JAYAKARTA NEWS— Perhelatan Asean International Film Festival Awards (AIFFA) 2025 di Kuching, Sarawak, Malaysia, 12 s d 15 November 2025 makin semarak dengan kehadiran Simon Yam (Yam Tat Wah, 70 tahun), aktor legendaris dari Hong Kong.
Di mana Simon Yam hadir, ia selalu dikerubuti fans fanatiknya. Masyarakat Sarawak tak henti menyapa dan menyambut riang kedatangannya di sepanjang sungai Sarawak yang membentang elok kota di Kalimantan Utara ini.
Membicarakan dirinya adalah kisah ikon dan mitos sejarah sinema Asia.
“Penghormatan besar Simon Yam di AIFFA 2025. Ia simbol ketekunan, disiplin, kesabaran dan dedikasi sinema Asia. Penuh tantangan dan Simon jadi jembatan sinema klasik Hong Kong dan dunia modern,” ujar pengamat film Benny Benke Mashuri yang melawat ke Kuching bersama delegasi Indonesia yang terdiri atas aktor, produser dan sutradara.
Mengawali karir sebagai model dan bintang tv, Simon lalu terjun sebagai pelakon film bergenre laga dan kriminal.
Filmnya bertajuk ‘Full Contact’ (1992) sukses lanjut film ‘PTU’ (2002) yang bagai daya magnetis elok menyihir penonton memenuhj bioskop.
Kemudian ‘Election’ (2005) dan ‘Election 2’ (2006) dimana Simon hadir melawan boss geng Triad.
Lanjut bermain di ‘IP Man’ (2008). Juga tampil memesona di film ‘The Cradle of Life’ yang box office di tahun 2003.
Meski tiada filmnya tayang di AIFFA 2025, tapi kedatangan Simon Yam membetot nurani warga Kuching.
“Teruslah lapar. Itu kiatnya. Simon Yam selalu menginjak bumi dan berendah hati. Dedikasi dan keuletannya luar biasa,” ucap dokter, produser dan aktor dari Magma, Daniel Irawan.
Ini juga diamini Shandy Gasella dari Fox yang asyik mondar mandir terlibat di berbagai festival film seperti di Cannes, Tokyo dan Asean FF di Kuching.
Kemilau dan gemerlap sepuluh negara Asean di AIFFA mampu menghidupkan suasana Kuching, Ibukota Sarawak yang dilambangkan hewan kucing ini.
Pawagam (panggung wayang gambar, bioskop) ramai menayangkan beberapa film peserta.
Dalam keramaian insan film antarbangsa ini, dinobatkan aktor dari Pilipina, Lav Diaz sebagai peraih ‘lifetime achievement award’.
Beberapa juri yang diinisiasi dari Malaysia dan Indonesia (Embie C Noer) plus juri internasional dari Belgia dan Irak dibawah pimpinan Ketua Juri U-Wei H Saari dari Malaysia menetapkan film ‘Mbutik’ yang disutradarai Rizal Wimba dari Indonesia menggaet Asean Spirit Award.
Peraih pelakon pendukung terbaik diraih Imelda Budiman di film ‘Way Back Home’ (Buen) sutradara Andi Bachtiar Yusuf.
Yunita Siregar di film ‘Home Sweet Loan’ pelakon utama wanita terbaik.
Wu Kang Ren di film ‘Abang Adik’ dari Malaysia pelakon utama pria terbaik.
‘Inside the Yellow Cocoun Shell’ dari Vietnam suntingan terbaik.
‘The Gospel of the beast’ dari Pilipina skrip terbaik.
‘Tenement’ dari Kamboja film cerita panjang terbaik.
AIFFA 2025 yang dihelat dua tahun sekali dan bersifat kompetitif ini diikuti sekitar 200an film peserta.
Dengan keunggulan aktor-aktor terbaik ini berjaya ‘menewaskan’ barisan pemeran lain (berita akbar dan tv tempatan Kuching yang berbahasa Melayu).
Memang, AIFFA 2025 adalah ajang temu budaya, cerita, kreatifitas dan linguistik para insan film serumpun diantara 10 negara anggota Asean.
Sampai jumpa di AIFFA 2027. (ipik)