Connect with us

Kabar

Nadi Digital Dunia di Bawah Selat Hormuz

Published

on

Infrastruktur Fiber Optik, Konektivitas Finansial Global, dan Ancaman Pemutusan

Oleh : Heri Mulyono

Di bawah permukaan Selat Hormuz, melintas ribuan kilometer kabel serat optik yang menjadi tulang punggung konektivitas digital dunia — dari transaksi perbankan global hingga sistem pembayaran SWIFT — dan ancaman pemutusan kini menjadi bencana tak terbayangkan bagi peradaban modern.

Lebih dari Sekadar Jalur Minyak

Selat Hormuz selama ini dikenal luas sebagai urat nadi energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak bumi global melewati jalur sempit ini setiap harinya. Namun, di kedalaman dasar lautnya, tersimpan rahasia yang jauh lebih halus namun tak kalah vitalnya: jaringan kabel serat optik bawah laut yang menjadi penopang utama aliran data digital dunia.

Menurut International Telecommunication Union (ITU), sekitar 95 hingga 99 persen seluruh lalu lintas internet internasional — mencakup panggilan suara, streaming video, transaksi keuangan, komputasi awan, hingga komunikasi militer dan diplomatik — berjalan melalui kabel serat optik bawah laut. Bukan satelit. Bukan gelombang radio. Melainkan untaian serat kaca dan baja yang tidak lebih tebal dari selang kebun, yang membentang sepanjang 1,5 juta kilometer melintasi dasar samudra.

Di Selat Hormuz, kabel-kabel itu membentuk koridor digital tersendiri. TeleGeography, lembaga riset infrastruktur telekomunikasi global berbasis di Washington D.C., memetakan sejumlah sistem kabel aktif yang melintas atau berada di dekat selat ini, antara lain: SEA-ME-WE 4 (South East Asia – Middle East – Western Europe 4), I-ME-WE (India – Middle East – Western Europe), AAE-1 (Asia – Africa – Europe 1), IMEWE, EIG (Europe India Gateway), dan sistem FALCON. Kabel-kabel ini menghubungkan Asia Selatan, kawasan Teluk, Afrika Timur, dan Eropa dalam satu jaringan data berkecepatan tinggi.

Alan Mauldin, Direktur Riset di TeleGeography, mencatat satu fakta teknis penting: seluruh kabel yang melintasi Selat Hormuz diletakkan di perairan Oman — bukan perairan Iran — karena izin pemasangan kabel tidak pernah diberikan oleh Tehran akibat ketegangan geopolitik yang sudah berlangsung lama.

Koridor Digital yang Menjadi Chokepoint

Dalam dunia telekomunikasi, istilah chokepoint merujuk pada titik geografis sempit yang menjadi tempat konsentrasi lalu lintas data. Selat Hormuz kini diakui sebagai chokepoint digital global, setara dengan fungsinya sebagai chokepoint energi. Bersama Laut Merah yang menampung sekitar 17 kabel bawah laut lainnya, kedua jalur ini secara bersama-sama membawa sebagian besar lalu lintas data antara Eropa, Asia, dan Afrika.

Kekhawatiran ini menguat menyusul eskalasi konflik di kawasan Teluk sejak awal 2026. Pada 3 Maret 2026, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Dalam waktu kurang dari dua minggu, lalu lintas kapal tanker di selat ini anjlok lebih dari 95 persen. Bersamaan dengan itu, kelompok Houthi di Yaman kembali melancarkan serangan di Laut Merah, menciptakan untuk pertama kalinya dalam sejarah kondisi di mana kedua chokepoint tersebut tertutup secara bersamaan.

“Menutup kedua chokepoint secara simultan akan menjadi peristiwa yang mengguncang dunia secara global,” demikian pernyataan Doug Madory, Direktur Analisis Internet di firma intelijen jaringan Kentik, sebagaimana dikutip Rest of World (Maret 2026).

Kondisi ini juga langsung memengaruhi proyek-proyek infrastruktur digital besar yang sedang berjalan. Meta dan mitranya terpaksa menghentikan sementara pengerjaan proyek 2Africa Pearls di bagian Teluk Persia — sebuah ekstensi dari sistem kabel bawah laut 2Africa yang dirancang menjangkau lebih dari 3 miliar manusia. Proyek WorldLink, yang menggabungkan segmen kabel bawah laut dari Abu Dhabi ke Irak Selatan dengan jaringan darat lintas Turki, juga dinyatakan tidak layak secara komersial akibat krisis ini.

Infrastruktur yang Tipis tapi Mengangkut Triliunan Dolar

Secara fisik, kabel serat optik bawah laut tampak sepele. Diameternya hanya beberapa sentimeter, dengan bagian inti berupa serat kaca mikroskopis yang terbungkus lapisan baja dan polimer pelindung. Namun di dalamnya, dalam hitungan detik, mengalir data bernilai triliunan dolar.

Yang paling kritis dari semua itu adalah sistem keuangan global. Jaringan SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication), yang memfasilitasi pengiriman pesan transaksi antarbank di lebih dari 200 negara, beroperasi di atas infrastruktur kabel bawah laut ini. Selain SWIFT, sistem CHIPS (Clearing House Interbank Payments System) dan CLS (Continuous Linked Settlement) — yang memproses penyelesaian nilai tukar valuta asing senilai triliunan dolar setiap hari — juga bergantung pada jaringan ini.

Saakshar Duggal, pakar hukum kecerdasan buatan, menegaskan: gangguan pada jalur kabel ini akan berdampak langsung pada sistem pesan keuangan seperti SWIFT, CHIPS, dan CLS, yang memfasilitasi perbankan lintas batas dan penyelesaian nilai tukar valuta asing. Ia menggambarkan kondisi yang sedang berlangsung sebagai “perang infrastruktur dasar laut” — medan perang baru dalam geopolitik modern.

Nilai perdagangan yang difasilitasi secara digital melalui koridor Hormuz-Laut Merah sangat masif. Laporan German Marshall Fund of the United States (Maret 2026) mencatat bahwa miliaran dolar infrastruktur kabel bawah laut yang menghubungkan Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia kini bergantung pada dua zona konflik aktif sekaligus.

Geografi Kerentanan: Dangkal dan Padat

Selat Hormuz memiliki kedalaman maksimal hanya sekitar 60 meter (setara 200 kaki) di titik tersempitnya. Angka ini jauh lebih dangkal dibanding palung samudra tempat kabel bawah laut lainnya digelar. Kondisi ini membuat kabel-kabel di Hormuz berada relatif lebih dekat ke permukaan — dan oleh karena itu lebih rentan terhadap kerusakan akibat jangkar kapal, aktivitas militer, hingga sabotase langsung.

Vakai Muntambirwa, analis teknologi dari perusahaan analisis risiko BMI, menyebut skenario pemutusan kabel sebagai “ancaman yang nyata dan kredibel.” Ia memperingatkan bahwa kabel bawah laut adalah tulang punggung berbagai teknologi, dan kerusakannya dapat menyebabkan pemadaman layanan serta menyulitkan pemberian “layanan dasar yang dibutuhkan oleh suatu perekonomian.”

Lebih jauh, laporan Intellinews mengungkapkan skenario yang disebut para analis militer dan keamanan telekomunikasi sebagai “strategi gunting” (scissors strategy): sebuah skenario di mana IRGC tidak hanya mempertahankan penutupan Hormuz untuk lalu lintas energi, tetapi juga mengerahkan kapal selam mini, aset penambang ranjau jarak jauh, dan satuan penyelam tempur untuk memutus atau merusak kabel serat optik di dasar Teluk Persia.

Faktor yang memperburuk situasi adalah ketidakmampuan melakukan perbaikan. Kapal perbaikan kabel bawah laut — yang sangat khusus dan jumlahnya sangat terbatas di seluruh dunia — memerlukan kondisi aman dan stabil untuk beroperasi. Dengan ranjau laut, ancaman rudal, dan drone militer yang memenuhi kawasan, akses kapal-kapal ini secara efektif terblokir. Sebagai perbandingan, ketika tiga kabel Laut Merah terputus pada awal 2024 akibat jangkar dari kapal yang terkena serangan Houthi, proses perbaikannya membutuhkan waktu enam bulan penuh.

Dampak Jika Jaringan Fiber Optik Hormuz Diputus

Para pakar telekomunikasi dan keuangan global sepakat bahwa pemutusan kabel fiber optik di Selat Hormuz tidak akan menyebabkan internet global mati total — karena sistem internet memang dirancang dengan kemampuan rerouting (pengalihan jalur). Namun dampaknya akan jauh melampaui sekadar koneksi yang melambat.

Pertama, gangguan perbankan dan keuangan global. Sistem SWIFT, yang setiap harinya memproses jutaan pesan transaksi antarbank senilai triliunan dolar, akan mengalami penundaan signifikan. Transaksi lintas batas, letter of credit, pembiayaan perdagangan internasional, dan penyelesaian valuta asing — semua akan terdampak. Bagi negara-negara yang bergantung pada remitansi dari kawasan Teluk, termasuk Indonesia, dampak ini akan dirasakan langsung oleh jutaan keluarga.

Kedua, volatilitas pasar finansial. Saham teknologi, perusahaan telekomunikasi, dan penyedia layanan cloud akan mengalami penjualan besar-besaran. Pasar minyak secara bersamaan akan melonjak akibat guncangan ganda Hormuz — baik dari sisi energi maupun digital. Pasar derivatif dan komoditas yang bergantung pada data real-time akan mengalami distorsi harga yang serius.

