• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Meluruskan Tafsir Ayat Perang

Meluruskan Tafsir Ayat Perang

April 16, 2026
Program G to G, KP2MI Berangkatkan 300 Pekerja Migran Indonesia ke Korea Selatan

Program G to G, KP2MI Berangkatkan 300 Pekerja Migran Indonesia ke Korea Selatan

October 19, 2026
Polda Jabar Ungkap Sindikat Obat Keras di Bandung, Temukan Mesin yang Mampu Produksi 8 Juta Pil per-Hari

Polda Jabar Ungkap Sindikat Obat Keras di Bandung, Temukan Mesin yang Mampu Produksi 8 Juta Pil per-Hari

October 19, 2026
LDKI JAYA Desakan Proses Hukum Dugaan Penyelundupan Pasal 18 Ayat 3 PKPU No 19 Tahun 2024

LDKI JAYA Desakan Proses Hukum Dugaan Penyelundupan Pasal 18 Ayat 3 PKPU No 19 Tahun 2024

October 19, 2026
Malam Spiritual di Samosir, Oscar Habeahan Ungkap Peringatan tentang Wabah dan Pesan Kebenaran

Malam Spiritual di Samosir, Oscar Habeahan Ungkap Peringatan tentang Wabah dan Pesan Kebenaran

October 19, 2026
Survei SMRC Simulasi Pilpres: Gibran dan AHY Kalahkan Prabowo

Survei SMRC Simulasi Pilpres: Gibran dan AHY Kalahkan Prabowo

October 18, 2026
Meluncur ke Lokasi, Kepala BNPB Kristomei Pimpin Langsung Operasi Penanganan Karhutla Sumsel

Meluncur ke Lokasi, Kepala BNPB Kristomei Pimpin Langsung Operasi Penanganan Karhutla Sumsel

October 18, 2026
Kejurnas Menembak Piala PPAD 2026: Dedi Iswanto Juara Eksekutif, PPAL 2 Raih Gelar Beregu Purnawirawan

Kejurnas Menembak Piala PPAD 2026: Dedi Iswanto Juara Eksekutif, PPAL 2 Raih Gelar Beregu Purnawirawan

October 18, 2026
Konflik Timteng Mirip ‘Permainan Biliar’, Pergerakan Bolanya Ditentukan Trump dan Netayanhu

Konflik Timteng Mirip ‘Permainan Biliar’, Pergerakan Bolanya Ditentukan Trump dan Netayanhu

October 18, 2026
Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

October 18, 2026
Doll Ghawiah: Mitos Boneka yang Meneror Keluarga di Bandung

Doll Ghawiah: Mitos Boneka yang Meneror Keluarga di Bandung

October 17, 2026
BPBD dan BPSDM Jatim Gelar Uji Kompetensi Kebencanaan

BPBD dan BPSDM Jatim Gelar Uji Kompetensi Kebencanaan

October 17, 2026
KPK Sisir Kantor BNPB hingga Ruang Kerja Mantan Kepala BNPB Suharyanto

KPK Sisir Kantor BNPB hingga Ruang Kerja Mantan Kepala BNPB Suharyanto

October 17, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Tuesday, October 20, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Gentengisasi Terus Didorong untuk Gerakan Industri Genteng

    Gentengisasi Terus Didorong untuk Gerakan Industri Genteng

    Kementerian UMKM Targetkan Penyaluran KUR 2025 Sebesar Rp 300 Triliun

    Rasio Kewirausahaan Indonesia Ditargetkan Meningkat Hingga Delapan Persen

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kabar

Meluruskan Tafsir Ayat Perang

by admin
April 16, 2026
in Kabar
0
Meluruskan Tafsir Ayat Perang
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Toto Izul Fatah

Saya tak sedang ingin menghakimi Jusuf Kalla (JK). Jika ada pandangan yang dianggap keliru dari mantan wakil presiden RI itu, termasuk dalam memaknai kata syahid, saya yakin, pasti tidak lahir dari kebencian. Apalagi, lahir dari sentimen ketidaksukaan terhadap agama tertentu. Setidaknya, itulah yang bisa saya simpulkan, saat JK viral gara-gara pernyataannya soal konflik SARA di Poso dan Ambon.

Menurut JK, konflik itu sulit dihentikan karena kedua pihak sama-sama memandang dan meyakini bahwa “mati” atau “mematikan” itu syahid. Meskipun, pernyataan JK pada acara kuliah umum di UGM (5/4/2026) itu, sudah diluruskan pihak JK, bahwa yang dimaksud itu adalah penyimpangan keyakinan para pihak yang bertikai, bukan penyimpangan ajaran asli agama itu.

Namun, klarifikasi itu ternyata tak cukup sakti meredam kegaduhan. Sehingga, ada kelompok tertentu yang mengancam akan melaporkan JK ke polisi. Mungkin, bisa jadi berbeda ceritanya, jika JK sendiri yang menjelaskan, sekaligus meminta maaf kepada publik.

Buntut pernyataan JK ini ternyata semakin panjang. Tepatnya, saat Permadi Arya yang populer dipanggil Abu Janda menayangkan video dirinya, yang disatu sisi mengeritisi JK, tapi disisi yang lain malah menambah masalah baru. Kenapa? Karena dalam video itu Abu Janda sangat ceroboh mengutip tiga ayat dari tiga surat dalam alQuran; Al Baqarah, Muhammad dan AtTaubah.

Di situ, Abu Janda menyebutkan bahwa Islam memang punya ayat yang memerintahkan pembunuhan, tanpa menjelaskan konteks ayat tersebut. Di sisi yang lain, Abu Janda membandingkan Islam dan Kristen dengan kesan yang menyudutkan salah satu agama.

Dari dua kasus diatas, baik pernyataan JK maupun Abu Janda, saya berpendapat, keduanya tergelincir dalam pemahaman yang keliru. Pertama, keliru karena menyederhanakan konflik sosial menjadi seolah-olah semata urusan teologi. Kedua, keliru karena mencabut ayat dari konteksnya, lalu menjadikannya stempel negatif bahwa agama (Islam) memerintahkan pembunuhan.

Jadi, menurut saya, JK keliru, dan Abu Janda tersesat.

Kritik Abu Janda, yang membaca polemik ini seolah sebagai bukti bahwa Islam memang mengajarkan membunuh musuh lalu mati syahid, justru jatuh ke lubang yang lebih sesat.
Dengan logika Abu Janda yang seperti itu, alih-alih meluruskan tapi justru malah makin menyesatkan. Yang terjadi bukan bukan pelurusan, melainkan penyesatan baru. Sebab ayat-ayat yang sering dipakai untuk membenarkan klaim itu sesungguhnya adalah ayat-ayat perang yang sangat kontekstual, bukan perintah umum untuk membunuh siapa saja yang berbeda iman.

Dalam soal ini, JK tergelincir pada penyederhanaan sosiologis, sedangkan Abu Janda tergelincir pada penyederhanaan teologis. Keduanya bermasalah.

Masalah pertama dari pernyataan JK adalah soal framing. Mungkin benar bahwa dalam banyak konflik komunal, jargon agama dipakai oleh para kombatan untuk membakar emosi dan membenarkan kekerasan. Bahkan tanggapan dari kalangan gereja atas polemik ini juga mengakui bahwa agama kerap diperalat sebagai legitimasi kekerasan, meski itu adalah bentuk distorsi, bukan cermin lurus dari ajaran agama itu sendiri.

Namun, dari situ tidak otomatis sah untuk menyimpulkan bahwa akar utama konflik Ambon dan Poso adalah doktrin teologis tentang syahid. Di situlah simplifikasi mulai berubah menjadi kekeliruan.

Banyak kajian justru menunjukkan bahwa konflik Poso tidak bisa dibaca sebagai konflik agama semata. Human Rights Watch sudah lama mengingatkan bahwa menggambarkan krisis Poso sebagai konflik yang murni religius adalah pembacaan yang “dangerously misleading,” karena para tokoh agama di kedua pihak sendiri menunjuk faktor politik dan ekonomi sebagai penyebab penting.

Jadi, agama memang sering dihadirkan dalam bahasa konflik. Tetapi, bukan berarti agama adalah akar tunggal konflik. Dalam banyak kasus, agama hanya menjadi bendera yang sering dipinjam oleh luka sosial, persaingan elite, lemahnya negara, dan runtuhnya kepercayaan antar kelompok.

Di sini kita harus tegas, bahwa Ambon dan Poso lebih dominan sebagai krisis sosial-politik yang dibungkus simbol agama, bukan perang teologi yang lahir murni dari tafsir kitab suci. Ketika negara lemah, hukum tak dipercaya, elite bermain, dan identitas diperalat, maka agama sering berubah dari sumber moral menjadi alat mobilisasi. Saya tidak yakin, mereka yang konflik itu didorong oleh pemahaman terhadap “ayat-ayat perang”. Bahkan, mungkin, sebagian dari mereka tidak tahu ada “ayat-ayat perang” itu.

Dalam konteks ini, pernyataan JK terasa problematik bukan semata karena salah niat, karena hampir tak mungkin JK menyebar kebencian. Tetapi, karena JK keliru membahasakan dan salah titik tekan. Sehingga, berisiko menggeser perhatian publik dari akar sosial konflik ke seolah-olah akar teologisnya.

Meski begitu, kritik Abu Janda kepada JK bukan berarti benar. Apa yang diungkapkan Janda menjadi tidak bernilai ketika dilakukan dengan cara yang lebih dangkal lagi. Sebab jika Abu Janda atau siapa pun lalu berkata, “Nah, memang Islam ada ayat yang memerintahkan membunuh musuh dan yang mati itu syahid,” maka itu bukan kritik yang cerdas.

Itu justru reproduksi dari salah paham yang selama ini dipakai ekstremis dan Islamofobia sekaligus. Yaitu, sama-sama memotong ayat, sama-sama mengabaikan konteks, sama-sama malas membaca tafsir.

