Pelajaran dari Tania dan Mamahnya

 Pelajaran dari Tania dan Mamahnya
Mamah Koestiwa, kelahiran 1926. Penderita stroke yang giat beribadah.

JUMAT 1 Desember 2017, tanggal berwarna merah, dan itu merupakan kebahagiaan tersendiri bagi mereka yang ingin berakhir pekan. Tanggal merah memeringati  Kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi kemarin disambut senang semua orang. Sementara saya sendiri tak punya rencana jalan-jalan apalagi pergi ke pusat belanja. Saya hanya punya janji silaturahmi ke seorang teman yang tinggal di Pasar Minggu, Komplek Bea Cukai.

Bersama seorang teman kami berkunjung ke rumah teman SMA. Hampir tengah hari kami tiba di rumah yang tenang di komplek yang masih terlihat tertata rapi ini. Maklum di rumah itu hanya berisi seorang ibu sepuh, teman saya Tania, serta seorang asisten rumah tangga.

Kami memutuskan berkunjung ke rumah Tania karena teman ini tidak bisa meninggalkan rumah lama sebab ia punya tanggung jawab mengurus ibunda tercinta yang berumur 91 tahun. Saat kami bertiga baru saja melepas kangen karena lama tak bertemu, terdengar suara Mamah Koestiwa ibunda Tania memanggil. Kami pun diajak Tania melihat Mamah di kamarnya. Akhirnya perbincangan tiga teman lama pun terjadi di kamar sambil melihat bagaimana Tania merawat ibunya.

Kata Tania, ia bersyukur pasca stroke beberapa tahun lalu, sekarang ibunya sudah bisa makan seperti biasa. Bak, perawatan yang cekatan Tania sekali bicara tegas mengingatkan ibunya untuk menghabiskan makanan yang sudah disiapkan. “Alhamdulillah mamah sekarang sudah mendingan. Untuk bisa makan dengan normal Mamah harus latihan terus. Kadang-kadang Mamah tanpa sadar lupa bagaimana menelan. Jadi kita harus ingatkan supaya lidahnya dijulurkan dan makanannya ditelan,” jelas Tania. Melihat bagaimana Tania menyuapi ibunda tak ubahnya melihat seorang ibu yang sedang menyuapi bayi saat belajar makan.

Mamah Koestiya, usia 91 tahun.

Usai makan, Mamah minta buang air kecil. Tania dengan sabar menuntun Mamah ke kamar kecil. Menurut Tania ia harus melakukan itu setiap ingin buang air kecil maupun besar. “Mamah kalau siang hari tidak pakai diapers, biar jalan ke kamar kecil sekaligus untuk latihan menahan pipis. Diapers dipakai kalau malam hari saja,” cerita Tania anak bungsu dari delapan bersaudara ini.

Meski sudah renta, Mamah Koestiwa tak pernah mau melewatkan salat lima waktu. Telinganya masih awas jika mendengar suara adzan. Jika waktu salat tiba, Tania akan mengganti celana dalam Mamah, menyiapkan kursi, sajadah dibentangkan di depan kursi. Tania memakaikan mukena kemudian duduk di samping Mamah. Istri pensiunan pegawai Bea Cukai ini pun melakukan ibadah dipandu Tania. Tania hanya perlu menyebut awal saja selanjutnya Mamah bisa melakukannya. Semisal, sebelum salat Tania berkata di samping telinga Mamah qomat, maka Mamah Koestiwa akan melantunkan qomat. Begitupun surat Al-Qur’an yang harus di baca, dipilihkan oleh Tania. Ia cukup menyebut awal surat saja kemudian Mamah akan melanjutkan hingga akhir. Sesekali Tania membenarkan ucapan Mamah.

Saya dan teman, hanya bisa melongo takjub. Tak menyangka seorang Tania bisa mengurus ibundanya seperti itu. Juga takjub pada semangat Mamah Koestiwa dalam beribadah.

Dalam hati hanya bertanya bahkan cenderung malu. Mamah yang sudah renta saja bisa sangat bersemangat menjalankan ibadah. Mamah adalah sosok yang taat menjalankan ibadah salat. Mamah tentunya pengikut Rasulullah yang baik dengan semangat beribadahnya. Mamah juga sudah menampar saya untuk ingat selalu bahwa tiang agama yaitu salat harus ditegakkan hingga akhir hayat. Seperti yang sudah mamah contohkan. Meski banyaknya cobaan yang telah dilalui Mamah Koestiwa termasuk terkena stroke, tetap melakukan ibadah seperti dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW. Dibandingkan usia Rasulullah yang hanya berusia 60an Mamah Koestiwa sudah mendapatkan bonus usia panjang.

Menurut Tania ia bersyukur masih punya ibu yang berumur panjang dan rajin ibadah. Sebelum kena stroke ibunya masih suka jalan pagi. Olahraga itu rajin dilakukan dan sekarang Tania meneruskan olahraga jalan pagi. Hingga saat ini Tania tetap memberikan sayur dan buah yang dihaluskan untuk menjaga nutrisi ibunya.

Tak heran jika Mamah Koestiwa memiliki fisik yang terbilang terawat meski sudah usia senja. Hal ini jadi pelajaran buat saya dan teman. Menjaga makanan dan olahraga bisa memberikan harapan usia lebih panjang. Seperti diutarakan Djoko Maryono, Dokter Spesialis Internis dan Kardiologis ada dua hal yang membuat lansia gampang jatuh sakit, penuaan sel tubuh dan akumulasi gaya hidup ketika muda.

Poin penting dari hidup sehat dengan makanan sehat dan olahraga dapat melambatkan terjadinya penuaan sel-sel tubuh. Gaya hidup itu mencakup pengaturan pola makan, ditambah dengan olahraga dan istirahat cukup. Jika gaya hidup selagi muda tidak teratur, maka proses kerusakan sel di usia tua lebah cepat terjadi.

Djoko menyarankan  seseorang sebaiknya mengonsumsi antioksidan sejak masa produktif. Tujuannya, untuk menjaga kebugaran sel dan organ tubuh hingga tua. Jika sudah memasuki usia lanjut maka untuk mengatasi permasalahan asupan makanan bisa diatasi dengan mengonsumsi suplemen khususnya yang mengandung vitamin C yang baik untuk pencernaan. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *