Oleh Brigjen Purn MJP Hutagaol (mjph86)
Dalam sejarah Nusantara, para Mpu meninggalkan ajaran luhur yang menjadi pelita perjalanan bangsa. Nilai-nilai itu tidak hanya tercatat dalam kitab kuno, tetapi terus berbicara bagi kehidupan sosial, spiritual, dan kebangsaan kita hari ini.
- Mpu Tantular – Kakawin Sutasoma
Teks:
“Bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa.”
Terjemahan:
Berbeda-beda tetapi tetap satu; tidak ada kebenaran yang mendua.
Makna:
Ajaran ini menekankan bahwa persatuan tidak lahir dari penyeragaman, tetapi dari kemampuan menghormati perbedaan. Bila hati jernih dan tidak berpihak pada pamrih, persatuan akan menjadi kekuatan bangsa.
- Mpu Prapañca – Nagarakrermputagama (1365)
Teks:
“Śīla dhṛti mati buddhi ring prajā, nṛpendra matuha nitya sthiti yoga.”
Terjemahan:
Budi pekerti, keteguhan hati, kecerdasan serta kebijaksanaan rakyat terpelihara apabila pemimpin menetap pada jalan keutamaan.
Makna:
Kemakmuran negeri bertumpu pada keselarasan:
- pemimpin yang lurus dan adil,
- rakyat yang saling menghargai,
- dan darma yang dijunjung bersama.
Keteladanan di atas akan memancarkan kebaikan di bawah.
- Kidung Rumeksa ing Wengi – Tradisi Jawa (abad 16–17 M)
Teks:
“Sumingkir marang ing sambikala, saking geni lan lelara.”
Terjemahan:
Menjauhkan dari segala mara bahaya, dari api dan segala penyakit.
Makna:
Doa ini mengingatkan agar manusia menjaga kejernihan hati, menjauhi langkah yang keliru, dan tetap tenang di tengah hiruk-pikuk zaman. Keselamatan lahir dan batin bermula dari batin yang waspada dan bening.
✦ Puisi Penutup — “Wening ing Jatidiri” ✦
(Puisi orisinal untuk memperteguh pesan para Mpu)
Bahasa Jawa
Weninga atimu, wahai manungsa kang lagi ngupaya,
aja nganti liyep dening rame ing donya.
Kang utama dudu drajat, dudu banda,
nanging sepi ing pamrih lan adoh saka laku ala.
Yen atimu wis bening, dalan bakal cetha,
srawungana wong liya kanthi prasaja.
Ing urip bangsa ojo pecah-belah,
amarga sira lan aku saka Sang Hyang Siji asalé.
Bahasa Indonesia
Tenangkan hatimu, wahai manusia yang sedang mencari arah.
Jangan hanyut oleh riuhnya dunia. Yang utama bukan pangkat atau harta, melainkan hati yang bebas dari pamrih dan jauh dari kejahatan.
Jika hati jernih, jalan menjadi terang. Bergaullah dengan tulus kepada siapa pun. Dalam kehidupan berbangsa, jangan saling merendahkan atau memecah belah—sebab engkau dan aku berasal dari Tuhan yang sama.
Penutup
Ajaran para mpu adalah pangeling, pengingat agar manusia kembali pada jati dirinya.
Ketika hati jernih, pikiran terang, dan tindakan setia pada darma, maka kehidupan pribadi, sosial, dan bangsa akan dipenuhi cahaya yang menuntun.