• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Nyi Ageng Tegalreja: Srikandi Penjaga Marwah Kasultanan Yogyakarta

Nyi Ageng Tegalreja: Srikandi Penjaga Marwah Kasultanan Yogyakarta

March 11, 2026
BP3MI DIY Latih 80 Calon Pekerja Migran Indonesia Siap Tembus Pasar Kerja Global

BP3MI DIY Latih 80 Calon Pekerja Migran Indonesia Siap Tembus Pasar Kerja Global

October 22, 2026
Presiden Instruksikan Usut Tuntas Keterlibatan Manusia dan Korporasi dalam Karhutla

Presiden Instruksikan Usut Tuntas Keterlibatan Manusia dan Korporasi dalam Karhutla

October 21, 2026
Film Laut Bercerita: Tentang Keberanian, Persahabatan dan Kehilangan

Film Laut Bercerita: Tentang Keberanian, Persahabatan dan Kehilangan

October 21, 2026
Tinjau Penanganan Karhutla Tahura R Soerjo, Khofifah Tekankan  Keselamatan Petugas dan Relawan

Tinjau Penanganan Karhutla Tahura R Soerjo, Khofifah Tekankan  Keselamatan Petugas dan Relawan

October 21, 2026
Dari Batas Sungai Mississippi, Amerika “Menggambar Garis”

Dari Batas Sungai Mississippi, Amerika “Menggambar Garis”

October 21, 2026
Jagung SPHP Rp5.000 per Kilogram di Gudang, BULOG Perkuat Dukungan bagi Peternak

Jagung SPHP Rp5.000 per Kilogram di Gudang, BULOG Perkuat Dukungan bagi Peternak

October 21, 2026
Usung Filosofi Keluarga Indonesia Sejahtera, BULOG Luncurkan ‘Beras Kita Medium’

Usung Filosofi Keluarga Indonesia Sejahtera, BULOG Luncurkan ‘Beras Kita Medium’

October 20, 2026
Semester I 2026, Multiplier Effect BULOG Melesat Rp48,54 Triliun

Bantuan Beras Tahap III 2026, Bulog Siapkan 15,68 Juta Kilogram untuk Warga DIY

October 20, 2026
Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

October 20, 2026
Kardinal Suharyo Sambangi IKN, Romo Yos Tegaskan Peran Gereja dalam Masa Depan Bangsa

Kardinal Suharyo Sambangi IKN, Romo Yos Tegaskan Peran Gereja dalam Masa Depan Bangsa

October 20, 2026
Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir pada Almarhum Subagyo H.S di Mabesad

Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir pada Almarhum Subagyo H.S di Mabesad

October 20, 2026
WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

October 20, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Thursday, October 22, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kabar

Nyi Ageng Tegalreja: Srikandi Penjaga Marwah Kasultanan Yogyakarta

by admin
March 11, 2026
in Kabar
0
Nyi Ageng Tegalreja: Srikandi Penjaga Marwah Kasultanan Yogyakarta
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Supriyadi, S.Fil

Kang buyut tan kenging pisah/ Sinambi winulang iki/ Langkung kerta Tegalreja/ Mapan kabeh tiyang Prapti/ Samya angungsi tedhi/ Ingkang santri ngungsi ngelmu/ Langkung rame ngibadah/ Punapa dene wong tani/ Henengena kawarnaga ing Ngayogya//

(Babad Dipa Negara, Pesan HB I kepada Nyai Ageng Tegalrejo)

Sejarah sering ditulis dalam dominasi maskulinitas, di mana wanita sering hanya digambarkan dalam terminologi dapur, sumur, kasur atau kanca wingking. Namun, jika kita menyelami relung sejarah Jawa lebih dalam, kita akan menemukan sosok-sosok perempuan yang bertindak sebagai peggerak roda peradaban.

Salah satu tokoh yang tidak boleh kita lupakan adalah Nyi Ageng Tegalreja. Ia bukan sekadar nenek bagi Raden Mas Ontowiryo (Pangeran Dipanegara); ia adalah arsitek spiritual dan intelektual yang membentuk watak sang pemimpin perang terbesar di tanah Jawa.

Silsilah dan Sanad: Darah Pejuang, Jiwa Santri     

Nyi Ageng Tegalreja lahir dengan nama Niken Ayu Yuwati, setelah menikah dengan Raden Mas Sujana ia dikenal dengan nama Raden Ayu Beruk, dan setelah diangkat sebagai permaisuri Sultan Hamengkubuwono I, disebut sebagai Gusti Kanjeng Raden Ayu Kadipaten atau Ratu Ageng.

Beliau lahir di Sragen pada tahun 1732 M. Ia merupakan putri dari Kyai Ageng Derpoyudo, seorang ulama besar di Sragen. Silsilahnya bersambung dengan Kiai Ageng Datuk Sulaiman alias Kiai Sulaiman Bekel Jamus, putra Sultan Abdul Qahir dari Kesultanan Bima yang bertahta di Sumabawa(1621-1640). Nyai Ageng dikenal sebagai santri yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan kepesantrenan.

Silsilah keguruannya pun menarik untuk disimak. Nyi Ageng tidak hanya terdidik dalam tata krama keraton (ngadi busana, ngadi laku), tetapi juga menyelami kedalaman tasawuf. Ia adalah penganut tarekat Syatariyah, yang menggabungkan nilai-nilai kejawen dengan syariat Islam yang murni.

Syattariyah adalah tarekat yang didirikan oleh Syekh Sirajuddin Abdullah asy-Syattar dari India. Setelah populer di Makkah, persaudaraan kaum sufi itu dibawa ke Nusantara oleh Syekh Abdurrauf as-Singkili.

Di tangan salah satu muridnya yakni Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, Syattariyah menyebar di Tanah Jawa, termasuk di lingkungan Keraton Yogyakarta. Kiai Muhammad Kastuba dari Pesantren Alang-Alang Ombo, Bagelen, disebut-sebut sebagai ulama yang membaiat Ratu Ageng Tegalrejo.

Silsilah Keturunan Kyai Ageng Derpoyudo

Sebagai murid Syattariyah yang terbiasa mengutamakan nilai-nilai spiritual di atas kemewahan duniawi, situasi keraton yang sedemikian rupa memaksa wanita tersebut-saat itu berusia lebih dari enam puluh tahun-untuk hidup menepi di Tegalrejo, sebuah kawasan sepi yang berkat sentuhan tangannya berubah menjadi area persawahan dan kampung santri.

Keputusan itu termasuk memboyong Pangeran Diponegoro yang sudah ia asuh sejak berada di kadipaten. Usia sang pangeran kala itu tujuh tahun.

Sebelum sawah-sawah dibuka dan rumah dibangun, Ratu Ageng Tegalrejo tinggal di sebuah pondok (pacangkraman). Di lingkungan barunya, ia menjalani hidup layaknya sufi. Babak baru dalam hidup Ratu Ageng Tegalrejo, juga suasana tempat tinggalnya yang permai dan religius tergambar dalam dua bait syair Babad Dipanagara berikut.

Kangjeng Ratu winarni/
pan tetanen remenipun/
sinambi lan ngibadah/
kinarya namur puniki/
lampahira gen brongta marang Yang Sukma.
langkung kerta Tegalreja/
mapan kathah tiyang prapti/
samya angungsi tedhi/
ingkang santri ngungsi ngelmu/
langkung ramé ngibadah/
punapa déné wong tani.

(Kami ceritakan Ratu Ageng:
betapa ia senang bertani
bersama dengan tugas rohani
ia kerjakan tanpa pamrih
di jalan cintanya pada Hyang Sukma.
Tegalrejo jadi sangat sejahtera
karena banyak orang datang
semua mencari makan
[sedang] santri mencari ilmu
di sana banyak amal dan doa
terlebih pada petaninya.)

Selain keluarga keraton, sejumlah tokoh agama juga tinggal di Tegalrejo, di antaranya Kiai Badaruddin, komandan korps Suronatan sekaligus pakar sistem pemerintahan Kerajaan Ottoman, Turki. Korps Suronatan adalah kelompok keagamaan bersenjata yang merupakan bagian dari kesatuan militer di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Lain itu, Ratu Ageng Tegalrejo kerap mengundang ulama ke kediamannya, di antaranya Syekh Taptojani, ulama asal Sumatra yang piawai menerjemahkan naskah-naskah Islam yang sulit, Kiai Hasan Besari asal Tegalsari, Ponorogo, dan Syekh Abdul Ahmad bin Abdullah al-Ansari, ulama Jeddah yang menikah dengan putri Pangeran Blitar I.

