Panggung ‘Broadway’ Java Jazz 2019 Dimeriahkan 100 Musisi

 Panggung ‘Broadway’ Java Jazz 2019 Dimeriahkan 100 Musisi

Ilustrasi pagelaran Java Jazz di Kemayoran–foto mildspot com

Ilustrasi pagelaran Java Jazz di Kemayoran–foto mildspot com

Java Jazz 2019 segera digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Jumat hingga Minggu mendatang (1-3 Maret). Untuk penyelenggaraan tahun ini, 100 musisi akan meramaikan ajang tahunan besutan Java Festival Production tersebut.

“Jumlah musisi asing ada 35, Indonesia ada sekitar 65. Tahun ini, tema yang dipilih ‘Broadway’ karena Java Jazz adalah event tahunan yang harus selalu ada penyegaran. Java Jazz adalah edisi regenerasi bagi penonton 18-34 tahun ” ujar Dewi Gontha, Direktur Utama Java Festival Production, dalam konferensi pers di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (27/2/2019).

Angka 100 penampil tak beda jauh dari tahun lalu, yang juga diisi 100-an musisi asing dan lokal. Jumlah panggung pun tetap sama, 11 buah.

Dewi Gontha, Direktur Utama Java Festival Production–foto ipik

Festival bertajuk asli Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2019 ini memang sudah memasuki tahap konstan dan mature (dewasa), jika mengikuti istilah Dewi.

Seperti jumlah traffic, yang sudah konstan pada kisaran 110 ribu hingga 115 ribu dalam tiga tahun belakangan ini. Dewi tak menggunakan istilah “penonton” atau “tiket terjual”, melainkan “traffic” karena tiket Java Jazz bisa dibeli harian atau terusan.

Rahasianya adalah perubahan strategi dalam mengincar pangsa pasar. Dua tahun terakhir, Java Festival Production menampilkan artis muda yang populer di kalangan milenial dan gen Z. Tahun lalu ada Daniel Caesar, tahun ini ada Raveena dan H.E.R.

“Dua tahun ini kami melebarkan target audiensi untuk mengejar teman-teman yang lebih muda. Tahun lalu kami berhasil, tahun ini mengejar target yang sama,” jelas Dewi.

Regenerasi penonton diperlukan agar festival ini bisa bertahan hidup. Penonton setia Java Jazz yang mengikuti festival ini sejak tahun awal, kini beranjak tua dan matang.

Itu jadi salah satu faktor mengapa Java Jazz bisa bertahan di tahun ke-15. “Kami cukup bangga bisa jadi festival yang bertahan selama 15 tahun dan konstan,” ungkap perempuan bernama asli Dewi Allice Lydia Gontha ini.

“Kami bisa bertahan 15 tahun karena sponsor dan penonton,” lanjut Dewi. Biasanya, untuk pembelian awal, tiket Java Jazz dijual jauh lebih murah daripada membeli pada tanggal yang sudah dekat dengan hari penyelenggaraan.

Sponsor masuk untuk melakukan subsidi terhadap harga tiket. “Saya sudah pernah merasakan mengerjakan event yang sponsornya kurang. Akhirnya jatuh bangun,” keluh Dewi.

Selama 15 tahun ini, tentu saja berbagai kendala pernah membayangi Java Festival Production. “Hal paling mudah (diingat, red.) adalah, tiba-tiba hujan. Pasti dimaki-maki. Kalau di luar, saya pernah ngetes, kalau hujan, penontonnya tenang-tenang saja. Di sini, penonton kita jauh lebih sensitif,” ungkap Dewi. (pik)

 

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *