Rifnu tampil apik dalam Night Bus, sebagai kondektur di bus. Film itu bercerita tentang perjalanan bus yang penuh teror mencekam.

Night Bus merupakan film ke-36 yang dibintangi oler Rifnu. Dia sudah bermain seni peran sejak kelas 4 SD. Di layar lebar, Rifnu mulai menjajak karier pada 2004 dalam film Mengejar Matahari.

“Saya dari kecil dari kelas 4 SD berteater di teater 46 dengan Emil Heradi yang juga sutradara dan sudah beberapa kali nominasi, dan baru kali ini saya bisa mengambil ini (Piala Citra),” kata Rifnu saat konferensi pers usai menerima Piala Citra di Grand Kawanua, Manado, baru-baru ini.

“Mudah-mudahan ini enggak berhenti. Karena dari sini saya semakin dicambuk ya. Ini mengingatkan saya enggak boleh lalai dalam menjalani proses seni peran,” tutur Rifnu.

Dengan capaian ini, Rifnu berhasil menambah borongan Piala Citra untuk Night Bus. Selain Pemeran Utama Pria Terbaik, film itu memboyong lima Piala Citra lainnya yakni kategori Penata Busana Terbaik, Penata Rias Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, Penulis Skenario Adaptasi Terbaik, dan Film Terbaik. ***

Panitia FFI 2017 Dinilai Kurang Transparan Pilih Film “Posesif”

Wina Armada kritisi Film Posesif dalam FFI 2017.

FILM Posesif telah diumumkan menjadi salah satu nominasi film terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2017. Namun, film garapan sutradara Edwin tersebut baru disensor sehari setelah diumumkan sebagai peraih nominasi FFI 2017.

Keputusan ini dipertanyakan oleh komunitas wartawan film dan kebudayaan serta kritikus film. Kinerja panitia FFI 2017 menurut mereka, menunjukkan sejumlah ketidakprofesionalan dan kurangnya transparansi.

“Penyelenggaraan FFI 2017 dibiayai uang negara baik APBN maupun APBD. Oleh karena itu, penyelenggaraan FFI 2017 harus dapat dipantau dan diawasi secara terbuka oleh publik, termasuk kami para wartawan film dan kebudayaan serta kritikus film,” kata juru bicara komunitas, Wina Armada, Selasa (24/10/2017), sebagaimana dikutip Antara.

Wina menjelaskan, keberadaan dan pelaksanaan FFI yang digelar sejak 1955 tidak dapat dilepaskan dari peranan dan kedudukan wartawan film dan kebudayaan serta kritikus film Indonesia. “Dengan demikian, FFI bukanlah milik segelintir orang. Karena itu, kami senantiasa memiliki kepedulian terhadap penyelenggaraan FFI, termasuk terhadap penyelenggaraan FFI 2017,” ucapnya.

Ia memaparkan, dalam syarat film peserta FFI 2017 disebutkan bahwa film peserta FFI 2017 harus sudah diputar di tempat umum berbayar dan menurut UU Perfilman, setiap film yang diputar umum untuk publik harus lebih dahulu lulus sensor dan mempunyai Surat Tanda Lolos Sensor.

“Kami sudah berkali-kali secara terbuka meminta mekanisme sistem ini dijelaskan kepada publik dan apabila ada kekurangan untuk segera diperbaiki, tetapi tidak mendapat tanggapan yang memadai dari Panitia FFI 2017,” ucapnya.

Ia mengemukakan, sepanjang film Posesif masih diikutsertakan dalam FFI 2017, maka panitia dapat dinilai bekerja tidak profesional dan tidak demokratis karena tidak bersedia membuka pintu dialog untuk memperbaiki kekurangan yang ada.

Untuk itu, lanjutnya, komunitas juga meminta aparat hukum terkait menyelidiki dan menyidik kemungkinan adanya perbuatan pelanggaran dalam pemakaian dana dari APBN atau APBD serta mekanisme sistem yang dipakai panitia.

Film Posesif mendapatkan 10 nominasi di Festival Film Indonesia 2017 meski baru tayang di bioskop pada 26 Oktober 2017. Sempat ada pertanyaan yang mengemuka karena menurut aturan yang bisa dipilih adalah film yang sudah ditayangkan sejak Oktober 2016 hingga September 2017.

Sebelum tayang di bioskop besar, film garapan sutradara Edwin itu sebenarnya sudah diputar di bioskop mikro pada September lalu. Produser film Posesif menyatakan tidak ada masalah yang harus diperdebatkan karena mereka tidak menyalahi aturan. “Kita memang sudah dinyatakan memenuhi kualifikasi FFI,” jelas produser Meiske Taurisia usai pemutaran “Posesif” di Jakarta, Kamis (12/10/2017).

Dengan demikian, asosiasi film memang berhak merekomendasikan “Posesif” untuk menjadi nominasi FFI 2017. Menurut Meiske, setiap tahun selalu ada polemik yang berkaitan dengan FFI meski yang diperdebatkan selalu berbeda-beda. Meski demikian, dia berpendapat itu juga suatu pertanda masih banyak orang yang peduli dengan industri film Tanah Air. “Ini bagian dari pendewasaan kita semua di industri film,” imbuh dia.

Beberapa dari nominasi yang didapat Posesif meliputi kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik dan Pemeran Utama Wanita Terbaik. ***