Ratu Ageng Tegalreja

Sumbangsih Nyai Tegalreja bagi Martabat Ngayogyakarta\

  • Menginisiasi Prajurit Estri Langen Kusuma: Peran Ratu Ageng Tegalreja (atau Nyai Ageng Tegalrejo) sangat sentral dalam sejarah militer perempuan di Jawa, terutama melalui pembentukan korps prajurit perempuan yang dikenal sebagai Prajurit Estri atau Langen Kusuma.
  • Pasukan ini tidak hanya sekadar pengawal upacara, tetapi memiliki kemampuan militer yang mumpuni, termasuk kemahiran dalam berkuda, memanah, dan menggunakan senjata api. Pasukan Langen Kusuma yang dibentuknya diakui oleh pengamat asing (seperti utusan Belanda dan Inggris) sebagai salah satu pasukan perempuan paling disiplin dan tangguh pada masanya.
    • Mentor Militer Pangeran Diponegoro: Sebagai nenek buyut yang membesarkan Pangeran Diponegoro di Tegalrejo, beliau menanamkan ilmu agama sekaligus ilmu kesaktian (kanuragan) serta nilai-nilai perjuangan kepada sang cucu. Karakter pejuang Diponegoro dalam Perang Jawa sangat dipengaruhi oleh didikan beliau.Penyokong Logistik dan Strategi: Di Tegalrejo, beliau mengelola lahan pertanian yang subur untuk mendukung kemandirian ekonomi dan logistik yang nantinya menjadi pondasi kekuatan awal pasukan Diponegoro. Simbol Perlawanan Perempuan: Langkah Nyi Ageng Tegalrejo tersebut memang merupakan strategi “perlawanan budaya” yang sangat efektif. Dengan meninggalkan keraton yang sudah terkontaminasi pengaruh kolonial, beliau berhasil menciptakan kantong perlawanan spiritual dan intelektual di Tegalrejo. Di sana, beliau tidak hanya mengajarkan Diponegoro cara bertani, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemandirian dan asketisme (hidup sederhana). Tegalrejo berubah menjadi pusat pertemuan para ulama dan tokoh masyarakat yang tidak puas dengan kebijakan Daendels maupun Raffles. Hal ini menjelaskan mengapa ketika Perang Jawa pecah, Pangeran Diponegoro memiliki basis massa yang sangat kuat di kalangan rakyat jelata dan kaum santri, karena ia dibesarkan langsung di tengah-tengah mereka, jauh dari kemewahan feodal keraton yang saat itu mulai tunduk pada asing.
Prajurit Estri Langen Kusuma. (ilustrasi: https://hayudottie.staff.uns.ac.id/)

  • Tradisi Lisan “Tata Krama Tegalrejo”

Beliau merumuskan standar etika yang berbeda dari keraton yang sudah terkontaminasi kolonial. Beliau mengajarkan penggunaan Bahasa Jawa Krama Inggil yang dipadukan dengan sikap merakyat (bertani), yang kemudian menjadi identitas budaya bagi para pengikut Diponegoro.

Serat Amir Hamzah (Dok. British Library)

  • Melahirkan karya sastra yang monumental

Hikayat Amir Hamzah, manuskrip jawa tertebak 3000 halaman tersimpan di British Library. manuskrip Menak Amir Hamza merupakan sebuah naskah kuno dari Jawa, tepatnya Yogyakarta yang masuk dalam proyek digitalisasi dan telah diunggah secara daring. Naskah kuno Serat Menak Amir Hamza, ditulis dalam aksara Arab (pegon) dengan tinta hitam di atas kertas Jawa (dluwang). Berdasarkan kisah dari Arab-Persia, versi dalam bahasa Jawa telah ditambahkan dengan narasi mengenai putra dan cucu Amir Hamza.

Dokumen ini berasal dari Keraton Yogyakarta dan ditulis untuk Ratu Ageng Tegalreja (sekitar 1730-1803), yang merupakan istri Sultan Hamengku Buwono I, sultan pertama Yogyakarta, dan juga ibu Sultan Hamengku Buwono II.

