Sekolah-sekolah Gelar Simulasi Belajar dengan Metode Tatap Muka

 Sekolah-sekolah Gelar Simulasi Belajar dengan Metode Tatap Muka

ILustrasi Pendidikan— Kegiatan belajar-mengajar di SMPN 115 Jakarta sebelum pandemi Covid 19—sumber gambar youtube GPIN

JAYAKARTA NEWS— Sejumlah sekolah  sudah memulai melakukan belajar dengan metode tatap muka. Di antaranya sekolah-sekolah di Bekasi, Jawa Barat, seperti SMPN 2 Kota Bekasi, SMP Victory, SMP Nassa, SDN Pekayonjaya VI, SD Negeri Jaticempaka VI, dan SD Al Azhar VI. Pembelajaran tatap muka ini hanya berlangsung empat jam yakni pukul 08.00 – 11.00 WIB.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian memberikan anjuran simulasi protokol kesehatan pada sekolah yang dijadikan sebagai role model untuk proses pertemuan tatap muka. Menurutnya metode simulasi sangat penting, karena situasi dan kondisi setiap tempat sangat berbeda sehingga dibutuhkan peninjauan yang lebih lanjut oleh Gugus Tugas Daerah masing-masing.

Dalam konteks new normal, ada 7 sektor kehidupan yang akan digarap dari Kemendagri beberapa di antaranya yaitu pasar, transportasi publik, hotel, mall, restaurant dan sekolah. Mendagri berharap agar ada petunjuk berupa video yang dapat dijadikan sebagai patokan dasar untuk penerapan protokol kesehatan.

“Kita juga membuat video tentang protokol kita harus menggarap mall, menggarap pasar, dan setelah itu baru model ini protokol ini disampaikan kepada hotel, restaurant dan lain-lain. Setelah itu tiap-tiap daerah menggarap dulu satu atau dua model. Nah itu mereka berlakukan 2 sampai 3 minggu, kalau bagus jalannya dan kemudian tidak ada cluster baru, kemudian baru bertambah lagi direplikasi oleh hotel restaurant lainnya,” tuturnya sebagaimana dikutip dari rilis pers Puspen Kemendagri.

Kemudian, khusus untuk sekolah-sekolah pembuatan videonya juga harus berbeda. Misalkan, sekolah agama seperti pesantren, SMP/SMA Madrasah, atau sekolah yang sistem asrama (Akpol/AAL/AAU/IPDN) video penerapannya mesti sesuai.

“Video protokol yang berbeda-beda karena ini banyak sekali perbedaanya. Ada sekolah yang dia seperti biasa masuk kemudian setelah itu kembali siswanya. Ada juga sekolah yang berasrama ini yang paling rawan. Karena sekali kena akan kena semua, tempat tidurnya, makannya sama-sama. Kemudian termasuk sekolah-sekolah agama seperti pesantren, ini protokolnya harus beda-beda,” jelasnya.

Oleh sebab itu, pemeriksaan secara regular 2 minggu dengan PCR atau rapid test menjadi hal yang dianjurkan oleh Mendagri untuk mencegah terjadinya penyebaran covid-19. Apabila simulasiya menghasilkan perkembangan yang baik, semua taat pada protokol maka program dapat berlanjut. 

“Guru-guru yang masuk sebelumnya mereka rapid baru mengajar, kemudian pemeriksaan secara reguler per-2 minggu dengan PCR atau rapid sebanyak 2 kali,”pungkasnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim juga menuturkan bahwa mereka sedang berusaha yang terbaik terhadap SKB tersebut, agar keresahan orang-tua terhadap anak-anaknya yang belum bersekolah dapat terselesaikan. Ia juga mengapreasiasi atas masukan dan dukungan dari pihak-pihak terkait.

“Terima kasih bapak ibu menteri, deputi dan para Dirjen untuk dukungannya terhadap SKB ini semoga kita dapat melakukan yang terbaik untuk anak dan negara kita,” imbuhnya.***/ebn

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *