Laporan Khusus
Langit Teheran Membara: Perang Terbuka, Gugurnya Khamenei, dan Krisis Kepemimpinan Iran
Oleh : Heri Mulyono
Bom berjatuhan di Teheran, sirene meraung di Tel Aviv — pada 28 Februari 2026, Timur Tengah resmi memasuki babak perang terbuka yang telah lama mengancam, mempertemukan Iran melawan koalisi militer Amerika Serikat dan Israel, sebelum berakhir dengan tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Ledakan pertama terdengar pukul 08.10 waktu Tel Aviv. Asap hitam membubung dari beberapa titik di Teheran. Dalam hitungan menit, dunia tahu: Timur Tengah tidak lagi berada di ambang perang — perang itu sudah dimulai.
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah lokasi strategis di Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Operasi militer gabungan itu diberi nama “Operation Epic Fury” oleh Departemen Pertahanan AS. Israel menamai operasinya Lion’s Roar. Presiden AS Donald Trump menyebutnya sebagai “operasi tempur berskala besar.”
Akar Permusuhan yang Panjang
Sebelum Revolusi Islam 1979, Iran di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi merupakan sekutu strategis Washington. Bahkan program nuklir Iran bermula dari kerja sama dengan AS melalui inisiatif “Atoms for Peace”. Namun semuanya berubah setelah revolusi yang dipimpin Ruhollah Khomeini menggulingkan Shah.
Sejak saat itu, hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel bergeser ke arena konfrontasi permanen. Di Lebanon, Iran mendukung kelompok Hizbullah yang kerap melancarkan serangan terhadap Israel dan pasukan Barat. Titik eskalasi penting terjadi pada 2018 ketika pemerintahan Trump pertama kali menarik AS dari Perjanjian Nuklir (JCPOA) dan menghidupkan kembali sanksi ekonomi yang melumpuhkan Iran.
Kemudian pada Januari 2020, AS membunuh Jenderal Qassem Soleimani di Baghdad. Iran membalas dengan serangan rudal ke pangkalan AS di Irak. Ketegangan ini hampir memicu perang terbuka — tapi belum. Perang sesungguhnya masih ditunda beberapa tahun.
“Perang 12 Hari”: Babak Pertama Juni 2025
Eskalasi paling serius sebelum 2026 terjadi pada pertengahan Juni 2025. Pada dini hari 13 Juni 2025, Israel melancarkan serangan berskala besar terhadap sejumlah target di Iran dengan nama sandi Operasi Kebangkitan Singa. Serangan yang dilakukan oleh IDF dan Mossad menargetkan fasilitas nuklir, instalasi militer, dan kediaman pribadi pejabat tinggi.
Ledakan dilaporkan terjadi di seluruh Teheran, termasuk di dekat Natanz — salah satu fasilitas nuklir paling penting. Iran membalas dengan meluncurkan serangkaian rudal balistik dan drone ke arah Israel.
Sembilan hari kemudian, pada 22 Juni, AS menyerang fasilitas nuklir Iran di Natanz, Fordow, dan Isfahan. Konflik berlangsung 12 hari — intens dan mematikan — sebelum akhirnya mereda. Dunia sempat bernapas lega. Tapi perdamaian itu hanya sementara.
Jalan Menuju 28 Februari 2026: Diplomasi yang Gagal
Pemicu langsung serangan 28 Februari 2026 berasal dari gagalnya negosiasi nuklir di Jenewa. Pemerintahan Trump mengajukan tuntutan keras: pembongkaran permanen fasilitas Fordow dan Natanz, penghentian total program rudal balistik, serta penghentian dukungan terhadap kelompok proksi seperti Hizbullah dan Hamas.
Teheran menolak keras. Bagi Iran, tuntutan itu adalah pelanggaran kedaulatan nasional. Serangan akhirnya terjadi hanya dua hari setelah perundingan nuklir AS-Iran di Jenewa yang dimediasi Oman berakhir tanpa terobosan.
Memasuki Februari 2026, AS mengerahkan dua kapal induk — USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford — ke Teluk Persia. Bagi banyak pengamat, itu bukan lagi manuver simbolis. Itu adalah persiapan perang.

28 Februari 2026: Hari Perang Dimulai
Pukul 08.10 waktu Tel Aviv, gelombang pertama serangan AS-Israel menghantam Iran. Ledakan dilaporkan terjadi di University Street dan kawasan Jomhouri di Teheran, serta dekat markas IRGC. Satu serangan terjadi di dekat kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ledakan juga dilaporkan di Kermanshah, Qom, Tabriz, Isfahan, Ilam, Karaj, dan Provinsi Lorestan.
Tidak hanya Israel yang menjadi sasaran pembalasan Iran. Iran juga menargetkan sejumlah pangkalan militer AS di kawasan, termasuk Al Udeid di Qatar, Al-Salem di Kuwait, Al-Dhafra di UEA, hingga markas Armada Kelima AS di Bahrain. Timur Tengah berubah menjadi medan perang sesungguhnya — bukan lagi konflik proksi. Ini perang terbuka.
UPDATE TERKINI: Khamenei Tewas, Iran Berduka 40 Hari
Berita paling mengguncang dunia datang pada Sabtu malam, 28 Februari 2026. Media pemerintah Iran mengkonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan Israel dan AS, dan mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan bahwa Khamenei tewas dalam “pukulan pembuka” Operasi Roar of the Lion, bersama sejumlah pejabat senior lainnya. “Sang tiran Khamenei telah dieliminasi dalam pukulan pembuka Operasi Roar of the Lion, dan bersamanya figur-figur senior lainnya dalam benteng teroris Iran,” ujar Katz.
Foto jenazah Khamenei telah ditunjukkan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah berhasil ditemukan dari reruntuhan kediamannya. Trump merayakan kematian Khamenei dan menyebutnya sebagai “salah satu orang paling jahat dalam sejarah.”
Selain Khamenei, Islamic Republic News Agency melaporkan tewasnya sejumlah komandan senior dalam sebuah rapat Dewan Pertahanan, termasuk Kepala Staf Angkatan Bersenjata Seyed Abdolrahim Mousavi dan Mohammad Bagheri.
Siapa yang Menggantikan Komando Iran?
Kematian Khamenei langsung memicu krisis kepemimpinan. Di bawah konstitusi Iran, sebuah dewan sementara mengambil alih kekuasaan sementara Majelis Ahli — badan beranggotakan 88 ulama Islam — memilih pemimpin tertinggi baru. Namun Israel mengklaim bahwa serangan pembukaannya telah melumpuhkan rantai komando Iran, menewaskan tujuh pejabat pertahanan dan intelijen senior serta menargetkan 30 pemimpin militer dan sipil teratas.
Sebuah Dewan Kepemimpinan Sementara telah mengambil alih dan akan memerintah hingga Majelis Ahli menunjuk penerus permanen. Dewan ini memiliki komposisi yang diamanatkan secara konstitusional: presiden yang menjabat, kepala peradilan, dan satu ulama dari Dewan Wali. Saat ini, dewan itu mencakup Presiden reformis Masoud Pezeshkian dan kepala peradilan garis keras Gholamhossein Mohseni Ejei — sebuah pasangan yang tidak biasa dan penuh ketegangan ideologis.
Satu pejabat senior yang selamat adalah Ali Larijani — sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mantan ketua parlemen, dan salah satu orang kepercayaan terdekat Khamenei. Dengan banyaknya pimpinan yang tewas, Larijani muncul sebagai pejabat sipil paling senior yang masih hidup. Dalam pernyataannya, Larijani bersumpah Iran akan memberikan “pelajaran tak terlupakan” kepada Israel dan AS.
Namun siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi permanen masih belum jelas. Pasar prediksi bahkan memberikan peluang hampir 50% bahwa jabatan Pemimpin Tertinggi akan dihapuskan sama sekali, menjadikan perubahan struktural sebagai skenario paling mungkin. Jika penerus individual dipilih, Hassan Khomeini — cucu pendiri Republik Islam — disebut-sebut sebagai kandidat kuat, diikuti Mojtaba Khamenei, putra almarhum.
Profil Singkat: Ali Khamenei, 35 Tahun Penguasa Iran

Ayatollah Ali Hosseini Khamenei lahir pada 19 April 1939 di Mashhad, Iran. Ia adalah pemimpin tertinggi Iran yang berkuasa selama hampir empat dekade, sebelum tewas dalam serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026.
Khamenei memainkan peran penting dalam gerakan yang menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi dalam Revolusi 1979. Pada 1989, ia diangkat menjadi Pemimpin Tertinggi Iran setelah wafatnya Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran. Sebagai Pemimpin Tertinggi, ia memegang wewenang tertinggi atas seluruh cabang pemerintahan, militer, dan peradilan, sekaligus bertindak sebagai pemimpin spiritual negara.
Selama 35 tahun berkuasa, Khamenei meninggalkan jejak yang kompleks dan kontroversial bagi Iran. Di satu sisi, ia adalah arsitek utama yang menjaga kelangsungan Republik Islam dari berbagai tekanan eksternal — mulai dari sanksi ekonomi Barat yang melumpuhkan, hingga ancaman militer Israel dan AS. Ia membangun jaringan pengaruh regional Iran melalui dukungan terhadap Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, Houthi di Yaman, dan kelompok proksi di Irak — menjadikan Iran sebagai kekuatan regional yang diperhitungkan.
Khamenei awalnya diremehkan sebagai figur yang lemah dan tidak karismatik dibanding pendahulunya, Ruhollah Khomeini. Namun terbukti sebaliknya — ia sangat berpengaruh dalam memperkuat dominasi institusi pemimpin tertinggi, memastikan kelangsungan rezim melewati berbagai krisis, dan memperluas pengaruh regional Iran secara besar-besaran ke seluruh Timur Tengah.
Di bawah kepemimpinannya, Iran berhasil mengembangkan program nuklir hingga mendekati ambang kemampuan senjata, membangun industri pertahanan domestik yang mandiri, serta mempertahankan kemandirian kebijakan luar negeri di tengah tekanan sanksi internasional yang bertubi-tubi.
Namun warisannya juga diwarnai represi besar-besaran. Khamenei memerintah dengan mengkonsolidasikan hampir penuh kendali atas negara Iran. Ribuan pengunjuk rasa tewas di bawah kepemimpinannya selama gelombang pemberontakan nasional, dan pasukannya berulang kali menghancurkan gerakan reformasi selama beberapa dekade. Gerakan Hijau 2009, protes 2019, hingga gelombang demonstrasi pasca kematian Mahsa Amini pada 2022 — semuanya dipadamkan dengan tangan besi.
Di dalam negeri, kepemimpinannya identik dengan penindasan kebebasan sipil dan politik. Namun di mata para pendukungnya, Khamenei adalah sosok yang berhasil mempertahankan kedaulatan Iran dari hegemoni Barat selama lebih dari tiga dekade — sebuah warisan yang kini harus diteruskan di tengah perang paling berat dalam sejarah Republik Islam.
Guncangan Global dan Perang yang Belum Usai
Dampak konflik ini segera terasa di berbagai penjuru dunia. Harga minyak melonjak drastis. Kawasan Selat Hormuz — jalur vital bagi sepertiga pasokan minyak dunia — terancam setelah IRGC mengumumkan penutupannya. Penerbangan sipil di kawasan Timur Tengah lumpuh. Ribuan jemaah umrah terjebak karena penutupan wilayah udara.
IRGC mengumumkan akan melancarkan operasi ofensif paling intens dalam sejarah angkatan bersenjata Republik Islam Iran, menargetkan Israel dan pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan. Reaksi internasional pun terbelah tajam — Rusia dan Tiongkok mengecam serangan tersebut, sementara negara-negara Arab Teluk berada dalam posisi serba sulit.
Pada 1 Maret 2026, konflik masih berlangsung. Ledakan masih terdengar. Rudal masih melayang. Dan Iran kini menghadapi dua pertempuran sekaligus: perang melawan musuh dari luar, dan krisis kepemimpinan dari dalam.
Kematian Khamenei bukan hanya akhir dari seorang pemimpin — ia adalah awal dari babak yang belum pernah dihadapi Republik Islam Iran sejak berdiri pada 1979. Dunia menahan napas, menunggu siapa yang akan memegang kendali Teheran selanjutnya — dan ke mana arah perang ini akan berakhir. (*)
—
*Ditulis berdasarkan laporan terkini dari berbagai sumber internasional per 1 Maret 2026.
