Janji yang Tertunda di Bukit Holbung

Pemandangan Danau Toba serta bebukitan diambil dari atas Bukit Holbung Sipege. (Foto Monang Sitohang)

JAYAKARTA NEWS – Akankah hujan ini menjadi penghalang niat wisata ziarahku? Kegalauan itu menyeruak pagi itu, saat menatap hujan rintik membasahi Desa Janji Martahan, Kecamatan Harianboho, Kabupaten Samosir. Aku, dan tiga orang teman yang datang dari Medan, menanti hujan reda dari dalam rumah. “Tak sabar rasanya ingin melihat Danau Toba,” gumam Rahmad, sahabat berbadan tambun.

Demi mendengar gumam Rahmad, Tuhan berbaik hati menghentikan hujan pagi itu. Kami bergegas siap-siap melakukan trip pagi hari itu. Pertama, ziarah ke makam orang tuaku, dilanjut menikmati keindahan alam Bukit Holbung Sipege yang berada di Desa Hariara Pohan, Kecamatan Haroanboho, Kabupaten Samosir.

Sekitar pukul 09.00 WIB, kami bersama salah seorang penduduk setempat, Linggom (19) menuju Bukit Holbung Sipege. Di perjalanan tampak sebuah warung kopi di kaki Bukit Cinta yang berada di Desa Janji Martahan. Tidak hanya itu, kedai itu juga menyediakan spot untuk berfoto. Tak jauh dari sini, tepatnya di Desa Holbung, tak jauh dari masjid tampak warga sedang berbenah membangun warung. Terasa geliat warga mencoba peruntungan dengan membuka kedai kopi dan cemilan.

Di lokasi itu, sudah ada beberapa mobil dan sepeda motor. Dibanding dua kunjunganku terdahulu, maka tampak ada beberapa perubahan di objek wisata camping ini. Misal, di sebelah warung dengan jarak beberapa meter sudah ada fasilitas kamar mandi untuk para pengunjung. Tampak juga tangga stainless menuju Bukit Holbung, jauh lebih baik dari tangga bambu yang ada sebelumnya.

Setapak demi setapak kami meniti tangga sambil menebar pandang ke kiri dan ke kanan, menyapu keindahan panorama yang ada. Dari sisi sebelah kanan menuju ke atas Bukit Holbung Sipege terlihat jelas kampung Sihotang, sebelah kiri Desa Janji Martahan dan semakin tinggi terlihat juga desa-desa yang ada di Kecamatan Harianboho. Sedangkan, jika menghadap lurus ke depan tampak Kota Pangururan yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Samosir. Dan panorama tercantik tentu saja sang danau pujaan, Danau Toba dengan permukaan air yang berwarna biru. Menatapnya, dalam terpaan semilir angin yang sejuk, adalah sebaik-baiknya bertasbih, memuja keagungan Tuhan dengan ciptaannya.

Para pengunjung asal Medan dan salah seorang warga setempat sedang beristirahat di atas Bukit Holbung Sipege. (Foto. Monang Sitohang)

Kami terus mendaki hingga ke Bukit Holbung. Rupanya, kami bukan pengunjung pertama seperti yang kami duga. Sebab setiba di atas, ternyata sudah ada dua tenda terpasang. Rupanya, mereka para turis lokal yang menginap di bukit itu. Makin ke atas, ada lagi kami temukan satu tenda terpasang dengan pemandangan seorang pemuda sedang bersih-bersih sampah di sekitar tenda. “Tidak. Aku tidak sendiri bang. Teman-temanku sedang di atas bukit mengambil foto dan video,” ujar pemuda itu menjawab sapaan kami.

Denny (19) nama pemuda itu. Ia mengaku sudah tiga kali camping di Bukit Holbung Sipege. “Mulai ada perubahanlah….. Terutama dari sisi kebersihan. Setiap kali kami ke sini, kami kumpulkan sampah-sampah yang berserakan lalu kami bawa ke bawah untuk dibuang di penampungan sampah. Kalau tempat ini bersih dari sampah, pengunjung juga akan segan untuk membuang sampah sembarangan,” ujar Denny, bijak.

Denny dan kawan-kawan datang dari Binjau, menempuh perjalanan darat sekitar 10 jam dengan sepeda motor. Jalur yang mereka tempuh melewati Tigaras, menyeberang naik kapal ke Simanindo, lanjut melintasi Pangururan dan berakhir di Bukit Holbung Sipege. “Ada masalah dengan sepeda motor kawan, sehingga kami mengubah rute. Semula kami tidak merencanakan leweat Tigaras, melainkan lewat Panorama Tele. Tapi apa boleh buat….,” keluh Denny.

Denny pun kami tinggalkan dengan aktivitas mulianya memunguti sampah. Di tengah perjalanan, sobatku yang lain, Linggom Sitanggang mengisahkan pengalamannya membawa 45 mahasiswa dari Unimed dan USU ke puncak bukit Holbung paling tinggi. Linggom menambahkan di Kabupaten Samosir sekarang sudah ada bus pariwisata. Jika mau pesan di Kota Pangururan, ada rute-rute menuju objek wisata yang sudah terencana, misalkan Onan Baru, Aek Ranggat, Batu Hobon, Tatea Bulan, Panorama Tele, Air Terjun Efrata dan lainnya sampai ke Bukit Holbung Sipege. Bus itu lewat per dua jam. Jadi pengunjung bisa berhenti di satu titik objek wisata, lalu melanjutkan perjalanan, hingga pulang.

Sampai di satu titik, kami melepas lelah. Berhenti sekadar ambil napas panjang sembari menikmati indahnya alam. Seorang kawan bertanya, “Apa kita lanjut ke atas? Kalau lanjut, bakalan tidak bisa ke objek wisata yang lain.” Mungkin karena pertanyaan itu diluncurkan saat kami melepas letih, karenanya kami spontan menyepakati kesepakatan bulat, “batal ke puncak Holbung”.

Usai melepas lelah, kami pun memunggungi bukit Holbung, berjalan turun sambil menunduk. Bukan kami menyerah kalah, tapi kalau kami tidak hati-hati menapaki tangga turun, bisa-bisa tergelincir. Dalam hati aku bertekad, “Tunggu…. kunjungan berikutnya, aku akan taklukkan Bukit Holbung Sipege untuk mereguk keindahan panorama secara lebih sempurna. Itu janjiku.”  (Monang Sitohang)

Calon pengantin asal Lubuk Pakam, Deli Serdang sedang menuju ke atas Bukit Holbung Sipege untuk melakukan sesi pemotretan pra wedding. (Foto. Monang Sitohang)

Pre-Wed di Bukit Cinta, Camping di Holbung Sipege

Menikmati keindahan Danau Toba dari Dolok Holbung Sipege. Foto: Monang S

DOLOK Holbung Sipege (Bukit Holbung Sipege) merupakan objek tujuan wisatawan yang dalam dua tahun terakhir mulai ramai dikunjungi. Bukit yang terletak di Desa Hariara Pohan, Kecamatan Harian Boho, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara ini dapat ditempuh dengan waktu sekitar enam jam dari kota Medan. Ada dua alternatif jalur menuju bukit indah itu, yakni melalui lintas Medan-Kabanjahe-Tele dan rute lintas Medan-Pematang Siantar-Parapat dengan kapal ferry menyeberang ke Tomok (Samosir).

Dari Kabupaten Kota, Pangururan, Bukit Holbung Sipege berjarak sekitar 20 kilometer yang bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu jam perjalanan menggunakan kendaraan roda dua. Sedangkan dari Kecamatan Harian Boho ke Dolok Holbung Sipege berjarak sekitar 5 Km dan bisa ditempuh dalam waktu 20 menit saja menggunakan sepeda motor.

Saat ini, pengunjung objek wisata Bukit Holbung Sipege umumnya kaum muda, yang bersepeda motor. Di akhir pekan dan hari libur, jumlah pengunjung bisa mencapai ratusan orang. Setelah melihat banyaknya orang berwisata ke bukit Holbung Sipege, Rahman Simbolon (56) tertarik membuka warung makanan dan minuman di kaki bukit.

