Kabar
Program SMK Go Global, KP2MI Siapkan 500.000 PMI Trampil Sepanjang 2026-2029
JAYAKARTA NEWS— Menteri P2MI Mukhtarudin menegaskan, peningkatan kualitas calon pekerja migran dari low skill menjadi medium-high skill merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Untuk mendukung visi tersebut, Presiden menugaskan Kementerian P2MI menyiapkan 500.000 Pekerja Migran terampil sepanjang periode 2026–2029 melalui program unggulan (quick win) SMK Go Global.
“Sudah waktunya kita memiliki pekerja migran yang berkualitas. Tidak hanya dari sisi knowledge, tetapi juga memiliki kompetensi teknis dan soft skill yang baik,” ujar Menteri Mukhtarudin dalam pertemuan dengan dari delegasi Universitas Siliwangi (Unsil) dan Universitas Warmadewa (Unwar) di Kantor Kementerian KP2MI, Jakarta, Selasa (21/7/2026), dilansir Humas KP2MI.
Pertemuan ini antara lain membahas strategi peningkatan kapasitas dan kompetensi Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) melalui jalur vokasi, upskilling, dan reskilling.
Turut hadir dalam audiensi tersebut Anggota Komisi VI DPR RI Gde Sumarjaya Linggih dan mantan Anggota Komisi IX DPR RI Nurhayati Effendi.
Delegasi Universitas Warmadewa diwakili oleh Dr. Wayan Rideng (Koordinator Pengembangan Kurikulum Pascasarjana Magister Hukum) dan Komang Putra (Koordinator Kurikulum Ekonomi Pembangunan). Sementara itu, Universitas Siliwangi (Unsil) dihadiri langsung oleh Rektor Prof. Dr. Eng. Ir. Aripin, IPU, serta Kepala Pusat Kerja Sama dan Alumni, Junjun Muhamad Ramdani, Ph.D.
Tahun 2026, jelasnya, target penempatan awal sebanyak 40.000 tenaga kerja. Tahun 2027 & 2028 meningkat menjadi 140.000 penempatan per tahun. Tahun 2029 mencapai puncak target sebanyak 180.000 penempatan.
Skema Pelatihan Berbasis Kebutuhan Pasar
Mukhtarudin menjelaskan, program pelatihan yang berlangsung sekitar 3 bulan mencakup bahasa, kompetensi teknis, dan sertifikasi didesain dengan pendekatan dari hilir ke hulu (market-driven).
Pemerintah memastikan bahwa pembeli atau penyerap tenaga kerja (offtaker) sudah tersedia terlebih dahulu sebelum pelatihan dimulai.
“Orientasi kita adalah penempatan. Jadi bukan dilatih dulu baru dicari kerjanya, tapi offtakernya sudah ada by G-to-G maupun P-to-P yang terintegrasi,” tegas Mukhtarudin.
Sebagai contoh, penempatan untuk sektor hospitality di Turki atau kebutuhan tenaga kerja di Jepang diidentifikasi kebutuhan kompetensinya terlebih dahulu, baru dilakukan sertifikasi dan pelatihan. Dengan skema ini, lulusan pelatihan dipastikan langsung terserap dan tidak menambah angka pengangguran.
“Jadi, indikator keberhasilan kita bukan sekadar berapa banyak yang dilatih, melainkan berapa banyak yang berhasil ditempatkan (output) hingga membawa dampak kesejahteraan (outcome),” beber Menteri Mukhtarudin.
Migrant Center di 23 Perguruan Tinggi
Dalam upaya memperkuat ekosistem penempatan Pekerja Migran terampil, Kementerian P2MI telah meresmikan Migrant Center di 23 Perguruan Tinggi dan 1 Lembaga Pelatihan di Indonesia.
Migrant Center bertindak sebagai pusat pelayanan terpadu di lingkungan kampus yang menyediakan informasi, edukasi, pembekalan, hingga pengembangan kompetensi bagi mahasiswa, alumni, dan masyarakat umum.
Keterlibatan perguruan tinggi dinilai sangat strategis bahkan beberapa kampus seperti Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Hasanuddin (Unhas) telah mendirikan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) secara mandiri untuk mengawal proses penempatan dari hulu ke hilir.
Sebagai langkah konkret, kerja sama antara Kementerian P2MI dengan Universitas Siliwangi dan Universitas Warmadewa difokuskan pada implementasi Tridharma Perguruan Tinggi yang mencakup berbagai aspek strategis.
Sinergi ini diwujudkan melalui pembentukan dan pengembangan Migrant Center di lingkungan kampus sebagai pusat pelayanan terpadu yang menyediakan layanan informasi, edukasi, pembekalan.
“Hingga pengembangan kompetensi bagi mahasiswa, alumni, dan masyarakat umum,” pungkas Menteri Mukhtarudin.
Selain itu, kedua perguruan tinggi juga berkolaborasi dalam bidang pendidikan, pelatihan teknis, serta riset teknologi terapan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja global, di samping menguatkan penelitian ilmiah, pengabdian masyarakat, dan pertukaran data kebijakan guna mendukung perumusan tata kelola migrasi yang lebih baik.
Tak kalah penting, kemitraan ini mendorong pemberdayaan mahasiswa sebagai Duta Migrasi Aman sekaligus agen garda terdepan dalam pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Kehadiran kampus diharapkan mampu memperkuat ekosistem pelindungan dan penempatan Pekerja Migran Indonesia terampil secara berkelanjutan dari hulu ke hilir.
Bahkan, komitmen dunia akademik kian terlihat nyata setelah Universitas Hasanuddin (Unhas), mendirikan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) secara mandiri. (*/di)
