2020, Indonesia Siap Jadi Pusat Fesyen Muslim Dunia

Foto instagram muffest2019

JAYAKARTA NEWS—Industri fasyen Tanah Air berkembang pesat, khususnya fesyen muslim. Tak berlebihan jika disebut kini fesyen muslim Indonesia menjadi prioritas rujukan dunia. The Global Islamic Economy juga menyatakan hal tersebut dalam laporannya. Dikatan bahwa Indonesia Indonesia merupan runner up negara yang mengembangkan fesyen muslim terbaik di dunia setelah Uni Emirat Arab.

Menurut Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto,  selangkah lagi Indonesia dapat berada pada urutan pertama dan menjadi salah satu pusat fesyen muslim dunia.

“Menyongsong tahun 2020 yang hanya tinggal beberapa bulan lagi, kita harus segera mendeklarasikan bahwa Indonesia siap menjadi pusat fesyen muslim dunia pada tahun 2020. Kemenperin siap mengawal untuk mewujudkannya,” kata Menperin Airlangga Hartarto pada Pembukaan Pameran Muslim Fashion Festival (Muffest) 2019 di Jakarta, baru-baru ini.

Mengutip rilis humas Kemenperin, berdasarkan laporan The State Global Islamic Economy, konsumsi fesyen muslim dunia saat ini mencapai 270 miliar dollar, yang diproyeksi terus meningkat dengan laju pertumbuhan sebesar 5% sehingga pada tahun 2023 bakal menyentuh hingga 361 miliar dollar AS. Sedangkan, konsumsi fesyen muslim di Indonesia berada di angka 20 miliar dollar AS dengan laju pertumbuhan 18,2% per tahunnya.

“Peluang pasar fesyen muslim di global maupun domestik masih sangat besar. Untuk itu, harus diisi oleh industri fesyen muslim dari dalam negeri,” kata Airlangga Hartarto.

Foto instagram muffest 2019

Menurutnya, perkembangan jumlah umat muslim dunia menjadi salah satu pemicu utama yang mendorong pertumbuhan industri fesyen muslim. Pada tahun 2018, jumlah populasi umat Islam mencapai 24% dari total penduduk muslim dunia.

Industri fesyen muslim yang merupakan bagian dari sektor industri tekstil dan produk tesktil (TPT), menurut Menperin, memiliki kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional. Ekspor produk TPT nasional mencapai 13,27 miliar dolar AS pada tahun 2018 atau tumbuh 5,4% dibanding tahun sebelumnya sebesar 12,59 miliar dollar AS.

Foto instagram muffest 2019

“Pasar fesyen muslim terbesar adalah ke negara-negara OKI (Organisasi Kerjasama Islam), yakni mencapai 191 miliar dollar AS. Hal ini menunjukkan bahwa kita mempunyai potensi untuk meningkatkan ekspor ke negara-negara OKI,” ujarnya..

Di sisi lain, lanjut Menperin, kinerja industri TPT semakin tumbuh signifikan, dari 3,76% pada tahun 2017 menjadi 8,73% di tahun 2018.

Untuk itu, Menperin memberikan apresiasi terhadap penyelanggaraan Pameran Muslim Fashion Festival. Selain sebagai ajang promosi beragam produk fesyen muslim nasional, diharapkan juga dapat menjadi akses untuk memperluas pasar internasional.

“Melalui kegiatan ini, tentunya akan mendatangkan buyer potensial, kemudian terjadinya business to business. Apalagi adanya desainer muda dari SMK, ini sejalan dengan program Bapak Presiden Joko Widodo terkait pengembangan SDM yang sedang menjadi prioritas, termasuk dalam memacu sektor industri kreatif khususnya fesyen karena masuk dalam Making Indonesia 4.0,” paparnya.

Airlangga melihat bahwa karya cipta anak bangsa sudah punya level yang baik di era digital. Misalnya, produk fesyen, kosmetika, dan perhiasan yang sudah merambah pasar mancanegara. “Di ASEAN, kita jadi yang terbaik dan terkreatif. Bahkan, dengan pasar era digital saat ini, membuka IKM untuk punya peluang yang sama dalam menjangkau pasar lebih luas lagi,” tuturnya.

Lebih lanjut, Indonesia dinilai punya potensi besar dalam pengembangan industri yang berbasis lifestyle atau gaya hidup, termasuk produsen fesyen, kosmetika, dan perhiasan. “Tiga serangkai ini pertumbuhannya mampu di atas 3 persen,” ungkapnya.

Muffest digelar pada 1-4 Mei 2019 di Assembly Hall, Jakarta Convention Center (JCC). Selain Fashion Show, Muffest 2019 akan menghadirkan exhibition (pameran dagang) ritel atau BZC (Business to Customer) dan mengarah pada B2B (Business to Business), fesyen presentation, talkshow, seminar, serta kompetisi desain fesyen.

Dalam sesi fashion show, akan hadir beragam gaya busana muslim karya desainer Indonesia, mulai dari konvensional, kontemporer, hingga syar’i yang mengacu pada Indonesia Trend Forecasting 2019/2020 bertema Singularity. ***/ebn

Indonesia Ditargetkan Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

Muslim Fashion Festival (Muffest) di Jakarta Convention Center,

INDUSTRI busana muslim di Indonesia terus merangkak naik, seiring semakin luasnya pasar komoditas fesyen ini dan meningkatnya jumlah penduduk muslim di dunia. Kementerian Perindustrian mencatat, nilai ekspor produk fesyen nasional pada tahun 2017 mencapai USD13,29 miliar atau naik sebesar 8,7 persen dibanding tahun sebelumnya. “Sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi kiblat fesyen muslim di dunia,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai mendampingi Presiden Joko Widodo pada pembukaan Muslim Fashion Festival (Muffest) di Jakarta Convention Center, kemarin.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai mendampingi Presiden Joko Widodo pada pembukaan Muslim Fashion Festival (Muffest).

Menurut Menperin, Indonesia ditargetkan menjadi kiblat fesyen muslim di dunia pada tahun 2020.  Hal ini sangat beralasan karena saat ini Indonesia menempati peringkat lima besar dari negara anggota  Organisasi Kerjasama Islam (OKI) sebagai pengekspor fesyen muslim terbesar di dunia, setelah  Bangladesh, Turki, Maroko, dan Pakistan. Untuk itu, Kemenperin menargetkan ekspor busana muslim Indonesia bisa meningkat sebesar 10 persen pada  2018 ini. “Untuk menjadi pusat mode muslim dunia, ekspor produk muslim didorong untuk menjadi yang tertinggi di dunia,” tegas Airlangga.

Global Islamic Economy memprediksi pertumbuhan pasar fesyen muslim dunia pada tahun 2020 akan mencapai USD 327 miliar. “Oleh karena iu, kami terus mendorong para pelaku industri fesyen muslim dan para desainer di Indonesia untuk terus berinovasi dan meningkatkan produktivitasnya serta memperkuat brand-nya sehingga mampu menembus pasar ekspor,” paparnya.

Menperin optimistis, industri busana muslim di Indonesia semakin tumbuh dan berkembang sehingga mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap sektor fesyen serta perekonomian nasional. Saat ini, industri busana muslim diproyeksi menyerap tenaga kerja sebanyak 1,1 juta orang dari total 3,8 juta tenaga kerja industri fesyen.

Menperin Airlangga Hartarto di ajang Muslim Fashion Festival.

Pada Muffest 2018, Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) memfasilitasi sebanyak 12 brand fesyen muslim dari berbagai daerah di Indonesia untuk ikut serta dalam ajang tersebut. “Kami menilai event ini telah memberikan kontribusi yang cukup besar dalam menumbuhkan dan mengembangkan industri fesyen muslim nasional terutama dalam melahirkan desainer dan wirausaha baru yang kreatif dan inovatif,” ungkapnya.

Dirjen IKM Gati Wibawaningsih menyampaikan, pihaknya tengah menyusun peta jalan dan rencana aksi yang terintegrasi dari sektor hulu sampai hilir untuk mengembangkan industri fesyen muslim nasional. Beberapa waktu lalu, kami melakukan pertemuan dengan para desainer, asosisasi, pelaku usaha industri fesyen muslim serta akademisi untuk merumuskan langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mewujudkan visi ke depan,” jelasnya.

Sejalan dengan upaya ini, Kemenperin akan memitrakan desainer dengan IKM fesyen muslim dalam membangun brand nasional. “Kami juga akan mengadakan kompetisi fesyen muslim dan memfasilitasi desainer dan industri fesyen muslim pada berbagai event pameran dan fashion show di dalam dan luar negeri sehingga visi Indonesia untuk menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada tahun 2020 dapat terwujud,” ungkap Gati.

Pada bulan Februari 2018, Kemenperin telah memberikan pelatihan dan sertifikasi SKKNI kepada 15 pelaku industri busana muslim di Jawa Barat. Bahkan, untuk memperluas jangkauan pasar produk fesyen muslim, Kemenperin memiliki program e-Smart IKM yang telah dilaunching sejak tahun 2016. “Kami telah bermitra dengan lima marketplace, yaitu Shoppe, Bukalapak, Tokopedia, Blanja.com dan Blibli,” lanjutnya. Pada tahun 2017, Ditjen IKM telah melakukan workshop e-Smart IKM kepada 1.730 IKM dan tahun 2018 akan dilakukan loka karya serupa dengan target dapat menggandeng sebanyak 4.000 pelaku IKM. ***