Pasar Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Ditaksir Mencapai Rp 611 Triliun

 Pasar Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Ditaksir Mencapai Rp 611 Triliun

Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang dikembangkan BPPT. (Foto; BPPT)

JAYAKARTA NEWS – Pasar sistem pengisian kendaraan listrik pada tahun 2030 ditaksir mencapai nilai 42,62 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 611,051 triliun, demikian laporan  Allied Market Research.

Dalam laporan bertajuk  “Pasar Sistem Pengisian Kendaraan Listrik berdasarkan Jenis Produk, Mode Pengisian, dan Tingkat Tegangan Pengisian: Analisis Peluang Global dan Prakiraan Industri, 2021–2030”, tersebut disebutkan, pasar sistem pengisian kendaraan listrik global  senilai $4.269,6 juta pada tahun 2020, dan diproyeksikan mencapai $42,623 miliar pada tahun 2030, dengan mencatat compound annual growth rate (CAGR) sebesar 26,2% dari tahun 2021 hingga 2030.

Laporan tersebut memberi gambaran bagaimana Asia-Pasifik mendominasi pasar saat ini, yang diikuti oleh Eropa, Amerika Utara, dan LAMEA.

Untuk kawasan  Asia-Pasifik, China mendominasi pasar sistem pengisian kendaraan listrik pada tahun 2020, dan diperkirakan akan mempertahankan dominasinya selama periode perkiraan.

Faktor utama yang mendorong pertumbuhan adalah pertumbuhan produksi kendaraan listrik, peningkatan adopsi kendaraan listrik karena inisiatif pemerintah, dan peningkatan permintaan kendaraan rendah emisi dan hemat bahan bakar diharapkan dapat mendorong pertumbuhan sistem pengisian kendaraan listrik.

Namun demikian patut dicatat bahwa, tingginya biaya kendaraan listrik dan tingginya biaya infrastruktur pengisian kendaraan listrik, telah  menahan pertumbuhan pasar. Kedepan,  pengembangan teknologi pengisian nirkabel dan penggabungan Vehicle-To-Grid (V2g) EV Charging Stations, akan memberikan peluang pertumbuhan yang menguntungkan bagi para pebisnis yang beroperasi di pasar sistem pengisian kendaraan listrik.

Allied Market Research menyebutkan, ada peningkatan yang signifikan dalam permintaan dan produksi kendaraan listrik dalam beberapa tahun terakhir karena kendaraan listrik memiliki beberapa keunggulan dibandingkan mobil bertenaga bahan bakar.

Komponen seperti sabuk kipas, oli, filter udara, peti mati, timing belt, kepala silinder, dan busi tidak memerlukan penggantian, sehingga lebih murah dan efisien untuk mobil bertenaga bahan bakar. Hal ini membuat kendaraan listrik menjadi pilihan yang lebih disukai, yang pada gilirannya membatasi pasar mobil bertenaga bahan bakar. Dengan demikian, pertumbuhan produksi kendaraan listrik mendorong pertumbuhan pasar sistem pengisian kendaraan listrik.

Pemerintah berbagai negara mengambil inisiatif untuk mendukung adopsi kendaraan listrik untuk memenuhi standar konsumsi bahan bakar dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Misalnya, pemerintah Jepang menyiapkan kebijakan kendaraan listrik pada Agustus 2018 untuk kerja sama yang lebih baik dan kelancaran transisi di industri otomotif. Selain itu, telah memulai inisiatif bernama Faster Adoption and Manufacturing of hybrid and Electric Vehicles II (FAME).

Kabarnya, insentif tersebut akan diberikan untuk mempromosikan manufaktur lokal kendaraan listrik. Dengan demikian, inisiatif pemerintah tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan pasar kendaraan listrik dan sistem pengisian kendaraan listrik.

Bensin sebagai bahan bakar fosil bukanlah sumber energi terbarukan dan diproyeksikan akan habis di masa depan. Untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, penting untuk mengembangkan dan menggunakan sumber bahan bakar alternatif.

Hal ini  melibatkan penggunaan kendaraan listrik yang tidak menggunakan gas dan lebih ekonomis daripada kendaraan konvensional. Kendaraan listrik mengubah lebih dari 50% energi listrik dari jaringan menjadi tenaga di roda, sedangkan kendaraan bertenaga gas hanya berhasil mengubah sekitar 17% -21% energi yang tersimpan dalam bensin. Dengan demikian ada penghematan lebih dari 50% jika kendaraan listrik yang dipergunakan.

Permintaan untuk kendaraan hemat bahan bakar telah meningkat akhir-akhir ini karena kenaikan harga bensin dan solar. Hal ini disebabkan semakin menipisnya cadangan bahan bakar fosil dan tumbuhnya kecenderungan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal dari cadangan minyak tersebut. Dengan demikian, faktor-faktor ini menimbulkan kebutuhan akan kendaraan bertenaga listrik untuk perjalanan, yang pada gilirannya diharapkan dapat mendorong pertumbuhan pasar sistem pengisian kendaraan listrik.

Kendaraan listrik lebih menguntungkan dibandingkan kendaraan konvensional; namun, biayanya lebih tinggi daripada kendaraan tradisional. Biaya tambahan untuk membeli kendaraan listrik daripada kendaraan bertenaga bahan bakar terutama disebabkan oleh tingginya biaya baterai. Keterlibatan proses manufaktur yang mahal dan penggunaan bahan baku yang mahal adalah alasan utama tingginya biaya kendaraan listrik.

Dengan demikian, faktor-faktor ini menambah biaya kendaraan listrik, dan menahan pertumbuhan kendaraan listrik, yang pada gilirannya menghambat pertumbuhan pasar sistem pengisian kendaraan listrik. Namun harus diakui, datangnya pandemi COVID-19, berdampak pada aliran pendapatan yang dialokasikan untuk R&D dan adopsi teknologi baru. Situasi itu menjadi tandangan, mengingat Covid-19 berdampak pada terjadinya  penutupan berbagai fasilitas manufaktur dan penundaan pengirimanproduk.  (Allied Market Research /sm)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *