Connect with us

Agribisnis

Produksi Sawit Menurun Ekspor juga Menyusut

Published

on

Ekspor Sawit Mei Naik 49,7 Persen
Crude Palm Oil (CPO)

JAYAKARTA NEWS – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat, produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada Desember 2024 menurun 10.55 persen dibanding November. Produksi CPO akhir tahun 2024 mencapai 3.876 ribu ton. Sedangkan  produksi November 2024 yang mencapai 4.333 ribu ton.

Demikian juga dengan produksi palm kernel oil (PKO) yang anjlok menjadi 361 ribu ton dari 412 ribu ton pada November. Dengan demikian, produksi CPO tahun 2024 mencapai 48.164 ribu ton sedangkan PKO sebesar 4.598 ribu ton.

“Secara total produksi CPO dan PKO tahun 2024 mencapai 52.762 ribu ton yang lebih rendah 3,80 persen dari produksi tahun 2023 sebesar 54.844 ribu ton,” ujar Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono dalam keterangan resminya, Kamis (6/3/2025).

Di sisi lain, kata Mukti, total konsumsi CPO dan PKO pada Desember 2024 mencapai 2.187 ribu ton. Jumlah konsumsi lebih tinggi dari November yang mencapai 2.030 ribu ton. Kenaikan konsumsi terjadi untuk pangan, biodiesel dan oleokimia.

Gapki menyebutkan, Secara total tahun 2024, konsumsi untuk pangan mencapai 10.205 ribu ton, lebih rendah 0,90 persen dari konsumsi tahun 2023 sebesar 10.298 ribu ton. Konsumsi oleokimia 2.207 ribu ton, lebih rendah 2,69 persen dari 2.268 ribu ton pada tahun 2023.

Sedangkan konsumsi untuk biodiesel 11.447 ribu ton; lebih tinggi 7,51 persen dari 10.647 ribu ton pada 2023, sehingga secara total konsumsi tahun 2024 sebesar 23.859 ribu ton yang 2,78 persen lebih tinggi dari konsumsi tahun 2023 sebesar 23.213 ribu ton.

Mukti mengatakan, total ekspor produk sawit pada Desember 2024 mencapai 2.060 ribu ton; lebih rendah 21,88 persen dari ekspor bulan November 2023 sebesar 2.637 ribu ton.

“Penurunan terbesar terjadi pada ekspor ke India sebesar 246 ribu ton, diikuti China sebesar 39 ribu ton. Secara tahunan terjadi penurunan ekspor sebesar 2.680 ribu ton yaitu dari 32.215 ribu ton pada tahun 2023 menjadi 29.535 ribu ton,” papar Mukti.

Penurunan terbesar terjadi untuk tujuan China sebesar 2.381 ribu ton, India sebesar 1.136 ribu ton, serta Bangladesh, Malaysia, USA sebesar dan EU dalam jumlah yang lebih kecil.

“Sedangkan yang mengalami kenaikan terbesar adalah Pakistan sebesar 486 ribu ton dan Timur Tengah sebesar 164 ribu ton, sedangkan Rusia dan beberapa negara lain naik dengan jumlah yang lebih kecil,” ujar Mukti.

Gapki mencatat nilai ekspor sawit yang dicapai pada tahun 2024 adalah US$ 27,76 miliar (Rp 440 triliun), yang lebih rendah 8,44 persen dari ekspor tahun 2023 sebesar US$ 30,32 miliar (Rp 463 triliun).

“Penurunan nilai ekspor terjadi untuk semua jenis produk kecuali oleokimia, meskipun dari dari segi harga FOB rata-rata dalam US$/ton semua produk mengalami kenaikan,” jelas Mukti.

Dengan produksi, konsumsi dan ekspor demikian, stok CPO dan PKO diakhir tahun 2024 sebesar 2.577 ribu ton yang lebih rendah 18,06 persen dari stok akhir 2023 sebesar 3.145 ribu ton.

Dengan mempertimbangkan kecenderungan produksi dan konsumsi dalam negeri khususnya kebijakan penggunaan biodiesel serta mempertimbangan kecenderungan harga serta suplai dan demand minyak nabati dunia, produksi minyak sawit Indonesia diperkirakan mencapai 53,6 juta ton, konsumsi diperkirakan mencapai 26,1 juta ton termasuk untuk biodiesel B40 sebesar 13,6 juta ton.

“Dengan perkiraan tersebut ekspor diperkirakan akan turun menjadi 27,5 juta ton yang lebih rendah dari ekspor tahun 2024 sebesar 29,5 juta ton,” pungkas Mukti. (yer)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *