Mahasiswa KKN UGM Ajak Ibu-Ibu Desa Talun Membuat Eco Enzyme

 Mahasiswa KKN UGM Ajak Ibu-Ibu Desa Talun Membuat Eco Enzyme

Ibu ibu Desa Talun, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten bersama mahasiswa KKN UGM dan Relawan EEN Sleman usai praktek membuat Eco Enzyme/ foto: Ernaningtyas

JAYAKARTA NEWS— Enam Mahasiswa UGM yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Talun, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten mengajak warga membuat Eco Enzyme (EE) pada Sabtu (16/7).  Setelah mendengarkan Akram Putra dan Pricellia Nuraivi menjelaskan semua hal tentang  Eco Enzyme lewat layar monitor, peserta  yang semuanya ibu-ibu itu melakukan praktek bersama membuat Eco Enzyme.  Para peserta yang dibagi dalam enam kelompok itu tampak antusias.

“Kami tertarik mengajak masyarakat membuat  Eco Enzyme ini karena bermanfaat untuk merawat bumi, membantu menyediakan bahan alami untuk kebutuhan sehari-hari di rumah serta  bahan bakunya mudah didapat,” kata Akram di sela-sela memandu acara praktek membuat EE yang bertempat di salah satu rumah warga.  Selain bahan organik dari sisa dapur, di desa ini banyak produksi pisang, nangka juga kulit biji kopi yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku EE.  Akram dan Pricellia belajar membuat EE dari Hiasinta Kiki, Ketua Relawan Eco Enzyme Nusantara (EEN) Kabupaten Sleman,  DIY.  Hiasinta Kiki pun ikut hadir bersama beberapa relawan EEN Sleman.

Ibu ibu Desa Talun menyimak penjelasan tentang Eco Enzyme yang disampaikan Pricellia dan Akram/foto: Ernaningtyas

Eco Enzyme adalah cairan alami sejuta manfaat hasil fermentasi dari tiga bahan yakni molase atau gula merah, bahan organik sisa dapur dalam kondisi segar atau belum melalui proses pemasakan, ditambah air dengan perbandingan 1 (molase): 3 (bahan organik): 10 air. Proses fermentasi berlangsung selama tiga bulan untuk daerah tropis dan enam bulan untuk daerah subtropis.  Hasilnya adalah cairan berbau asam segar dengan PH dibawah empat.  EE  bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan rumah tangga antara lain sebagai cairan pencuci alat dapur, pakaian, untuk mengepel lantai, pembersih kamar mandi, membantu proses penyembuhan luka, pembersih udara, pupuk tanaman, penjernih air, mengurangi radiasi elektromagnetik,  dll.     

Akram menjelaskan bahwa ibu-ibu desa Talun terutama dari RT 10 dan perwakilan RT 11 yang saat itu menghadiri acara sosialisasi EE adalah wanita yang  aktif di Kelompok Wanita Tani (KWT).  Mereka menanam rupa-rupa sayur.  Karena itu, dengan membuat EE, para anggota KWT itu  bisa mendapatkan pupuk untuk tanaman mereka. Sayuran yang tidak digunakan untuk konsumsi seperti batang sayur juga kulit buah, bisa dimanfaatkan kembali untuk membuat EE.  

Edi Sumitro, seorang ibu paruh baya yang saat itu menjadi peserta sangat antusias menyimak.  Salah satu manfaatnya, yakni membantu mengobati sapi yang terkena PMK (penyakit mulut dan kuku) menarik perhatiannya.   Di desa ini  banyak terdapat peternak sapi termasuk dirinya.  Kendati sapi yang terjangkit PMK berada di desa sebelah, namun warga tetap waspada.  Mereka pun ingin memanfaatkan EE untuk kesehatan ternak sapi. 

Ibu ibu menyimak penjelasan Hiasinta Kiki tentang manfaat EE/foto: Ernaningtyas

Setelah praktek bersama membuat EE selesai, Hiasinta Kiki berkesempatan  memberikan pejelasan langsung kepada warga   tentang manfaat EE dan bagaimana cara penggunaannya. Untuk kasus-kasus tertentu, semisal  penyembuhan luka, digunakan EE murni tanpa disertai proses pengenceran.  Sementara untuk manfaat lain seperti gosok gigi, memupuk tanaman, membersihkan peralatan dapur atau mencuci pakaian, EE digunakan melalui proses pengenceran dengan perbandingan tertentu.  “Untuk gosok gigi, ambil air satu gelas, campur dengan beberapa tetes EE,” kata Kiki, sapaan Hiasinta Kiki. 

Dalam kesempatan itu, para mahasiswa maupun relawan EEN berpesan kepada ibu-ibu desa Talun bahwa EE bukan untuk dikonsumsi.  Cairan ini hanya dimanfaatkan untuk pemakaian luar saja.  “Ibu-ibu, walaupun baunya asam segar  seperti minuman, tetapi EE ini bukan untuk dikonsumsi ya,” pesan Pricellia. 

Pricellia (kiri) mahasiswa Fakultas Biologi UGM bersama Erna Bajuri (kanan) relawan EEN Sleman yang hidup dari bertani dengan memanfaatkan Eco Enzyme sebagai pupuk dan pestisida alami/foto: Ernaningtyas

Sementara Hiasinta Kiki mengungkapkan rasa bangganya terhadap antusias ibu-ibu Desa Talun saat mendapatkan ilmu sekaligus praktek bersama membuat EE.  Ia menambahkan bahwa dengan membuat Eco Enzyme, masyarakat berperan serta dalam merawat bumi.  Bahan organik sisa dapur yang dibuang di tempat sampah mengundang masalah.  Selain mencemari udara dengan bau busuk, gas metana yang dihasilkan oleh timbunan sampah organik akan berdampak pada penurunan kadar oksigen dan berpotensi menimbulkan ledakan.

Mahasiswa KKN UGM di Desa Talun bersama Relawan EEN Sleman/foto: Ernaningtyas

Pada tanggal 21 Februari 2005 silam, terjadi tragedi ledakan dan longsornya timbunan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) desa Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat.   Peristiwa ini  menewaskan  147 jiwa, sementara dua desa hilang tertimbun sampah.   Tanggal 21 Februari  diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional.  Ini mengingatkan siapa saja agar tidak mengulangi kejadian yang sama.   “Ibu-ibu, ayo kita semua membuat Eco Enzyme di rumah masing-masing ya,” ajak Kiki. (Ernaningtyas)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.