Lihatlah Al-Baqarah ayat 190–191. Ayat yang sering dikutip adalah bagian: “bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka.” Tetapi orang yang jujur dalam membaca Al-Qur’an tidak boleh berhenti di situ. Ayat sebelumnya, 2:190, justru membuka dengan batasan yang sangat tegas: perangilah orang-orang yang memerangi kamu, dan jangan melampaui batas.

Tafsir Ibn Katsir menempatkan ayat ini jelas dalam konteks perang melawan pihak yang menyerang kaum Muslim, bukan dalam konteks hubungan damai sehari-hari dengan orang yang berbeda agama.

Begitu juga Surat Muhammad ayat 4 yang ditayangkan Abu Janda. Potongan yang sering dibunyikan dengan nada garang adalah: “penggallah leher mereka.” Tetapi frasa itu berbicara tentang pertemuan dalam pertempuran, bukan tentang orang sipil, tetangga berbeda iman, atau masyarakat umum.

Bahkan kelanjutan ayat itu berbicara tentang penawanan, lalu kemungkinan pembebasan atau tebusan setelah perang selesai. Jadi ini adalah hukum perang, bukan etika permusuhan abadi.

Yang paling sering dipelintir tentu At-Taubah ayat 5. Ayat ini kerap dijadikan senjata untuk menuduh Islam sebagai agama pedang. Padahal konteksnya sangat spesifik, yaitu menyangkut kaum musyrik tertentu yang mengkhianati perjanjian, setelah diberi masa tenggang.

Bahkan rangkaian ayat yang sama memerintahkan agar perjanjian tetap dihormati bagi pihak yang tidak berkhianat. Dan jika ada musyrik yang meminta perlindungan, maka ia harus dilindungi dan diantar ke tempat aman. Jadi memakai ayat ini sebagai bukti bahwa Islam memerintahkan pembunuhan umum adalah bentuk kebodohan tafsir yang amat telanjang.

Karena itu, dalam soal syahid, ada dua kesesatan yang harus dibedakan. Pertama, kesesatan para pelaku konflik yang memakai simbol agama untuk membenarkan pembunuhan. Kedua, kesesatan para komentator yang lalu mengira bahwa penyimpangan para pelaku itulah ajaran resmi agama.

Yang pertama adalah penyalahgunaan agama di lapangan. Yang kedua adalah penyalahgunaan nalar di ruang publik. JK tampaknya hendak mengkritik yang pertama, tetapi ucapannya terlalu longgar sehingga terdengar seperti menuduh ajaran agama itu sendiri.
Abu Janda, jika membalas dengan mencomot ayat perang sebagai pembenaran, justru terjebak pada kesesatan kedua.

Di sinilah perlunya kedewasaan intelektual. Agama tidak boleh dibaca dari potongan video. Kitab suci tidak boleh dipahami dari serpihan terjemahan. Konflik komunal tidak boleh dijelaskan hanya dengan satu kata: syahid. Sebab ketika masalah sosial dibungkus sebagai masalah teologis, kita gagal membaca realitas. Dan ketika ayat-ayat perang dibaca tanpa asbābun nuzūl dan tanpa tafsir, kita gagal membaca agama.

Kita harus berani berkata jujur, bahwa menyebut Ambon dan Poso semata-mata sebagai akibat paham syahid adalah reduksionis. Tetapi menuduh Islam memerintahkan pembunuhan dengan mengutip mentah Al-Baqarah 191, Muhammad 4, dan At-Taubah 5 adalah penyesatan yang lebih kasar lagi. Yang satu mengaburkan akar konflik. Yang satu lagi memfitnah teks suci.

Terlepas dari itu, polemik ini membuka pelajaran penting. Di negeri yang gampang gaduh, terlalu banyak orang merasa cukup pandai hanya karena berani bicara. Padahal berbicara tentang agama menuntut disiplin, konteks, dan kehati-hatian. Tanpa itu, mantan wakil presiden bisa terdengar sembrono, dan buzzer bisa tampak seolah-olah lebih sesat dari yang dikritiknya.

Jakarta, April 2026

Toto Izul Fatah
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat

Tags: jusuf kalla dan abu jandatafsir ayat alqurantoto izul fatah
Share197Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Program G to G, KP2MI Berangkatkan 300 Pekerja Migran Indonesia ke Korea Selatan

Program G to G, KP2MI Berangkatkan 300 Pekerja Migran Indonesia ke Korea Selatan

October 19, 2026
Polda Jabar Ungkap Sindikat Obat Keras di Bandung, Temukan Mesin yang Mampu Produksi 8 Juta Pil per-Hari

Polda Jabar Ungkap Sindikat Obat Keras di Bandung, Temukan Mesin yang Mampu Produksi 8 Juta Pil per-Hari

October 19, 2026
LDKI JAYA Desakan Proses Hukum Dugaan Penyelundupan Pasal 18 Ayat 3 PKPU No 19 Tahun 2024

LDKI JAYA Desakan Proses Hukum Dugaan Penyelundupan Pasal 18 Ayat 3 PKPU No 19 Tahun 2024

October 19, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version