Connect with us

Kabar

PARADOCS #2 — RUN WILD

Published

on

Pameran Seni Rupa di Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki

Taman Ismail Marzuki (TIM) kembali menyajikan pameran seni rupa PARADOCS, sebuah program pameran tahunan yang menempatkan seni sebagai ruang eksplorasi terbuka, dialog kritis, dan percobaan pemaknaan. Edisi kedua tahun ini bertajuk RUN WILD, dan diselenggarakan di Galeri Oesman Effendi, menghadirkan seniman lintas generasi dari berbagai pendekatan visual, latar pendidikan, proses kreatif, dan basis komunitas seni.

Pameran ini diselenggarakan bertepatan dengan ulang tahun TIM di bulan November dan momentum Hari Pahlawan, menjadikan pameran ini juga ruang refleksi: bahwa seni—seperti perjuangan—adalah peristiwa keberanian untuk melampaui batas yang mapan.

Paradocs: Seni sebagai Para-Document

Dalam gagasan kuratorial yang dirumuskan oleh Firman Lie, Paradocs diposisikan bukan hanya sebagai judul, melainkan cara membaca seni.

Paradocs berasal dari frasa para-document—sebuah posisi yang berdiri di sisi dokumen, bukan menggantikannya. Dalam pengertian ini, karya seni tidak diperlakukan hanya sebagai arsip atau catatan formal, tetapi sebagai peristiwa yang hidup: sesuatu yang bergerak, bernegosiasi, dan berevolusi bersama konteks sosial, budaya, politik, dan batin pencipta.

Paradocs mengusulkan bahwa seni dapat dibaca bukan hanya melalui representasi yang terlihat, tetapi melalui nuansa, intuisi, vibrasi gagasan, dan ketaksaan yang justru membuka ruang interpretasi yang lebih luas.

Run Wild: Kejujuran Estetik dan Otonomi Kreatif

Tema RUN WILD dipilih untuk menegaskan posisi mental dan estetis para seniman yang terlibat. Run Wild bukan sekadar “liar”, tetapi keberanian untuk jujur—untuk bekerja di luar formula, melampaui sistem yang ketat, dan keluar dari rutinitas produksi seni yang homogen.

Di tengah kota seperti Jakarta yang ritmenya cepat, hirarkis, dan penuh struktur sosial—keliaran kreatif menjadi cara bertahan, bahkan cara merawat kesehatan intelektual dan emosional seniman.

Sebagaimana disampaikan kurator:

“Run Wild bukan ajakan untuk chaos—melainkan ajakan untuk tetap jujur pada proses, intuisi, kegelisahan, dan kebebasan batin. Sebab di balik keteraturan institusi dan sistem, seni tetap membutuhkan ruang liar untuk bernapas.”

Taman Ismail Marzuki: Memori, Masa Kini, dan Tantangan Baru

Sejak berdirinya pada tahun 1968, TIM merupakan tonggak sejarah seni modern Indonesia: ruang berkumpulnya pemikir, perupa, penyair, aktivis teater, dan seniman dari berbagai disiplin. TIM adalah ruang yang dibangun untuk seniman dan oleh seniman.

Namun pasca revitalisasi fisik (2020–2022), muncul diskursus baru:

• Apakah TIM masih menjadi ruang dialog, bukan sekadar venue?

• Bagaimana peran TIM di tengah munculnya ruang-ruang independen baru?

• Mampukah TIM menampung eksperimentasi radikal sebagaimana sejarahnya?

Paradocs #2 — Run Wild hadir untuk membuka kembali percakapan itu.

Komposisi Peserta: Membaca Ekosistem Seni Jakarta Hari Ini

Paradocs #2 menghadirkan komposisi peserta yang mencerminkan lanskap seni rupa Jakarta hari ini.

Para perupa yang terlibat berasal dari dua ekosistem berbeda namun saling melengkapi: seniman akademis dari Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan seniman independen dari komunitas Perupa Jakarta (Peruja). Pertemuan ini bukan sekadar penyandingan nama, tetapi percobaan kuratorial yang mempertemukan dua tradisi berpikir dan berkreasi. Di satu sisi, IKJ membawa disiplin akademik—melalui struktur, metodologi, eksperimentasi terarah, dan kajian estetika formal. Di sisi lain, Peruja hadir dengan semangat otonomi, kebebasan berekspresi, spontanitas, serta praktik seni yang tumbuh dari pengalaman langsung dan dinamika komunitas. Ketika dua pendekatan ini berada dalam ruang yang sama, pameran menjadi laboratorium terbuka: tempat metode bertemu intuisi, teori bertemu pengalaman, dan sistem formal bertemu energi liar yang tidak dibatasi institusi. Komposisi ini memungkinkan Paradocs #2 tidak hanya menjadi pameran karya, tetapi juga cermin bagi ekosistem seni Jakarta—yang terus berubah, dinegosiasikan, dan dipertanyakan.

Paradocs sebagai Program Berkelanjutan

Pameran ini dirancang sebagai program berkala di TIM, dengan fungsi:

• Menjadi ruang dialog seni lintas generasi dan disiplin;

• Memberikan ruang dokumentasi alternatif (para-document) bagi perkembangan seni Jakarta;

• Menghidupkan kembali fungsi TIM sebagai ruang pemikiran, bukan sekadar venue pameran.

Paradocs bukan hanya pameran—tetapi metode membaca, menulis, dan merawat ekosistem seni.

Paradocs #2 — Run Wild mengundang publik untuk mengalami seni sebagai ruang kemungkinan, bukan kesimpulan. Di tengah struktur kota yang cepat berubah, pameran ini mengingatkan bahwa:

“Seni hidup bukan karena ia tercatat, tetapi karena ia terus bergerak.”

Pameran terbuka untuk umum pada:

25 November — 1 Desember 2025

Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement