Tiga Kursus ISI Yogyakarta Lolos Program KMMI 2021

JAYAKARTA NEWS – Sejumlah tiga kursus di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta lolos program Kredensial Mikro Mahasiswa Indonesia (KMMI), yakni Virtual Performing Arts, Performing Arts Organizer, dan Digitalpreneur pada Bisnis Konten. KMMI melahirkan lulusan yang siap bersaing di tengah tantangan dunia yang semakin kompleks. Ini penting untuk mengantarkan bangsa ini menuju Indonesia Emas pada tahun 2045.

Program KMMI diluncurkan oleh Direktorat Belmawa, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud. Tujuannya untuk mempercepat dan mendukung pencapaian program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM ). Program ini mempersiapkan mahasiswa melalui pembelajaran yang merepresentasikan dunia industri yang sedang tren. ISI mengajukan sepuluh program kursus, tiga di antaranya disetujui. Demikian siaran pers ISI di Yogyakarta awal pekan ini.

Ika Yulianti, Koordinator Penyelenggara KMMI ISI Yogyakarta.

Koordinator penyelenggara KMMI ISI Yogyakarta, Ika Yulianti, S.ST., M.Sn. menyampaikan bahwa peserta kursus berjumlah 394 mahasiswa. Rinciannya, 309 mahasiswa ISI Yogyakarta dan 85 merupakan mahasiswa yang berasal dari 45 perguruan tinggi diluar ISI Yogyakarta. KMMI 2021 ISI Yogyakarta dibuka secara resmi pada (9/8) oleh Prof. Dr. M. Agus Burhan, M.Hum selaku Rektor ISI Yogyakarta.

Urgensi dari kursus Virtual Performing Arts adalah adaptasi dari situasi pandemi Covid-19 yang telah berlangsung sejak Maret 2020. Menjaga jarak dan di rumah saja mengharuskan semua kegiatan dilakukan secara daring atau terhubung dengan internet. Maka ‘virtual performing art’ atau pertunjukan seni virtual dipilih menjadi media ekspresi utama bagi pelaku seni di tengah wabah yang masih berlangsung hingga saat ini.

Pelatihan Virtual Performing Art memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar dalam merancang dan melakukan pembuatan atau pertunjukan karya seni secara virtual, yang akan disampaikan oleh tenaga pengajar dari Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta bekerja sama dengan praktisi di luar kampus, yaitu Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).

Kursus performing arts organizer memberikan sebuah konsep dan implementasi aritmatika fuzzy logic berupa pengetahuan, analisis, dan ketrampilan kepada mahasiswa berkaitan dengan seni pertunjukan berbasis spirit colaboration. Aritmatika fuzzy logic merupakan sebuah konsep berpikir berdasarkan nilai, tanggung jawab, dan etika dengan prinsip memetakan suatu ruang input atau bagian-bagian secara integrasi sehingga melahirkan output atau wujud berupa pertunjukan yang berkualitas melalui sumber daya manusia dengan teknologi.

Pengetahuan yang didapatkan setiap peserta diharapkan mampu membekali mahasiswa dalam merancang, mengorganisasi, dan ‘menjual’ suatu produk karya seni pertunjukan yang relevan dengan kebutuhan pasar dan menerapkan paradigma seni pertunjukan sehingga mampu memberikan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan produk performing arts yang baik.

Materi yang ada dalam performing arts organizer yang terbagi menjadi empat tema besar disampaikan oleh para pengajar yang berkompeten dan ahli pada bidangnya serta memiliki banyak pengalaman dalam bidang pengelolaan serta penyelenggaraan seni pertunjukan. Hal lain yang berbeda dari kursus-kursus lain di bidang organizer adalah bahwa kursus ini “mencoba mengelaborasi nilai-nilai sainsteks lokal jenius berbasis seni” dalam setiap materi yang disampaikan kepada peserta.

Kursus Digitalpreneur pada Bisnis Konten memberi perspektif jiwa kewirausahaan bagi mahasiswa dengan kompetensi utama bidang seni media rekam maupun kompetensi bidang lainnya, khususnya bagi mahasiswa yang mempunyai minat mengelola bisnis konten digital. Melalui kursus ini diharapkan mahasiswa mampu memanfaatkan keahlian di bidang film, video, fotografi, dan animasi sebagai peluang bisnis konten pada ekosistem media digital berbasis internet, mampu memanfaatkan ragam platform digital sebagai media distribusi konten yang mendatangkan dampak ekonomi, mampu membuat dan mengelola konten digital baik secara kreatif maupun sebagai bisnis, memiliki kemampuan komunikasi persuasif dan mampu mengembangkan diri sebagai individu maupun tim dalam dunia industri konten digital. (Ernaningtyas)

Peluncuran dan Diskusi Buku “Andesit untuk Bangsa”

Jayakarta News – Sebuah buku biografi seniman besar yang pernah dimiliki Indonesia, akan diluncurkan Rabu, 20 November 2019, pukul 09.30-13.00 di Bentara Budaya, Jl. Suroto, Kotabaru, Yogyakarta. Diskusi diselenggarakan kerjasama Keluarga Besar Hariadi S dan Bentara Budaya Yogyakarta.

Bertindak sebagai narasumber Profesor Dr. M Agus Burhan, Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan Doktor Nasir Tamara, jurnalis senior, anggota Board Yayasan Biennale Jogja dan Ketua Umum Perhimpunan Penulis SATUPENA, dengan moderator Kuss Indarto, Kurator Seni Rupa.

Buku berjudul Andesit untuk Bangsa, itu ditulis oleh jurnalis senior Ireng Laras Sari (69), berkisah tentang kehidupan seniman multitalenta bernama lengkap Hariadi Sumodidjojo atau lebih populer dengan nama Hariadi S.

Ditulis dengan bahasa yang plastis, dilengkapi hasil paper trail (pelacakan dokumen) dan wawancara berbagai sumber utama, Ireng Laras Sari menuliskan perjalanan hidup Hariadi, yang kebetulan adalah ayah kandungnya. Khalayak akan dibawa melanglang ke masa-masa Revolusi di negeri ini, ketika seni rupa, lebih tepat seni lukis, berperan dalam menghadirkan identitas kebangsaan.

Salah satu tokoh pada era itu adalah Hariadi S, yang menurut pengamat seni rupa Agus Dermawan T, Hariadi adalah ikon dalam mazhab seni lukis Indonesia terpenting abad ini yakni mazhab kebangsaan. 

Siapakah Hariadi S? Generasi sekarang mungkin tidak ada yang mengenalnya. Pada era 1950-1970-an, ia dikenal sebagai pelukis, pemahat dan pematung. Profesi yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan perupa.

Hariadi dilahirkan di Ketawangrejo, Grabag, Kutoarjo, 25 Juli 2019. Hidupnya penuh warna, memiliki multitalenta. Ia menulis puisi, bermain drama, melukis, memahat, mematung, pun bermain film. Ia adalah anggota Sanggar Indonesia Muda (SIM) Yogyakarta, juga pendiri Sanggar Selabinangun. Lukisannya beraliran realisme.

Sedangkan karya monumentalnya tersebar di aneka tempat ikonik Indonesia. Antara lain karya relief Bandung Bondowoso di Stasiun Kapal Terbang Adisutjipto, Yogyakarta; relief Ombak Sepanjang Pantai di Samudera Beach Hotel, Palabuhan Ratu, Jawa Barat ; Pesta Pura di Bali, di Hotel Indonesia, Jakarta; dan Flora dan Fauna di Indonesia di Bali Beach Hotel, Sanur Bali. Karya patungnya Perlawanan Jatinegara, berdiri kokoh di depan Gereja Ambon, Jatinegara Jakarta Timur.

Ireng Laras Sari

Akan halnya Ireng Laras Sari, adalah anak ketiga, pasangan Hariadi S dan Sumilah. Lahir di Yogyakarta 20 November 1950. Tahun 1970-an menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia “ASRI” di Jurusan Seni Lukis. Awal 1980-an sampai medio 1990 bekerja sebagai wartawan di Kedaulatan Rakyat dan Minggu Pagi Yogyakarta, kemudian editor di Harian Umum Bernas, Yogyakarta mulai 1990 hingga 1997.

Dengan data lengkap, akurat serta penulisan dalam gaya bertutur (narrative story) buku karya perdananya ini menjadi enak dibaca sejak awal hingga akhir. Tulisan historical account tentang sang ayah, itu dikemas ke dalam karya buku berukuran 16 x 24 sentimeter, dilengkapi ilustrasi foto dan sketsa karya Hariadi S, sebagian berwarna, menjadikan buku ini semakin menarik dan penting selain sebagai monumen juga menjadi ajang pendidikan dalam khasanah seni rupa di Indonesia.

Dalam  diskusi dan bedah buku, demi mendekatkan publik yang hadir dengan sang seniman, akan dipamerkan sebagian kecil karya Hariadi Sumodidjojo. (*/rr)