Dalam pengantar dokumen tersebut, ia disebut sebagai Prabu Wanodya / Kang Jumeneng Ratu Agung / Kang Ngedhaton Tegalreja. Dokumen ini disalin antara tahun 1792 dan sebelum tahun 1812, saat diambil oleh pasukan Inggris dari istana Yogyakarta (dalam peristiwa Geger Sepehi). Namun, waktu yang tepat untuk menyelesaikan penyalinan dokumen ini tidak diketahui. Dokumen ini dibuat dari jenis kertas Jawa, dluwang, yang terbuat dari kulit pohon murbei kertas.

Hegemoni Maskulin dan Kaburnya Jejak Perempuan

Mengapa sejarah kita didominasi laki-laki? Hal ini terjadi karena penulisan sejarah (historiografi) pada masa lalu lebih memfokuskan pada aspek peperangan fisik dan diplomasi formal. Perempuan sering kali ditempatkan sebagai “pendukung” (konco wingking), padahal dalam realitas sosiologis Jawa, perempuan adalah pemegang otoritas ekonomi keluarga dan penjaga moralitas.

Minimnya tokoh perempuan dalam buku sejarah bukan karena ketiadaan peran, melainkan karena ketiadaan pencatatan. Nyi Ageng Tegalreja adalah korban dari narasi ini; namanya sering kali hanya muncul sebagai catatan kaki dalam biografi Dipanegara, padahal tanpa bimbingannya, Dipanegara mungkin hanya akan menjadi pangeran keraton yang larut dalam budaya dansa-dansi ala Belanda.

Perempuan Jawa: Dari Penguasa Mataram Kuna hingga Era Modern

Sejarah Jawa sebenarnya adalah panggung bagi perempuan-perempuan perkasa. Di era Jawa Kuna, kita mengenal Ratu Shima dari Kalingga yang memerintah dengan keadilan tanpa kompromi, atau Pramodhawardhani yang mampu merajut rekonsiliasi politik melalui pembangunan Borobudur.

Memasuki era pertengahan, muncul sosok seperti Ratu Kalinyamat yang ditakuti Portugis karena armada lautnya. Lalu ada prajurit perempuan Nyai Adisara di era Mataram Islam. Namun, seiring masuknya pengaruh kolonial yang membawa patriarki kaku Barat, peran perempuan mulai tersudut ke area domestik.

Tokoh-tokoh seperti Nyi Ageng Tegalreja, Nyi Ageng Serang, hingga Kartini dan Cut Nyak Dhien sebenarnya adalah “anomali” yang melawan arus zaman untuk memutar kembali roda peradaban. Mereka membuktikan bahwa di balik kelembutan etiket Jawa, tersimpan semangat baja dari Perempuan-perempuan Jawa yang tak bisa dipatahkan.

Akhir Hayat Nyai Tegalreja

Pada bulan September tahun 1803 GKR Ageng terpeleset tercebur di tambak ikannya, malamnya hingga berhari hari beliau mengalami demam tinggi. Atas perintah Sultan Hamengkubuwana II, beliau akhirnya dibawa ke lingkungan Kraton Yogyakarta tepatnya di Ndalem Kadipaten kediaman pribadi beliau.

Saat itu Gunung Merapi meletus, diikuti letusan Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Tepat pukul 15.00 tanggal 17 Oktober 1803 G.K.R Ageng ing Tegalrejo wafat. Keesokan harinya dengan upacara kebesaran Kraton Yogyakarta, jazadnya dimakamkan di Astana Kasuwargan, komplek makam Keluarga Kraton Yogyakarta di Pajimatan Imogiri Yogyakarta. (*)

Tags: nenek pangeran diponegoronyi ageng tegalrejapenjaga marwah keraton yogyakarta
Share197Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
BP3MI DIY Latih 80 Calon Pekerja Migran Indonesia Siap Tembus Pasar Kerja Global

BP3MI DIY Latih 80 Calon Pekerja Migran Indonesia Siap Tembus Pasar Kerja Global

October 22, 2026
Presiden Instruksikan Usut Tuntas Keterlibatan Manusia dan Korporasi dalam Karhutla

Presiden Instruksikan Usut Tuntas Keterlibatan Manusia dan Korporasi dalam Karhutla

October 21, 2026
Film Laut Bercerita: Tentang Keberanian, Persahabatan dan Kehilangan

Film Laut Bercerita: Tentang Keberanian, Persahabatan dan Kehilangan

October 21, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version