Ngabuburit Sastra di Yogyakarta

JAYAKARTA NEWS – Bulan Puasa 2025 (1446 H) ada kegiatan menarik di Yogyakarta. “Ngabuburit Sastra” bersama empat penyair kondang. Mereka adalah Cahyaningrum Dewajati, Dedet Setiadi, Syam Chandra, dan Umi Kulsum.

Penampilan mereka menandai kegiatan Sastra Bulan Purnama (SBP) edisi ke-162. Seperti yang sudah-sudah, SBP akan diselenggarakan di Museum Sandi, Kotabaru, Yogyakarta. Hari dan waktu, Sabtu, 15 Maret 2025 pukul 15.30 WIB.

Berikut sekilas profil empat penyair yang akan tampil. Dr Cahyaningrum Dewajati, M.Hum, sehari-hari mengajar Sastra Indonesia, di Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta. Dedet Setiadi, penyair yang sehari-hari dikenal sebagai penyedia pasir dan batu.

Sementara, Syam Chandra, sehari-hari dikenal memiliki usaha produksi bakmi khusus mie ayam, dan anggota Teater Alam, Yogyakarta. Sedangkan, Umi Kulsum, adalah seorang guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Bantul, Yogyakarta.

Mereka telah banyak menulis puisi. Beberapa buku puisii karya mereka bahkan telah diterbitkan.

Dedet Setiadi.
Syam Chandra.

Puisi dan Biola

Selain akan dibacakan oleh penyairnya sendiri, puisi-puisi mereka akan dibacakan oleh para pembaca puisi, yang sudah sering membacakan puisi di Sastra Bulan Purnama.

Mereka yang akan membacakan puisi ialah Agus Suprihono, seorang peulis sastra Jawa. Anes Prabu, penyair muda dan aktor tetater. Deni Angga, Meuz Prazt, seorang perupa. Nunung Rieta, pemain teater. Ratih Alsaira, seorang perupa. Sri Surya Widati, Bupati Bantul periode 2010-2015. Ketia, IKWI (Ikatatn Keluarga Wartawan Indonesia) DIY. Tosa Santosa, pekerja Event Organizer Fashin Show, dan Wahjudi Djaya, pengajar dan penulis.

Dedet Setiadi, sejak SMA tahun 1980-an sudah tinggal di Yogya, namun sehari-harinya tinggal di Ngluwar, Magelang. Aktivitas sehari-harinya dilakukan di Yogya. “Saya lebih banyak berinteraksi dengan kawan-kawan di Yogya. Bahkan sebagian dari mereka mengira saya orang Yogya,” ujar Dedet Setiadi.

Selain dibacakan, Doni Onfire, seorang penggesek biola akan menggubah puisi Dedet dan Umi Kulsum menjadi lagu. Doni memang sudah sering tampil di Sastra Bulan Purnama, dan selalu menggubah puisi menjadi lagu.

“Sudah lama saya tidak tampil di Sastra Bulan Purnama, penampilan saya ditahun 2025 dan pas bulan puasa ini, sekaligus untuk bertemu kawan-kawan yang setia dengan sastra,” kata Doni Onfire.

Umi Kulsum.

Di Yogya ada banyak penyair. Mulai dari usia 20-an hingga 70-an. Dan yang tampil di Ngabuburit Sastra nanti, berrusia antara 50 sampai 60-an tahun.

“Saya ini sesungguhnya masih muda, atau setidaknya merasa masih muda, meski sudah punya cucu,” ujar Dedet Setiadi dan Syam Chandra bersamaan sambil tertawa.

Ons Untoro, Koordinator Sastra Bulan Purnama mengatakan, keempat penyair ini sampai sekarang masih terus menulis puisi. Bagi mereka, menulis puisi adalah kebutuhan, bukan sarana mengais uang. “Kalaupun sekali waktu dapat uang dari puisi, anggap saja rezeki. Yang lebih penting, penyair harus terus menulis puisi untuk membahagiakan dirinya dan orang lain,” kata Ons Untoro. (*)

Penyair Tiga Kota di Bulan Purnama

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Penyair dari tiga kota: Dedet Setiadi (Magelang), Yanti. S.Sastro Prayitno (Semarang) dan Didik Eros Sudarjono (Jombang) akan tampil di Sastra Bulan Purnama edisi 142. Acara itu bakal digelar Sabtu, 15 Juli 2023, pkl. 15.00-18.00 WIB di Museum Sandi Jl. Faridan M Noto No.21, Kotabaru, Kota Yogyakarta. Lokasi persisnya di utara Raminten dan Balai Bahasa Yogyakarta, atau sebelah barat SMA Stella Duce 1, Kotabaru.

Penampilan ketiganya sekaligus untuk meluncurkan buku karyanya. Yanti Sastro Prayitono akan meluncurukan buku kumpulan cerkak berjudul ‘Ing Komplek 21’ dan kumpulan geguritan berjudul ‘Lembaran Anyar’.

Dedet Setiadi

Sedang Didik Eros Sudarjono meluncurkan buku puisi berjudul ‘Rawat Kata, Jaga Budaya’ dan buku geguritan berjudul ‘Piye Jal’. Adapun Dedet Setiadi akan membacakan puisi-puisi terbarunya, termasuk puisi yang terkumpul dalam buku ‘Apokalipsa Kata’.

Selain peluncuran buku terbaru, sebelumnya beberapa buku puisinya di tahun berbeda-beda sudah terbit. Khusus untuk Yanti S. Sastro Prayitno dan Didik Eros Sudarjono, selain menulis puisi juga menulis karya sastra dalam bahasa Jawa yang disebut geguritan dan cerkak.

“Dalam Sastra Bulan Purnama edisi 142 ini saya dan eros akan meluncurkan dua buku, dalam bahasa Jawa, dan Eros buku puisi dan geguritan,” ujar Yanti S. Sastro Prayitno.

Sedang Dedet Setiadi, selalin membacakan puisi yang ada di dalam bukunya, juga akan membacakan puisi karyanya yang tidak ada didalam buku dan termasuk puisi baru, yang belum dipublikasikan.

“Beberapa puisi saya juga akan dilagukan oleh Yupi dengan iringan keybord. Ia memang sudah membuat beberapa puisi saya menjadi lagu,” kata Dedet Setiadi.

Didik Eros Sudarjono

Puisi dan geguritan serta cerkak ketiga penyair tersebut, selain dibacakan sendiri, juga akan dibacakan para pembaca lain. Masing-masing pembaca akan membacakan karya Dedet Setiadi dan Didik Eros Sudarjono. Para pembaca itu ialah Ami Simatupang, Cicit Kaswani, Marjuddin, Harno DP., Novi Indrastuti, Supri Sapta Atmaja, Budi Siswanto, Hisyam Billy, M.Marhaban,  Rizal Eka dan Wicahyati.

Sedang geguritan dan cerkak karya Yanti. S.Sastro Prayitno akan dibacakan dan dipentaskan oleh komunitas Maleti Rinonce, yang anggotanya di antaranya; Ninuk Retno Raras, Endang Wahyuningsih, Endah Sr., Suprihatin, Sudinem, Danik Sekar, Sabatina RW., Anastasia Sunu Murwani dan Robingah.

Yanti S.Sastro Prayitno, selain membacakan karyanya, ia juga akan nembang untuk menghidupkan sekaligus memberi warna dalam pertunjukkan karya-karyanya.

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menyampaikan, bahwa ketiga penyair dari kota berbeda ini masing-masing sudah saling mengenal, dan ketiganya sudah beberapakali tampil di Sastra Bulan Purnama di tahun berbeda-beda.

“Setiap penyair yang pernah tampil membaca puisi, lebih2 meluncurkan buku karyanya, masih terus terbuka untuk tampil sejauh memiliki karya baru, syukur buku baru yang sudah terbit,” ujar Ons Untoro. (pr)

Yanti Sastro Prayitono

‘Apokalipsa Kata’ di 10 Tahun Bulan Purnama

JAYAKARTA NEWS – Bulan Oktober 2021, Sastra Bulan Purnama genap 10 tahun. Untuk mengawali kegiatan merayakan acara, akan diisi peluncuran buku  puisi berjudul ‘Apokalipsa Kata’ karya Dedet Setiadi, penyair dari Magelang, yang akan diselenggarakan secara offline, Sabtu 16 Oktober 2021, pkl, 13.00-15.00 di Tembi Rumah Budaya, Jl. Parangtritis 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantuol, Yogyakarta.

Karena masih dalam situasi pandemi, peserta dibatasi 30 orang dan harus mendaftar. Sampai berita ini ditulis kuota peserta sudah penuh dan tidak bisa ditambah jumlah peserta lagi. Semua  peserta diwajibkan mentaati prokes, dan tidak mengajak teman sehingga tidak memungkinkan menambah peserta lagi.

Dalam peluncuran buku puisi untuk merayakan 10 tahun Sastra Bulan Purnama, selain akan dibacakan puisi2 karya Dedet Setiadi, di antaranya akan dibacakan oleh Sashmyta Wulandari dan Tosa Santosa, akan dialunkan lagu puisi oleh Joshua Igho, penyair dari Magelang. Bahkan disepanjang acara peluncuran buku puisi berlangsung, Joshua Igho akan memainkan piano untuk memberi ilustrasi musik sepanjang acara.

“Saya akan memainkan musik dari awal sampai akhir acara, agar perayaan 10 tahun SBP yang diisi peluncuran buku puisi karya Dedet Setiadi memiliki nuansa musical,” ujar Joshua Igho.

Buku puisi setebal 100-an halaman diterbitkan penerbit Tri BEE dari Magelang, bertindak sebagai kurator, Wicahyanti Rejeki, seorang penyair yang tinggal di Magelang. Ia, Wicahyanti, sudah cukup lama meminta Dedet untuk menerbitkan puisi2 karyanya. Namun karena kesibukan Dedet, sehingga sulit untuk memilih puisi2nya, sehingga sepenuhnya Wicahyanti yang menyeleksi puisi2 Dedet, yang sudah tersebar diberbagai media.

“Membaca puisi-puisi Dedet Setiadi yang jujur (tidak mengada-ada di balik kerumitan jungkir balik diksi) kita akan menemukan  nilai kehidupan yang kadang luput dari  pengamatan,” ujar Wicahyanti.

Selain dibacakan, puisi2 Dedet akan dibincangkan, oleh dua orang penulis, ialah Joko Pinurbo, seorang penyair yang tinggal di Yogya, dan Joni Ariadinata, seorang cerpenis, tinggal di Yogya. Keduanya akan berkelakar dengan puisi Dedet. Atau bisa disebut, bincang puisi oleh kedua penulis tersebut, dilakukan sambil berkelakar, sehingga tidak perlu berkerut kening, tetapi tetap serius dalam membahas puisi.

`Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menyebutkan, bahwa 10 tahun Sastra Bulan Purnama akan diisi dengan beberapa kegiatan, di antaranya penerbitan buku puisi yang diberi judul ‘121 Purnama’, yang menyajikan puisi karya 81 penyair dari berbagai kota di Indonesia. Buku puisi tersebut akan diluncurkan melalui zoom dan waktunya berbeda dengan peluncuran buku puisi ‘Apokalipsa Kata’ karya Dedet Setiadi.

“Para penyair yang puisinya masuk dalam buku puisi 121 Purnama akan membacakan puisi karyanya sendiri dan ditayang secara live melalui youtube,” ujar Ons Untoro.

Dedet Setiadi, seorang penyair yang tinggal di dusun Ngluwar, Pakunden, Magelang, sudah sejak tahun 1980-an menulis puisi. Penyair alumni UNS Solo ini, puisi2nya dimuat diberbagai media baik lokal maupun nasional. Tahun 1987 ia mengikuti Puisi Indonesia 1987 di TIM, Jakarta. Dua buku puisi tunggal karyanya ‘Gembok Sangkala (Forum Sastra Surakarta (2012) dan ‘Pengakuan Adam di Bukit Huka’ (Teras Budaya Jakarta, 2015). Selain itu puisi2nya ada didalam sejumlah antologi puisin bersama. (PR)