“Sebagai warung yang pertama buka, hasilnya lumayan. Banyak pengunjung yang mampir sekadar membeli minuman ringan atau makanan di sini,” ujar Rahman kepada Jayakartanews, baru-baru ini. Sudah dua bulan ia membuka warung di kaki bukit itu. Selain menyediakan kopi, teh, air mineral, aneka roti dan pop mie, Rahman juga menyediakan menu berat berupa nasi dan lauk-lauk. “Sayang, di sini susah mendapatkan air, makanya belum bisa jualan macam-macam,” tambahnya.

Di samping berdagang, Rahman juga bertanggung jawab dengan kebersihan sekitar Bukit Holbung Sipege serta ikut mengatur kendaraan para pengunjung. Ia berharap semoga kepala Desa Hariara Pohan bisa mengelola objek wisata itu menjadi Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Setelah itu, desa bisa mengalokasikan anggaran untuk membangun sarana umum untuk para pengunjung, antara lain fasilitas toilet (kamar mandi), tempat-tempat sampah, dan fasilitas penunjang lainnya.

Ada beberapa faktor daya tarik yang membuat Bukit Holbung Sipege mulai diminati wisatawan, antara lain objek wisata alam yang masih baru dan fresh. “Lokasinya cukup strategis untuk berkemah (camping), view-nya bagus,” kisah Widodo (21) pengunjung asal Kota Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang yang sudah tiga kali berkunjung ke Bukit Holbung Sipege. Sayang, tambahnya, masih minim fasilitas umum.

Seorang pengunjung lain, Dwi Novita (20), karyawati swasta di Kota Medan juga memuji tempat itu sebagai objek wisata yang sangat indah. Selama dua tahun terakhir, ia mengaku sudah empat kali berkunjung ke sana bersama teman-teman. Tahun 2015, pertama kali ia mendaki bukit Holbung Sipege, jalanan masih bebatuan, dan belum ada kayu dan bambu untuk pegangan di jalur menanjak. Saat ini, jalan sudah diaspal beton, dan juga sudah dibangun pegangan untuk wisatawan mendaki bukit. “Asal dikelola lebih baik, penduduk tetap ramah-tamah, pasti akan lebih banyak orang ke sini,” ujar Dwi.

Sementara itu, Jani Situmorang (39) warga Desa Holbung yang berdekatan dengan Desa Hariara Pohan mengatakan, di hari libur banyak sepeda motor yang lewat dari Desa Holbung. Yang bermobil juga ada. Di jalan memasukki Desa Holbung menuju lokasi wisata Bukit Holbung Sipege ada Masjid Almubarokah yang acap dijadikan tempat singgah pengunjung, selain untuk sholat juga beristirahat sejenak. Jani menyebutkan, sebenarnya ada objek menarik lain di dekat Desa Holbung yakni sumber mata air yang mengalir langsung ke danau. Bukan hanya itu. Di bagian bawah bukit juga terdapat gua kecil yang berkapasitas kurang lebih 10 orang. Belum banyak yang mengetahui objek gua di situ. Sebab objek gua dan sumber mata air terletak agak tesembunyi. Untuk mencapainya, pengunjung harus menggunakan sampan.

Bukit Holbung Sipege sejatinya bukanlah bukit tunggal, melainkan bukit kembar. Di Desa Janji Martahan juga terdapat satu bukit yang disebut Bukit Cinta. Objek ini lebih sering dijadikan objek foto pre-wedding. Jarak antara Bukit Cinta dan Bukit Holbung Sipege relatif dekat, hanya beberapa kilometer saja. Bukit Cinta teretak di Desa Janji Martahan, sedangkan Bukit Holbung Sipege berada di Desa Hariara Pohan. “Tapi belakangan, Bukit Holbung Sipege lebih terkenal dibanding Bukit Cinta,” ujar Ramlo Sitanggang (45), warga Desa Janji Martahan. ***

Menikmati Dolok (Bukit) Holbung Sipege sambil berkemah. Foto: Monang S.