• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Thursday, October 1, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

Luka Lama di Jantung Islam: Menelusuri Akar dan Geopolitik Perseteruan Sunni-Syiah

Luka Lama di Jantung Islam: Menelusuri Akar dan Geopolitik Perseteruan Sunni-Syiah

admin by admin
April 10, 2026
in Kabar
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Heri Mulyono

Perpecahan Sunni-Syiah, berawal dari sengketa suksesi kepemimpinan pasca-wafatnya Nabi Muhammad SAW 1.400 tahun silam, kini bermetamorfosis menjadi poros kekuatan geopolitik yang menentukan stabilitas Timur Tengah serta memicu konfrontasi global yang melibatkan aliansi strategis antara Amerika Serikat dan Israel.

Kronologi Kelahiran: Dari Politik ke Teologi

Benih perpecahan tidak bermula dari perbedaan ritual, melainkan dari pertanyaan politik fundamental: siapa yang berhak memimpin umat setelah wafatnya Rasulullah pada 632 M? Mayoritas sahabat, cikal bakal kelompok Sunni (Ahlussunnah wal Jama’ah), meyakini kepemimpinan harus didasarkan pada konsensus dan kualifikasi terbaik di antara umat. Mereka memilih Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah pertama, dengan argumen bahwa kepemimpinan harus menjaga persatuan dan melanjutkan misi kenabian secara politis.

Di sisi lain, sekelompok kecil, Syiatu Ali (Pengikut Ali), meyakini Nabi telah menunjuk sepupu sekaligus menantunya, Ali bin Abi Thalib, sebagai penerus sah melalui wasiat ilahi. Bagi mereka, kepemimpinan (Imamah) adalah hak ilahi yang diwariskan melalui garis keturunan Nabi, bukan pemilihan manusia. Perbedaan ini memicu ketegangan politik dan konflik bersenjata, seperti Perang Jamal (656 M) dan Perang Shiffin (657 M).

Titik balik krusial yang mengukuhkan identitas Syiah secara emosional dan teologis adalah peristiwa Karbala pada 680 M. Pembantaian Husain bin Ali, cucu Nabi, oleh pasukan Yazid bin Muawiyah, menciptakan luka abadi dalam memori kolektif Syiah. Karbala menjadi simbol kesyahidan, pengorbanan, dan perlawanan terhadap tirani, membentuk narasi sentral dalam spiritualitas Syiah yang menekankan penderitaan dan penantian Imam Mahdi. Sejak saat itu, sejarah Islam terbelah menjadi dua arus besar yang terus bergejolak hingga milenium ketiga, dengan implikasi melampaui batas teologis ke ranah sosial, budaya, dan politik.

Jurang Ideologi: Khilafah vs Imamah

Perbedaan mendasar kedua kelompok ini terletak pada konsep otoritas dan legitimasi kepemimpinan. Pakar studi Islam, Vali Nasr, dalam bukunya The Shia Revival, menjelaskan bahwa bagi Sunni, pemimpin (Khalifah) adalah sosok politik yang bertugas menjaga syariat, menegakkan keadilan, dan memimpin umat. Khalifah dipilih melalui konsensus atau baiat, dan otoritasnya bersifat temporal. Sementara itu, bagi Syiah, pemimpin (Imam) adalah sosok maksum (terjaga dari dosa) yang memiliki otoritas spiritual dan politik langsung dari Tuhan, diwariskan melalui garis keturunan Nabi Muhammad SAW melalui Ali dan Fatimah. Imam tidak hanya memimpin secara politik, tetapi juga menjadi penafsir utama ajaran agama dan pemegang otoritas spiritual tertinggi.

Perbedaan ini meluas ke berbagai aspek ajaran dan praktik keagamaan. Dalam hal sumber hukum, Sunni mengandalkan Al-Qur’an, Hadis (tradisi Nabi), Ijma (konsensus ulama), dan Qiyas (analogi). Sementara Syiah, khususnya Syiah Dua Belas Imam (Imamiyah), juga menggunakan Al-Qur’an dan Hadis, namun mereka memiliki koleksi Hadis sendiri yang berpusat pada riwayat dari Ahlul Bait (keluarga Nabi) dan para Imam mereka. Selain itu, konsep Imamah menjadi sumber hukum penting bagi Syiah. Perbedaan dalam penafsiran Hadis dan legitimasi sumber-sumber hukum ini menghasilkan perbedaan dalam fikih (hukum Islam), teologi, dan bahkan praktik ritual tertentu.

Pandangan terhadap sahabat Nabi juga menjadi poin perbedaan signifikan. Sunni menghormati seluruh sahabat Nabi sebagai generasi terbaik yang membawa risalah Islam. Sebaliknya, Syiah bersikap kritis terhadap beberapa sahabat yang dianggap telah merampas hak Ali atas kekhalifahan, dan mereka memandang para Imam dari Ahlul Bait sebagai satu-satunya penerus spiritual dan politik yang sah. Konsep Taqiyyah (dissimulasi atau penyembunyian keyakinan dalam kondisi terancam) juga merupakan doktrin penting dalam Syiah yang berkembang sebagai respons terhadap penganiayaan historis yang mereka alami.

Aspek PerbedaanSunniSyiah
Otoritas PemimpinKhalifah dipilih manusia (konsensus)Imam ditunjuk Tuhan (nasab Nabi)
Sumber HukumAl-Qur’an, Hadis, Ijma, QiyasAl-Qur’an, Hadis (jalur Ahlul Bait), Imamah
Pandangan SahabatMenghormati seluruh sahabat NabiKritis terhadap beberapa sahabat
Wilayah DominanArab Saudi, Mesir, Indonesia, Pakistan, Turki, Yordania, sebagian besar Afrika UtaraIran, Irak, Azerbaijan, Bahrain, Lebanon (Hizbullah), sebagian Yaman (Houthi), sebagian Suriah, minoritas signifikan di Pakistan, Afghanistan, dan negara-negara Teluk lainnya

Peta Geopolitik: Persaingan Dua Kutub

Saat ini, perseteruan ini bukan lagi sekadar debat di ruang kelas madrasah, melainkan perang pengaruh antara dua kekuatan regional: Arab Saudi (pemimpin de facto blok Sunni) dan Iran (pusat kekuatan Syiah). Persaingan ini menciptakan apa yang disebut Raja Abdullah II dari Yordania sebagai “Bulan Sabit Syiah” (Shia Crescent), yang membentang dari Teheran, Baghdad, Damaskus, hingga Beirut.

Di Yaman, Suriah, dan Lebanon, kedua kutub ini terlibat dalam proxy war yang menghancurkan. Di Yaman, konflik antara pemerintah yang didukung Saudi dan pemberontak Houthi yang didukung Iran telah menciptakan krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Di Suriah, perang saudara yang kompleks melibatkan dukungan Iran terhadap rezim Bashar al-Assad, sementara Arab Saudi dan sekutunya mendukung oposisi Sunni, mengubah negara itu menjadi medan pertempuran sektarian dan geopolitik. Di Lebanon, Hizbullah, milisi Syiah yang didukung Iran, telah menjadi kekuatan politik dan militer dominan, menantang pengaruh Saudi dan Israel.
Arab Saudi, penjaga Dua Kota Suci dan pemimpin dunia Sunni, mengkhawatirkan ekspansi ideologi revolusi Iran yang dianggap mengancam stabilitas monarki Arab dan tatanan regional. Riyadh melihat Teheran sebagai kekuatan revisionis yang berupaya mengekspor revolusinya dan menggantikan kepemimpinan Saudi di dunia Islam. Sebaliknya, Iran, di bawah doktrin Wilayatul Faqih, memandang dirinya sebagai pelindung kaum tertindas (mustadh’afin) dan pemimpin alami dunia Islam yang menentang pengaruh Barat dan Israel. Teheran menggunakan jaringan proksinya untuk memperluas pengaruh dan menciptakan zona penyangga strategis di sekitar perbatasannya.

Persaingan ini bukan sekadar soal teologi, melainkan perebutan dominasi atas jalur perdagangan energi, pengaruh politik, dan kepemimpinan moral di dunia Muslim. Jatuhnya Saddam Hussein di Irak pada 2003, yang merupakan pemimpin Sunni yang menekan mayoritas Syiah, membuka kotak pandora sektarianisme yang sebelumnya ditekan. Hal ini memberikan jalan bagi mayoritas Syiah untuk berkuasa dan memperkuat pengaruh Teheran di Baghdad, menciptakan koridor darat strategis dari Iran melalui Irak dan Suriah hingga Lebanon. Konflik di Bahrain, di mana mayoritas Syiah diperintah oleh monarki Sunni yang didukung Saudi, juga menjadi cerminan lain dari persaingan regional ini.

Bayang-bayang Perang Iran vs Amerika-Israel

Dalam konteks modern, identitas sektarian ini l erat menjadi satu dengan perlawanan terhadap hegemoni Barat, khususnya Amerika Serikat dan Israel. Iran, sejak Revolusi Islam 1979, memposisikan dirinya sebagai garda terdepan menentang dominasi Barat di Timur Tengah. Teheran memimpin “Poros Perlawanan” (Axis of Resistance), jaringan strategis kelompok Syiah seperti Hizbullah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, dan Houthi di Yaman. Namun, secara pragmatis, Poros Perlawanan ini juga merangkul kelompok Sunni seperti Hamas dan Jihad Islam di Palestina, menunjukkan kepentingan geopolitik dapat melampaui batas sektarian.

Perseteruan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel bukan hanya soal politik, tetapi sering menggunakan narasi sektarian untuk memobilisasi dukungan dan menggalang legitimasi. Bagi Iran, perlawanan terhadap Israel adalah isu sentral yang menyatukan umat Islam, terlepas dari mazhabnya. Mereka menggunakan isu pembebasan Al-Quds (Yerusalem) sebagai simbol perjuangan yang lebih besar, menunjukkan kepemimpinan Syiah mampu membela kepentingan seluruh umat Islam, melampaui batas mazhab dan mengklaim peran sebagai pembela kaum Muslim tertindas.

Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel kerap memanfaatkan ketakutan negara-negara Sunni terhadap “ancaman Syiah” yang dipimpin Iran untuk membangun aliansi regional. Abraham Accords, kesepakatan normalisasi hubungan antara Israel dengan beberapa negara Arab Sunni, adalah contoh nyata strategi ini. Kesepakatan ini secara implisit membentuk front anti-Iran yang didasarkan pada kepentingan keamanan bersama dan kekhawatiran terhadap pengaruh Teheran. Konflik ini menciptakan dinamika kompleks, di mana identitas keagamaan sering dimanipulasi untuk tujuan politik, memperkeruh upaya penyelesaian konflik dan memperpanjang penderitaan di wilayah tersebut.

Mungkinkah Islam Bersatu? Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu, atau setidaknya hidup berdampingan damai?

Upaya rekonsiliasi telah ada sepanjang sejarah, salah satu inisiatif signifikan di era modern adalah Risalah Amman (2004). Diinisiasi Raja Abdullah II dari Yordania, deklarasi ini mengumpulkan lebih dari 500 ulama terkemuka dari berbagai mazhab Islam. Risalah Amman secara eksplisit menegaskan bahwa siapa pun yang mengikuti salah satu dari delapan mazhab sah (termasuk Syiah Ja’fari dan Zaydi) adalah Muslim dan tidak boleh dikafirkan (takfir). Ini adalah langkah monumental untuk meredakan ketegangan sektarian dan mempromosikan toleransi.

Namun, tantangannya tetap besar. Meskipun ada upaya ulama dan intelektual, polarisasi politik dan kepentingan geopolitik sering menghambat rekonsiliasi. Prof. Dr. M. Quraish Shihab, pakar tafsir Indonesia, dalam bukunya Sunni-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, berpendapat persatuan dalam arti peleburan mazhab mungkin sulit dan tidak realistis, mengingat perbedaan fundamental dalam teologi dan hukum yang telah mengakar. Namun, beliau menekankan persatuan dalam arti kerja sama (ukhuwah Islamiyah) sangat mungkin terjadi. Ini berarti kedua belah pihak harus fokus pada persamaan (kalimatun sawa) dan mengesampingkan perbedaan politik yang sering dimanfaatkan pihak luar untuk memecah belah umat.

Para pakar lain, seperti Dr. Sayyed Hossein Nasr, filsuf dan cendekiawan Islam, menyerukan pentingnya dialog dan saling pengertian. Ia berpendapat akar spiritual Islam dapat menjadi jembatan yang menyatukan, di mana kedua mazhab memiliki kekayaan tradisi mistik dan filosofis yang dapat dieksplorasi bersama. Namun, untuk mencapai ini, diperlukan kemauan politik yang kuat dari para pemimpin Muslim dan kesadaran kolektif umat untuk tidak terjebak dalam narasi kebencian sektarian yang sering disulut media dan aktor tertentu.

Rekonsiliasi sejati memerlukan lebih dari sekadar deklarasi. Ia membutuhkan reformasi pendidikan untuk menghilangkan konten yang mempromosikan kebencian sektarian, pertukaran budaya dan keilmuan yang lebih intensif, serta proyek kemanusiaan bersama yang dapat membangun kembali kepercayaan. Masa depan Islam global akan ditentukan oleh kemampuan Sunni dan Syiah untuk saling memahami, menghargai, dan bekerja sama demi kemaslahatan bersama, bukan justru mempertajam perbedaan yang hanya menguntungkan musuh-musuh Islam.

Kesimpulan

Perseteruan Sunni-Syiah adalah luka sejarah yang terus berdarah karena disiram kepentingan politik kekuasaan. Selama agama dijadikan alat legitimasi geopolitik, jurang itu akan tetap ada. Namun, di tengah eskalasi konflik global, kesadaran bahwa musuh bersama—kemiskinan, ketidakadilan, dan hegemoni asing—jauh lebih berbahaya, mungkin menjadi satu-satunya jalan bagi kedua saudara tua ini untuk kembali duduk di satu meja. (*)

Referensi :

  1. Nasr, Vali. (2006). The Shia Revival: How Conflicts within Islam Will Shape the Future. W. W. Norton & Company.
  2. Momen, Moojan. (1985). An Introduction to Shi’i Islam: The History and Doctrines of Twelver Shi’ism. Yale University Press.
  3. Halverson, Jeffry R. (2010). Theology and Creed in Sunni Islam: The Muslim Brotherhood’s Battle for the Heart of Islam. Palgrave Macmillan.
  4. Momen, Moojan. (1985). An Introduction to Shi’i Islam: The History and Doctrines of Twelver Shi’ism. Yale University Press. (Specifically on Taqiyyah)
  5. Human Rights Watch. (2020). Yemen: Saudi-led Coalition War Crimes. (Contoh referensi untuk konflik Yaman)
  6. International Crisis Group. (2018). Syria’s Sectarian Fault Lines. (Contoh referensi untuk konflik Suriah)
  7. Blanford, Nicholas. (2011). Warriors of God: Inside Hezbollah’s Thirty-Year Struggle Against Israel. Random House.
  8. Takeyh, Ray. (2006). Hidden Iran: Paradox and Power in the Islamic Republic. Council on Foreign Relations.
  9. Human Rights Watch. (2012). Bahrain: Crackdown on Protests. (Contoh referensi untuk konflik Bahrain)
  10. International Crisis Group. (2023). Iran’s ‘Axis of Resistance’ and Regional Stability. (Contoh referensi untuk Poros Perlawanan)
  11. Parsi, Trita. (2007). Treacherous Alliance: The Secret Dealings of Israel, Iran, and the U.S.. Yale University Press.
  12. Al-Jazeera. (2020). The Abraham Accords: A New Middle East Order?. (Contoh referensi untuk Abraham Accords)
  13. The Royal Aal al-Bayt Institute for Islamic Thought. (2004). The Amman Message. (Official Declaration)
  14. Shihab, M. Quraish. (2007). Sunni-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?. Lentera Hati.
  15. Nasr, Seyyed Hossein. (2000). Ideals and Realities of Islam. Kazi Publications.
  16. Esposito, John L. (2002). What Everyone Needs to Know About Islam. Oxford University Press.
Tags: perseteruan sunni - syiahsunni - syiah
Previous Post

Setelah Mo Salah, Giliran Andy Robertson Tinggalkan Liverpool Setelah 9 Musim di Anfield

Next Post

Tolak Bala pada Bayi

admin

admin

Next Post
Tolak Bala pada Bayi

Tolak Bala pada Bayi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version