Ketiga, kelumpuhan infrastruktur cloud dan AI. Amazon, Microsoft, dan Google selama bertahun-tahun membangun pusat data besar di kawasan Teluk dengan asumsi kawasan ini akan menjadi hub AI global berikutnya. Fasilitas-fasilitas ini terhubung ke Afrika, Asia Selatan, dan Asia Tenggara melalui kabel bawah laut yang melewati Laut Merah dan Selat Hormuz. Penutupan keduanya sekaligus memotong artri data dari investasi teknologi senilai triliunan dolar.

Keempat, dampak bagi Asia Selatan dan Asia Tenggara. India adalah negara yang paling terekspos, karena sekitar 60 persen lalu lintas internet internasionalnya melewati rute dari Mumbai menuju Eropa via kawasan Teluk. Gangguan besar di Hormuz akan memaksa pengalihan ke rute Pasifik yang lebih panjang, menyebabkan lonjakan latency yang drastis. Industri teknologi informasi India senilai 250 miliar dolar, yang bergantung pada konektivitas global berlatensi rendah, akan terdampak sangat serius. Sementara Indonesia, sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, juga akan merasakan pelemahan akses ke platform-platform global dan layanan cloud.

Kelima, kapasitas satelit tidak memadai. Sistem cadangan seperti Starlink atau VSAT tidak mampu menyerap beban lalu lintas kabel global. Satelit menawarkan bandwidth yang jauh lebih rendah dan latency yang jauh lebih tinggi dibanding kabel serat optik — menjadikannya tidak layak untuk sistem keuangan yang menuntut pemrosesan real-time.

Respons dan Alternatif: Perlombaan Membangun Koridor Darat

Menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar bergerak cepat membangun koridor data darat sebagai alternatif. Setidaknya enam proyek besar sedang bersaing untuk menghubungkan kawasan Teluk ke Eropa melalui jalur darat — melewati Irak, Suriah, dan Afrika Timur.

Proyek yang paling maju adalah SilkLink, yang dipimpin oleh grup telekomunikasi STC milik Arab Saudi. Kabel sepanjang 4.500 kilometer ini akan melintas melalui Yordania dan Suriah menuju Mediterania. Fase pertama SilkLink diperkirakan mulai beroperasi dalam 18 hingga 24 bulan ke depan. Selain itu, terdapat proyek Saudi Vision Cable (SVC) dan inisiatif JADI, meskipun upaya serupa pernah gagal akibat perang sipil Suriah.

Alan Mauldin dari TeleGeography mengingatkan bahwa hambatan terbesar bukan pada rekayasa teknis, melainkan pada regulasi: “Siapa yang diizinkan membeli dan mengoperasikan pasangan serat optik yang melintasi suatu negara, dan berapa harganya?” Koridor-koridor darat yang direncanakan itu sendiri harus melewati negara-negara seperti Suriah, Irak, Sudan, dan Ethiopia — semua kawasan dengan sejarah konflik yang panjang.

Perang Bawah Laut dalam Era Geopolitik Baru

Krisis infrastruktur digital di Selat Hormuz menandai babak baru dalam geopolitik global: infrastruktur kabel bawah laut kini telah menjadi aset strategis yang setara dengan pipa minyak, fasilitas nuklir, dan sistem pertahanan.

Sebagaimana dinyatakan oleh Ajay Sharma, pakar tata kelola AI dan hukum siber: “Kendali atas infrastruktur digital telah menjadi elemen kunci kekuasaan geopolitik di era modern.” Kabel bawah laut yang selama ini dipandang sebagai infrastruktur teknis yang membosankan, kini telah naik ke panggung utama persaingan kekuatan global.

Para perencana militer dan analis keamanan telekomunikasi mendesak para pemimpin di Brussels, Riyadh, Abu Dhabi, Frankfurt, dan London untuk segera menjawab satu pertanyaan mendasar: apa rencana kelangsungan operasional mereka jika koridor kabel Teluk Persia dan Laut Merah secara bersamaan tidak dapat diakses dalam waktu yang tidak terbatas?

Selat Hormuz bukan lagi sekadar tempat berlalu kapal tanker minyak. Di kedalaman dasarnya, mengalir nadi digital peradaban modern — triliunan dolar, miliaran manusia, dan seluruh arsitektur internet global. Dan nadi itu, saat ini, lebih rentan dari sebelumnya. (*)

Sumber: TeleGeography (resources.telegeography.com), Rest of World (restofworld.org), German Marshall Fund of the United States (gmfus.org), Submarine Networks (submarinenetworks.com), Intellinews (intellinews.com), Gulf News (gulfnews.com), International Telecommunication Union (ITU), Better World Campaign (betterworldcampaign.org), AGBI (agbi.com), The Federal (thefederal.com), BusinessToday India.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *